Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Anak Kecil dengan Tatapan Dewasa
Senin pagi datang dengan suara alarm lembut dari ponsel Alya yang ia atur pelan agar tak mengganggu ketenangan rumah. Pukul lima lewat lima belas, ia sudah bangun, bergerak perlahan seperti biasa agar tidak membangunkan Arka yang masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka satu-satunya momen di mana anak itu terlihat benar-benar polos dan seperti anak kecil biasa. Alya tersenyum kecil melihat wajah damai itu, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah hati-hati. Kakinya menyentuh lantai marmer yang masih dingin dari malam sebelumnya, membuatnya sedikit menggigil, tapi ia sudah terbiasa.
Di dapur, Alya mulai menyiapkan sarapan seperti rutinitas baru yang mulai ia nikmati. Kali ini ia membuat bubur ayam sederhana untuk Arka hangat, lembut, dengan taburan bawang goreng dan seledri segar. Untuk dirinya sendiri, roti panggang dengan selai kacang yang gurih. Ia tidak yakin apakah Reyhan akan sarapan di rumah atau langsung berangkat, tapi ia tetap menyiapkan satu porsi ekstra di meja, lengkap dengan jus jeruk segar dan secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Aroma makanan mulai memenuhi ruangan, membuat rumah besar itu terasa lebih hidup.
Pukul enam kurang sepuluh, Reyhan turun dengan penampilan rapi seperti biasa. Jas abu-abu gelap yang pas di tubuh atletisnya, dasi biru navy yang terikat sempurna, rambut disisir ke belakang, dan wajah segar setelah mandi. Aroma cologne samar langsung menyebar saat ia melewati ruang makan. Reyhan berhenti sejenak di ambang pintu, matanya tertuju pada meja yang sudah tertata rapi: bubur ayam, roti panggang, jus jeruk, dan kopi yang masih hangat.
“Kamu bangun jam berapa?” tanya Reyhan, nadanya datar tapi ada sedikit keheranan yang tak bisa disembunyikan.
“Jam lima lewat. Kebiasaan lama,” jawab Alya sambil menyeka meja dapur dengan kain lap bersih, suaranya lembut tanpa beban.
Reyhan tidak berkomentar lagi. Ia duduk di kursi utama, mengambil roti panggang dan kopi hitamnya, lalu membuka ponsel untuk membaca email pagi seperti rutinitasnya. Alya duduk di seberangnya dengan secangkir teh hangat di tangan. Tak ada percakapan panjang, tak ada gangguan. Hanya keheningan yang sudah mulai terasa nyaman, seperti dua orang yang mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain tanpa paksaan.
Lima menit kemudian, Arka turun dengan langkah gontai. Matanya masih sembap, rambut acak-acakan, dan ia mengenakan piyama bergambar astronot yang warnanya sudah pudar karena sering dicuci. “Pagi…” gumamnya dengan suara serak khas anak baru bangun.
Alya tersenyum lembut. “Pagi, sayang. Cuci muka dulu ya, buburnya udah siap.”
Arka mengangguk malas, menyeret kakinya ke kamar mandi tamu. Reyhan melirik dari balik ponselnya, dan Alya melihat sesuatu yang jarang ada di sana senyum tipis di sudut bibir pria itu, sangat samar, tapi jelas. Dia… terhibur melihat Arka? Hati Alya menghangat sedikit tanpa ia sadari.
Ketika Arka kembali dengan wajah lebih segar dan rambut disisir asal, ia langsung duduk di kursi favoritnya di samping Alya, berhadapan langsung dengan Reyhan. Anak itu mulai menyendok buburnya perlahan, sesekali meniup agar tak terlalu panas. Lalu tiba-tiba ia menatap Reyhan dengan tatapan serius yang sudah khas.
“Om Reyhan.”
Reyhan mengangkat wajah dari ponselnya. “Ya?”
“Om kerja di bidang apa?”
“Teknologi. Software development dan AI.”
Mata Arka langsung berbinar pertama kalinya pagi ini ia terlihat benar-benar bangun. “AI? Artificial Intelligence? Yang bisa machine learning dan deep learning?”
Reyhan meletakkan ponselnya perlahan, sepenuhnya fokus pada Arka sekarang. “Kamu tahu machine learning?”
“Iya. Aku pernah baca tentang neural network, supervised learning, sama unsupervised learning. Tapi aku belum ngerti algoritma backpropagation-nya. Terlalu banyak kalkulus.”
Ruangan mendadak hening. Alya menatap anaknya dengan campuran bangga dan cemas yang selalu ia rasakan. Ia tahu Arka pintar sangat pintar tapi kadang ia lupa seberapa jauh kecerdasan anak itu sudah melampaui usianya.
Reyhan menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan hanya penasaran lagi. Ini kagum, terkejut, dan… ada sedikit kecurigaan yang mulai muncul. “Kamu umur lima tahun,” kata Reyhan pelan, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.
“Lima tahun tiga bulan,” koreksi Arka sambil terus menyendok buburnya dengan tenang. “Tapi usia mental aku mungkin lebih tua. Aku pernah baca, anak dengan IQ tinggi biasanya punya usia mental dua sampai tiga kali lipat usia kronologisnya.”
Reyhan terdiam lama, sendok di tangannya berhenti di udara. Lalu ia bertanya, bukan dengan nada menguji, tapi dengan nada ingin tahu yang sungguhan. “Kamu tahu IQ-mu berapa?”
Arka menggeleng pelan. “Belum pernah tes. Mama bilang nggak perlu.”
Reyhan melirik Alya. “Kenapa?”
Alya menarik napas panjang, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. “Karena aku takut labelnya malah memberatkan dia. Anak genius itu… nggak mudah, Om. Mereka sering dijauhi teman sebaya, dianggap sombong, atau malah jadi bahan eksperimen orang tua yang terlalu ambisius. Aku ingin Arka bahagia dulu, bukan dibebani ekspektasi.”
Reyhan tidak langsung menjawab. Tapi matanya berubah lebih lembut, seolah ia benar-benar mengerti. “Aku pernah tes IQ waktu SD,” gumamnya tiba-tiba, suaranya pelan dan penuh kenangan. “Hasilnya 156. Orang tuaku senang sekali. Tapi aku… kesepian. Tidak ada yang mau main sama aku. Mereka bilang aku aneh.”
Arka berhenti menyendok buburnya, menatap Reyhan dengan tatapan yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. “Om masih kesepian sekarang?”
Pertanyaan itu seperti menohok tepat di dada. Reyhan terdiam sangat lama, tangannya mencengkeram gelas kopi lebih erat. Lalu ia berdiri, mengambil tas kerjanya dengan gerakan cepat. “Aku harus berangkat.”
“Om nggak jawab pertanyaanku,” kata Arka polos, tanpa maksud menyakiti.
Reyhan berhenti di ambang pintu, membelakangi mereka. “Kadang… pertanyaan nggak perlu dijawab, Arka.”
Lalu ia pergi, pintu depan tertutup pelan di belakangnya. Alya menatap pintu itu lama, hatinya sesak. Ia baru tahu, meski Reyhan sekaya dan sesukses apa pun, ada luka lama yang tak pernah sembuh. Luka yang sangat mirip dengan yang ia takutkan untuk Arka suatu hari nanti.
Pukul sepuluh pagi, Alya membawa Arka ke taman bermain indoor yang ber-AC sejuk dengan berbagai permainan edukatif dan area baca yang nyaman. Ia berharap Arka bisa bersosialisasi sedikit dengan anak lain, meski ia tahu itu selalu sulit. Arka langsung menuju area baca, mengabaikan perosotan warna-warni dan trampolin yang ramai dengan tawa anak-anak seusianya. Ia duduk di bean bag besar yang empuk, mengambil buku ensiklopedia hewan dari rak dan langsung tenggelam di dalamnya.
Alya duduk di bangku terdekat, mengawasi sambil sesekali tersenyum melihat anak-anak lain yang berlarian riang. Tapi hatinya perih saat melihat Arka sendirian di sudut itu. Seorang anak laki-laki sekitar enam atau tujuh tahun menghampiri Arka dengan bola basket mini di tangan.
“Hei, main basket yuk!” ajaknya ceria.
Arka mengangkat wajah dari bukunya. “Nggak, terima kasih.”
“Kenapa? Main yuk, seru!”
“Aku lagi baca.”
“Baca mulu nggak seru. Ayo main!”
Arka menatap anak itu dengan tatapan serius. “Baca itu seru. Kamu tahu nggak kalau jerapah itu tidurnya cuma dua jam sehari? Dan mereka bisa lari 60 kilometer per jam?”
Anak itu terdiam bingung. “…Hah?”
“Jerapah. Mamalia berkuku genap dari famili Giraffidae. Mereka punya lidah sepanjang 45 sentimeter yang bisa ngelipet buat ambil daun akasia.”
Anak itu mundur perlahan dengan wajah bingung. “Kamu… aneh deh.”
Lalu ia berlari kembali ke teman-temannya. Alya menghela napas panjang, hatinya perih sekali lagi. Ini bukan pertama kalinya Arka dianggap aneh. Dan mungkin bukan yang terakhir. Ia berjalan menghampiri Arka, duduk di bean bag di sampingnya. “Sayang, kamu nggak mau coba main sama teman-teman?”
“Nggak, Mama. Mereka nggak ngerti yang aku omongin. Aku lebih suka baca.”
“Tapi kamu butuh teman, Arka…”
Arka menatap ibunya dengan tatapan tenang terlalu tenang untuk anak lima tahun. “Aku punya Mama. Itu cukup.”
Air mata nyaris menggenang di mata Alya, tapi ia cepat menahannya. Ia memeluk Arka pelan, mencium puncak kepalanya yang harum sampo anak-anak. “Mama sayang kamu, sayang. Sangat sayang.”
“Aku juga sayang Mama.”
Mereka duduk seperti itu ibu dan anak yang terlalu mirip dalam kesepiannya sampai waktu pulang tiba.
Pukul empat sore, ketika mereka sampai rumah, mobil Reyhan sudah terparkir di garasi. Alya mengerutkan kening aneh, karena biasanya pria itu pulang malam. Ia masuk dengan hati-hati, Arka di belakangnya membawa tas kecil berisi buku pinjaman dari taman bermain.
Reyhan duduk di sofa ruang keluarga—bukan di ruang kerja seperti biasa. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana jeans santai, kacamata bacanya bertengger di hidung, laptop terbuka di pangkuannya. Ia mengangkat wajah ketika mendengar mereka masuk. “Kalian dari mana?”
“Taman bermain indoor,” jawab Alya sambil melepas sepatu. “Om… pulang cepat hari ini?”
“Meeting dibatalkan. Jadi aku kerja dari rumah.”
Arka langsung menghampiri Reyhan dengan mata berbinar. “Om, aku boleh nanya sesuatu?”
Reyhan menutup laptopnya gerakan yang mengejutkan Alya, karena biasanya pria itu tak pernah menutup laptop kecuali sudah benar-benar selesai. “Tanya apa?”
“Kalau AI belajar dari data, terus datanya salah, AI-nya jadi bodoh dong?”
Reyhan terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis senyum kecil yang jarang sekali muncul. “Kamu pintar. Itu namanya garbage in, garbage out. Kalau data yang dipakai buat training jelek, outputnya juga jelek.”
“Terus gimana caranya biar AI-nya pintar?”
“Harus pakai data yang bersih, akurat, dan representatif. Terus harus ada proses validasi dan testing yang ketat.”
Arka mengangguk-angguk serius, seperti sedang mencatat di otaknya. “Oh… jadi kayak manusia ya? Kalau belajar dari sumber yang salah, jadi bodoh juga.”
Reyhan terkekeh pelan suara tawa pertama yang Alya dengar sejak mereka menikah. “Iya, mirip kayak manusia.”
Alya berdiri di ambang ruang keluarga, menatap dua orang di sofa itu dengan perasaan campur aduk. Arka terlihat… bahagia. Lebih hidup dari biasanya. Dan Reyhan terlihat… hangat. Tidak sedingin biasanya. Kenapa rasanya… seperti keluarga? Tapi Alya cepat-cepat menepis pikiran itu. Ini bukan keluarga. Ini kontrak. Pernikahan tanpa cinta. Jangan berharap terlalu banyak, batinnya mengingatkan diri sendiri.
Pukul tujuh malam, Alya memasak sup ayam hangat dengan sayuran segar menu sederhana tapi menghangatkan badan dan hati. Mereka bertiga duduk di meja makan, suasana lebih tenang dan cair dari biasanya. Arka makan dengan lahap, sesekali bertanya pada Reyhan tentang pekerjaan dan teknologi. Reyhan menjawab dengan sabar sesuatu yang tak pernah ia lakukan pada orang lain, bahkan klien penting sekalipun.
“Om, perusahaan Om bikin aplikasi apa?” tanya Arka sambil meniup supnya pelan.
“Banyak. Aplikasi bisnis, sistem keamanan cyber, sama platform AI untuk analisis data.”
“Wah… keren. Nanti kalau aku besar, aku mau bikin AI yang bisa bantu orang belajar. Jadi nggak ada lagi anak yang kesusahan belajar.”
Reyhan menatap Arka lama. “Itu cita-cita yang bagus.”
“Om mau bantu aku?”
Reyhan terdiam. Lalu ia bergumam pelan, “Mungkin.”
Alya tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Mungkin. Bukan penolakan. Bukan janji besar. Tapi… pintu yang terbuka sedikit.
Setelah makan malam, Arka langsung naik ke kamar untuk mandi dan bersiap tidur. Alya membereskan meja makan, mencuci piring dengan tenang di wastafel. Reyhan tidak langsung ke ruang kerja seperti biasa. Ia berdiri di ambang dapur, menatap Alya yang sedang sibuk.
“Alya.”
Alya menoleh, sedikit terkejut. “Ya, Om?”
“Arka… dia anakmu dari siapa?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, membekukan Alya di tempat. “Aku… sudah bilang. Ayahnya sudah nggak ada.”
“Maksudku… siapa dia? Aku perlu tahu.”
Alya mematikan keran air, mengeringkan tangannya dengan lap bersih, lalu berbalik menghadap Reyhan. Matanya tenang, meski hatinya bergemuruh. “Kenapa Om tiba-tiba Nanya?”
“Karena Arka… terlalu mirip denganku.”
Hening mencekam langsung menyelimuti dapur. Alya merasakan darahnya seperti berhenti mengalir. “Maksud Om?”
Reyhan melangkah lebih dekat terlalu dekat untuk jarak aman mereka selama ini. “Cara dia berpikir. Cara dia bicara. Minatnya pada teknologi dan sains. Bahkan… cara dia menatap. Semuanya mengingatkanku pada diriku sendiri waktu kecil.”
Alya mundur selangkah, punggungnya menyentuh meja dapur. “Itu… kebetulan.”
“Kebetulan?” Reyhan menatapnya tajam, tapi bukan marah lebih seperti sedang mencari jawaban. “Arka itu anak genius, Alya. Dan anak genius biasanya mewarisi gen dari orang tua yang juga punya IQ tinggi. Kamu bilang ayahnya nggak ada, tapi siapa dia sebenarnya?”
Alya menunduk, tangannya gemetar meremas lap. “Aku… nggak bisa bilang.”
“Kenapa?”
“Karena… itu masa lalu yang ingin aku lupakan.”
Reyhan terdiam lama. Lalu ia mundur, memberi jarak lagi. “Oke. Aku nggak akan paksa kamu bicara. Tapi suatu saat… aku harus tahu.”
Ia berbalik, berjalan menuju tangga. Tapi sebelum naik, ia berkata tanpa menoleh, “Arka itu anak yang luar biasa, Alya. Kamu… membesarkannya dengan baik.”
Lalu ia naik, meninggalkan Alya sendirian di dapur dengan air mata yang akhirnya jatuh pelan. Reyhan… kamu terlalu dekat dengan kebenaran.
Di kamar Reyhan tengah malam, pria itu duduk di tepi ranjangnya, menatap layar laptop dengan data karyawan lama perusahaannya dari enam tahun lalu. Ia mengetik nama: Zahra. Tidak ada hasil. Ia coba lagi: Alya. Satu hasil muncul, tapi bukan dari divisi magang. Dari divisi administrasi, dan orangnya berbeda.
Ia menutup laptop dengan frustrasi, memijat pelipisnya. Siapa kamu, Alya? Dan kenapa aku merasa… kita pernah bertemu sebelumnya?
Reyhan berbaring, menatap langit-langit gelap kamar. Dan tiba-tiba, sebuah ingatan samar muncul senyum seorang wanita muda, tatapan matanya yang hangat, suaranya yang lembut. “Terima kasih sudah bantuin aku, Kak Reyhan.”
Reyhan membuka mata lebar-lebar. Zara.