Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Skandal di Balik Loker
Brak!
Bunyi nyaring pintu loker besi yang dibanting menutup bergema kasar, memantul di antara dinding-dinding ubin putih ruang ganti mahasiswi Le Cordon Bleu.
Suara itu seolah menjadi lonceng pembuka realitas yang pahit bagi Kiandra. Udara di dalam ruangan terasa lembap, sarat akan sisa uap dapur dan aroma detergen yang tajam, menusuk indra penciumannya yang masih sensitif pagi ini.
Kiandra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak keruan. Bukan karena lelah sehabis kelas teori, tapi karena sisa-sisa memori semalam di sofa apartemen Rue de Rivoli masih menempel ketat di benaknya seperti lem permanen.
Ia menatap pantulan wajahnya di cermin kecil yang tertempel di pintu loker. Pipinya masih menyisakan rona merah yang menolak hilang, meski ia sudah membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali di wastafel tadi.
"Mampus. Aku beneran ngomong begitu semalam," gumam Kiandra pelan, merutuki mulutnya yang tidak punya filter saat sedang kelelahan.
Bayangan Enzo yang tersenyum miring sambil berbisik, "Aku harus jadi pria yang sesuai dengan ekspektasimu, kan?" kembali berputar di kepalanya. Kiandra memejamkan mata, merasakan panas menjalar kembali ke tengkuknya. Ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke pintu loker agar amnesia sesaat, namun sebuah hadangan fisik lebih dulu muncul.
Sret!
"Tumpahkan semuanya sekarang juga, Kiandra Zanitha! Jangan harap kamu bisa kabur!"
Mei Ling muncul tiba-tiba dari balik barisan loker seberang. Wajah sahabatnya itu hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajah Kiandra, lengkap dengan mata yang menyipit penuh selidik dan seringai haus gosip yang mengerikan.
Kiandra tersentak, punggungnya menabrak loker besi dengan bunyi dentang yang cukup keras. "Mei! Kamu bikin aku jantungan, tahu nggak!"
"Jantungan karena aku, atau jantungan karena kencan semalam?" Mei Ling menaikkan alisnya, tidak memberikan ruang bagi Kiandra untuk menghindar.
"Gimana kencannya? Apa rumor kalau Blake Harrington selalu berhasil mencium targetnya di kencan pertama itu beneran terjadi?"
Diya Kapoor berjalan mendekat dengan langkah anggun yang sangat terukur. Ia sedang sibuk mengoleskan hand cream beraroma mawar mahal yang wanginya langsung mendominasi ruangan, mengalahkan bau uap dapur yang apek. Matanya yang tajam menatap Kiandra dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"L'Ambroisie itu tempat paling romantis di seluruh Paris, Ki," Diya menimpali dengan suara serak yang elegan.
"Kalau dia nggak menyatakan cinta atau setidaknya mencoba menciummu di bawah lampu Place des Vosges, berarti dia bukan Harrington asli. Mereka itu punya reputasi sebagai penakluk yang nggak pernah gagal."
Kiandra menarik napas panjang, mencoba memasang wajah paling datar yang ia miliki. "Nggak ada ciuman, nggak ada pernyataan cinta! Kami cuma makan... dan ya, makanannya enak banget. Tekniknya luar biasa."
"Enak apanya? Rasanya kayak makan kontrak bisnis yang kaku. Masih jauh lebih enak Cacio e Pepe buatan si Singa Italia itu, meskipun dia cuma pakai kaos oblong pas masaknya," batin Kiandra sinis, membandingkan kemewahan hambar L'Ambroisie dengan kehangatan intim di dapur apartemennya.
Juliette Laurent, yang sedari tadi bersandar di loker sambil merapikan apronnya, ikut angkat bicara. "Lalu? Blake mengantarmu sampai depan pintu? Aku dengar dia punya Audi hitam yang sangat seksi."
Kiandra mengangguk kaku, jemarinya sibuk merapikan isi tasnya agar tidak perlu menatap mata teman-temannya. "Bukan sampai depan pintu apartemenku, tapi cuma sampai depan gedung. Dia sangat sopan, beneran gentleman."
"Bohong banget. Dia hampir bikin aku sesak napas di mobil karena mau nyosor sembarangan. Untung refleks leherku secepat kilat, kalau nggak, bibir pangeran palsu itu sudah menempel di pipiku," Kiandra merutuk dalam hati, merasa ilfeel setiap kali mengingat wajah Blake yang mendekat semalam.
"Dia mencium tanganmu saat pamit? Seperti di film-film klasik Prancis?" Adele Moreau bertanya dengan suara lembutnya yang puitis, matanya berbinar seolah sedang membayangkan adegan romantis di novel.
"Iya... kurang lebih begitu. Pokoknya semuanya sempurna, sangat magis," jawab Kiandra dengan senyum lebar yang dipaksakan. Ia merasa seperti sedang melakukan audisi aktris terbaik hanya untuk menutupi rasa muaknya.
"Tuh kan! Aku bilang juga apa!" Mei Ling memekik heboh, menepuk tangannya dengan keras.
"Kiandra bakal jadi permaisuri Sciences Po sebentar lagi! Siap-siap saja kamu bakal sering masuk koran gosip Paris!"
Kehebohan Mei Ling membuat beberapa mahasiswi lain di ujung ruangan menoleh, memberikan tatapan penasaran yang membuat Kiandra semakin ingin menghilang dari muka bumi.
"Sudah, ayo ke kelas. Chef Romano benci mahasiswa yang telat cuma gara-gara gosip nggak bermutu," ucap Kiandra cepat, menyampirkan tasnya dan segera melangkah keluar sebelum interogasi itu berlanjut ke tahap yang lebih detail.
***
Pukul 14:20.
Kelas teknik memotong yang menguras tenaga akhirnya berakhir. Kiandra berjalan kembali menuju ruang loker sendirian. Teman-temannya sudah lebih dulu pergi ke kantin, namun Kiandra baru menyadari kalau buku catatan pentingnya tertinggal di dalam loker.
Langkah kakinya yang terbungkus sepatu Chef yang berat terdengar berirama di koridor yang mulai sepi. Ruang loker sudah tidak lagi bising. Hanya ada suara dengung mesin cuci dari ruang binatu di sebelah dan aroma detergen yang sangat kuat memenuhi udara.
Kiandra melangkah masuk, berjalan berjinjit secara refleks karena suasana sunyi yang terasa sedikit aneh. Ia merasa seperti sedang memasuki wilayah terlarang.
Tiba-tiba, sebuah suara menghentikan langkahnya.
Hah... hah...
Suara napas yang berat, pendek, dan terengah-engah terdengar dari balik deretan loker paling ujung, dekat area yang jarang dilewati. Jantung Kiandra mulai berdegup kencang. Rasa penasaran yang bercampur takut mulai merayap di tengkuknya.
"Ada yang asma?" batinnya ragu.
Dengan gerakan sangat hati-hati, Kiandra mengintip sedikit dari celah barisan loker abu-abu. Matanya membelalak sempurna, tangannya refleks menutup mulut agar tidak memekik kaget.
Di sana, menghimpit loker besi yang dingin, Aurelien Fournier sedang mengunci tubuh Maelle Renaud. Tangan Aurelien mencengkeram pinggang Maelle dengan sangat posesif, hingga kain apron Maelle tampak kusut dalam genggamannya.
Maelle sendiri melingkarkan lengannya di leher Aurelien, menarik pria itu semakin rapat seolah tidak mau ada jarak satu milimeter pun di antara mereka.
Mereka sedang berciuman. Suara decapan yang basah dan napas yang memburu terdengar sangat jelas di keheningan ruangan yang lembap itu. Kiandra bisa melihat tangan Aurelien yang mulai merayap naik, masuk ke balik apron Maelle, meraba lekuk tubuh gadis itu dengan intensitas yang membuat suhu di ruangan itu mendadak terasa naik beberapa derajat.
Pemandangan itu mendadak memicu memori sensorik yang sangat kuat di dalam kepala Kiandra.
Flashback momen di dapur apartemen mendadak menghantamnya. Ia seolah bisa merasakan kembali hembusan napas hangat Enzo yang beraroma mint di permukaan bibirnya. Ia teringat bagaimana wajah Enzo hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirnya, bagaimana mata hazel itu menatapnya dengan rasa lapar yang sama seperti yang ia lihat pada Maelle sekarang.
Kiandra merasa bibirnya sendiri mendadak panas. Jantungnya berdenyut nyeri, sebuah sensasi aneh menjalar di perut bawahnya.
"Kenapa aku malah kepikiran Enzo di saat begini? Harusnya aku kabur sekarang!" Kiandra memarahi dirinya sendiri dalam hati.
Ia mencoba mundur perlahan, setapak demi setapak, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, sialnya, tumit sepatunya tanpa sengaja menyenggol bangku kayu panjang di tengah ruangan.
Krieeet...
Bunyi gesekan kayu di atas lantai beton itu terdengar sangat nyaring, seperti suara ledakan di tengah kesunyian.
Aurelien melepaskan ciumannya dengan sentakan kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan tajam yang masih diselimuti gairah, napasnya masih memburu hebat. Maelle juga tampak panik, segera merapikan apronnya yang berantakan.
Kiandra tidak menunggu sedetik pun. Ia langsung berbalik dan lari sekencang mungkin keluar dari ruang loker. Ia tidak peduli lagi dengan buku catatannya. Yang ia pedulikan hanyalah menjauh dari sana sebelum identitasnya ketahuan.
Ia terus berlari hingga sampai di koridor kampus yang luas, berhenti tepat di dekat jendela besar yang menghadap ke arah Sungai Seine. Dadanya naik turun dengan cepat, paru-parunya terasa terbakar karena oksigen yang masuk terlalu cepat.
Wajahnya merah padam, bukan hanya karena lari, tapi karena imajinasi yang baru saja meledak di kepalanya.
Kiandra menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari yang gemetar. Bibirnya terasa panas, berdenyut, seolah-olah baru saja disentuh oleh seseorang. Bayangan jika waktu itu Enzo tidak berhenti, jika waktu itu Enzo benar-benar menciumnya... pikiran itu membuatnya wajahnya semakin panas.
"Gila... pertahananku bener-bener runtuh kalau terus-terusan begini," gumamnya pelan, suaranya bergetar.
Ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan, mencoba mengusir bayangan Enzo yang semakin mendominasi setiap sudut pikirannya. Namun, saat ia mendongak, matanya menangkap sosok yang sangat familiar di koridor seberang gedung.
Enzo Romano sedang berjalan di sana. Pria itu tampak sangat dingin, tak tersentuh, dan penuh otoritas dalam balutan jas hitamnya yang elegan. Ia sedang berbicara dengan seorang staf kampus, wajahnya kaku tanpa senyum sedikit pun. Sangat berbeda dengan pria yang semalam tertawa mengejeknya di sofa.
"Dia tadi malam manis banget, tapi sekarang kayak es kutub lagi. Benar-benar bikin baper tingkat dewa," batin Kiandra merana.
Ia mematung melihat punggung lebar Enzo yang perlahan menjauh dan menghilang di balik belokan koridor. Sementara di dalam kepalanya, imajinasi tentang bibir Enzo yang menyentuh bibirnya mulai terasa sangat nyata, meninggalkan rasa haus yang aneh dan menyesakkan di dalam dadanya.