NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Istana Kristal Gelap

Hamparan batu putih yang menjadi pijakan mereka terasa sedingin es. Langit abu-abu di dalam dimensi saku ini tidak memiliki matahari, bulan, maupun bintang, namun memancarkan cahaya redup yang cukup untuk menerangi seluruh daratan.

Di depan mereka, Istana Kristal Gelap menjulang tinggi menembus awan abu-abu. Strukturnya tidak terlihat seperti bangunan fana tidak ada sambungan bata atau kayu. Istana itu seolah-olah dipahat secara utuh dari satu bongkahan kristal obsidian raksasa oleh tangan seorang raksasa.

Qian Fugui berjalan terengah-engah di belakang Zeng Niu dan Zhao Ying. Kantong ranselnya bergemerincing, sangat kontras dengan kesunyian purba di tempat itu.

"Jadi..." Fugui memecah keheningan, suaranya sedikit gemetar, namun senyum usilnya tidak bisa disembunyikan. "Kapan perjamuan pernikahannya akan digelar? Apakah Daoist Fugui ini mendapat kursi di meja utama atau harus duduk bersama para pelayan?"

Langkah Zeng Niu seketika terhenti.

Ia berbalik perlahan. Tangannya dengan santai bertumpu pada gagang Bilah Penebas Tulang raksasa di punggungnya. Wajahnya sedatar papan kayu, namun ada kedutan kecil di sudut alisnya.

"Fugui," ucap Zeng Niu pelan. "Apakah kau mau kuubah menjadi babi panggang sungguhan untuk hidangan pembukanya?"

Fugui langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tapi bahunya masih bergetar menahan tawa.

Zhao Ying yang berjalan di samping Zeng Niu hanya menutupi senyumnya dengan lengan gaun sutranya. Rona merah tipis masih tersisa di pipinya akibat insiden 'keceplosan' Zeng Niu di luar gerbang tadi. Namun, ia tidak merasa marah. Sebaliknya, melihat pemuda yang biasanya dingin itu salah tingkah memberikan warna kehangatan tersendiri di hatinya yang sering merasa kesepian.

Saat mereka tiba di anak tangga pertama istana, suasana senda gurau itu menguap dengan sendirinya.

Pintu gerbang istana itu setinggi sepuluh tombak, terbuat dari logam aneh berwarna perak kehitaman. Permukaannya tidak dihiasi ukiran monster buas atau dewa yang sedang berperang, melainkan diukir dengan ribuan nama yang ditulis menggunakan Aksara Ketiadaan.

Zhao Ying melangkah maju, meletakkan telapak tangannya yang lembut ke atas permukaan pintu yang dingin. Matanya menyusuri nama-nama yang terukir di sana.

"Ini bukan nama musuh-musuh ayahku," bisik Zhao Ying, suaranya dipenuhi nada melankolis yang sangat dalam. "Ini adalah nama para jenderal dan prajurit Asura yang gugur dalam Perang Penaklukan Surga. Ayahku... dia mengukir nama mereka satu per satu di ujung dimensi ini."

Zeng Niu berdiri di sampingnya, menatap ke arah puncak istana kristal. "Sejarah menyebut ayahmu sebagai Tiran yang membantai jutaan dewa tanpa ampun. Tapi tempat ini tidak dibangun dengan kebencian. Tempat ini dibangun dengan rasa duka."

"Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang takut pada kebenaran," Zhao Ying menunduk sedih. "Di Surga Atas, ayahku dianggap iblis karena ia menghancurkan sistem di mana dewa tua memperbudak manusia fana. Ia mengambil dosa pembantaian itu agar ras Asura dan manusia bisa berdiri sejajar. Istana ini... adalah monumen kesepiannya."

Sebuah pemahaman melintas di benak Zeng Niu. Dao Kesepian. Memilih untuk menjadi musuh dunia demi melindungi sesuatu yang berharga. Zeng Niu merasa resonansi aneh dengan jalan yang diambil oleh Sang Tiran Ketiadaan tersebut.

Zhao Ying menorehkan sedikit sisa darah dari jarinya ke tengah pintu gerbang.

KRAAAAK... WUUUUNG!

Merespons darah murni Asura, pintu logam raksasa itu perlahan bergeser terbuka ke dalam, mengeluarkan suara gesekan berat yang telah tertidur ribuan tahun. Debu spiritual yang berkilauan jatuh dari sela-sela pintu.

Mereka bertiga melangkah masuk.

Ruangan utama istana itu luar biasa luas, cukup untuk menampung sebuah gunung kecil. Namun, tidak ada harta karun yang menggunung. Tidak ada senjata pusaka tingkat dewa yang bertebaran seperti yang diharapkan oleh Qian Fugui.

Ruangan itu kosong melompong, dengan lantai kristal hitam yang memantulkan bayangan mereka. Di tengah-tengah ruangan, hanya terdapat sebuah altar bundar, dan di atasnya melayang sebuah bola cahaya berwarna abu-abu yang berdenyut pelan layaknya jantung kosmik.

"Itu saja?" Fugui mengerjap kecewa. "Tidak ada Batu Spiritual? Tidak ada gulungan teknik tingkat Surga? Petinggi macam apa yang membuat brankas raksasa hanya untuk menyimpan ini?"

"Diamlah, Fugui," tegur Zeng Niu. Insting tempurnya berteriak keras. Bulu kuduknya berdiri. Tempat ini terlalu sepi.

Saat Zhao Ying melangkah mendekati altar tersebut, bola cahaya abu-abu itu tiba-tiba berdenyut dengan ritme yang sangat keras.

TAP. TAP. TAP.

Suara langkah kaki bergema dari arah bayangan di balik altar. Bukan langkah kaki tulang, bukan pula suara roh yang melayang. Itu adalah suara benturan pelat zirah baja pada lantai kristal.

Dari dalam kegelapan, sesosok manusia perlahan melangkah keluar.

Sosok itu mengenakan zirah hitam pekat yang sempurna tanpa goresan. Wajahnya tertutup oleh helm berbentuk tengkorak naga yang hanya memperlihatkan dua mata merah menyala. Ia memegang sebuah tombak panjang berwarna perak yang tidak memancarkan fluktuasi Qi sama sekali, namun kehadirannya membuat ruang di sekitarnya sedikit terdistorsi.

Fugui langsung mundur hingga punggungnya menabrak pintu masuk. "G-G-Gawat! Penjaga Makam!"

Sosok berzirah hitam itu berhenti sepuluh langkah dari mereka. Ia menatap Zhao Ying. Tiba-tiba, sosok itu berlutut dengan satu kaki, menancapkan ujung tombaknya ke lantai kristal dalam sebuah gestur penghormatan militer yang mutlak.

"Bayangan Ketujuh dari Pasukan Ketiadaan, menyambut kembalinya Darah Tuan Tiran," suara sosok itu terdengar mekanis, bergema langsung di dalam kepala mereka. Ini bukanlah roh, melainkan Gema Kesadaran yang ditinggalkan secara khusus oleh jenderal pelindung Sang Tiran.

Zhao Ying menahan napas. "Kau... kau adalah penjaga tempat ini?"

"Hamba hanyalah sisa kehendak yang ditugaskan untuk menjaga Inti Benua Penjara ini," jawab Gema Kesadaran itu, bangkit berdiri secara perlahan. Matanya yang merah menyala beralih dari Zhao Ying menuju Zeng Niu.

Aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi mematikan.

Gema Kesadaran itu mengangkat tombaknya, mengarahkannya lurus ke arah dada Zeng Niu.

"Darah Tuan Tiran diperbolehkan melangkah menuju altar," ucap Penjaga itu dingin. "Namun... darah fana yang kotor tidak memiliki hak untuk berdiri sejajar dengan Ketiadaan. Mundur, Manusia. Atau jadilah debu di bawah tombakku."

Zeng Niu tidak terkejut. Di dunia kultivasi, hukum kasta garis keturunan adalah hal yang mutlak, apalagi di hadapan peninggalan dewa kuno.

Namun, apakah Zeng Niu akan mundur?

Pemuda berjubah hitam itu perlahan menyeringai. Tangan kanannya mencabut Bilah Penebas Tulang dari punggungnya dan memukulkannya ke bahunya dengan santai.

"Bagaimana jika aku menolak mundur?" tanya Zeng Niu, suaranya dipenuhi arogansi seorang algojo yang tidak pernah sujud pada langit.

"Zeng Niu, jangan!" Zhao Ying buru-buru maju, berdiri di antara Zeng Niu dan Penjaga itu. "Dia adalah Gema Jenderal Asura! Tekanan spiritualnya berada di luar batas alam fana! Kau baru memulihkan Dantianmu!"

Zhao Ying menatap Penjaga berzirah itu. "Penjaga Ketujuh! Dia bersamaku! Sebagai pemilik Darah Tiran, aku memerintahkanmu untuk menurunkan senjatamu!"

Penjaga itu tidak menundukkan kepalanya lagi. "Maafkan kelancangan hamba, Nona. Hamba tunduk pada darah Anda. Namun hukum yang ditetapkan oleh Tuan Tiran di monumen ini adalah mutlak. Hanya mereka yang memiliki pemahaman tentang Hati Dao Ketiadaan yang pantas berdiri di sisi ras kita. Jika manusia ini ingin mendampingi Anda melintasi takdir kosmik... ia harus membuktikan bahwa besi fana-nya tidak akan patah."

Penjaga itu tidak berniat membunuh karena dendam, melainkan untuk menguji. Ini adalah ujian kelayakan.

Zeng Niu meletakkan tangannya di bahu Zhao Ying, menarik gadis itu pelan ke belakangnya dengan lembut namun tidak menerima bantahan.

"Dia benar, Zhao Ying," bisik Zeng Niu, matanya tidak lepas dari Penjaga di depannya. "Jika aku bersembunyi di balik punggungmu sekarang, di masa depan, dewa-dewa dari Surga Atas-mu akan menggunakan alasan ini untuk menginjak-injakku dan merendahkanmu. Untuk bisa mengantarmu pulang dengan kepala tegak, aku harus membuktikan bahwa tanganku cukup kuat untuk memegang takdirmu."

Zeng Niu melangkah maju. Kultivasinya saat ini hanyalah Pengumpulan Qi. Di hadapan Gema Jenderal yang auranya setara dengan Nascent Soul Puncak, ia seperti setetes air yang mencoba menantang samudra.

"Datanglah, Penjaga," Zeng Niu menyentuhkan ujung pedang raksasanya ke lantai kristal, memercikkan sedikit bunga api. "Mari kita lihat apakah hukum Tiranmu bisa mematahkan tulangku."

Penjaga berzirah hitam itu mengangguk pelan. "Keberanian yang patut dipuji, atau kebodohan yang menyedihkan."

SWUUUSH!

Penjaga itu menghilang dari pandangan! Kecepatannya jauh melampaui kemampuan mata fana.

Qian Fugui bahkan belum sempat berkedip ketika Penjaga itu sudah muncul tepat di udara, setengah jengkal di atas Zeng Niu, mengayunkan tombak peraknya lurus ke arah jantung pemuda itu. Tidak ada fluktuasi Qi, hanya hukum pembantaian murni!

Zeng Niu tidak mencoba menghindar. Tubuh fananya tidak akan sempat. Ia juga tidak memiliki energi spiritual yang cukup untuk menangkis.

Di detik yang seolah membeku itu, Zeng Niu memejamkan matanya.

Jika pertarungan ini menggunakan kekuatan, ia akan mati. Namun, Penjaga ini berbicara tentang pemahaman Hati Dao.

Dantian jahitan Zeng Niu mendadak sunyi. Ia melupakan rasa sakitnya, melupakan arogansinya, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan kehampaan mutlak. Perasaan yang sama seperti saat ia terbangun sebagai manusia fana tanpa Qi, menatap rintik hujan di Desa Ujung Sungai, menerima bahwa dirinya adalah cawan retak.

[Biji Dao: Resonansi Kehampaan]

TRAAAAANG!

Ujung tombak perak Penjaga itu menghantam dada Zeng Niu... namun tidak menembusnya!

Seluruh ruangan bergetar hebat. Zhao Ying dan Fugui terbelalak.

Alih-alih tertusuk, tubuh Zeng Niu perlahan berubah menjadi agak transparan selama sepersekian detik. Tombak itu menembus ilusi kehampaan. Zeng Niu tidak menggunakan Qi untuk menangkis; ia menggunakan pemahaman Biji Dao nya untuk membuat dirinya tidak ada di titik serangan itu, beresonansi sempurna dengan elemen "Ketiadaan" milik Penjaga tersebut!

Penjaga itu mendarat di lantai, tombaknya menembus udara kosong. Mata merah di balik helmnya memancarkan keterkejutan yang nyata.

"Memahami Dao Ketiadaan di usia fana yang masih sangat belia..." gumam Penjaga itu.

Sebelum Penjaga itu bisa menarik tombaknya, mata hitam Zeng Niu kembali terbuka, kini memancarkan ketajaman. Kehampaan telah berlalu, kini tiba saatnya kehidupan membalas!

Zeng Niu memutar tubuhnya, menggunakan seluruh tenaga Tulang Besi Berkarat dan Qi Tahap 4 nya untuk mengayunkan Bilah Penebas Tulang secara horizontal, menghantam tepat di sisi pinggang zirah Penjaga tersebut.

BLAAAR!

Pukulan pedang seberat seribu kati itu menghantam telak. Meskipun tidak cukup untuk merusak zirah tingkat dewa, momentumnya berhasil menggeser Penjaga itu mundur sejauh tiga langkah!

Bagi seorang kultivator Tahap 4 biasa, menyentuh Gema Jenderal Nascent Soul adalah hal yang mustahil. Tapi Zeng Niu tidak hanya menyentuhnya; ia membuatnya mundur!

Napas Zeng Niu terengah-engah, keringat dingin membasahi wajahnya. Tangannya gemetar hebat karena benturan itu, namun ia tetap berdiri tegak, pedangnya kembali terhunus di depan dada.

"Satu serangan. Apakah aku sudah pantas, Penjaga?" tanya Zeng Niu, tersenyum sinis dengan darah yang perlahan merembes dari sudut bibirnya akibat kelelahan organ dalam.

Penjaga berzirah hitam itu berdiri diam. Ia menatap ke arah Zeng Niu, lalu beralih menatap Zhao Ying yang sedang menahan napas cemas di belakang pemuda itu.

Tiba-tiba, Penjaga itu menurunkan tombaknya dan kembali mengetukkannya ke lantai kristal.

"Besi yang berkarat, namun menolak untuk patah," suara mekanis Penjaga itu terdengar lebih lembut sekarang. "Kau bukan hanya memahami Ketiadaan, tapi kau menggunakan Ketiadaan itu untuk melindungi Kehidupan. Sebuah jalan yang bahkan Tuan Tiran butuh waktu ribuan tahun untuk memahaminya."

Sosok Penjaga itu perlahan mulai memudar menjadi serpihan cahaya abu-abu. Gema Kesadaran nya telah memenuhi tugas terakhirnya.

"Manusia yang berjalan di jalan fana... Tuan Tiran meninggalkan tempat ini untuk berjaga-jaga jika benua penjara ini hancur. Inti di atas altar itu... terimalah. Ia akan menunjukkan jalan melintasi batas langit."

Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Penjaga itu menguap sepenuhnya menjadi debu kosmik yang damai.

Ujian itu telah berakhir. Zeng Niu telah membuktikan bahwa meskipun Dantiannya dijahit dan kekuatannya terampas, Hati Dao-nya cukup kuat untuk mendampingi sang dewi.

Zhao Ying berlari menghampiri Zeng Niu, namun kali ini Zeng Niu menyarungkan pedangnya lebih dulu sebelum gadis itu sempat menceramahinya. "Aku tahu, lukaku robek sedikit. Nanti kuolesi obat."

Zhao Ying menghela napas panjang, separuh kesal separuh lega, lalu tersenyum lembut. "Dasar keras kepala."

Kini, tidak ada lagi halangan. Mereka bertiga berjalan menaiki altar bundar di tengah ruangan.

Bola cahaya abu-abu yang melayang di sana perlahan turun, merespons kedatangan mereka. Saat cahaya itu memudar, benda di dalamnya akhirnya terlihat jelas.

Itu adalah sebuah kompas raksasa yang terbuat dari logam kuno, dengan jarum kristal yang berputar menunjuk ke sebuah peta dimensi. Di tengah kompas tersebut, terdapat proyeksi holografik dari Sembilan Benua Fana, dan sebuah celah besar yang memisahkan Benua Selatan dari daratan utama... Benua Utara.

"Ini adalah Kompas Navigasi Dimensi," bisik Zhao Ying, matanya berbinar. "Zeng Niu! Alat ini tidak hanya bisa menyegel retakan spasial, tapi alat ini bisa membuka portal stabil melintasi Lautan Kematian!"

Zeng Niu menatap jarum kompas yang berkedip menunjuk ke arah utara.

Dua tahun telah berlalu sejak ia dijatuhkan ke dunia bawah ini. Bayangan Akademi Jiannan, guru tuanya, serta Bao Tu dan Xiaoyu yang bodoh namun setia melintas di benaknya.

Zeng Niu mengulurkan tangannya dan menggenggam kompas tersebut.

"Bersiaplah, Fugui," ucap Zeng Niu, matanya memancarkan tekad yang siap membakar dunia. "Musim liburan fana kita di neraka ini sudah selesai. Kita akan kembali ke Benua Utara."

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
Sang_Imajinasi: okehh🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Sang_Imajinasi: iyah 🤭🤭
total 2 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
eka suci
aku suka keributan kata Lei Ling 🤭
Arinto Ario Triharyanto
masih jauh dr level mertua nya, cuman arogan nya doang kocak
Sang_Imajinasi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh.....
Sang_Imajinasi: gaspol
total 1 replies
saniscara patriawuha.
cincang cincang sudahhhh....
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll....
Simon Semprul
sanggat menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!