Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula
"A-aku hamil," ucap Kalina.
Kalina Alisha, wanita cantik berusia 24 tahun, saat ini sedang duduk berhadapan dengan sahabat kecilnya di apartemen mewah miliknya.
Sahabatnya itu, Clarissa Anggreni, hanya menatap datar wajah Kalina seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Kau hamil, Kal?" ulang Clarissa dengan suara tenang, seolah kehamilan sahabatnya bukanlah hal mengejutkan.
"I-iya," jawab Kalina ketakutan.
"Anak siapa?" Clarissa meneguk wine di tangannya. Tatapan mata elangnya tajam, hawa dingin yang terpancar membuat nyali Kalina menciut.
"A-aku hamil, a-anaknya..."
"Setan?"
"Clarissa, aku serius!"
"Aku pun serius. Kau hamil anak siapa, Kal? Kau ini jomblo, nggak punya pacar. Kecuali kalau kau..."
"Kalau apa?" potong Kalina.
"Kalau kau main gila di belakangku!" Clarissa tersenyum sinis.
Kalina menunduk, meremas ujung pakaiannya. "Aku hamil anaknya Rafael."
Keheningan mencekam. Hawa dingin berganti panas membara, padahal AC menyala deras.
"Hahaha..." Clarissa tertawa keras, lalu tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah dingin. "Rafael? Calon suamiku, Kalina? Kau hamil anak dari tunanganku sendiri?"
"Maafkan aku, Clari..."
"Kau tega menghianati aku?" Clarissa bersandar di sofa, raut wajahnya berubah sedih.
---
Clarissa Anggreni – pemimpin mafia The Phantom Crown, dijuluki Queen of Damnation. Wajahnya cantik namun seram. Mata cokelat gelap, hidung mancung, bibir mungil alami, kulit putih bercahaya. Di usianya yang ke-26, ia adalah ratu kematian yang ditakuti.
"Clari, maaf... aku nggak bermaksud menikungmu," isak Kalina.
"Kau memang nggak menikung, Kal. Tapi kau menghianatiku!"
"Maaf..."
"Maaf?" Clarissa tersenyum miring. "Kau tahu balasan untuk penghianat?"
"A-aku tahu. Aku menyesal."
"Siapa yang pertama menggoda? Kau atau Rafael?"
"Tidak, Clari! Aku nggak mungkin menggoda calon suami sahabatku sendiri..."
"Lalu kenapa kau bisa hamil?"
"Itu karena malam itu kami berdua..."
"PRANGG!"
"AAARGH!" Kalina memekik saat gelas dilemparkan ke kepalanya.
"Persetan dengan malammu! Intinya kalian berdua penghianat!" sentak Clarissa.
Darah mengucur dari kepala Kalina. Clarissa mengeluarkan pistol dari balik jaket kulitnya.
"Ini artinya kalian bersiap untuk mati."
"N-Clari... tolong taruh pistol itu..."
"Ada kata-kata terakhir?"
"Clarissa, tenang dulu! Aku bisa jelaskan—"
"Omong kosong!"
"Lihat ke belakang! Ada Rafael!"
Clarissa setengah tak percaya, tapi entah kenapa ia menoleh.
DOR.
Peluru menembak perutnya. Rafael, kekasihnya sendiri, berdiri di balik pintu dengan pistol berasap.
"A-ah... Rafael..." lirih Clarissa.
Dor. Dor.
Kalina melepaskan dua tembakan dari pistol yang ia sembunyikan di balik bantal.
"AAARGH!"
BRUKK.
Tubuh Clarissa ambruk ke lantai. Darah menggenang, tapi ia masih sadar.
"Kerja bagus, sayang," ucap Rafael pada Kalina.
"Ya... nggak sia-sia aku belajar menembak."
Dengan napas terakhirnya, Clarissa bergumam lirih, "Lihat saja... aku akan membalas kalian berdua... dari alam mana pun..."
---
"Tidak ada yang namanya malam pertama!"
"Kau hanya istri di atas kertas!"
"Kau harus melayaniku... tapi bukan sebagai istri. Sebagai pelayan!"
Kalimat itu berputar terus di benak Alisha Kirana Maharani. Gadis lugu berusia 22 tahun, berpenampilan nerd dengan rambut dua kepang dan kacamata bundar besar. Pakaiannya norak—bukan karena tak mengerti mode, tapi karena ia nyaman.
Pagi itu, ia memakai sweater kuning menyala dan rok payung hijau.
"Alisha, mana pakaianku!"
"I-iya Tuan, sebentar!"
Alisha berlari mengambil jas, kemeja putih, dan dasi hitam dari lemari. Matanya mencuri pandang ke arah Giovan Salvatore Vizcaya – suaminya yang hanya bermodal kimono.
Giovan, 29 tahun. Tubuh tinggi kekar, wajah tampan dengan rahang tegas, sorot mata tajam, dan bulu halus di dada bidang. Makhluk sempurna yang dipaksa menikahi gadis kampung karena perjodohan dari kakeknya, Edward Raditya Vizcaya.
"Kau lelet sekali!" kesal Giovan.
"S-sudah, Tuan."
Giovan mengabaikannya dan menelepon selingkuhannya. "Iya sayang, 15 menit lagi aku jemput. Love you more."
Alisha tersenyum samar. Ia tak punya keberanian menegur. Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi keuntungan. Ia dapat pria kaya, Giovan dapat kursi kepemimpinan Vizcaya Group.
"Pergi! Mataku sakit melihat penampilanmu!"
Alisha menunduk. "Baik, Tuan."
---
Di meja makan, keluarga Vizcaya berkumpul.
Edward Raditya Vizcaya (80 tahun) – patriarch, pemilik Vizcaya Group dan sindikat The Phantom Crown yang sebenarnya.
Bramantya Raditya Vizcaya (55 tahun) – putra sulung Edward, ayah Giovan. Istrinya Carissa Elvina Vizcaya.
Farrel Adipati Vizcaya (52 tahun) – putra kedua Edward, istri Fiona Octavia Vizcaya. Mereka punya dua putra: Fabian Adimatya Vizcaya (28 tahun, dingin seperti Giovan) dan Rayhan Adimatya Vizcaya (25 tahun, pengangguran stylish).
Christian Lauren Vizcaya (48 tahun) – putra bungsu Edward, menikah dengan Bram Nazar Vizcaya, dikaruniai tiga anak: Arshaka Pratama Vizcaya (25 tahun), Kayla Laura Vizcaya (24 tahun), dan Cerys Lamura Vizcaya (20 tahun).
"Selamat pagi, cucuku," sapa Edward pada Alisha.
"Pagi, Kakek."
Giovan datang. Alisha dengan sigap mengambilkan makanannya.
Usai sarapan, Edward berkata, "Alisha. Nanti malam kau harus berdandan cantik. Kakek sudah siapkan gaun dan perhiasan. Karena nanti malam, Kakek akan menyerahkan perusahaan kedua untukmu."
Alisha melebarkan mata. "M-maksud Kakek?"
"Nanti malam kau juga akan tahu."
Edward melirik semua keluarga. "Kalian bantu Alisha mempersiapkan diri. Mengerti?"
"Hm."
Setelah Edward pergi, sikap asli keluarga Vizcaya keluar.
"Rapihkan meja! Cuci piring!" perintah Carissa.
"Iya, Nyonya."
"Setelah itu pijitin aku!" ucap Christian.
"Baik."
"Jangan lupa bersihkan semua!" seru Kayla dan Cerys.
Emeline (ibu Giovan) hanya menggeleng. Ia tak mau ikut campur.
---
Siapa dulu cita-citanya nikah sama konglomerat? Nanti nasibmu kayak Alisha. Minimal kalau mau nikah sama orang kaya, kamu juga harus setara, ya! Biar nggak diremehkan.
"Prang! Sekalian cucikan ini!" bentak pelayan senior.
Satu jam Alisha mencuci piring. Pelayan junior bernama Anita menarik rambutnya.
"AWWW! Sakit, Anita!"
"Makanya jangan membantah!"
---
Malam harinya.
Alisha di-makeup tipis. Gaun putih panjang dengan belahan di bawah membuat kaki jenjangnya terlihat. Rambut disanggul manis.
"Wow, so beautiful!" puji penata rias.
"Terima kasih."
"Nyonya jauh lebih cantik tanpa kacamata."
Alisha tersenyum. Ia menatap cermin. Ternyata aku cantik.
Ceklek.
Pintu terbuka. Seorang pria bertopeng masuk.
"S-siapa kamu?"
"Alisha... aku tidak akan membiarkanmu menjadi pewaris utama keluarga ini."
"M-maksudmu?"
DOR!
"ARGH!" Alisha memegangi tangannya yang tertembak.
"Aku malaikat maut yang akan membunuhmu!"
DOR!
Tembakan kedua mengenai dadanya.
BRUKK!
---
Edward mencari Alisha. "Mana dia?"
"Masih berdandan, Kakek," jawab Giovan.
"Panggilkan. Acara sebentar lagi."
Giovan melangkah.
BRUKK! HAP!
Ia jatuh tertimpa tubuh Alisha yang terjun dari lantai paling atas.
"A-Alisha..." lirih Giovan, kaget bukan kepalang.
"AAAHHH!" Semua tamu berteriak melihat tubuh Alisha berlumuran darah.
Edward pucat pasi. Keluarganya panik.
BRUKK!
"Kakek!!!" pekik Bramantya.
Edward Raditya Vizcaya ambruk terkena serangan jantung.
Kekacauan total.
---
Di tengah genangan darah, tubuh Alisha yang tak bernyawa itu tiba-tiba... menghela napas panjang.
Matanya terbuka.
Bukan sorot polos Alisha lagi.
Tapi tatapan tajam, dingin, dan penuh kebencian milik Clarissa Anggreni – ratu mafia yang baru saja mati ditembak sahabat dan kekasihnya.
"Di mana... ini?" bisiknya dalam hati.
Ia melihat tubuh barunya. Gaun putih berlumuran darah. Luka tembak di dada.
Dan di depan matanya... ada Rafael. Wajah yang sama. Tapi sekarang dipanggil Giovan.
Senyum tipis mengembang di bibir Clarissa—yang sekarang ada di dalam tubuh Alisha.
"Rafael... Kalina... Kalian pikir kalian bisa bebas?"
"Aku akan menghancurkan kalian. Perlahan."
BERSAMBUNG...
---
ini Novel baru aku👈✍️