Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu dalam Sangkar
Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di mana Chloe terbangun di dalam kamar bernuansa monokrom yang asing ini. Selama itu pula, dunia Chloe menyusut menjadi sebatas dinding-dinding megah kamar tamu berukuran raksasa tersebut. Pintu ganda kayu ek di ujung ruangan tetap mengunci rapat dari luar, menjadi pembatas absolut antara dirinya dan kebebasan di dunia luar.
Satu-satunya jembatan penghubung Chloe dengan kehidupan adalah Bi Mirna. Wanita paruh baya itu, bersama dua pelayan muda yang selalu menunduk khidmat, datang tiga kali sehari dengan ketepatan waktu yang mengagumkan hanya untuk mengantarkan troli perak berisi makanan-makanan lezat yang kemewahannya tidak pernah terbayangkan oleh Chloe sebelumnya. Mulai dari sup asparagus krim yang lembut, potongan daging panggang premium, hingga pencuci mulut berupa kue-kue manis berlapis cokelat mahal.
Awalnya, Chloe mencoba bertahan dengan sikap waspada. Setiap kali pintu terbuka, dia akan langsung mencecar Bi Mirna dengan rentetan pertanyaan yang sama: Di mana Ayah? Siapa pemilik rumah ini? Kapan saya boleh pulang? Namun, Bi Mirna adalah seorang profesional yang terlatih dalam seni mengelak dengan kelembutan. Wanita itu selalu membalas cecaran Chloe dengan senyuman hangat yang menenangkan, gurauan jenaka, atau sekadar kalimat, "Tuan Besar sedang sibuk, Nona Muda. Makanlah selagi hangat."
Lama-kelamaan, rasa takut yang semula mendominasi hati Chloe perlahan-lahan terkikis oleh musuh baru yang tak kalah menyiksa: rasa bosan yang teramat sangat.
Di dalam kamar itu tidak ada televisi, tidak ada ponsel—ponsel usangnya entah tertinggal di rumah atau sudah disita—dan tidak ada buku bacaan. Chloe menghabiskan waktunya dengan berjalan mondar-mandir dari ujung ranjang ke jendela besar, menatap halaman mansion yang luas dan dijaga ketat oleh para pria berjas hitam, lalu kembali lagi ke ranjang untuk bergulingan tanpa arah.
Pada sore hari keempat, saat Bi Mirna masuk untuk merapikan cangkir teh kamomil kosong, Chloe sudah berbaring telentang di atas karpet bulu domba yang tebal di samping ranjang. Kedua kakinya diangkat ke atas, bersandar pada dinding marmer sembari digoyang-goyangkan dengan lesu. Rambut cokelat panjangnya tersebar berantakan di lantai.
"Bi Mirnaaaa..." keluh Chloe, sengaja memanjangkan kalimatnya dengan nada suara yang dibuat sefatal mungkin. "Aku bisa gila kalau terus-menerus dikurung di sini. Otakku rasanya sudah mulai mencair karena tidak dipakai berpikir."
Bi Mirna yang sedang menata nampan perak menoleh, tidak bisa menahan tawa kecil melihat tingkah laku gadis berusia dua puluh satu tahun itu. Baginya, Chloe tidak terlihat seperti tawanan mafia, melainkan lebih seperti seorang anak remaja yang sedang mogok karena tidak diajak berjalan-jalan ke pasar malam.
"Aduh, Nona Chloe. Mengapa tidur di lantai begitu? Nanti badannya masuk angin," ujar Bi Mirna sembari menghampirinya.
Chloe mengubah posisinya menjadi duduk bersila, mengerucutkan bibirnya yang merah muda alami. "Biar saja masuk angin, Bi. Kalau aku sakit, setidaknya ada variasi kegiatan dalam hidupku di sini, yaitu batuk-batuk. Aku bosan setengah mati! Di rumah dulu, jam segini aku biasanya sedang menyapu halaman, mencuci baju Ayah, atau pergi ke pasar swalayan kecil di ujung jalan. Di sini? Aku hanya makan, tidur, mandi, lalu menatap dinding abu-abu yang suram ini lagi."
Bi Mirna terdiam sejenak, menatap lekat-lekat sepasang mata rusa Chloe yang jernih namun kini tampak meredup karena kejenuhan. Sebelum membawa Chloe ke mansion ini, Kenzo secara spesifik menyampaikan pesan dari Asher bahwa 'barang tebusan' ini tidak boleh dibuat stres atau tertekan hingga merusak penampilan fisiknya. Menjaga suasana hati Chloe agar tetap baik adalah bagian dari tugasnya.
"Nona bosan karena tidak ada kegiatan?" tanya Bi Mirna dengan binar jenaka di matanya.
"Sangat, Bi! Sangat, sangat bosan!" tegas Chloe sembari mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu. Kebetulan sekali, kemarin Tuan Besar memberikan anggaran khusus untuk keperluan pribadi Nona. Tunggu di sini sebentar, ya. Saya akan mengatur sesuatu agar Nona tidak bosan lagi," ucap Bi Mirna misterius sebelum berbalik dan melangkah keluar kamar.
Chloe mengerjapkan matanya bingung. "Keperluan pribadi? Anggaran?" gumamnya sendiri.
Rasa bingung Chloe terjawab sekitar tiga puluh menit kemudian. Pintu ganda kamarnya terbuka lebar, dan Bi Mirna masuk kembali memimpin sebuah rombongan kecil yang terdiri dari empat orang wanita muda. Keempat wanita itu mengenakan seragam tunik berwarna krem yang rapi dan higienis. Mereka membawa beberapa koper kulit besar, sebuah kursi lipat khusus yang tampak ergonomis, serta kotak-kotak transparan berisi puluhan botol kecil beraneka warna dan aroma.
"Bi, siapa mereka? Mereka mau mendemonstrasikan alat masak?" tanya Chloe dengan polosnya, langsung berdiri dari karpet dan mundur selangkah.
Salah satu wanita yang tampaknya adalah ketua rombongan tersenyum sangat ramah dan membungkuk hormat. "Selamat sore, Nona Chloe. Kami adalah tim home service dari pusat perawatan kecantikan dan spa premium kota. Sore ini, kami ditugaskan oleh Bi Mirna untuk memberikan perawatan tubuh menyeluruh untuk Nona."
Chloe melongo. "Perawatan tubuh? Spa?"
Tanpa menunggu persetujuan Chloe yang masih mematung karena syok, para terapis profesional itu bergerak dengan sangat efisien. Dalam hitungan menit, mereka menyulap sudut kamar tamu yang luas itu menjadi sebuah ruangan spa bintang lima yang super mewah. Sebuah lilin aromaterapi beraroma lavender dan esensial kayu cendana dinyalakan, menyebarkan wangi ketenangan yang langsung merilekskan saraf-saraf kepala Chloe yang tegang. Musik instrumental kecapi dan gemercik air yang lembut diputar dari sebuah pengeras suara portabel kecil.
"Mari, Nona. Kita mulai dengan perawatan body scrub dan pijat aromaterapi terlebih dahulu untuk melancarkan aliran darah," ajak salah seorang terapis dengan suara yang sangat lembut.
Chloe yang seumur hidupnya belum pernah menginjakkan kaki ke salon kecantikan—apalagi mendatangkan layanan spa premium privat ke dalam rumah—hanya bisa pasrah saat dituntun menuju ranjang yang telah dilapisi handuk khusus.
Selama tiga jam berikutnya, Chloe merasakan sebuah pengalaman hidup yang benar-benar menjungkirbalikkan dunianya. Tubuhnya dipijat dengan teknik khusus menggunakan minyak zaitun hangat yang dicampur esensial bunga mawar. Rasa pegal dan sisa-sisa ketegangan akibat penculikan beberapa hari lalu seolah menguap begitu saja di bawah jemari lentik sang terapis. Setelah itu, kulitnya dibalur dengan lulur tradisional berbahan dasar mutiara dan susu yang membuat kulit putih alaminya menjadi semakin halus, bersinar, dan harum semerbak.
Setelah selesai dengan perawatan badan dan mandi bilas di kamar mandi marmer, Chloe diminta duduk di kursi empuk untuk sesi berikutnya: manicure, pedicure, dan nail art.
Chloe menatap takjub ke arah dua orang terapis yang kini berlutut di depannya, sibuk merawat kuku-kuku tangan dan kakinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah tangan dan kaki Chloe adalah barang pecah belah berlapis emas yang sangat berharga. Mereka memotong, membentuk, memijat jari-jari tangannya, hingga mengoleskan kuteks gel berwarna merah muda pucat transparan yang dihiasi dengan aksen glitter emas tipis di ujungnya. tampak sangat elegan dan berkelas.
Rasa aneh sekaligus letupan kebahagiaan yang tidak bisa dibendung mekar di dalam dada Chloe. Selama dua puluh satu tahun hidupnya, dia selalu menjadi orang yang melayani orang lain—memasak untuk ayahnya, membersihkan rumah, dan mengurus segala hal sendirian sejak ibunya tiada. Dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dimanjakan. Dan sore ini, di dalam sangkar emas milik seorang bos mafia kejam, dia justru diperlakukan dengan begitu terhormat layaknya seorang ratu dari sebuah kerajaan dongeng.
Di tengah sesi nail art, Chloe melirik ke arah Bi Mirna yang sejak tadi berdiri di dekat lemari, mengawasi jalannya perawatan sembari sesekali menyuguhkan air infusi lemon dingin untuk Chloe dan para terapis.
"Bi Mirna," panggil Chloe, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan rileks.
"Ya, Nona Muda? Apa ada yang kurang nyaman?" tanya Bi Mirna sigap, melangkah mendekat.
Chloe menggelengkan kepalanya, rambut cokelatnya yang kini sudah diberi vitamin tampak berkilau indah di bawah cahaya lampu. Dengan kepolosan khasnya, Chloe meraih tangan kanan Bi Mirna yang bebas dengan tangannya yang tidak sedang diwarnai kuku. "Tidak, ini luar biasa nyaman. Kulitku rasanya jadi licin seperti perosotan anak-anak, Bi. Tapi, melihat Bibi hanya berdiri sejak tadi membuatku tidak enak. Di koper mbak-mbak ini masih banyak sekali botol kuteks dan minyak pijat. Bagaimana kalau Bibi ikut perawatan juga di sebelahku? Biar kuku Bibi juga dicat warna merah menyala, pasti kelihatan sangat keren!"
Mendengar ajakan polos dan tulus dari Chloe, kedua terapis yang sedang menghias kuku Chloe tidak bisa menahan senyum geli mereka. Mereka mengagumi betapa rendah hati dan manisnya sifat gadis tawanan ini, sangat berbeda dengan klien-klien kaya raya mereka yang biasanya bersikap sombong dan memperlakukan pelayan dengan semena-mena.
Bi Mirna sendiri tertegun sejenak. Matanya menatap tangan mungil Chloe yang menggenggam jemarinya yang sudah mulai keriput dimakan usia. Rasa hangat menjalar di hati wanita paruh baya itu. Sudah lama sekali tidak ada orang yang mempedulikan kenyamanan fisiknya seperti ini di dalam mansion yang dingin ini. Namun, Bi Mirna tahu batasan dan posisinya dengan sangat baik.
Bi Mirna tertawa renyah, menepuk pelan punggung tangan Chloe sebelum melepaskannya dengan sopan. "Aduh, Nona Chloe yang cantik, terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi kulit tua saya ini sudah tidak mempan lagi diberi lulur mutiara. Bukannya jadi putih bersinar, yang ada nanti mbak-mbak terapis ini kelelahan karena harus menggosok kulit badak saya."
"Ih, Bibi! Kulit Bibi tidak seperti kulit badak kok," protes Chloe sembari mengerucutkan bibirnya, tidak setuju dengan candaan Bi Mirna.
"Lagi pula, Nona, tugas saya di sini adalah melayani Anda dan memastikan kenyamanan para tamu terapis ini. Melihat Nona kembali tersenyum dan tidak berguling-guling lagi di lantai seperti cacing kepanasan, itu sudah menjadi hiburan dan perawatan terbaik untuk jiwa tua saya malam ini," lanjut Bi Mirna dengan binar mata yang penuh kasih sayang hangat. "Sekarang, nikmati saja pelayanan ini sampai selesai, ya?"
Chloe akhirnya menghela napas pasrah namun tetap mengembangkan senyum manisnya. "Baiklah kalau Bibi tidak mau. Tapi nanti kalau aku sudah selesai, Bibi harus mau aku pijat pundaknya sedikit ya? Sebagai gantinya!" tawar Chloe dengan mata berbinar-binar penuh kelucuan.
"Iya, iya, terserah Nona Muda saja," jawab Bi Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum lebar.
Ketika malam mulai menjemput dan tim home service akhirnya berpamitan pulang setelah membereskan peralatan mereka, kamar tamu itu menyisakan aroma ketenangan yang sangat pekat. Chloe kini duduk di tepi ranjang besar, mengenakan gaun katun putih baru yang lembut pemberian Bi Mirna. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara, mengagumi kuku-kuku jarinya yang kini tampak begitu cantik, bersih, dan berkilau indah. Tubuhnya terasa luar biasa ringan, segar, dan wangi bunga mawar alami menguar dari setiap jengkal kulitnya yang halus seputih susu.
Rasa bosan yang menyiksanya sejak pagi hari telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh perasaan hangat yang asing. Di dalam kamar yang luas dan terkunci itu, Chloe perlahan menyadari satu hal: meskipun tempat ini adalah sebuah penjara yang merenggut kebebasannya, setidaknya di dalam ruangan ini, dia tidak diperlakukan dengan kekejaman fisik yang menakutkan. Dia aman di bawah pengawasan Bi Mirna.
Namun, di tengah rasa senangnya, sebersit bayangan kegelapan kembali melintas di benak Chloe. Dia tahu, ketenangan dan perlakuan bak ratu ini tidak akan berlangsung selamanya. Di luar pintu kamar yang terkunci ini, ada sosok misterius—sang 'Tuan Besar' yang memiliki kuasa mutlak atas nasibnya dan ayahnya. Chloe memeluk lututnya sendiri di atas ranjang, menatap kuku-kuku cantiknya dengan perasaan campur aduk, bertanya-tanya dalam hati: Kapan sang pemilik sangkar emas ini akan datang untuk menemuinya dan menagih harga dari semua kemewahan yang telah diberikan kepadanya ini?