"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pijatan Sang Mafia
Malam semakin larut, namun Velin belum bisa memejamkan mata. Cerita Bibi Amora tentang kematian tragis ibu Kieran terus terngiang di kepalanya. Dengan gaun sutra simpel namun elegan pemberian Bibi Amora, Velin memutuskan mencari Kieran untuk sekadar memastikan pria itu baik-baik saja.
Langkah kaki Velin membawanya ke taman belakang istana yang luar biasa luas. Di sana, terdapat sebuah danau buatan yang permukaannya berkilau diterpa cahaya bulan. Dari kejauhan, ia melihat sosok jangkung Kieran sedang berdiri mematung menatap air, tampak kesepian di tengah kemegahan yang ia miliki.
"Tuan Kieran!" panggil Velin sambil mempercepat langkahnya.
Namun, karena belum terbiasa dengan high heels setinggi sepuluh senti yang dipaksakan Bibi Amora padanya, kaki Velin mendadak tertekuk.
"Aaah!"
Krek!
"Velin!" Kieran berbalik secepat kilat. Melihat wanita itu hampir tersungkur, ia berlari dan langsung menangkap tubuh Velin sebelum menyentuh tanah.
"Apa yang kau lakukan?! Kau mau mencari mati dengan lari-lari memakai benda tajam ini?!" bentak Kieran dengan nada panik yang kental. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengangkat tubuh Velin dalam gendongan bridal style.
"Aduh... sakit, Tuan! Jangan dimarahin dulu, ini kakiku rasanya mau lepas!" rengek Velin sambil mengalungkan tangannya ke leher Kieran karena takut jatuh.
Kieran mendudukkan Velin di sebuah kursi taman berbahan besi tempa di pinggir danau. Ia berlutut di depan Velin, melepaskan sepatu mahal itu dengan gerakan kasar namun sebenarnya sangat hati-hati. Saat ia mendongak untuk mengomel lagi, kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Di bawah sinar rembulan, wajah Velin yang sudah dipoles tipis oleh tangan terampil Bibi Amora tampak luar biasa. Rambutnya yang biasa berantakan kini jatuh dengan gelombang yang sempurna.
"Apa... apa ini ulah Bibi Amora?" tanya Kieran dengan suara yang mendadak melembut. Matanya tidak bisa beralih dari wajah Velin.
"I-iya. Katanya aku harus belajar jadi Nyonya D'Arcy yang anggun," jawab Velin gugup, wajahnya memanas karena ditatap sedalam itu. "Jelek ya? Terlalu menor?"
Kieran terdiam sejenak, lalu tangannya beralih memijat pergelangan kaki Velin yang mulai membiru. "Tidak. Kau... jauh lebih cantik. Sangat cantik."
Velin hampir saja tersedak napasnya sendiri mendengar pujian jujur itu.
"Tapi tetap saja bodoh," sambung Kieran, kembali ke mode ngomelnya sambil menekan bagian yang terkilir. "Tidak perlu memakai heels setinggi ini kalau hanya di rumah. Kau bisa patah tulang. Gunakan ini hanya untuk acara formal, mengerti?"
"Iya, iya... ampun, Tuan Mafia," gumam Velin pelan.
Melihat Kieran yang biasanya memegang pistol kini justru berlutut di depannya sambil dengan telaten memijat kakinya, membuat hati Velin berdesir hebat. Ini jauh lebih romantis daripada adegan drama mana pun yang pernah ia tonton. Adriano tidak pernah sekalipun menyentuh kakinya, apalagi memijatnya dengan tatapan penuh perlindungan seperti ini.
"Tuan Kieran..." panggil Velin lirih. "Bibi Amora sudah cerita soal... Ibumu."
Gerakan tangan Kieran terhenti sesaat. Ia tidak mendongak, namun suaranya terdengar sangat rendah. "Lalu? Kau takut? Kau ingin melepas cincin itu dan lari kembali ke Adriano?"
Velin menggeleng cepat. Ia memberanikan diri menyentuh bahu Kieran. "Enggak. Aku cuma mau bilang... seratus miliarku kayaknya nggak bakal cukup buat bayar rasa aman yang kamu kasih ke aku. Aku nggak akan lari, Tuan. Lagian, cincin ini kayaknya emang udah betah di jariku."
Kieran akhirnya mendongak, menatap mata Velin. Untuk pertama kalinya, tidak ada kedinginan di mata itu, melainkan sebuah janji. "Selama kau di sampingku, sejarah itu tidak akan terulang. Aku akan memastikannya dengan nyawaku."
Velin terdiam, benar-benar dibuat salting (salah tingkah) ugal-ugalan. "Tuhan... kalau ini mimpi karena aku mati kurang tidur di kantor, tolong jangan bangunkan aku dulu. Mafia ini lebih manis daripada cokelat paling mahal di dunia!" batin Velin histeris.
terimakasih 🙏🙏🙏