NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasib jadi babu gk ngaruh

"Gak bisa gitu dong! Tadi kesepakatannya cuma cuci jaket!" protes Selena, suaranya naik satu oktav. Dia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Zeus di lengannya, tapi cowok itu malah makin mempererat pegangannya—tidak menyakitkan, tapi tegas.

Zeus berdiri, membuat Selena harus mendongak jauh karena perbedaan tinggi mereka yang lumayan jauh. "Kesepakatan itu berlaku sebelum lo bikin gue bau parfum emak-emak. Sekarang reputasi gue sebagai macan sekolah terancam berubah jadi peri mawar gara-gara lo."

"Peri mawar? Cocok sih, muka lo kan kalau lagi marah agak kemerahan gitu," celetuk Selena tanpa dosa.

Rora yang mengintip dari balik pintu kelas 3A hampir pingsan. *Selena, please, mulut lo disekolahin dulu!* batin Rora menjerit.

Zeus menyeringai dingin. "Seminggu. Mulai dari sekarang. Tugas pertama lo: bawain tas gue ke kantin nanti istirahat kedua. Dan jangan telat."

Zeus melepaskan lengan Selena lalu kembali duduk, memakai *headphone*-nya seolah-olah Selena sudah tidak ada lagi di sana. Dengan perasaan dongkol setengah mati, Selena menghentakkan kakinya dan keluar kelas.

"Gila! Lo masih hidup, Sel?" Rora langsung menyergapnya begitu Selena keluar.

"Hidup sih hidup, Ror. Tapi harga diri gue yang mati! Masa gue jadi babu si kulkas berjalan itu?!"

I FEW MOMENTS LETER

Benar saja, begitu bel istirahat kedua berbunyi, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal di HP Selena.

Unknown:

*Kantin. Sekarang. Tas gue berat.*

"Tahu nomor gue dari mana sih ini orang?! Dasar *stalker*!" gerutu Selena.

Dengan langkah gontai, dia menuju meja pojok kantin tempat Zeus dan gengnya berkumpul. Di sana sudah ada tas punggung hitam besar milik Zeus. Tanpa sepatah kata pun, Zeus menunjuk tas itu dengan dagunya sambil asyik mengunyah siomay.

Selena menyambar tas itu. *Buset, isinya batu bata atau apa sih?!* batinnya kaget karena tas itu benar-benar berat. Namun, Selena bukan tipikal babu yang penurut.

"Nih, tas lo!" Selena menaruh tas itu di atas meja dengan bunyi **DUG!** yang keras, hampir membuat piring siomay Zeus melompat.

"Bawain, bukan ditaruh," ucap Zeus datar.

"Gue bawa dari kelas lo ke sini itu udah jasa besar, ya! Lagian tangan lo masih berfungsi normal kan? Otot doang digedein, bawa tas sendiri aja manja!" balas Selena sambil melipat tangan di dada.

Teman-teman Zeus di meja itu langsung hening. Mereka menunggu Zeus meledak. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Zeus malah mengambil sebotol air mineral dingin dan menyodorkannya ke arah Selena.

"Minum. Muka lo merah, capek ngomel terus kan?"

Selena tertegun. Serangan perhatian mendadak ini jauh lebih berbahaya daripada bentakan Zeus. "Gak butuh! Gue bisa beli sendiri!"

"Ambil atau gue tambah jadi dua minggu," ancam Zeus pendek.

Selena menyambar botol itu dengan kasar. "Dasar tukang maksa!"

Sore harinya, Selena masih harus menunggu Zeus latihan basket karena tugas "babu"-nya termasuk membawakan botol minum Zeus. Saat sedang duduk di pinggir lapangan sambil cemberut, Selena melihat Zeus terjatuh cukup keras setelah bertabrakan dengan pemain lain.

Alih-alih marah atau menyentak seperti di kantin, Zeus hanya diam, bangkit berdiri sendiri meski lututnya berdarah, dan melanjutkan permainan tanpa mengeluh sedikit pun. Ada sorot mata yang kesepian saat cowok itu mengusap keringat di dahinya.

Selena teringat ucapan Mamahnya semalam. *“Orang kalau ditakuti itu biasanya karena punya luka yang nggak mau dibagi.”*

Saat latihan selesai, Zeus berjalan ke arah Selena dengan nafas tersenggal. "Mana minum gue?"

Selena memberikan botolnya, tapi kali ini dia tidak membantingnya. Dia malah menyodorkan selembar plester bermotif *strawberry* dari saku seragamnya.

"Lutut lo berdarah. Pake ini. Jangan protes kalau motifnya lucu, adanya cuma itu," ucap Selena sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa kasihan yang tiba-tiba muncul.

Zeus terdiam cukup lama menatap plester di tangan Selena. Dia tidak mengambilnya, tapi dia menarik tangan Selena dan menempelkan plester itu tepat di luka lututnya sendiri.

"Besok," kata Zeus pelan, suaranya tidak sedingin biasanya, "Jangan telat lagi. Dan... parfum mawar lo ternyata nggak buruk-buruk amat."

Selena membatu. Jantungnya tiba-tiba melakukan maraton tanpa izin. *Duh, kenapa jadi begini sih?! Katanya babu nggak ngaruh, tapi kenapa perasaan gue yang jadi berpengaruh?!*

Kamar Selena yang biasanya penuh tawa mendadak terasa serius. Rora duduk bersila di atas kasur sambil memeluk bantal guling Selena kuat-kuat. Wajahnya yang biasa ceria sekarang tampak pucat kena sinar lampu meja jadi rora nginep katanya orang tuanya lagi keluar kota.

"Sel, dengerin gue baik-baik," bisik Rora, suaranya pelan tapi tajam. "Jangan baper sama perhatian kecil kayak tadi di lapangan basket. Zeus itu... dia punya sisi yang belum lo liat."

Selena yang lagi asyik pakai masker wajah langsung menoleh. "Maksud lo? Dia kan emang galak, tapi tadi dia bilang makasih—ya walaupun pake gaya sombong gitu."

Rora menggeleng cepat. "Itu cuma 'umpan', Sel. Dulu ada anak kelas 1 juga, namanya Dika. Awalnya Zeus keliatan peduli, tapi pas Dika bikin satu kesalahan kecil yang nggak sengaja, Zeus bikin Dika kena masalah besar sampai harus pindah sekolah. Zeus itu nggak punya hati kalau udah ngerasa terganggu. Dia nggak main fisik, dia main mental. Dia bakal bikin lo ngerasa jadi orang paling bersalah di dunia sampai lo sendiri yang nyerah."

Selena terdiam. Kata-kata Rora barusan bikin bulu kuduknya meremang. Masa iya cowok yang tadi narik tangannya buat pasang plester itu sejahat itu?

"Pokoknya, selama seminggu ini, lo lakuin tugas lo dengan 'aman'. Jangan baper, jangan cari masalah, dan yang paling penting... jangan pernah masuk ke urusan pribadinya. Paham?"

Selena menelan ludah, menatap botol minum Zeus yang masih ada di tasnya. "Paham, Ror."

Keesokan harinya di sekolah, Selena mencoba memasang "tembok" setinggi mungkin. Dia nggak mau terjebak drama Zeus.

Pas jam istirahat, Selena langsung ke kelas 3A. Tapi kelas itu kosong, kecuali Zeus yang lagi duduk sendirian di meja paling belakang. Dia nggak dengerin musik, dia cuma bengong natap jendela dengan tatapan yang kosong banget.

"Nih, tas lo. Gue udah naruh buku tugas lo di dalem," ucap Selena ketus sambil naruh tas itu pelan-pelan (takut kena semprot lagi).

Zeus nggak nengok. Dia cuma gumam, "Taruh situ aja."

Selena yang harusnya langsung pergi malah berhenti. Sifat keponya mulai kumat. Di atas meja Zeus, ada sebuah foto kecil yang robek di bagian sudutnya. Foto seorang wanita cantik yang mirip banget sama Zeus, tapi kelihatan pucat.

Baru saja Selena mau ngintip lebih dekat, tangan Zeus langsung menutup foto itu dengan kasar.

"Gue bilang taruh, terus pergi. Lo nggak denger?" suara Zeus dingin, jauh lebih dingin dari kemarin. Matanya merah, kayak orang nggak tidur semalaman.

Selena kaget, teringat omongan Rora soal "sifat asli" Zeus. "Gue cuma mau nanya, lo... lo oke? Muka lo kayak zombi."

Zeus berdiri, auranya mendadak gelap. Dia melangkah maju sampai Selena terpojok ke pintu kelas. "Lo itu cuma babu seminggu, Sel. Jangan sok peduli. Tugas lo itu ngerjain apa yang gue suruh, bukan nanya-nanya urusan gue. Ngerti?"

Selena gemetar, tapi rasa egonya nggak mau kalah. "Ternyata bener kata Rora. Lo emang nggak punya hati. Orang nanya baik-baik malah disemprot!"

"Hati?" Zeus ketawa sinis, tawa yang kedengeran perih di telinga Selena. "Hati itu cuma bikin lemah, Anak Kecil. Sekarang keluar, sebelum gue tambah masa 'babu' lo jadi sebulan."

Selena lari keluar kelas dengan perasaan campur aduk. Kesal, takut, tapi juga... penasaran. Ada apa dengan foto itu? Dan kenapa Zeus kelihatan sehancur itu di balik sifat kasarnya?

Peringatan Rora ternyata bukan isapan jempol belaka. Kalau kemarin Zeus sempat terlihat "manusiawi" di lapangan basket, hari-hari berikutnya adalah neraka bagi Selena.

Hari ketiga jadi "babu", Selena baru sadar kalau Zeus yang kemarin itu cuma akting atau mungkin suasana hatinya lagi bagus saja. Sekarang? Zeus benar-benar menunjukkan kenapa dia dijuluki penguasa sekolah yang tak punya perasaan.

"Sel! Ke koperasi sekarang. Beliin gue pulpen gel hitam, tipe 0.5, mereknya harus ini. Kalau nggak ada, cari ke toko depan sekolah," perintah Zeus tanpa menoleh, sambil asyik main *game* di ponselnya di kantin.

"Hah? Gerbang sekolah kan dikunci, Zeus! Mana bisa gue keluar?!" protes Selena.

Zeus meletakkan ponselnya, menatap Selena dengan pandangan merendahkan. "Itu urusan lo. Gue butuh pulpen itu sepuluh menit lagi buat ujian. Kalau telat satu menit... lo tau kan konsekuensinya? Lantai kelas 1A menanti."

Selena mengepalkan tangan sampai kuku-kukunya memutih. Dia terpaksa lari pontang-panting, memohon pada satpam, bahkan hampir memanjat pagar belakang hanya demi sebuah pulpen. Saat dia kembali dengan napas tersenggal-senggal dan keringat bercucuran, Zeus hanya menerima pulpen itu dengan dua jari, seolah itu adalah sampah.

"Lama," ucapnya singkat. "Dan gue berubah pikiran. Gue nggak butuh pulpen ini sekarang. Simpen aja buat lo."

"LO—!" Selena sudah siap meledak, tapi tatapan tajam Zeus langsung membungkamnya. Di sekitar mereka, murid-murid lain hanya bisa menunduk, tak berani membela.

Puncaknya terjadi saat jam pulang sekolah. Zeus menyuruh Selena merapikan buku-buku referensi di perpustakaan yang habis dia pakai untuk tugas kelompok.

Selena sedang menyusun buku-buku tebal itu ketika dia tidak sengaja menjatuhkan salah satu buku ke lantai. Suaranya cukup keras di keheningan perpustakaan.

Zeus yang sedang duduk di meja seberang langsung berdiri. Dia berjalan mendekat, bukan untuk membantu, tapi malah menendang buku yang jatuh itu menjauh dari tangan Selena.

"Lo itu beneran nggak becus ya? Cuma rapihin buku aja harus berisik?" sentak Zeus. Suaranya rendah tapi penuh penekanan yang menyakitkan.

"Gue nggak sengaja, Zeus! Tangan gue pegel habis bawain tas berat lo tadi!" bela Selena, matanya mulai panas.

Zeus maju satu langkah, mengintimidasi. "Gue nggak butuh alasan. Lo di sini karena lo yang salah dari awal. Jangan harap gue bakal lembut sama lo cuma karena lo cewek. Di mata gue, lo cuma pengganggu yang harus nebus kesalahan."

Dia kemudian mengambil tasnya, tapi sebelum pergi, dia sengaja menjatuhkan sisa tumpukan buku yang sudah rapi diselesaikan Selena hingga berhamburan lagi.

"Susun lagi dari awal. Sampai rapi. Gue bakal balik lima belas menit lagi, kalau belum selesai, lo pulang jalan kaki. Karena, bus sekolah gk mau nunggusipuy kaya lo!."

"Apa?! Lo gila ya?!" Selena berteriak frustrasi.

Zeus hanya menyeringai tanpa beban, seringai yang benar-benar tidak punya hati. "Gue pemilik kuasa di sini, Selena. Biasakan diri lo."

---

Selena terduduk di lantai perpustakaan yang dingin. Benar kata Rora, Zeus tidak punya hati. Rasa kasihan Selena kemarin karena melihat foto itu langsung menguap, berganti dengan rasa benci yang mendalam.

Bersambung...

1
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!