Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Aisyah terus berlari mencari di setiap sudut bandara internasional Soekarno-Hatta,dengan mata memerah dan bengkak ia menelusuri setiap sudut dan memperhatikan setiap orang yang lalu lalang berharap seseorang yang ia cari menampakkan diri,namun waktu berlalu tidak terasa dua jam sudah Aisyah berada di bandara mencari sosok yang begitu dekat di hatinya.
Saat baru saja menyelesaikan sholat isya, Aisyah mendapat telfon dari Mayang memberitahu jika David akan pergi ke luar negeri. Aisyah yang saat itu dalam penjagaan ketat oleh keluarga nya ,rela keluar dan melompat lewat jendela dengan cara mengikat seprai hingga menyentuh tanah. Kamar Aisyah yang berada di lantai dua menyulitkannya untuk keluar,tapi ia tak kehabisan akal.
Aisyah terduduk lemas di lantai bandara yang dingin, ia tak peduli pandangan orang-orang yang melihatnya. Saat ini ia hanya fokus pada pencarian David,tapi hingga pukul dua belas malam sosok yang di cari tak pernah ia lihat.
" Syah....ayo pulang, dia sudah pergi." Ucap seseorang sembari memegang pundak Aisyah yang terlihat begitu rapuh.
Sejak hari itu, Aisyah benar-benar berubah menjadi sosok yang tak dikenal oleh orang-orang di sekitarnya. David pergi tanpa pamit dan begitu tiba-tiba beberapa hari setelah percakapan mereka di taman kota ,hanya menyisakan surat singkat yang mengatakan dia tidak punya kekuatan untuk melihatnya menangis lagi dan telah memutuskan untuk pergi dan melupakan dirinya ,dan juga melarang Aisyah untuk mencari tahu keberadaannya.
Dulu Aisya adalah sosok wanita yang ceria dan suka berbagi cerita, kini Aisyah menjadi sangat pendiam. Dia jarang berbicara kecuali saat benar-benar diperlukan, dan senyum yang dulu sering menghiasi wajahnya hilang tanpa jejak. Rambut yang selalu dia rapikan dengan rapi kini sering kusut, dan pakaiannya yang dulu penuh warna kini hanya terbatas pada warna-warna netral seperti putih, abu-abu, dan hitam.
Dia mulai menyendiri, menghindari pertemuan keluarga dan berkumpul dengan teman-teman lama. Setiap hari, dia hanya keluar rumah untuk bekerja sebentar di cafe milik nya, lalu langsung kembali dan mengunci diri di kamarnya. Di dalam kamar, dia selalu duduk di sudut dekat jendela—menatap arah taman kota tempat mereka dulu sering berkumpul. Kadang-kadang dia mengeluarkan foto kecil yang mereka ambil bersama, membelainya dengan lembut sambil menangis sunyi tanpa suara.
Keluarga Aisyah mencoba segala cara untuk membantunya pulih. Mereka mengajaknya pergi berlibur, memperkenalkannya pada orang baru, tapi semuanya tak kunjung berhasil. Aisyah hanya bisa memberikan senyum yang paksa dan segera kembali menyendiri. Dia merasa seperti bagian dari dirinya telah hilang bersama David, dan rasa sakit kehilangan itu membuatnya terlalu rapuh untuk menghadapi dunia luar.
Saat malam tiba, seringkali dia terbangun karena mimpi buruk tentang David yang pergi menjauh darinya. Dia akan duduk bersandar pada kepala tempat tidur, menangis dalam diam sambil mengulang-ulang kata-kata terakhir yang mereka ucapkan saar terakhir kali mereka bertemu waktu itu.
Sementara itu, David kembali ke negara kelahirannya dan menjalani hidup seperti yang diharapkan keluarga .Dia menjadi orang yang sangat pekerja keras, seringkali menghabiskan waktu lebih lama di kantor atau membantu pekerjaan keluarga hanya untuk menghindari kesunyian di rumah. Ketika berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya ia terlihat biasa saja seolah tak ada yang terjadi ,padahal ada bagian dalam hatinya yang selalu kosong , tempat yang hanya bisa diisi oleh Aisyah.
David jarang berbicara tentang masa lalunya di Indonesia, dan setiap kali melihat sesuatu yang mengingatkannya pada Aisyah ,seperti lukisan yang mirip dengan yang pernah mereka buat bersama atau aroma bunga yang dulu menjadi favoritnya ,dia akan menjadi sunyi dan melihat ke kejauhan dengan ekspresi menyakitkan.
Suatu kali, dia mendapat kiriman video yang menampakkan sosok Aisyah yang sedang duduk dengan wajah yang pucat dan lesu. Tanpa mengatakan apapun, dia hanya menatap video rekaman itu sebentar lalu mematikan laptopnya dengan hati yang semakin berat. Dia menyadari bahwa keputusannya telah menyakiti Aisyah dalam cara yang lebih dalam dari yang dia bayangkan.
Namun semua yang dilakukan nya demi melindungi sang wanita.Hari- hari berlalu begitu cepat ,hingga tidak terasa sudah setahun David pergi begitu saja dan hingga saat ini Aisyah belum mengetahui keberadaan David dan alasan pria itu meninggalkan nya begitu saja.
" Syah....nanti malam kita sekeluarga makan di luar saja,mama rasa sudah lama kita sekeluarga tidak makan di luar." Ujar Bu Retno sembari membelai rambut putrinya yang terlihat kusut itu. Hatinya begitu sakit saat melihat kondisi putri nya yang seolah raga tanpa jiwa itu.
Tak ada jawaban,ya sejak kepergian David Aisyah seolah menjadi bisu, mulut nya seolah tak bisa berbicara seperti dulu.
" Bersiaplah... sebentar lagi kita akan pergi." Ujar sang ibu lagi karena tak mendapat respon dari Aisyah, Bu Retno pun keluar dari kamar dengan langkah yang begitu berat dan hati yang teriris.
Bu Retno menggeleng lemah saat ia baru saja keluar dari kamar Aisyah dan mendapati suami dan putra sulungnya sedang berdiri di depan kamar Aisyah.
" Apa katanya?" Cerca tuan Brawijaya tak sabar.
" Masih sama." Lirih mama Retno lemah,lalu beranjak meninggalkan suami dan putranya begitu saja .
Tuan Bramawijaya dan Firdaus pun memutar tubuh mereka mengekori wanita yang bertahta di hati mereka.
Di sisi lain, terlihat seorang pria dengan kacamata hitam bertengkar di kedua matanya, sosok tampan dan cool dengan menggunakan sweater Hoodie berwarna hitam di lengkapi celana jeans berwarna senada ,sedang berjalan keluar bandara dengan dua orang pria di sisinya.
" Rain..." Panggil seorang wanita sembari melambaikan tangannya ke arah Rain .
Mata Rain menoleh ke arah wanita itu,dengan senyum yang terpatri di wajahnya ia lalu berjalan menghampiri sang wanita.
" Sudah lama?" Tanya Rain lembut saat dirinya sudah berada di dekat wanita itu.
" Lumayan." Jawab sang wanita singkat , ia lalu berjalan di sisi Rain , sementara dua orang pria yang bersama Rain tadi berjalan di belakang mereka.
" welcome home, honey.." Sambut seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda di usianya yang sudah menginjak 50 tahun itu.
Rain yang baru tiba di rumah begitu terkejut karena mendapatkan sambutan yang begitu mewah dan heboh, dan yang melakukan semua itu sudah pasti wanita yang melahirkan nya itu.
Rain berjalan ke arah mamanya yang yang berdiri di depan pintu menyambutnya,ia lalu memeluk sang ibu , melepas segala kerinduan sejak tiga tahun ini tak bertemu dengannya.
" Anak mama sudah begitu dewasa,sudah waktunya punya pendamping." Ujar mama Delia sembari menepuk - belum dada putra semata wayang nya dengan penuh kelembutan.
Sedangkan Nisa yang berdiri di belakang Rain tersenyum tipis mendengar ucapan mama Delia.
Nisa bukanlah sosok asing di keluarga itu, ia dan Rain merupakan teman kecil.Mereka tumbuh bersama -sama di Dubai,namun Nisa lebih memilih pulang ke Indonesia sejak setahun lalu untuk mengembangkan karir nya di dunia modeling.