NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 2: Surat Kedua dan Curiga Alya*

Senin berikutnya datang lebih cepat dari yang Alya kira.

Hujan nggak turun, tapi udara Jogja tetap lembap. Kayak sengaja nahan sesuatu sebelum pecah.

Alya datang lebih pagi dari biasanya.

Alasannya simpel: ia penasaran. Mau lihat sendiri apa bener surat di meja 7 bakal “datang sendiri” lagi.

Revan udah ada di belakang bar, nyeduh kopi kayak nggak ada yang aneh.

“Datang pagi-pagi. Insomnia?” tanyanya tanpa nengok.

Alya cuma mengangkat bahu. “Kerjaan barista kan harus siap sebelum pelanggan datang.”

Revan ngangguk kecil. Nggak nanya lagi.

Jam 8 lewat sedikit, kafe masih sepi. Alya lagi ngepel lantai, matanya nggak lepas dari meja nomor 7.

Kosong.

Kosong.

Kosong.

Terus—pas jarum jam nunjuk angka 8:07—amplop cokelat itu ada di sana.

Kayak muncul begitu aja.

Alya berhenti napas. Ia nggak berani langsung ambil. Ia ngeliat ke Revan dulu.

Cowok itu cuma ngaduk susu, pura-pura nggak lihat.

Alya pelan-pelan mendekat. Tangannya gemetar waktu nyentuh amplop itu.

Di luar amplop, tulisan tangannya sama: _Untuk yang butuh didengar hari ini._

Ia buka. Isinya pendek.

> _Kepada kamu yang takut mulai lagi,

> Halaman kosong itu menakutkan, iya.

> Tapi di sanalah cerita baru ditulis.

> Jangan takut tinta pertama. Itu tandanya kamu berani._

Alya terdiam.

Halaman kosong. Tinta pertama.

Itu kalimat yang ia tulis di diary-nya dua malam lalu, waktu ia hampir menghapus file novel yang belum selesai.

Nggak mungkin kebetulan.

“Revan!”

Alya nyebut namanya agak keras. Revan mendongak.

“Kamu yang naruh surat ini, kan?”

Revan nggak langsung jawab. Ia ngelap tangan ke celemek, baru jalan mendekat.

“Kenapa kamu mikir begitu?”

“Karena isinya… isinya persis yang aku tulis di catatan pribadi aku!”

Suara Alya naik setengah oktaf. “Kamu ngintip HP aku? Laptop aku?”

Revan menatapnya tenang. “Alya, kalau aku mau ngintip, aku nggak perlu repot-repot nulis surat tiap minggu selama tiga tahun.”

“Tiga tahun?” Alya mengerutkan kening.

Revan menghela napas. “Meja 7. Surat itu udah ada sejak kafe ini buka. Aku yang naruh. Tapi aku nggak nulis untuk kamu. Aku nulis untuk… seseorang yang udah nggak ada.”

---

Siang itu, waktu kafe sepi, Revan cerita.

“Aku punya adik. Namanya Rani. Dia suka nulis. Suka banget. Tapi dia nggak pernah berani ngirim naskahnya ke mana-mana.”

Suara Revan datar, tapi ada berat di sana.

“Dia meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan. Sejak itu aku nulis surat-surat ini. Buat dia. Biar rasanya kayak dia masih baca.”

Alya diem. Dadanya sesak.

“Terus kenapa suratnya nyambung sama aku?”

“Karena kamu mirip dia,” jawab Revan pelan.

“Cara kamu duduk di sudut baca buku tua, cara kamu ngaduk kopi kebanyakan, cara kamu nahan nangis waktu pelanggan marah kemarin. Rani juga gitu.”

Alya nggak tahu harus marah atau sedih.

“Jadi aku cuma pengganti?”

“Bukan,” potong Revan cepat.

“Kamu bukan pengganti. Kamu orang pertama yang bales surat itu. Dan jujur… aku nggak tahu rasanya gimana. Kaget. Senang. Takut.”

---

Malamnya, Alya nggak bisa tidur.

Ia ngeliat surat kedua itu berulang-ulang. Kata-kata Revan muter di kepalanya: _Kamu bukan pengganti._

Ia buka laptop. Kali ini ia nggak nulis surat balasan.

Ia buka file novel yang udah lama ia kubur. Judulnya: _Senja yang Tertunda_.

Ia ngetik satu paragraf. Tangan gemetar, tapi nggak berhenti.

> _Aku bukan bayangan siapa-siapa.

> Aku adalah aku, dan ceritaku baru dimulai._

Ia print. Lipat. Masukkan ke amplop cokelat yang sama.

Besok Senin, ia akan letakkan di meja 7.

---

****[Bersambung]

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!