NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Bukan Anak Kandung

Intan terus menangis di depan jenasah pak Wito. Dia begitu sedih lagi - lagi ditinggalkan oleh orang terkasihnya dengan cara mendadak. Iya, belum juga hilang kesedihannya ditinggalkan oleh sang suami yaitu Ridwan karena kecelakaan, Intan harus mengalami keguguran. Dan baru beberapa minggu kemudian Intan harus rela kehilangan bapanya yaitu pak Wito.

"Intan... Apa ibumu sudah dikabari...?'' tanya pak ustad yang mengurus jenazah pak Wito.

"Sudah pak ustad, ibu sedang dalam perjalanan pulang..." jawab Intan.

Iya, begitu tahu sang bapa meninggal Intan langsung menelpon sang ibu dan memberitahu kabar tersebut. Dan bu Yuyun langsung bergegas untuk pulang. Namun karena pantai tempat bu Yuyun berlibur jaraknya cukup jauh, yaitu ditempuh selama empat jam menggunakan mobil.

Selain mengabari bu Yuyun, Intan juga mengabari tante Indri adik kandung pak Wito. Dan dia sudah datang lima belas menit yang lalu.

"Kamu ini bagaimana sih Intan, seharusnya kamu tidak meninggalkan bapa kamu sendirian di rumah..." tante Indri menyalahkan Intan.

Lalu Intan menjelaskan pada tante Indri kalau saat dia pergi ada sang ibu yang berada di rumah. Intan juga tidak tahu kalau bu Yuyun juga ikutan pergi karena tidak pamit pada Intan.

"Halah alasan saja kamu ini... Tante tahu ,kamu dan ibumu sudah bosan kan mengurus mas Wito. Makanya kamu sama ibumu terlantarkan mas Wito..." ucap tante Indri dengan ketus.

Iya, tante Indri memang tidak suka dengan Intan dan juga bu Yuyun. Karena dua puluh tahun lalu tante Indri tahu jika bu Yuyun pernah selingkuhi pak Wito hingga bu Yuyun hamil dengan selingkuhannya itu dan lahirlah Intan.

Iya... Intan bukan anak kandung pak Wito. Saat itu pak Wito bekerja di perkebunan sawit di pulau Kalimantan. Sedangkan bu Yuyun ibu tumah tangga biasa. Pak Wito hanya bisa pulang empat bulan sekali. Karena bu Yuyun perempuan yang sangat cantik, tentu saja banyak laki- laki yang suka padanya, apalagi mereka tahu jika bu Yuyun ditinggal merantau oleh sang suami. Beberapa laki- laki pun mencoba mendekatinya.

Karena merasa kesepian, pertahanan bu Yuyun pun akhirnya runtuh juga. Ada salah satu laki- laki yang berhasil menggoyahkan hatinya dan mereka berselingkuh hingga bu Yuyun hamil. Dan saat pulang dan mengetahui bahwa sang istri hamil, pak Wito tentu saja curiga. Karena saat pak Wito pergi Yuyun sedang datang bulan. Dan empat bulan kemudian saat Wito pulang, Yuyun hamil tiga bulan. Namun bu Yuyun bersikeras mengatakan bahwa anak dalam kandungannya adalah anak pak Wito.

Namun seiring berjalannya waktu Wito mendengar isu yang beredar dari para tetangganya jika selama Wito tidak ada di rumah, Yuyun sering pergi dan beberapa kali dia kedatangan tamu laki- laki di malam hari. Para tetangga pun memberi usul pada Wito agar melakukan tes DNA saat anak dalam kandungan Yuyun lahir nanti.

Dan saat yang ditunggu pun tiba. Yuyun melahirkan bayi Intan yang sangat cantik.Dan secara fisik tidak ada mirip- miripnya sama sekali dengan Wito dari hal apapun.

Kemudian tanpa sepengetahuan Yuyun, Wito melakukan tes DNA. Dan hasilnya bayi Intan bukalah anak kandungnya melainkan anak dari laki- laki selingkuhan Yuyun. Dan satu tahun berlalu akhirnya pak Wito menemukan laki- laki selingkuhan Yuyun. Ternyata dia adalah temen sekolah Yuyun saat SMP. Dan statusnya dia juga sudah beristri. Oleh karena itu laki- laki itu tidak bertanggung jawab atas kehamilan Yuyun.

Wito yang tidak terima istrinya dihamili oleh laki- laki lain pun menghajar selingkuhan Yuyun. Hingga akhirnya laki- laki itu diusir dari tempat dia tinggal bersama istri dan anaknya. Iya, saat itu mereka menyewa sebuah rumah kontrakan.

Si pemilik rumah tidak sudi kalau rumahnya ditempati oleh tukang selingkuh, makanya dia memilih untuk mengusirnya pergi dari rumah. Dan mulai hari itu, laki- laki selingkuhan Yuyun tidak pernah terdengar lagi kabarnya.

Sedangkan Wito sebenarnya ingin menceraikan Yuyun. Tapi melihat bayi Intan yang tidak berdosa, Wito tidak tega, apa lagi Yuyun tidak punya sanak saudara lagi di dunia ini. Apa lagi Wito sadar selama lima tahun menikah dengan Yuyun, dia belum bisa memberikan anak untuk Yuyun. Dokter bilang sp*rma Wito terlalu encer, jadi sulit melakukan pembuahan di dalam rahim.

Dan pada akhirnya Yuyun malah dengan mudahnya hamil oleh laki- laki lain. Sakit hati sudah pasti. Tapi lagi- lagi karena kebaikan hatinya, Wito ikhlas untuk memaafkan Yuyun. Dan untuk menghindari perselingkuhan lagi, Wito keluar dari pekerjaan lamanya walaupun gajinya besar. Wito memilih mencari pekerjaan yang dekat saja yang tidak harus berpisah hingga berbulan-bulan dengan Yuyun. Dia bisa pergi pagi pulang sore.

Wito mendapatkan pekerjaan sebagai kuli bangunan. Namun setelah enam bulan bekerja, Wito mengalami kecelakaan di tempat kerja. Dia terjatuh dari lantai tiga hingga kaki kanannya mengalami patah tulang dan tidak bisa berjalan.

Ditambah lagi Wito juga kena stroke hingga bertahun- tahun hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dan hal itu lah yang menyebabkan bu Yuyun mengambil pekerjaan sebagai wanita penghibur di sebuah diskotik untuk menghidupi suami dan anaknya.

Oleh karena itu juga tante Indri begitu membenci Yuyun dan juga Intan. Walaupun selama ini Intan lah yang sudah merawat pak Wito. Tapi di mata tante Indri, Intan tetaplah anak haram dari hasil selingkuh. Dan tante Indri selalu menyalahkan Yuyun dan Intan sebagai penyebab kecelakaan sang kakak. Menurut tante Indri, penyebab Wito mengalami kecelakaan kerja karena dia menahan sedih telah disakiti oleh Yuyun hingga membuat Wito tidak fokus kerja dan akhirnya jatuh dari lantai tiga.

Sedangkan Intan baru mengetahui kalau dia bukan anak kandung Wito adalah saat dia menikah dengab Ridwan. Pak Wito tidak menjadi wali nikahnya, melainkan menggunakan wali hakim. Dan saat itulah pak Wito memberitahu Intan bahwa bukan dialah ayah kandungnya, melainkan laki- laki yang pernah selingkuh dengan sang ibu.

Tentu saja Intan sangat terpukul mendengar kenyataan itu. Tapi meski begitu dia tetap menyayangi pak Wito dan tetap menganggap dia sebagai ayah kandungnya. Terbukti Intan masih terus mengurus pak Wito dari mulai memandikan hingga menyuapi makan setiap hari.

Namun hal itu tidak membuat hati tante Indri tersentuh pada Intan. Dia tetap membenci Intan. Dan setiap bulan sekali ketika tante Indri datang menjenguk sang kakak, tante Indri tidak selalu bersikap masa bodoh pada Intan dan bu Yuyun. Dia hanya perduli dengan sang kakak yaitu pak Wito.

🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓

"Intan... Ini sudah hampir jam dua, kenapa ibu kamu belum pulang juga...? Kasihan lho bapa kamu menunggu terlalu lama. Dia harus cepat dimakamkan...'' ucap ustad Rohman.

"Sudahlah pak ustad, kakak saya dimakamkan sekarang saja. Tidak perlu lagi menunggu orang yang tidak perduli dengan kakak saya. Dia sedang bersenang- senang dengan teman- temannya dan tidak perduli dengan suaminya yang meninggal..." sahut tante Indri.

"Tapi tante... " ucap Intan merasa keberatan.

"Diam kamu Intan...!" sahut tante Indri.

"Tante... Kita tunggu tiga puluh menit lagi ya..." ucap Intan.

Tante Indri hanya menghela nafas.

"Lima belas menit lagi deh ya... Kata ibu dia kejebak macet di jalan..." sambung Intan.

"Lagian ngapain sih, ibumu keluyuran jauh- jauh ke pantai. Sudah tahu suaminya sakit malah ditinggal- tinggal..." sahut tante Indri sewot.

"Sabar tante..." ucap Intan.

"Sabar- sabar... Kakak saya ini sudah menunggu terlalu lama... Kasihan dia..." tante Indri marah.

Pak Ustad pun hanya bisa geleng- geleng kepala melihat perdebatan tersebut. Namun beberapa menit kemudian Yuyun datang. Dia turun dari sebuah mobil bersama dengan beberapa temannya. Melihat rumah sudah ramai oleh para pelayat, bu Yuyun segera masuk ke dalam rumah.

Bu Yuyun terlihat kaget melihat jenazah sang suami sudah dimasukkan ke dalam keranda dan siap dibawa ke makam.

"Mas Wito..." ucap bu Yuyun.

Iya, walaupun selama sang suami sakit bu Yuyun kerap kali bersikap kasar padanya, namun saat dia diberi kabar bahwa sang suamu meninggal tentu saja ada rasa kehilangan di dalam hatinya.

Bukan hanya kehilangan, tapi juga ada rasa bersalah yang menghantuinya mengingat apa yang pernah dia lakukan terhadap sang suami. Dari mulai mengkhianatinya dengan berselingkuh hingga hamil, juga bersalah karena selalu berkata kasar padanya karena selama ini sang suami hanya menjadi beban hidupnya hingga belasan tahun.

"Maafkan saya mas Wito..." ucap bu Yuyun dalam hati sambil menatap keranda.

Air mata Yuyun pun menetes. Namun tiba- tiba tante Indri menghampirinya kemudian menampar pipi Yuyun.

"Plakkk...!''

"Dasar perempuan tidak tahu diri...! Suaminya sakit malah keluyuran...!'' seru tante Indri.

"Lihat...! Kakak saya meninggal dan tidak ada yang tahu...! Tidak ada yang menemaninya di saat- saat terakhirnya...!" sambung tante Indri dengan emosi.

"Istri macam apa kamu Yuyun...! Suami sedang sakit bukannya diurus, ini malah ditinggal keluyuran sampai tidak ada yang tahu kalau dia meninggal...! Keterlaluan kamu Yuyun....!'' lanjut tante Indri mengeluarkan amarahnya tidak perduli di dalam ruang tamu banyak pelayat.

Mendengar ocehan adik iparnya, bu Yuyun tentu saja tidak bisa terima.

"Apa kamu bilang...! Istri tidak tahu diri...! Eh Indri... Apa kamu buta...! Buka mata kamu ya...! Belasan tahun aku merawat kakak kamu yang tidak berguna itu yang hanya bisa merepotkan, kamu bilang aku istri tidak tahu diri...!'' seru bu Yuyun.

"Kamu pikir jadi saya itu gampang yang harus berjuang sendiri jadi tulang punggung keluarga...! Aku banting tulang seorang diri selama belasan tahun,Indri...! Apa kamu tidak bisa melihat kerja kerasku agar kakakmu bisa berobat dan bisa makan setiap hari...!'' sambung bu Yuyun yang begitu tersinggung dengan ucapan adik iparnya apa lagi di hadapan banyak orang.

"Sudah bu...sudah...tante sudah jangan ribut di depan jenazah bapa, kasihan bapa bu, tante..." sambil menangis Intan melerai pertengkaran ibu dan tantenya.

"Benar bu, tidak baik bertengkar di depan jenazah, sebaiknya kita segera memakamnya jenazah pak Wito. Kasihan dia sudah terlalu lama menunggu..." ucap pak Ustadz.

Para warga pun gotong royong menggotong jenazah pak Wito ke pemakaman. Mereka membantu proses pemakaman hingga selesai.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Sudah tujuh hari semenjak meninggalnya pak Wito, bu Yuyun sudah mulai bekerja lagi. Iya, tentu saja apa yang dilakukan oleh bu Yuyun tak luput dari gunjingan para tetangga.

Mereka menganggap bu Yuyun tidak ada sedihnya sama sekali atas meninggalnya sang suami. Hal itu terlihat karena setelah sang suami meninggal bu Yuyun masih melakukan hal- hal yang biasa dia lakukan sehari- hari. Seperti pergi ke warung membeli rokok. Pergi ke minimarket membeli camilan dengan diantar oleh ojek langganan dan pergi ke mana saja yang dia mau.

Hanya saja dia minta ijin libur kerja selama tujuh hari. Dan tentu saja dia diijinkan libur oleh pemilik diskotik.

Dan pagi ini bu Yuyun terlihat duduk di teras sambil merokok dan minum kopi. Tentu saja dengan memakai pakaian yang biasa dia pakai yaitu baju ketat dengan bawahan celana ketat yang membentuk lekuk tubuhnya.

"Eh lihat tuh, si p*lacur lagi ngrokok..." ucap salah satu ibu- ibu yang sedang memilih sayuran di tukang sayur tidak jauh dari rumah bu Yuyun.

"Saya nggak habis pikir orang abis ditinggal meninggal sama suami kok bisa sesantai itu ya...?'' sahut ibu satunya lagi.

"Ya tentu saja dia senang. Kan selama ini almarhum pak Wito sudah tidak bisa menafkahinya lahir batin. Sekarang bu Yuyun sudah tidak punya beban lagi ya happy lah..."

"Iya ya bu..."

"Sudah...sudah... ibu- ibu ini mau beli sayur apa mau gibah sih...?'' tanya abang tukang sayur.

"Ya dua- duanya lah..." jawab ibu- ibu sambil tertawa.

Sementara itu bu Yuyun hanya menatap sinis ibu- ibu yang sedang bergunjing sambil sesekali menoleh ke arahnya. Iya, tentu saja bu Yuyun sudah paham jika mereka sedang membicarakannya. Itu hal yang sudah biasa buat bu Yuyun menjadi bahan gunjingan warga. Dan bu Yuyun pun tidak pernah ambil pusing soal itu. Karena baginya, dia tidak merugikan siapapun jadi mau dibicarakan seperti apapun bu Yuyun akan cuek saja.

"Intan..." panggil bu Yuyun.

"Iya bu..." Intan menghampiri sang ibu di teras rumah.

"Kamu bersihkan kamar bapamu. Bakar kasur dan barang- barang yang ada di sana..." ucap bu Yuyun.

"Lho kok dibakar sih bu...?'' tanya Intan.

"Memangnya kalau tidak dibakar mau diapain...? Barang- barang nggak ada guna dan bau memangnya kamu mau memakainya, ibu sih jijik ya..." jawab bu Yuyun.

"Dan satu lagi. Ibu sudah mengadakan tahlilan sampai tujuh hari. Kedepannya tidak akan ada lagi tahlilan atau sedekahan apapun lagi. Sudah cukup. Ibu tidak mau mengeluarkan uang buat sedekahan lagi..." sambung bu Yuyun.

"Lho bu, kan tahlilannya sampai seribu hari...?'' tanya Intan.

"Tidak usah... " jawab bu Yuyun dengan ketus.

"Kenapa bu...?'' tanya Intan.

"Apa kamu tidak lihat bagaimana sikap si Indri kemarin...! Dia seenaknya bicara buruk tentang ibu di depan orang banyak, ibu dibilang tidak perduli dengan bapakmu. Memangnya selama ini yang membiayai keperluan bapakmu siapa kalau bukan ibu...!'' bu Yuyun marah.

"Sekarang bapamu sudah tidak ada, dan ibu sudah tidak perduli lagi sama urusan tahlilan atau sedekahan orang meninggal...!'' sambung bu Yuyun lalu segera masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya.

Bersambung....

1
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!