Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Segala upaya telah dilalukan akan tetapi, semua seakan suram dan tidak segera menjumpai titik terang. Nafis benar- benar marasa semau jalan telah buntu. Membujuk ummi mertuanya rasanya itu hanya sebuah kesia-siaan. Sementara berharap Hanafi berontak itu sebuah kemustahilan. Pada akhirnya Nafis memilih menyerah, merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dia pertahankan, mebuat Nafis memberanikan diri mengambil sebuah keputusan besar. Dia memilih hijrah m, menjauh dari suami yang sudah tidak bisa dia sandari lagi.
Pukul dua dini hari, usa dia menikmati waktu memadu kasih dengan Sang pemilik kehidupan melalui ruku' dan sujudnya, Nafis mantap mengemasi barang-barangnya. Dengan berurai air mata dia kelaurkan satu persatu baju dari lemari pakaiannya. Tak lupa Nafis juga memasukan semua barang berharga miliknya, karena dia yakin akan sangat sulit mengamankan asetnya setelah dia kelaur dari rumah hari ini.
Sebenarnya sudah dari kemaren Nafis ingin pergi tapi hati kecilnya masih berharap suaminya akan berubah, jika bukan untuk dirinya setidaknya Hanafi memikirkan kedua anaknya. Sayang semenjak dua hari lalu Hanafi tidak pulang. Entah berada di rumah umminya atau di tempat yang lain Nafis tidak peduli.
Semua barang sudah dia siapkan, tinggal besok setelah subuh dia masukan kedalam mobil. Beruntung Hanafi pergi dari rumah tak mengunakan mobilnya, bagaimana mau pakai kalau kunci mobilnya Nafis simpan semua di dalam brangkas. Nafis tak mau mobil yang dibeli dari hasil kerja kerasanya di pakai Hanafi untuk menyenangkan calon istri barunya.
Semua asisten rumah tangga sudah dia beri tau, beberapa dari mereka memutuskan untuk tetap imut denganku hanya mbak Asih yang biasa membantu mbak Mur setrika saja yamg tidak ikut. Karena dia orang asli sini dan tidak bisa ikut Nafis karena ada anak dan suami yang tidak bisa dia tinggal. Begitu alasanya, meskipun tau alasan wanita itu sebenarnya, Nafis tak masalah.
Pukul delapan pagi semau sudah bersiap, semua koper sudah ku masukan kedalam mobil. Dua mobil sudah Nafis kirim ke tempat barunya kemaren melalui jasa pengiriman kendaraan. Semetara untuk perjalannya kali ini Nafis mengunakan toyota Alphard hitam dan satu mini bus yang biasa di gunakan untuk oprasional butiknya.
Sebenarnya Nafis hendak langsung berangkat akan tetapi dia yakin entah Hanafi atau umminya pasti akan segera datang, karena mbak Asih pasti sudah melapor kepada ummi mertuanya. Sedari awal mbak Asih masuk Nafis sudah tau jika, dia adalah orangnya ummi Aminah mertuanya.
" Bu kita sudah siap berangkat sekarang, semua sudah siap. Semau barang juga sudah masuk kedalam mobil " Nafis menoleh ke arah kang Tejo.
" Tunggu sebentar kang, tunggu mas Hanafi datang " Kang Tejo hanya mengangguk.
" Kang tolong minta mbak mirna dan maman jalan duluan, nanti kita ketemu di butik saja. Saya tidak mau Naufal melihat huru-hara disini " Kang Tejo mengangguk patuh.
" Apa tidak sebaiknya kita juga langsung pergi saja bu ?"
" Saya masih istrinya mas Hanafi kang, setidaknya saya sudah ijin beliau mau pergi."
" Baik kalau begitu bu." Nafis tau kang Tejo tidak setuju tapi, Nafis yakin beliau tetap akan mendukungnya.
Mobil yang membawa Naufal perlahan menjauh. Bersama dengan datangnya mas Hanafi dengan mengendari motor yang dulu ku beli sebagai kado ulang tahunnya. Dia terlihat bingung, sepertinya dia juga baru bangung tidur. Rambutnya yang biasa rapi terlihat sedikit berantakan.
" Assalamu'alaikum dek..." Ucapnya dengan nafas memburu, seolah baru selesai mengikuti lari maraton saja.
" Wa'alaikum salam.."
" Kamu mau kemana dek ?" Dia berusaha meraih tangan Nafis.
" Maaf mas, aku merasa sudah tidak ada yang bisa aku pertahankan disini. Aku akan menepi mas, menjauh dari segala hal yang membuatku merasa sakit." ucap Nafis mantap.
" Dek tolong, jangan begini. Kita masih bisa kan bicara baik-baik" Nafis terkekeh.
" Apa lagi yang mau kita bicarakan mas, apa mas sanggup menolak permintaan ummi, tidak bukan ?" Hanafi terdiam.
" Aku hanya tidak mau anak-anak ikut sakit. Cukup aku saja mas yang merasakan ini semua. Sudah cukup selama ini aku berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita. Karena kemaren-kemaren aku masih berharap lambat laun kamu akan bersikap lebih adil kepada aku dan ummi tapi, nyatanya tetap tidak kan ?"
" Itu berarti secara tidak langsung kamu meminta aku memilih antara kamu atau ummi begitu ?" Nafis terkekeh, menyadari betapa ceteknya cara berfikir suaminya.
" Sama sekali tidak, aku paham betul aku dan ummi mempunyai kapasitas berbeda dalam diri kamu."
" Terus mau kamu apa, aku harus bagaimana ?"
" Ini yang aku tidak suka dari kamu mas, kamu selalu tidak bisa mengambil keputusan bijak jika sudah menyangkut tentang ummi mas. Mas kalau selama ini aku mengalah dengan semua kemauan ummi termasuk soal sekolahnya Azizah juga keuangan kamu yang masih diatur ummi, itu karena aku masih berusaha menghormati beliau. Dan untuk sekolah Azizah aku merasa itu juga demi kebaikan putriku. Dalam banyak hal aku bisa kompromi mas, tapi tidak untuk kali ini mas. Apa yang ummimu lakukan benar-benar membuatku sakit mas, cukup aku menyerah mas " Lagi-lagi tangis Nafis pecah. Kang Tejo dan mbak Nur hanya bisa menatap iba majikannya itu.
" Kamu yakin mau menyerah dengan rumah tangga kita dek, tidak kasihan kah kamu sama anak-anak ?" Nafis tertawa di sela derai air matanya.
" Masih peduli kamu sama anak-anak mas?"
" Seharusnya jika kamu masih peduli, kamu tidak akan mengiyakan begitu saja kemauan ummi mas. Tidak kah kamu berfikir bagaiamana perasaan Azizah, bisakah kamu bayangkan betapa kecewanya putrimu itu, kalau dia tau apa yang kamu lakukan ?"
Tangis Nafis pecah membayangkan betapa terlukanya putrinya, saat mengetahui abi yang begitu dia banggakan melukai kepercayaannya.
" Satu lagi mas, bersiaplah. Mungkin tak lama lagi akan ada panggilan dari pengadilan agama. Maaf aku benar-benar menyerah dengan rumah tangga ini "
" Berani kamu mengugat putraku Fis " Suara lantang ummi Aminah membuat semua orang terkejut.
" Lihat saja apa yang akan ku lakukan pada Zizah jika kamu masih saja nekad. Aku jamin kamu tidak akan bertemu dengan Zizah setelah ini." Nafis terlihat menghela nafas.
Kedatangan ummi Aminah tak membaut Nafis terkejut. Iya yakin mbak Asih sudah melaporkan semuanya ke ummi Aminah. Soal ancaman ummi Aminah pun Nafis juga sudah tidak terkejut, memang selalu itu yang menjadi senjatanya ummi saat aku mulai berontak. Biasanya Nafis menjadi lemah dan mengalah karena itu tapi, kali ini Nafis sudah mantap. Dia percaya akan ada jalan untuknya dan Azizah jika saat ini Ummi mertuanya memilih mengasingkan Zizah.
" Maaf ummi keputusan Nafis sudah bulat. Jika ummi menginginkan Nafis masih berasa di sisi mas Hanafi. Tolong urungkan niat mas Hanafi untuk menikahkan kembali Mas Hanafi"
" Jangan Harap, memiliki menantu bergaris keturan kya adalah impianku sejak dulu. Mimpi sudah di depan mata mana mungkin ummi sia-sia kan " Nafis kembali menghela nafas.
" Baiklah jika keputusan ummi sudah bulat. Sekarang aku tanya sama kamu mas. Apakah masih ada alasan kuat untuk aku bertahan dengan rumah tangga ini mas, bisakah kamu cukupkan hanya aku satu-satunya istri kamu mas ?" Terlihat Hanafi nampak bimbang.
" Dek..." Nafis mengangkat kedya tangannya.
" Cukup mas, tidak perlu kamu jawab. Aku sudah tau pasti jawabanmu. Aku pamit mas, maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu " Ucap Nafis sembari berlalu.
" Ingat Nafis, jangan harap kamu bisa kembali kerumah ini, setelah kamu memutuskan keluar " Nafis membalikan badan sembari tersenyum.
" Siapa yang bisa melarang saya kembali kerumah yang saya bangun dan beli sendiri tanahnya nyonya Aminah ?"
Ummi Aminah nampak terkejut dengan ucapan Nafis. Terlebih selama ini dia selalu bilang kalau rumah dan tanah ini hasil kerja keras Hanafi. Padahal semau orang juga tau siapa yang paling bekerja keras du dalam rumah tangga ini. Warga sekitar pun juga tau jika rumah ini hasil kerja keras Nafis. Mereka hanya suka diam-diam tertawa saat ummi Aminah membicarakan itu.
Dengan mantap Nafis berjalan meninggalkan rumah 2 lantai yang dia bangun dengan susah payah itu. Dengan tenang dia memasuki mobilnya yang sengaja sudah di parkir kang Tejo di luar gerbang.
" Ampuni hamba ya Allah, hamba memilih menyerah." Ucap Nafis dalam hati.
" Yang sabar ya bu, semoga setelah ibu segera menemukan kebahagiaan hidup " Ucap mbak Nur yang duduk di sebelah kang Tejo.
" Aamiin mbak, terima kasih mbak dan kang Tejo selalu ada untuk saya dan Naufal. Oya kang, tolong jangan cerita dulu ke keluarga di Kaliurang ya kang " Meski berat kang Tejo hanya bisa mengiyakan keinginan majikannya.
" Iya bu, kami paham kok. Lalu, sekarang kita mau kemana ?"
" Ke Magelang kang, kang Tejo ingat kan saya punya ruko dan rumah disana ?" Tejo mengangguk.
" Tapi sementara kita akan tinggal di ruko dulu tidak apa-apa kan kang, mbak ?"
" Tidak masalah bu, kami ikut kemana pun ibu pergi " Ucap mbak Nur tulus.
" Terima kasih mbak, kang. Kita jemput Naufal dulu ya kang " Mbak Nur menganguk mantap.
" Baik bu "
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.