Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak
Langkah kaki jenjang itu kembali memijak lantai marmer yang dingin, membawa tubuhnya masuk ke dalam sebuah bangunan yang seharusnya disebut rumah. Zira Falisha, wanita berusia 37 tahun yang kecantikannya seolah tak luntur oleh waktu, menarik kopernya dengan gerakan lesu. Baru saja dua minggu ia menghirup udara kebebasan di Indonesia, mencoba melarikan diri dari sesaknya suasana di London. Namun, baru beberapa langkah ia memasuki ruang tengah, beban yang sempat terangkat itu kini kembali menumpuk, lebih berat dan lebih menghimpit dadanya.
Suara gesekan roda koper di lantai marmer itu tiba-tiba terhenti ketika sebuah suara bariton yang dingin menyambutnya dari arah kanan.
"Masih ingat punya suami?"
Zira menoleh perlahan. Di sana, Raka Tristan Laurent berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Pria berusia 40 tahun itu menatapnya datar, seolah kepulangan istrinya bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, melainkan sebuah interogasi yang tertunda.
"Bukankah aku sudah katakan padamu, jika di Indonesia aku akan tinggal lebih lama," sahut Zira dingin. Ia tidak ingin memulai keributan di menit pertama kepulangannya. Ia hanya ingin mencapai kamarnya, merebahkan tubuh, dan memejamkan mata.
Namun, Raka tidak membiarkannya lewat begitu saja. "Bahagia sekali tampaknya bertemu dengan pria yang dulu begitu menyukaimu."
Zira menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut dalam, ia memutar tubuh sepenuhnya untuk menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. "Apa maksudmu, Raka?" desisnya tajam.
"Jangan berpura-pura, Zira. Sekarang, katakan padaku. Apa saja yang kalian lakukan di sana?" Raka melangkah mendekat, wajahnya mengeras menahan kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto di mana Zira tengah duduk bersama seorang pria.
Zira memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. "Raka, demi apapun! Kayden adalah sepupu dari ayah Xander, dan kamu tahu betul itu. Dia keluarga!"
"Tapi dia menyukaimu! Semua orang tahu itu!"
"Lalu kenapa kalau dia menyukaiku?! Setidaknya aku tidak gila sepertimu!" sentak Zira. Suaranya melengking, memecah kesunyian rumah yang megah namun hampa itu. Suasana seketika berubah panas, penuh dengan ketegangan yang memicu adrenalin.
"Gila katamu?" Raka melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka dengan alis yang terangkat satu, menantang.
"Ya! Gila! Di sini yang berselingkuh itu kamu, Raka! Kamu mau menjadikanku kambing hitam atas kesalahan menj1jikkan yang kamu buat itu?!" teriak Zira. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, siap tumpah bersama emosi yang meledak-ledak.
Raka mengangguk-angguk kecil, matanya ikut berkaca-kaca karena amarah. "Sejak awal aku sudah katakan, aku tidak setuju dengan ide bayi tabung menggunakan rahim wanita lain. Tapi kamu yang memaksaku, bukan? Kamu yang mengatur semuanya! Lalu, saat aku bersamanya karena proses itu, kamu justru marah?"
Zira mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Tangisnya pecah, menyuarakan luka yang selama berbulan-bulan ini ia kubur dalam-dalam. "Aku mengizinkan wanita lain mengandung benihmu, Raka. Aku memberikan izin padanya untuk meminjamkan rahimnya agar kamu bisa memiliki keturunan, bukan berarti kamu punya hak untuk mencintainya! Bukan berarti kamu boleh tidur dengannya di luar prosedur medis!"
Zira menarik napas tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. "Aku sadar atas kondisi rahimku yang bermasalah. Aku tahu kedua orang tuamu menuntut cucu dariku setiap hari. Tapi jika pada akhirnya kalian justru jatuh cinta dan bermain di belakangku seperti ini, untuk apa ada prosedur bayi tabung?! Untuk apa aku berkorban menahan harga diriku sebagai istri?!"
Perasaan sesak itu kini benar-benar meledak. Zira teringat betapa kerasnya ia berjuang. Segala macam program kehamilan telah ia jalani. Dua kali ia mencoba bayi tabung dengan rahimnya sendiri, namun keduanya berakhir dengan kegagalan yang menghancurkan jiwanya. Dokter mengatakan bahwa peluangnya hampir nol, dan di titik lelahnya itulah, ia mengambil keputusan gila, menitipkan benih suaminya di rahim wanita lain. Ia tak pernah menyangka bahwa keputusan itu justru menjadi pintu bagi kehancuran rumah tangganya.
"Sekarang, aku hanya minta satu hal. Berikan aku waktu untuk berpikir, Raka. Berikan aku waktu untuk merenung, apakah aku masih harus bertahan dengan seorang suami yang sudah mengkhianati istrinya!" sentak Zira.
Tanpa menunggu jawaban, Zira berbalik dan menarik kopernya dengan kasar. Ia melangkah menaiki tangga dengan kaki yang gemetar, ingin segera menghilang dari hadapan Raka yang masih terdiam mematung. Namun, baru setengah jalan ia menaiki anak tangga, sebuah suara lembut yang memuakkan terdengar dari arah lantai bawah.
"Apa Kakak marah?"
Zira membeku. Ia menoleh perlahan dan melihat wanita itu. Wanita muda yang kini tengah mengandung, wanita yang menjadi alasan mengapa rumah tangganya berubah menjadi neraka. Wanita itu kini menghampiri Raka dengan wajah yang dibuat seolah-olah sangat prihatin.
Rasa benci seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah Zira, mencapai ubun-ubunnya hingga kepalanya terasa ingin pecah. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Ayo kembali ke kamar, kamu harus banyak istirahat. Ingat kondisi bayimu," ucap Raka dengan nada yang jauh lebih lembut, seraya merangkul bahu wanita muda itu untuk membawanya pergi.
Zira mengembuskan napas kasar, pemandangan itu seperti pisau yang mengiris jantungnya berkali-kali. Ia segera berlari menuju kamarnya dan membanting pintu hingga tertutup rapat. Begitu kunci berbunyi klik, pertahanannya runtuh total. Ia menghempaskan kopernya ke lantai dan berlari ke arah lemari besar di sudut kamar.
Zira menarik sebuah kotak kayu yang ia sembunyikan di bagian paling bawah. Kotak itu berisikan tumpukan jarum suntik bekas dan botol-botol obat dari program bayi tabung yang pernah ia jalani. Dengan teriakan histeris, ia melemparkan kotak itu ke dinding.
"ARGHHHHH!"
Suara pecahan kaca dan plastik beradu dengan teriakan frustrasinya. Tak puas sampai di situ, Zira mulai membanting segala macam perabotan yang ada di dekatnya. Lampu tidur, bingkai foto, hingga vas bunga hancur berkeping-keping. Rasa stres dan depresi yang sudah ia bendung selama berbulan-bulan kini menguasai kesadarannya.
Ketika tenaganya habis, Zira jatuh terduduk di atas lantai yang penuh dengan serpihan jarum suntik. Ia menjambak rambutnya sendiri, menangis tersedu-sedu hingga dadanya terasa sakit.
"Kenapa semesta tidak pernah adil padaku ... kenapa? Hiks ... kenapaaaaa!" teriaknya pilu, suaranya teredam oleh dinding kamar yang tebal.
Matanya yang sembab menatap nanar ke arah tumpukan jarum suntik yang berserakan. Jarum-jarum itu adalah saksi bisu betapa ia sudah menyiksa tubuhnya sendiri demi mendapatkan satu nyawa di dalam rahimnya. Namun hasilnya selalu nol. Kosong.
"Apa tidak bisa satu nyawa saja diberikan padaku? Satu saja ... hiks ... satu saja, aku mohon ... aku mohon ...," rintihnya dengan suara serak, memohon pada kekosongan yang tak memberinya jawaban. Di dalam kamar yang kini berantakan itu, Zira merasa menjadi wanita paling malang dan kesepian di seluruh dunia.
___________________________
Rilis juga akhirnyaaaa😆 jangan lupa dukungannya yah kawan, maaciiii🤩
Bentar, aku tuh agak lupa umur pernikahan Zira, dan dimana dia tinggal kalau di cerita papa tiri anti bakteri. Kalau ada yg inget bisa komen yaaah🤧
ku laporin ayang Xander nanti kau mau sakiti anak nya lagii, aku cctp lohh inii🤣