NovelToon NovelToon
DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lorenzo Leonhart

✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, Jum'at, pukul 19.00 wib, dan Minggu Pukul 07.00 wib.


Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.

Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.

Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.

dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Takdir dan Suar Kehancuran

Fajar di wilayah Vargos tidak pernah membawa kehangatan yang benar-benar tulus. Di dunia ini, sang surya seolah enggan menampakkan diri sepenuhnya, seakan takut pada apa yang tersembunyi di balik kabut hitam yang menyelimuti rawa-rawa abadi.

Matahari yang muncul di balik cakrawala tampak seperti bola jingga pucat yang terhalang kabut abadi, menyinari sisa-sisa kejayaan kastil yang kini hanya berupa menara-menara retak.

Bagi Ren, ini adalah pagi paling aneh dalam hidupnya. Sensasi itu sangat nyata, namun terasa seperti mimpi buruk yang enggan berakhir. Ia tidak lagi dibangunkan oleh bunyi alarm ponsel yang melengking yang biasanya membuatnya ingin melemparkan benda itu ke dinding, atau rasa sesak di dada membayangkan tumpukan laporan yang harus selesai sebelum jam sembilan pagi.

Dari nyamannya istirahat yang terasa langka di dapatkan, ia terbangun di atas ranjang sutra yang dingin dan luas, dengan aroma kemenyan kuno yang memenuhi kamar, aroma yang mengingatkannya pada tempat-tempat suci yang sudah lama ditinggalkan. Silas sudah berdiri tegak di samping tempat tidurnya, mengenakan pakaian pelayan hitam-putih tanpa cela, seolah ia tidak pernah tidur sedetik pun, atau mungkin ia memang tidak butuh tidur.

Di tangannya, ia memegang sebuah baki perak

berisi zirah merah dengan relief singa emas yang memantulkan cahaya redup fajar.

"Selamat pagi, Tuan. Hari ini adalah hari penobatan Anda," ucap Silas dengan bungkukan hormat yang presisi. Gerakannya begitu sempurna hingga Ren merasa seperti sedang menonton film kolosal dengan anggaran tak terbatas.

Ren duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang kini terasa lebih tirus namun memiliki garis rahang yang tegas, seolah-olah transmigrasi ini juga merombak struktur tulangnya. Ia menyentuh sepasang tanduk merah yang mencuat dari sela-sela rambutnya. Masih terasa berat, asing, dan sedikit berdenyut setiap kali ia mencoba mengalirkan emosinya.

"Silas, apa penobatan ini benar-benar perlu? Maksudku, lihatlah ke luar. Kastil ini kosong. Penduduknya tidak ada. Hanya ada kalian berenam. Kenapa kita tidak langsung saja bekerja mencari aliansi?".

Silas tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kebijaksanaan ribuan tahun, "Tuan, penobatan ini bukan sekadar formalitas belaka. Ini adalah ritual resonansi jiwa. Di bawah lantai kastil ini, terdapat jantung energi Vargos yang telah tertidur sejak Raja Leon ke-8 gugur. Tanpa mahkota dan sumpah resmi, Anda hanyalah 'tamu' di tubuh ini. Namun dengan mahkota, Anda akan menjadi 'pemilik' sah yang bisa mengontrol setiap inci pertahanan kastil ini. Tanpa itu, kastil ini hanyalah tumpukan batu mati yang menunggu runtuh."

Ren berdiri, membiarkan Silas membantu mengenakan zirah merah singa emas itu. Logamnya tidak seberat yang ia bayangkan, namun setiap komponen yang terpasang seolah menambah beban di pundaknya secara metafisik. Saat logam dingin itu menyentuh kulitnya, sebuah layar transparan mendadak muncul di depan matanya, berpendar dengan cahaya biru yang lembut namun otoritatif.

[ SISTEM DIAKTIFKAN: JALAN SANG RAJA ]

[ Misi Utama: Penobatan Penguasa Tunggal ]

[ Tujuan: Mengenakan Mahkota Vargos di Atas Singgasana ]

[ Hadiah: Kemampuan - Aura Penguasa (Lv. 1) & Peta Wilayah yang Hilang ]

Ren menghela napas panjang. Pemandangan ini terlalu akrab baginya. "Bahkan di dunia fantasi pun, aku masih diberikan daftar tugas harian. Benar-benar sistem kerja yang tidak punya rasa kasihan," gumamnya sinis. "Kuharap lembur di sini setidaknya dibayar dengan nyawa yang lebih panjang."

Aula Utama takhta Vargos terlihat sangat mencekam namun megah. Ruangan itu begitu luas hingga cahaya fajar yang masuk dari jendela tinggi tidak sanggup mencapai sudut-sudut terjauh, meninggalkan bayangan yang tampak seperti makhluk hidup yang sedang mengintai. Suara langkah kaki Ren menciptakan gema yang panjang, memantul di antara pilar-pilar raksasa yang diukir dengan wajah-wajah raja terdahulu yang tampak menghakiminya.

Keenam petinggi sudah berdiri dalam formasi dua baris, menciptakan jalan setapak menuju singgasana yang terbuat dari kristal hitam pekat yang seolah menghisap cahaya di sekitarnya.

Di baris depan sebelah kiri, Shallan berdiri tegak dengan pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke depan, mencerminkan disiplin militer rasi Leo yang melegenda.

Di belakangnya, Mika, telinga kucingnya bergerak-gerak sensitif menangkap suara yang terdengar, sementara matanya yang berwarna hijau terus memandang Ren dengan rasa penasaran.

Di baris paling belakang sisi kiri, Kagehisa berdiri diam layaknya patung logam, Aura dingin dari zirah samurainya membuat lantai di sekitarnya sedikit membeku.

Di baris depan sebelah kanan, Alice tampak sangat antusias, sesekali melompat kecil dengan gaun hitamnya yang mengembang, seolah penobatan ini adalah pesta ulang tahun yang sudah ia tunggu ribuan tahun.

Dibelakangnya, Behemoth yang setinggi tiga meter, berdiri seperti gunung batu yang tak tergoyahkan, napasnya yang berat terdengar seperti hembusan angin di dalam gua.

Dan tentu saja, Silas berdiri tepat di samping singgasana, memegang mahkota emas hitam yang permata merahnya berdenyut layaknya jantung hidup yang merindukan tuannya.

Ren melangkah maju. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah udara di aula itu berubah menjadi cairan kental yang menuntut kekuatan fisik besar hanya untuk berjalan. Ini bukan sekadar gravitasi...., ini adalah tekanan magis dari singgasana yang menguji kelayakannya.

Namun, Ren tidak berhenti. Ia menatap singgasana itu, kursi yang telah membawa banyak raja sebelumnya menuju kejayaan sekaligus kehancuran yang menyedihkan.

Saat Ren sampai di depan singgasana, Silas berlutut dengan khidmat, diikuti oleh lima petinggi lainnya secara serentak. Suara denting zirah mereka yang menghantam lantai batu terdengar seperti guntur kecil yang menggetarkan fondasi kastil.

"Tuan Ren Akasa," suara Silas bergema memenuhi aula, berat dan penuh otoritas.

"Di depan para saksi abadi dan sisa-sisa kejayaan yang terlupakan ini, bersediakah Anda memikul beban sebagai pelindung para iblis? Bersediakah Anda memimpin kami keluar dari bayang-bayang menuju cahaya kedaulatan? Bersediakah Anda menjadi Raja dari semua ras yang ada di dunia ini?".

Ren menatap wajah mereka satu per satu. Ia melihat harapan di mata Alice, kesetiaan buta di mata Shallan, dan keraguan yang membisu di balik zirah Kagehisa yang dingin.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengingat kembali betapa lemahnya dia saat masih menjadi bawahan di dunia asalnya, pria yang hanya bisa menunduk saat dimaki.

"Aku bersedia," ucap Ren dengan suara yang dalam. Ia merasa suaranya sendiri terdengar berbeda, lebih berat...., lebih berwibawa.

"Aku juga bersumpah, aku tidak akan menjadi raja yang duduk diam menunggu persembahan, Aku akan menjadi pedang yang menebas ketidakadilan dan perisai bagi mereka yang dikhianati oleh dunia ini. Jika dunia menginginkan aku menjadi iblis maka aku akan menjadi iblis yang bijaksana".

Silas mengangkat mahkota itu dan perlahan meletakkannya di antara kedua tanduk Ren.

ZRRRRRTTTT!

Seketika, gelombang energi hitam pekat meledak dari singgasana, menyapu seluruh aula dengan kekuatan yang dahsyat hingga membuat pilar-pilar batu bergetar hebat. Ren merasa tubuhnya terangkat beberapa inci dari lantai. Jutaan helai informasi mengalir masuk ke otaknya, sejarah Vargos, peta rahasia, mantra-mantra kuno, hingga denyut jantung setiap jenderalnya. Ia kini bisa merasakan struktur tanah Vargos hingga ke akar-akarnya, setiap pintu rahasia di dalam kastil.

Gema energi itu tidak berhenti di dalam kastil. Ia menembus atap aula, membubung tinggi ke langit sebagai pilar cahaya hitam yang membelah awan fajar. Pilar itu menjadi suar raksasa yang menembus dimensi, menandakan pada dunia bahwa jantung Vargos telah berdenyut kembali.

Perlahan aura asap gelap menyelimutinya, mencoba masuk kedalam tubuhnya perlahan, namun Ren melawan dengan ketenangan hingga membuat aura asap gelap itu patuh tidak berani masuk lebih dalam, meskipun begitu perasaan kebencian, amarah dan segala hal sifat-sifat iblis mulai ia rasakan, bukannya merasa takut tapi itu menjadi nikmat baginya, dari kenikmatan itu membuat Ren jadi khawatir akan sisi kemanusiaannya, meski begitu ia tetap bisa mengendalikannya sehingga membuat Kagehisa menatap takjub, ia sanggup mengendalikan segala yang menghasutnya menjadi patuh.

[ Misi Selesai! ]

[ Gelar Didapatkan: Raja Bintang Leo ke-9 ]

[ Kemampuan Baru Terbuka: Aura Penguasa (Pasif) ]

Ren terjatuh duduk di singgasana, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Mahkota itu kini terasa menyatu dengan kepalanya, mahkota itu tampak jadi transparan tak terlihat.

Namun, ekspresi wajahnya berubah menjadi cemas saat melihat pilar cahaya hitam itu mulai memudar di langit.

"Silas... gema energi tadi... itu terlalu mencolok, bukan?" tanya Ren dengan nada khawatir yang masih tersisa dari sisi manusianya. "Itu seperti menyalakan lampu suar di tengah kegelapan yang penuh dengan pemangsa."

Silas berdiri, merapikan sarung tangan putihnya dengan tenang, seolah ledakan energi tadi hanyalah angin lalu. "Benar, Tuan. Gema itu adalah sinyal bagi seluruh dunia. Para penyihir sensor di kerajaan manusia pasti sudah mendeteksi frekuensi ini sekarang. Bagi mereka, ini bukan sekadar kembang api. Ini adalah alarm perang yang menyatakan bahwa musuh terbesar mereka telah bangkit kembali".

Ibukota Kerajaan Suci Arthemis – Beberapa waktu Kemudian.

Di dalam Ruang Konsul yang dingin dan bercahaya putih menyilaukan, kontras dengan kegelapan Vargos, beberapa pria dengan jubah sutra mahal dan zirah emas berkumpul di sekitar Bola itu menunjukkan titik hitam pekat yang berdenyut di peta wilayah Vargos, wilayah yang selama ini mereka anggap sebagai tanah mati.

"Mustahil! Takhta Vargos seharusnya sudah hancur ratusan tahun lalu! seru Paus Richard Stride, suaranya gemetar antara takut dan marah, membuat janggut putihnya ikut bergetar.

"Data tidak berbohong, Yang Mulia," sahut seorang pria dengan penutup mata sebelah, ialah Inquisitor Malphas.

"Itu adalah tanda kebangkitan Raja Iblis. Frekuensi energinya murni, gelap, dan sangat kuat. Seseorang telah berhasil menduduki kursi raja iblis dan membangunkan kembali jantung Vargos."

"Apakah kita harus mengirim batalion sekarang juga? Kita hancurkan reruntuhan itu sebelum mereka sempat membangun kekuatan!" tanya seorang jenderal muda dengan penuh ambisi.

"Jangan bodoh," Malphas memotong dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Wilayah Vargos penuh dengan jebakan dimensi dan sisa-sisa kutukan kuno dari perang besar terdahulu. Kita tidak tahu siapa yang duduk di sana sekarang. Kita tidak bisa mempertaruhkan nyawa lima ratus prajurit hanya untuk menebak-nebak tempat berawa yang beracun!"

Dari sudut ruangan yang gelap, seorang pemuda dengan pakaian kulit praktis dan syal cokelat yang menutupi separuh wajahnya melangkah maju.

Langkahnya tidak bersuara, menunjukkan keahliannya dalam bergerak di bayang-bayang. Matanya tajam, dan penuh waspada.

"Biar aku yang pergi," ucap pemuda itu.

Namanya adalah Kael, salah satu Kandidat Pahlawan yang dikenal memiliki kecepatan dan kemampuan menyamar terbaik di seluruh Arthemis.

"Aku akan mengintai kekuatan mereka. Jika mereka benar-benar hanya sisa-sisa monster yang lemah yang mencoba bermain raja-rajaan, aku akan menandai koordinatnya untuk serangan artileri sihir kalian. Kita habisi mereka dari jarak jauh tanpa perlu mengotori sepatu bot kita."

Malphas mengangguk perlahan. "Pergilah, Kael. Bawa informasi yang akurat. Ingat, jangan gegabah. Jika benar Raja Iblis telah bangkit, dunia manusia tidak boleh membiarkannya bernapas terlalu lama. Matikan apinya sebelum menjadi kebakaran besar yang melahap kita semua."

Kembali ke Kastil Vargos seminggu kemudian.

Suasana aula takhta kini terasa lebih tenang, namun ketegangannya berbeda. Ren kini bisa merasakan emosi para jenderalnya melalui ikatan mahkota. Mika mendadak menegakkan telinga kucingnya, tubuhnya sedikit merendah seolah siap menerkam sesuatu yang bahkan belum terlihat oleh mata telanjang.

"Tuanku Raja Leon," ucap Mika dalam komunikasi pikiran, suaranya terdengar sangat serius, menghilangkan kesan manisnya.

"Aku merasakan getaran kecil di garis luar hutan perbatasan. Bukan derap kaki pasukan yang berisik, tapi sesuatu yang sangat halus... sangat cepat... seperti embusan angin yang memiliki niat membunuh."

Ren menyandarkan kepalanya di takhta kristal yang dingin. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menggunakan fitur sistem yang baru terbuka. Benar saja, ia bisa merasakan melalui sistem bahwa ada satu titik cahaya asing yang masuk ke dalam radius pengawasannya. Titik itu bergerak sangat lincah, menghindari sensor-sensor sihir standar kastil.

"Seorang pengintai, ya? Kerajaan Arthemis bergerak lebih cepat dari perkiraanku," gumam Ren. Logika kantorannya bekerja, jika sebuah kompetitor baru muncul di pasar, perusahaan besar pasti akan mengirim orang untuk memata-matai rahasia dagang mereka.

Ren menatap para jenderal dengan sorot mata yang kini mulai dipenuhi otoritas Leon. "Alice, jangan serang dulu. Aku tahu kau ingin bermain, tapi tahan dirimu. Shallan, siapkan posisi di balik tembok gerbang, pastikan jalur masuknya terlihat longgar namun sebenarnya adalah perangkap.

Kagehisa, aku ingin kau tetap dalam bayangan tanah. Jangan tunjukkan dirimu sama sekali kecuali aku memberi perintah langsung."

"Tuan, apakah kita akan membiarkannya mendekat dan melihat kelemahan kita?" tanya Behemoth dengan suara beratnya yang menggetarkan udara.

Ren tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan perhitungan logis dari masa-masa ia menghadapi pesaing bisnis yang mencoba menjatuhkan divisinya.

"Biarkan dia masuk sedikit lebih dalam. Biarkan dia melihat apa yang ingin aku perlihatkan".

Ren berdiri dari takhtanya, jubah merahnya melambai oleh aura violet berlapis hitam yang mulai merembes keluar dari tubuhnya tanpa ia sadari. Ia merasakan kekuatan yang meluap, namun juga tanggung jawab yang mencekik.

"Selamat datang di duniaku yang baru".

Bersambung...

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kykny....si mantan pahlawan idiot itu
Frando Wijaya
mah....spapun pasti sulit bertahan....apalg....lbh sulitny...tahan emosi
Frando Wijaya
gantz? gw merasa sedikit familiar
Frando Wijaya
trauma ya?...yah..gk heran sih...tpi utk anakny....gw gk Tau msh hidup atau dh mati
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
nee Thor...gw ingin Tanya...raja iblis ke 1 sampe 8.... apakh...dewi yg nonton itu...dh Tau?
Frando Wijaya
hmph 🙄...idiot asli
Frando Wijaya
hmph 🙄....dh mirip seperti raja iblis sebelomny
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya ✨❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan, biar aku makin semangat ✨
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Lorenzo Leonhart: siaap💪
total 1 replies
Frando Wijaya
jd begitu....alasan jd kejam gara2 mahkota itu ya? bner2 berbahaya
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩...sgt seru Thor
Frando Wijaya
itulh gw anggap mereka gagal
Frando Wijaya
sesuai dugaan saintess....bch tengkik ini penghancur
Frando Wijaya
di anggap NPC bneran wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!