Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesadaran yang menyakitkan
"Azalia sudah waktunya kamu minum obat. Abu tolong ambilkan obatnya."
Nada suara Gavin tenang, tapi ada ketegasan di dalamnya yang tidak bisa diabaikan.
Abu sempat tertegun, seperti tidak menyangka Gavin akan sepeduli ini. Namun, tatapan tajam Gavin yang tertuju padanya membuatnya segera bergerak. Beberapa saat kemudian, Abu kembali dengan nampan di tangannya, segelas air putih dan beberapa butir obat terletak rapi di atasnya.
Azalia menatap obat-obatan itu. Perlahan tapi pasti wajahnya berubah. Ia mendongak menatap Gavin dengan keraguan yang sulit ia sembunyikan.
"Apa aku yang menunjukkan ini padamu?"
Seingatnya, dia tidak pernah mengatakan apa pun, pada siapa pun tentang obat-obatan yang ia konsumsi, terlebih kepada Gavin.
Tapi.... Kenapa pria ini tahu obat apa yang harus ia minum? Kenapa Gavin tahu persis bahwa sudah waktunya ia minum obat?
Gavin tetap berdiri di tempatnya, tatapannya masih sama, datar dan sulit dibaca. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
"Karena kita sudah sepakat untuk memulai kembali hubungan ini, kamu mulai terbuka kepadaku." Katanya, suaranya terdengar lebih pelan. "Mulai sekarang, aku yang akan mengingatkanmu untuk minum obat. Kau tidak perlu khawatir jika kau melupakannya."
Azalia terdiam.
Tangannya terulur dengan lambat, mengambil obat-obatan itu satu persatu. Azalia menelannya dengan hati-hati. Bukan karena takut dengan rasa pahitnya, tapi karena sesuatu yang baru saja menyentak kesadarannya.
Sesuatu yang tidak ingin dia sadari, tapi mulai membentuk pola di pikirannya.
Setelah meneguk air terakhir, Azalia meletakkan gelasnya kembali ke nampan dengan pelan. Dia menunduk, menatap permukaan meja.
Sikap Gavin. Perhatiannya. Cara dia mengatur segalanya tanpa mengatakan apa pun.
Mungkinkah selama ini Gavin tahu?
Tahu jika sebenarnya dia tidak memiliki banyak waktu?
Itu sebabnya dia seperti ini?
Gavin berdehem pelan, memecah keheningan yang tegang di antara mereka.
"Masuklah ke kamarmu," Katanya. "Kamu istirahat, aku ada janji menemui seseorang. Tidak lama."
Gavin baru saja berdiri saat tiba-tiba Azalia meraih pergelangan tangannya.
Cengkraman nya lemah, tetapi cukup untuk menghentikan langkah Gavin.
"Tunggu, Gavin."
Suara Azalia terdengar sedikit bergetar.
Gavin menoleh, menatapnya dalam.
Azalea menarik napas. Dia tahu pertanyaan ini mungkin tidak akan mendapatkan jawaban, tetapi jika dia tidak menanyakannya sekarang, dia akan menyesal.
Dengan suara lirih yang nyaris seperti bisikan, Azalia bertanya.
"Kau tahu jika aku tidak memiliki banyak waktu lagi? Dan itu sebabnya kau bersikap seperti ini?"
"Gavin, kau tahu aku sekarat, kan?"
"Apa itu benar, Gavin?"
Ruang makan terasa terlalu sunyi setelah pertanyaan dari Azalia terucap.
Azalia masih menggenggam pergelangan tangan Gavin, tapi kini telapak tangannya mulai dingin.
Gavin tidak langsung menjawab. Rahangnya mengencang, bibirnya sedikit menipis, dan Azalia bisa melihat bahwa pria itu sedang menahan sesuatu... Entah itu amarah, penyangkalan, atau sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Helaan napas pelan terdengar dari bibirnya, sebelum akhirnya, dengan sangat perlahan, Gavin melepaskan genggaman Azalia dari tangannya.
"Jangan berpikir macam-macam, Azalia."
Suara itu rendah, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Aku melakukan ini karena aku ingin. Bukan karena hal lain."
Namun, meskipun kata-kata itu terdengar meyakinkan, mata Gavin menceritakan sesuatu yang berbeda.
Ada kilat di sana.
Sebuah ketakutan yang tidak ingin ia akui.
Sebelum sempat Azalia berkata apa pun lagi, Gavin berbalik dan melangkah pergi.
Namun, bahkan setelah punggungnya menghilang dari pandangannya, Azalia masih bisa merasakan kehadirannya.
Dan untuk pertama kalinya, dia menyadari sesuatu yang mengiris hatinya lebih dalam daripada apa pun.
Jemari Azalia bergetar samar, napasnya lebih berat. Keheningan yang tersisa setelah Gavin pergi terasa lebih menyesakkan daripada keberadaannya.
Yang lebih menyakitkan bukanlah fisiknya.
Melainkan hatinya.
Jadi inilah alasannya.
Semua perhatian yang tiba-tiba. Cara Gavin mulai memperlakukannya dengan lebih baik. Sentuhan lembut yang seolah penuh kepedulian. Itu bukan karena dia mulai memandangnya sebagai istri. Bukan karena dia peduli seperti yang Azalia ingin percaya.
Itu karena dia tahu.
Azalia sekarat.
Bukan dirinya yang tidak ingat kapan terakhir dia begitu dekat dengan Gavin, tapi memang kedekatan itu tidak pernah ada sebelumnya.
Bukan dia yang merasa asing karena dia melupakan sesuatu, tapi pada kenyataannya, mereka memang asing.
Bukan dia yang melupakan tanggal pembatalan perceraian, tapi itu memang tidak pernah ada.
Azalia tertawa kecil, ketawa yang diiringi air mata kepedihan.
Jadi, seandainya dia tidak sekarat, akankah Gavin peduli?
Seandainya, jika hidupnya bisa lebih panjang, akankah pria itu melihatnya. Mau menggenggam tangannya dengan lembut, atau menatapnya dengan sorot mata yang hampir membuat Azalia percaya bahwa ada sesuatu di sana.
Apa artinya semua ini?
Azalia mengangkat tangannya, menatap telapak tangan yang gemetar itu dengan mata yang mulai memanas. Ini bukan hanya tentang penyakitnya. Ini tentang dirinya.
Apakah dirinya begitu tidak berarti hingga harus sekarat dulu agar diperhatikan?
Apakah kasih sayang yang Gavin berikan hanya sementara?
Apakah jika semakin sakit, maka Gavin akan lebih peduli padanya?
Lalu, bagaimana kalau dia tiba-tiba sembuh? Apa dia akan kembali diabaikan?
Perasaan itu menyiksanya, menghancurkan Azalia dari dalam.
Azalia berdiri, membawa sesuatu yang mampu ia bawa.
Abu berdiri di depan pintu, menghalangi jalannya. Wajah lelaki tua itu dipenuhi kekhawatiran, tapi Azalia sudah memutuskan.
"Nyonya, setidaknya tunggu Tuan Gavin pulang dulu."
Azalia menggeleng. Dia merapatkan jaket di tubuhnya, menyembunyikan tangannya yang masih gemetar. "Aku tidak perlu izinnya untuk pergi."
"Tapi, Nyonya..."
"Pak, Abu..."suaranya bergetar, matanya mencoba tegas. "Aku lebih baik mati di luar sana daripada hidup dari belas kasihan Tuanmu itu."
Abu terdiam. Dia ingin menghentikan Azalia, tapi gadis itu sudah berbalik dan berjalan.
Dia tahu ini salah, tapi dia juga tahu, tidak ada yang bisa menghentikan seseorang yang hatinya sudah hancur.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Azalia berjalan tanpa arah. Dia tidak tahu harus ke mana, dia bahkan tidak yakin kenapa dia pergi. Tapi setiap sudut apartemen
itu, setiap tatapan Gavin, setiap perhatian yang diberikan pria itu, semuanya terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.
Bukan cinta. Bukan keinginan. Hanya rasa kasihan.
Azalia menyeberang jalan tanpa memperhatikan lampu lalu lintas. Tiba-tiba, klakson mobil terdengar nyaring di telinganya.
Tiinnn!!
Langkahnya terhenti. Dia berdiri di tengah jalan, dikelilingi mobil-mobil yang berhenti mendadak. Suara orang-orang meneriakinya terdengar samar. Pandangannya memudar, dunia terasa berputar.
Lalu, hangat.
Cairan panas mengalir dari hidungnya. Azalia menurunkan pandangannya, melihat tetes-tetes merah jatuh ke aspal.
Darah.
Jantungnya berdegup kencang. Napasnya semakin pendek. Tubuhnya terasa semakin lemas.
Dia benar-benar akan mati di sini.
Tapi sebelum pikirannya bisa meresapi kepanikan itu, suara deru mobil yang melaju cepat membelah udara.
Gavin menghentikan mobilnya dengan kasar. Ban berdecit, orang-orang di sekitarnya berteriak marah, tapi dia tidak peduli.
Dia hanya melihat satu hal.
Azalia.
Gadis itu berdiri di tengah jalan dengan darah mengalir dari hidungnya.
Sial.
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...