NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota

Andra berlari menyusuri tangga darurat dari lantai 17 menuju area parkir bawah tanah, memilih mengabaikan lift yang lambat karena harus berhenti di setiap lantai. Langkah kakinya yang lebar berdentang keras di dalam lorong beton yang sepi. Napasnya memburu, namun fokus di kepalanya hanya tertuju pada satu hal: dokumen di dalam dekapannya harus sampai di kawasan SCBD sebelum jarum jam menyentuh angka lima.

Begitu sampai di area parkir basemen yang temaram dan pengap oleh asap knalpot, Andra segera menghampiri motor bebek tua milik Mas Joko. Motor bertenaga seratus sepuluh sentimeter kubik itu tampak sangat sederhana di antara deretan mobil mewah para eksekutif Apex Media. Andra menghidupkan mesin menggunakan engkol kaki. Suara raungan mesin tua itu bergema memecah kesunyian basemen. Setelah memakai helm standar yang kaca depannya sudah agak buram oleh baret, Andra langsung memutar tuas gas, melesat naik menuju gerbang keluar gedung.

Begitu keluar ke jalan raya, pemandangan macet total langsung menyambutnya. Deretan mobil dan bus kota mengular panjang tak bergerak di sepanjang jalur protokol Sudirman. Langit di atas semakin menggelap, kelabu keunguan, dan rintik hujan pertama mulai jatuh membasahi kaca helm Andra. Sekarang sudah pukul empat lewat empat puluh lima menit. Waktu hanya tersisa lima belas menit lagi.

Andra memutar otak, mengingat-ingat peta jalan tikus yang pernah diajarkan Mas Joko saat mereka berkendara di minggu pertama. Ia membelokkan setang motornya dengan tajam ke arah kiri, menyelinap di antara celah sempit pembatas jalan, lalu masuk ke dalam sebuah gang perumahan padat penduduk di belakang deretan gedung bertingkat.

Gang itu sangat sempit, hanya cukup untuk dilewati dua motor yang berpapasan. Lantainya berupa konblok yang licin karena mulai basah oleh air hujan. Andra berkendara dengan kecepatan tinggi namun tetap penuh perhitungan. Ia meliuk-liuk menghindari jemuran warga, pot-pot tanaman di pinggir jalan, serta beberapa anak kecil yang berlari pulang karena hujan mulai turun deras.

Klakson motor bebeknya sesekali berbunyi nyaring saat ia harus melewati tikungan patah yang buta. Adrenalin di dalam tubuh pemuda desa itu bergejolak hebat. Di dalam saku jaket parasut murahnya yang mulai basah, ia bisa merasakan bentuk kotak dari telepon genggam jadulnya yang bergoyang-goyang mengikuti guncangan motor. HP monokrom itu sama sekali tidak bisa membantunya menunjukkan jalan lewat aplikasi peta digital, namun Andra mengandalkan insting dan ingatan visualnya yang tajam sebagai seorang anak alam.

Pukul empat lewat lima puluh lima menit, Andra berhasil keluar dari labirin gang sempit dan langsung memotong jalur lambat menuju gerbang masuk kawasan SCBD. Hujan sekarang sudah tumpah dengan sangat lebat, membatasi jarak pandang dan membuat pakaian Andra basah kuyup hingga melekat di kulitnya. Air hujan dingin mengalir masuk melalui celah helm, namun Andra mengabaikan rasa perih di matanya. Ia terus memacu motornya menuju gedung menara pusat perusahaan kosmetik multinasional tersebut.

Ia mencicitkan rem motornya tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit berstruktur kaca biru itu. Andra melompat turun dari motor tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu. Ia berlari menerobos pintu putar kaca lobi, mengabaikan tatapan heran dari para petugas sekuriti dan resepsionis yang melihat seorang pemuda dengan pakaian basah kuyup dan celana yang terkena cipratan lumpur jalanan masuk ke dalam lingkungan mereka yang steril dan elite.

Andra merogoh bagian dalam jaket parasutnya yang beruntung masih kering, mengeluarkan map merah berlogo resmi Apex Media yang masih utuh tanpa terkena air setetes pun. Ia menghampiri meja resepsionis utama dengan napas yang memburu hebat.

Selamat sore, saya Andra dari Apex Media. Ini dokumen revisi darurat untuk divisi hukum yang diminta oleh Direktur Utama. Tolong segera disampaikan, ucap Andra, suaranya terdengar tegas dan penuh penekanan di tengah deru napasnya yang tidak teratur.

Petugas resepsionis wanita itu melihat jam dinding besar di belakang mejanya. Jarum jam menunjukkan pukul empat lewat lima puluh delapan menit. Dua menit sebelum batas waktu berakhir. Wanita itu segera mengambil map merah tersebut, memeriksa stempel resminya, lalu menekan tombol telepon internal dengan cepat.

Baik, Mas. Tim hukum mereka sudah menunggu di lantai 22. Dokumen ini saya terima dan akan langsung dijemput oleh staf mereka sekarang juga. Anda tepat waktu, ujar resepsionis itu dengan nada yang berubah menjadi kagum melihat perjuangan Andra yang basah kuyup.

Mendengar kata tepat waktu, seluruh ketegangan di dalam tubuh Andra seolah-olah runtuh seketika. Ia mundur dua langkah, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer lobi yang dingin, lalu mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. Tugasnya selesai. Divisi mereka selamat, dan yang paling penting, ia berhasil menjaga nama baik serta posisi Nadia dari kehancuran.

Andra berjalan keluar kembali menuju pelataran lobi yang diguyur hujan lebat. Ia melepas helmnya, membiarkan air hujan dingin menyiram wajah sawo matangnya yang lelah namun bersih dari kepura-puraan. Di bawah gemuruh langit Jakarta sore itu, pemuda desa itu tersenyum tipis. Ia sadar, meskipun kota ini sangat keras dan penuh dengan tekanan kasta, ketulusan dan kerja keras yang lurus tetap memiliki kekuatannya sendiri untuk menembus segala rintangan yang mustahil.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!