Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Manusia bermasalah
"Gue nggak minat!" Revan hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Van, please dengerin penjelasan gue dulu!" Lula memohon dengan pelan.
"Penjelasan apa yang mau lo sampaiin lagi ke gue? Semua udah terang benderang, lo udah selingkuh di belakang gue, harusnya lo sadar siapa bahwa kelakuan lo itu bikin gue muak!" ucap Revan kasar.
"Tapi gue nggak ada rasa sama Soni, maaf gue khilaf!" bujuk Lula lagi.
"Gue nggak peduli lo khilaf atau sadar pas ngelakuinnya, bagi gue lo udah end apapun alasen lo!"
"Van, please!" Lula terus memohon.
"Lo nggak tahu kalimat penolakan ya, Lul?!" omel Eza kesal juga mendengar Lula terus merengek.
"Lo nggak udah ikut campur!" bentak Lula songong.
"Lagian lo telat kali, Revan udah nikah tadi siang!" kata Abel dengan santainya.
"What?! Gue nggak percaya!" teriak Lula tak percaya.
"Kita mah nggak peduli lo percaya atau nggak, tapi emang kenyataannya Revan udah nikah tadi siang!" Eza mencoba menahan diri karena dia yang paling gampang emosian itu rasanya ingin menghantam wajah songong Lula.
"Sono pergi sono, kita masih ada urusan!" usir Abel tanpa akhlak.
Lula menghentakkan kakinya ke lantai lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Perekk lo!" maki Eza membuat Revan dan Abel menggelengkan kepalanya.
"Bantu Kiki, Za! Gue ama Abel mau nyelesaiin kerjaan kita dulu!" pamit Revan sebelum naik ke lantai dua rumah itu.
"Siap, Boss!" Eza meletakkan tangannya di atas kepala dan membentuk sikap hormat.
Revan dan Abel naik ke lantai atas warung itu yang dialih fungsikan sebagai ruang kerja mereka.
"Pak Roy barusan udah transfer pembayaran kita!" ucap Abel sambil membuka laptopnya.
"Full payment kan?" tanya Revan sambil matanya awas menatap email yang masuk.
"Iya, full!" Abel mengangguk pelan.
"Oke. Untuk penghasilan warung gimana, aman kan buat gaji karyawan dan biaya operasional lainnya?" tanya Revan.
"Aman, masih ada untung kita!" Abel menyodorkan laporan pendapatan warung kopi mereka.
Revan meraih laporan tersebut dan membacanya sekilas, Revan tidak pernah sedetail itu membaca laporan keuangan usaha mereka, dia percaya kepada Abel dan juga Eza juga.
"Kayaknya kita perlu nyari karyawan lagi deh, Kiki sama Wawan udah kewalahan ngelayani pelanggan apalagi kalau weekend gitu!"
"Ya udah lo cari aja lagi satu orang karyawan lagi buat bantuin mereka, kasihan aja sama Eza kalau Eza yang harus full jagain warung tanpa istirahat!"
"Nanti gue coba buka loker deh."
"Ini ada kerjaan lagi, Bel." Revan menggeser laptopnya dan memperlihatkan email dari klien yang masuk.
"Wah gede nih kerjaannya, lo sanggup, Van?" tanya Abel.
"Coba gue pelajari dulu permintaannya!" Revan kembali menekuri kembali laptopnya.
Mereka bekerja tanpa mengenal waktu sampai Eza masuk ke ruangan itu dan membuat keduanya menyudahi pekerjaan mereka.
"Cabut, udah malem, besok kita lanjutin lagi!" Revan merapikan laptopnya dan meraih jaket yang tersampir di kursinya.
"Kelon, Van! Kelon!" ledek Eza melihat Revan bergegas menuruni tangga.
"Bacot!" maki Revan sebelum benar-benar menghilang di depan sana.
"Nggak nyangka banget, gue bisa jadi sepupu iparnya Revan!" celetuk Abel sumringah.
"Harusnya gue ya tadi yang jadi suami sepupu lo, nangsip gue jelek amat!"
"Huek, najis gue iparan ama lo!" Abel memperagakan orang muntah lalu menyusul Revan meninggalkan tempat itu.
Revan memacu motornya menuju ke rumahnya, diperjalanan Revan berhenti untuk membelikan Amel martabak.
Menunggu sepuluh menit dan martabak manis pun siap dibawa pulang oleh Revan.
Sampai di depan pagar rumahnya, Revan mematikan motornya dan mendorongnya masuk ke dalam garasi rumahnya.
Revan masuk ke dalam rumahnya dengan kunci cadangan yang dia pegang.
Revan memindai seisi ruangan yang telah lengang dengan penerangan yang temaram, bukti bahwa Amel mungkin telah tertidur di kamarnya.
Tak ingin mengganggu, lebih tepatnya masih canggung kalau dia mengetuk kamar itu padahal sebenarnya Revan mau mengambil baju gantinya yang ada di dalam kamar sana.
Revan beranjak ke dapur, di sana sudah ada galon air mineral di dekat meja dapur. Pasti Amel yang membelinya.
Revan mengambil gelas dan menuang air dingin ke dalam gelas lalu membawanya ke ruang depan.
Revan baru mau membuka kotak martabak tersebut saat pintu kamar di depannya terbuka.
Amel muncul dari dalam sana. "Kebangun?" tanya Revan spontan.
"Mau ke kamar mandi!" jawab Amel dan bergegas menuju ke kamar mandi yang posisinya ada di dekat dapur.
Tak sampai lima menit Amel sudah kembali lagi ke ruangan itu. "Sorry gue lupa ngasih tahu lo kalau gue lembur!"
"Nggak papa, gue tahu lo sibuk!" ucap Amel sambil duduk di sebelah Revan.
"Martabak!" Revan menyodorkan kotak martabak di depan Amel.
"Gue udah makan sih tadi!" ucap Amel dan mengambil satu potong martabak di kotak itu.
Mereka menikmati martabak itu dalam diam. Pada dasarnya Revan itu memang pendiam orangnya, dia bisa bebas berbicara hanya dengan orang-orang terdekatnya saja.
Bunyi ponsel di dalam kamar Amel berbunyi dengan nyaring. Amel menghela nafas panjang karena tahu siapa yang seharian ini tanpa lelah menghubunginya terus.
"Hp lo bunyi!" Revan mengingatkan Amel yang tampak cuek itu.
"Biarin aja ntar juga mati sendiri!"
"Dari si bangsad?" tanya Revan santai.
"Iya!" jawab Amel singkat.
"Lo nggak blokir nomornya?" tanya Revan dingin, sisi egonya mulai terusik karena mantan calon suami istrinya masih menghubungi nomor istrinya tersebut.
"Udah, tapi dia ganti nomor terus!" jawab Amel.
"Bawa sini hp lo!" perintah Revan santai.
Amel bangkit berdiri dan menyambar hp yang tergeletak di bantalnya. Amel menyerahkan hp itu kepada Revan.
Revan menerima hp itu dan menggeser tombol hijau untuk menerimanya.
"Hallo, lo ngapain telpon bini gue terus?" tanya Revan dengan suara dingin.
"Dia calon istri gue!" jawab Doni dengan ketus.
"Cuman calon kan? Lo lupa gue udah halalin calon istri lo itu tadi siang?" tanya Revan dengan nada mengejek.
"Bangsad! Itu bukan maunya gue, kalian yang memaksa!" jawab Doni emosi.
"Jadi cowok tuh harus gentleman bro, berani bertanggung jawab kalau emang lo udah ngelakuin itu, jangan jadi banci!"
"Lo nantangin gue?!" Yang disana marah karena tak mau dinasehati.
"Gue bukan nantangin lo, tapi gue nggak suka bini gue digangguin terus kayak gini! Gue peringatin lo sekali lagi jangan ganggu bini gue!" ancam Revan kesal lalu mematikan panggilan itu.
Revan mendesah frustasi karena ada manusia-manusia bermasalah yang mengganggu hidupnya. Tadi Lula dan sekarang si Doni, dirasa memang Revan harus memberi peringatan pada keduanya atau hidupnya tidak bakalan tenang lagi.