Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Kecuali ... ada pendapat baru dari rekan direktur muda kita. Mungkin punya ide dari pengalaman lapangan ya, Nona?"
Beberapa orang di ruangan itu menahan tawa. Mereka menganggap pertanyaan itu sebagai ejekan halus. Bagi mereka, masalah ini adalah teka-teki tingkat dunia, yang membutuhkan ilmu tinggi bertahun-tahun, bukan sekadar otak-atik motor tua di pinggir jalan.
Arjuna diam saja, wajahnya datar, tapi matanya berkilat antusias. Dia menoleh pelan ke arah Kirana.
Semua kepala berbalik ke arah gadis itu.
Kirana duduk santai, bersandar ke kursi besarnya. Dia tidak terlihat marah, tidak terlihat gugup. Dia hanya menatap Pak Bimo dengan tatapan menilai, persis seperti saat dia menilai mesin rusak. Lalu, dia mengambil selembar kertas kosong dan pulpen dari tasnya.
"Silakan bicara, Pak Bimo," kata Kirana dengan suara renyah, jelas, dan tenang. "Masalahnya hanya di sistem pendingin? Atau ada yang lain yang disembunyikan?"
Pak Bimo tersenyum sinis. "Hanya itu saja. Tapi itu sudah cukup besar untuk menghentikan proyek ini. Kalau Nona punya solusi ajaib, silakan sampaikan."
Kirana mengangguk pelan. Dia mulai menggambar di atas kertas itu. Garis-garis cepat, lincah, dan sangat rapi. Hanya dalam beberapa detik, sebuah skema teknis yang rumit terbentuk.
"Begini Pak ... sebenarnya masalah kalian bukan di bahannya. Kalian salah desain aliran udaranya."
Suasana hening seketika. Pak Bimo mengerutkan kening, merasa tersinggung. "Salah desain? Nona, kami tim insinyur lulusan terbaik, kami sudah menghitung aliran udara itu berulang kali dengan rumus termodinamika standar industri. Tidak mungkin salah."
Kirana mengangkat wajahnya, menatap Pak Bimo tepat ke mata, senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Rumus standar industri ... ya. Tapi mesin ini bukan mesin standar industri, Pak. Ini mesin untuk kebutuhan khusus, tenaga besar, ukuran padat. Kalau pakai rumus umum, hasilnya pasti macet. Kau lihat di sin i..."
Kirana menunjuk gambarannya dengan ujung pulpen. Suaranya berubah tegas, penuh wibawa, dan sangat yakin.
"Kau memaksa udara masuk dari samping dan memutarnya di tengah. Itu salah. Putaran turbulensi di tengah itu yang menimbulkan panas berlebih, bukan gesekan komponen. Kau harus ubah jalurnya. Masukkan dari atas, bagi alirannya jadi tiga cabang, gunakan prinsip Efek Venturi Terbalik yang dimodifikasi, lalu buang lewat bawah dengan sudut kemiringan 17 derajat. Dan bahannya ... kau tidak perlu cari bahan baru mahal-mahal. Pakai saja paduan aluminium-seng yang sudah ada, tapi tambahkan lapisan karbon kristal setebal 0,2 milimeter saja. Sudah cukup."
Kirana berhenti bicara. Dia meletakkan pulpennya pelan di atas meja.
Ruangan itu sunyi senyap. Sangat sunyi.
Para insinyur, orang-orang berotak cerdas itu, duduk terpaku, mulut ternganga sedikit. Mereka saling pandang satu sama lain, wajah mereka penuh kaget dan rasa tidak percaya.
Pak Bimo ... pria yang tadi sombong dan yakin itu ... wajahnya pucat pasi. Dia berlari mendekati meja, meraih kertas gambar sederhana buatan Kirana itu. Dia menatapnya lekat-lekat, matanya bergerak cepat mengikuti garis-garis gambar dan catatan kecil angka yang ditulis Kirana.
Lalu ... tangan Pak Bimo mulai gemetar.
Dia mengerti. Dia baru sadar. Semua rumus, semua hitungan rumit yang mereka kerjakan berbulan-bulan, ternyata terhalang oleh kesalahan konsep dasar yang sederhana. Dan gadis muda di depannya ini ... memecahkannya dalam waktu kurang dari lima menit. Dengan penjelasan yang begitu jernih, begitu tepat, dan begitu jenius.
"E-Efek Venturi Terbalik ..." gumam Pak Bimo parau, matanya masih terpaku pada kertas itu. "Kami tidak pernah berpikir membalik prinsip kerjanya ... kami selalu berusaha mendinginkan dengan tekanan positif ... tapi kalau dibalik ... arus udaranya akan lebih kencang ... panasnya akan tersedot keluar sendiri ..."
Pak Bimo perlahan mengangkat wajahnya. Dia menatap Kirana bukan lagi dengan tatapan meremehkan, tapi dengan tatapan takjub, kagum, dan penuh rasa hormat yang mendalam. Tatapan seorang murid pada gurunya.
"Nona ... Nona Kirana ... bagaimana Anda bisa tahu ini? Ini ... ini pengetahuan yang sangat jarang. Ini teknik rahasia yang dulu dipakai pada mesin-mesin khusus zaman dulu ... teknik yang sudah hampir hilang."
Kirana tersenyum santai, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Mesin itu sama saja dari dulu sampai sekarang, Pak. Prinsipnya tidak berubah. Cuma kadang orang terlalu sibuk mencari hal baru sampai lupa memutar balik cara pandang. Dulu aku sering lihat kakekku bikin modifikasi begini. Katanya ... kalau api tidak mau padam ditiup, coba hisap saja."
Satu kalimat sederhana itu membuat seluruh ruangan rapat mendadak bergemuruh pelan dengan bisik-bisik kekaguman.
Arjuna di sebelahnya tersenyum bangga lebar sekali. Dadanya terasa penuh. Dia tahu. Dia benar-benar tahu. Tidak ada tempat yang lebih pantas untuk Kirana selain di sini, di posisi ini, memimpin dan mengajari mereka semua.
Kirana kemudian menatap Pak Bimo tajam lagi.
"Dan satu lagi, Pak ... Jljangan pernah meremehkan apa yang tidak kau ketahui. Terutama kalau itu soal mesin. Aku mungkin pakai baju sederhana, mungkin tidak punya gelar universitas bergelar di dinding, tapi ingat satu hal ... tangan ini pernah merakit ulang mesin yang dianggap rongsokan orang lain, dan membuatnya kembali hidup lebih kuat dari aslinya. Jangan remehkan 'pengalaman lapangan' yang kau ejek tadi."
Suara Kirana tidak keras, tapi penegasannya membuat tulang punggung semua orang di ruangan itu merinding.
Pak Bimo langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, penuh rasa bersalah dan hormat.
"Maafkan kelancangan saya, Nona Kirana. Anda benar. Anda benar-benar benar. Saya... kami semua... banyak belajar hari ini. Solusi ini... ini akan menyelamatkan proyek miliaran rupiah ini. Terima kasih."
Kirana mengangguk pelan, menerima permintaan maaf itu dengan lapang dada.
"Bagus. Sekarang lanjutkan pekerjaannya. Saya ingin melihat prototipe baru berdasarkan desain ini dalam tiga hari. Bisa?"
"Bisa! Tentu saja bisa, Nona!" jawab Pak Bimo dan para insinyur serempak, penuh semangat dan rasa hormat yang baru saja tumbuh subur.
Rapat berlanjut, tapi suasananya sudah berubah total. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Tidak ada lagi bisikan-bisikan sinis. Semua orang, dari direktur tertua sampai staf muda, kini menatap Kirana dengan pandangan kagum, hormat, dan sedikit rasa takut hormat. Mereka sadar: Wanita muda di sebelah Tuan Muda ini bukan sekadar hiasan. Dia adalah otak sebenarnya. Dia adalah emas murni yang tersembunyi di balik penampilan sederhana.
Saat rapat selesai dan semua orang mulai keluar ruangan, Arjuna berdiri berjalan beriringan dengan Kirana. Dia menundukkan wajahnya sedikit, berbisik pelan dengan nada bangga dan geli.
"Bagus sekali, Direkturku. Baru satu jam kerja, dan kau sudah bikin direktur tertua kami sampai menunduk takzim. Kau tahu tidak? Pak Bimo itu orang yang sangat keras kepala, tidak pernah mau mengakui orang lain lebih pintar darinya. Tapi hari ini... dia seolah melihat dewa penolong."
Kirana mendengus santai sambil memasukkan pulpennya kembali ke tas.
"Dasar orang-orang kaya. Punya alat canggih, punya ilmu banyak, tapi lupa cara berpikir sederhana. Di bengkel, kalau motor mogok, kita tidak pakai rumus rumit, kita pakai logika dan perasaan. Sama saja kok prinsipnya."
Dia lalu menatap Arjuna dengan senyum jahil yang khas kembali muncul.
"Nah, Tuan Muda... Bagaimana? Sudah tidak malu kan bawa aku ke sini? Tadi aku lihat matamu berbinar banget lho, kayak anak kecil dapat mainan baru."
Arjuna tertawa renyah, dia menghentikan langkahnya sejenak di lorong kosong yang luas itu. Dia menatap Kirana lekat-lekat, matanya penuh kekaguman yang meluap.
"Malu? Kau pikir apa? Aku justru bangga sekali. Bangga sampai rasanya aku ingin berteriak ke seluruh dunia: Lihatlah! Wanita hebat inilah yang kucintai! Kau baru saja menggetarkan gedung ini, Kirana. Dan aku yakin... ini baru permulaan. Dunia bisnis, dunia teknik, dan semua orang yang meremehkanmu... mereka akan segera tahu siapa sebenarnya Kirana Wijaya."
Arjuna mendekatkan wajahnya, suaranya melembut dan dalam.
"Dan ingat... semakin kau bersinar terang, semakin bayang-bayang gelap akan muncul mendekat. Kehebatanmu hari ini pasti sampai ke telinga mereka yang tidak suka kehadiranmu. Musuh-musuh kita mulai bergerak, Kirana. Tapi jangan khawatir... selama aku ada di sini... tidak ada yang boleh menyakiti rambutmu satu helai pun."
Kirana menatap Arjuna dengan tatapan lembut dan percaya diri. Dia mengangguk mantap.
"Aku tahu. Dan kau juga ingat... Aku bukan lagi gadis kecil yang perlu disembunyikan. Aku Elang yang sudah terbang tinggi. Dan kalau ada musuh yang berani datang... kita hadapi sama-sama. Kau pakai kekuasaanmu, aku pakai kemampuanku. Kita pasangan yang sempurna, kan?"
Arjuna tersenyum lebar, mengangguk setuju.
"Pasangan yang tak terkalahkan."
Hari itu, berita tentang kehebatan Direktur Baru Kirana Wijaya menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru perusahaan. Nama Kirana bukan lagi sekadar nama kekasih bos besar, tapi nama yang disegani.
Namun, di tempat yang jauh dan gelap, di balik bayang-bayang kekuasaan, sepasang mata tajam mengawasi segala sesuatu yang terjadi di gedung kaca itu. Sebuah telepon berdering, dan suara berat terdengar berbisik dingin.
"Jadi ... dia benar-benar masih hidup. Dan dia sudah masuk ke dalam sarang musuh. Bagus ... Sekarang dia ada di jangkauan tangan kita. Bersiaplah ... permainan sesungguhnya baru saja dimulai."
Bersambung ...
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️