"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PENAWAR DI UJUNG BELATI
Suara alarm dari monitor EKG itu tidak lagi berbunyi bip yang teratur. Suaranya berubah menjadi lengkingan panjang yang memekakkan telinga, sebuah nada kematian yang membelah keheningan kamar ICU. Tubuh Sasmita menegang, punggungnya melengkung kaku di atas tempat tidur medis seolah ada aliran listrik ribuan volt yang sedang merobek saraf-sarafnya dari dalam.
"Racun! Aris menggunakan peluru berbisa!" Sakti berteriak, suaranya parau karena panik. Ia segera menekan tombol darurat di dinding berkali-kali.
Dokter dan perawat menyerbu masuk. Ruangan yang tadinya sunyi berubah menjadi medan tempur medis. Sasmita bisa merasakan kesadarannya seperti selembar kertas yang ditarik ke dalam pusaran air hitam. Ia melihat bayangan dokter yang mencoba memasukkan pipa pernapasan ke tenggorokannya, namun suaranya terdengar sangat jauh, seolah ia sedang berada di dasar samudera.
"Tekanan darah drop! 60 per 40! Jantungnya mengalami fibrilasi!" teriak salah satu perawat.
Dokter Gunawan—yang ternyata telah menyiapkan protokol darurat sebelum kematiannya yang tragis di klinik—telah meninggalkan catatan medis rahasia pada Sakti. Sakti merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi sampel peluru yang ia ambil dari lokasi kejadian.
"Dokter! Ini pelurunya! Aris menggunakan neurotoksin jenis VX yang dimodifikasi!" Sakti memberikan botol itu kepada dokter kepala yang sedang memegang alat pacu jantung (defibrillator).
"VX? Itu racun saraf tingkat militer!" Dokter itu terbelalak. "Kita tidak punya penawarnya di sini. Satu-satunya tempat yang memiliki atropine dosis tinggi dengan kombinasi spesifik untuk mutasi ini adalah laboratorium pusat milik Waskita... yang baru saja diformat ulang oleh Nona Sasmita!"
Sakti terpaku. Sasmita baru saja menghancurkan satu-satunya tempat yang bisa menyelamatkan nyawanya sendiri. Keputusan Sasmita untuk menghapus seluruh aset digital Waskita telah memutus akses ke sistem logistik medis rahasia milik Agatha.
"Berapa lama dia bisa bertahan, Dok?" tanya Bramasta, suaranya bergetar hebat.
"Maksimal dua jam. Jika dalam dua jam jantungnya tidak stabil, otaknya akan mengalami kerusakan permanen akibat kekurangan oksigen," jawab dokter itu sambil menekan alat pacu jantung ke dada Sasmita. DUG! Tubuh Sasmita terangkat, namun garis di monitor masih tetap kacau.
Sakti tidak membuang waktu. Ia berbalik dan berlari keluar dari ruang ICU. Ia tahu hanya ada satu orang yang memegang penawar itu secara fisik: Aris. Aris tidak akan membiarkan dirinya mati tanpa membawa "kunci hidup" bagi dirinya sendiri jika sewaktu-waktu ia terkena racunnya sendiri.
"Bram! Jaga Nona! Jangan biarkan siapapun masuk kecuali dokter!" teriak Sakti sambil menghilang di balik pintu geser otomatis.
Sakti melompat ke atas motor besar yang ia parkir di lobi rumah sakit. Ia memacu mesinnya hingga batas maksimal, membelah kemacetan Jakarta pagi itu dengan kecepatan gila. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Apartemen mangkrak di Kuningan. Tempat yang Bong katakan sebagai tempat persembunyian Aris.
Di dalam kamar ICU, Sasmita sedang bertarung di dunia yang berbeda.
Ia merasa sedang berjalan di lorong panjang yang gelap. Di ujung lorong, ia melihat dua pintu. Pintu pertama berwarna putih bersih, di sana ia melihat ibunya sedang tersenyum, menunggunya dengan tangan terbuka. Di pintu kedua, terdapat garis merah yang melintang—garis merah yang sama dengan yang ia buat di lantai mansion Janardana.
Jangan lewatkan garis itu, Sasmita, sebuah suara bergema. Itu suara Wirya Janardana. Perjalananmu belum selesai. Jika kamu mati sekarang, Aris menang. Jika kamu mati sekarang, rumah yang terbagi ini akan benar-benar musnah tanpa ada yang menceritakan kebenarannya.
Sasmita mencoba melangkah menuju ibunya, namun kakinya terasa berat. Ia melihat ke arah garis merah itu. Di baliknya, ia melihat wajah Sakti yang sedang bertaruh nyawa di jalanan, wajah Bramasta yang menangis, dan wajah ribuan orang yang hidupnya hancur karena keserakahan Waskita.
"Aku belum bisa pergi, Ibu," bisik Sasmita dalam mimpinya.
Sementara itu, Sakti sampai di apartemen Kuningan. Bangunan itu tampak seperti kerangka raksasa yang dihuni oleh hantu. Ia menendang pintu masuk basement dan segera masuk dengan senjata terhunus.
"ARIS! KELUAR KAMU, PENGECUT!" teriak Sakti. Suaranya bergema di antara pilar-pilar beton yang lembap.
Tiba-tiba, sebuah tawa dingin terdengar dari pengeras suara gedung yang entah bagaimana masih berfungsi. "Sakti... anjing setia yang malang. Kamu datang untuk meminta penawarnya? Sasmita sudah menghancurkan segalanya. Dia menghapus masa depanku, jadi aku menghapus napasnya. Adil, bukan?"
"Dia adikmu, Aris! Kamu punya darah yang sama!"
"Darah Waskita adalah racun, Sakti. Kamu seharusnya tahu itu," Aris muncul dari balik sebuah server besar yang masih menyala. Wajahnya pucat, tangannya gemetar, namun ia memegang sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna kuning jernih. "Ini adalah satu-satunya penawar yang tersisa di dunia. Dan aku akan menghancurkannya tepat di depan matamu."
Sakti melepaskan tembakan, namun Aris lebih cepat. Ia melompat ke balik tembok beton. "Jangan menembak, Sakti! Jika botol ini pecah, Sasmita mati dalam satu jam!"
Terjadi kejar-kejaran maut di dalam basement yang gelap itu. Sakti bergerak seperti macan tutul, menggunakan naluri tempurnya yang sudah terasah selama puluhan tahun melindungi Wirya Janardana. Ia berhasil memojokkan Aris di dekat lubang lift yang terbuka.
"Berikan penawarnya, Aris. Aku akan membiarkanmu pergi ke pelabuhan. Aku punya kapal yang bisa membawamu keluar dari negeri ini tanpa terdeteksi polisi," Sakti mencoba bernegosiasi, meskipun hatinya ingin sekali merobek tenggorokan pemuda di depannya.
Aris menatap jarum suntik itu, lalu menatap Sakti. "Kenapa kamu begitu setia padanya? Dia hanya seorang gadis yang penuh dendam."
"Karena dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang berani menghancurkan harta triliunan rupiah demi sebuah kebenaran," jawab Sakti mantap. "Sesuatu yang tidak akan pernah dipahami oleh orang seperti kamu atau Agatha."
Aris tampak ragu. Untuk sesaat, ia terlihat seperti pemuda biasa yang ketakutan. Namun, kegelapan di dalam dirinya kembali menang. "Kebenaran tidak memberimu makan, Sakti. Kebenaran tidak bisa membeli kekuasaan!"
Aris mencoba melemparkan jarum suntik itu ke dalam lubang lift sedalam dua puluh meter.
"TIDAK!" Sakti melompat. Ia tidak mempedulikan keselamatannya sendiri. Dengan gerakan akrobatik yang nekat, ia menangkap jarum suntik itu di udara tepat sebelum benda itu jatuh ke kegelapan. Tangannya mencengkeram pinggiran beton lubang lift, sementara tubuhnya bergelantungan di udara.
Aris berdiri di atasnya, menatap Sakti dengan kebencian. Ia mengangkat kakinya, bersiap untuk menginjak jari-jari Sakti agar pria itu jatuh ke dasar lubang.
"Selamat tinggal, Sakti."
Duar!
Sebuah tembakan meletus. Bukan dari senjata Sakti, melainkan dari arah pintu masuk. Bramasta berdiri di sana, kakinya yang tertembak masih dibalut perban, namun ia memegang pistol dengan stabil. Pelurunya mengenai bahu Aris, membuat pemuda itu jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan.
"Cukup, Aris," ujar Bramasta, napasnya tersengal. "Jangan biarkan ibu kita menang dengan menjadikan kita semua pembunuh."
Sakti berhasil memanjat naik kembali ke lantai beton. Ia tidak mempedulikan Aris yang sedang merintih. Ia segera menyambar jarum suntik itu dan berlari menuju motornya.
"Bram! Jaga dia sampai polisi datang!" teriak Sakti.
Pukul 07.45 pagi. Sakti sampai di rumah sakit dengan sisa tenaga terakhirnya. Ia menerjang masuk ke ruang ICU, mengabaikan larangan perawat. Dokter sedang bersiap untuk menyatakan waktu kematian Sasmita saat Sakti masuk dan menyerahkan jarum suntik itu.
"Suntikkan ini! Sekarang!"
Dokter segera memasukkan cairan kuning itu ke dalam selang infus Sasmita.
Satu menit berlalu. Keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan. Garis di monitor EKG masih datar. Sakti berlutut di samping tempat tidur, memegang tangan Sasmita yang dingin. "Ayo, Nona... jangan biarkan mereka menang. Garis merahnya belum selesai..."
Tiba-tiba, monitor itu berbunyi bip. Lalu bip lagi.
Garis yang tadinya datar mulai membentuk gelombang kecil. Detak jantung Sasmita kembali muncul, perlahan namun pasti. Napasnya yang tadinya harus dibantu mesin kini mulai terlihat teratur secara alami.
Sasmita membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Sakti yang dipenuhi air mata dan keringat. Ia merasakan kehangatan kembali ke tubuhnya, rasa dingin yang mematikan itu perlahan memudar.
"Sakti..." bisik Sasmita.
"Saya di sini, Nona. Anda kembali."
Sasmita tersenyum lemah. Ia melihat ke arah jendela. Matahari sudah sepenuhnya terbit, menyinari Jakarta dengan cahaya emas yang baru. Ia tahu, perangnya melawan Agatha dan Hendra mungkin sudah selesai secara hukum dan finansial. Namun perangnya untuk membangun kembali jati dirinya baru saja dimulai.
"Aris?" tanya Sasmita.
"Sudah ditangkap, Nona. Bramasta yang melakukannya," jawab Sakti.
Sasmita mengangguk pelan. Ia merasa tenang. Rumah yang terbagi itu kini benar-benar telah rata dengan tanah. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi aset gelap, tidak ada lagi pengkhianatan di balik dinding mansion. Di atas puing-puing itu, ia akan membangun sesuatu yang baru—sesuatu yang bukan milik Janardana, dan bukan milik Waskita.
Ia akan membangun hidupnya sendiri sebagai Sasmita, seorang wanita yang berhasil melintasi garis merah dan keluar sebagai pemenang, bukan atas harta, melainkan atas jiwanya sendiri.