Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 4.
Viera tidak lagi menunggu dengan harapan, ia mulai menunggu dengan perhitungan.
Damian pulang pukul sebelas malam.
“Lembur?” tanya Viera.
“Ya.”
“Kau sudah makan?” pertanyaan yang sama dan berulang.
“Sudah.”
Dan, jawaban yang sama.
Viera mengangguk, ia tidak bertanya di mana dan dengan siapa. Ia belajar, pertanyaan yang terlalu banyak hanya akan membuat Damian semakin menutup diri.
Namun malam itu, saat Damian melepas jasnya, Viera mencium lagi aroma asing itu lagi. Lebih samar dari sebelumnya, tapi cukup jelas untuk tidak diabaikan.
Viera menarik napas pelan, kini ia tahu... dia bukan sedang berhalusinasi.
Pagi itu, Damian meninggalkan ponselnya di meja dapur. Viera baru menyadarinya setelah Damian pergi. Ia menatap benda itu lama, jantungnya berdetak cepat.
Ia tidak berniat membuka, namun layar menyala sendiri. Lalu, sebuah pesan masuk.
[Aku menunggumu semalam.]
Tangan Viera dingin, kepalanya terasa ringan.
Viera mengunci layar ponsel itu kembali dan meletakkannya persis seperti semula, dia tidak menangis, justru dia merasa tenang dengan cara yang mengerikan.
Karena kebenaran, betapapun menyakitkan... selalu lebih jujur daripada kebohongan yang rapi.
Di sebuah restoran kecil dekat kantor Damian, Viera sedang makan siang sendiri ketika melihat Damian masuk bersama seorang wanita. Mereka tidak bergandengan, tidak terlalu dekat. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
Cara Damian tersenyum pada wanita itu, cara ia sedikit menunduk saat mendengarkan wanita itu bicara. Cara ia membuka pintu lebih dulu, melayani wanita itu.
Lalu wanita itu tertawa kecil, Calista.
Viera mengenali wajahnya dari acara perusahaan beberapa waktu lalu. Kini, ia melihatnya lebih jelas. Cantik dan percaya diri. Calista terlihat terlalu nyaman berada di sisi suaminya.
Damian tidak melihat Viera, dan Viera memilih tidak membuat dirinya terlihat. Ia bangkit membayar makanannya, lalu pergi dengan langkah mantap meski dadanya terasa seperti diremas pelan.
Viera tidak langsung pulang ke rumah. Ia berjalan lama, membiarkan kakinya membawanya ke mana saja. Ia tidak menangis, dia sedang berpikir.
Malam itu, Damian bersikap lebih manis.
“Kau terlihat lelah,” katanya sambil menyentuh bahu Viera.
Sentuhan itu terasa asing.
“Kau mau makan di luar akhir pekan ini?” tanya Damian. “Berdua saja.”
Viera menatap suaminya, senyum Damian tampak tulus. Terlalu tulus untuk seseorang yang menyimpan rahasia.
“Baik,” jawab Viera.
Lalu mereka makan malam dengan tenang, tertawa kecil. Membicarakan hal-hal ringan, seolah tidak ada apa pun yang salah. Namun di balik senyum Viera, ada sesuatu yang telah berubah. Ia tidak lagi berharap, ia sedang menguatkan diri.
Malam itu hujan turun deras.
Viera terbangun karena Damian tidak ada di sampingnya, jam menunjukkan pukul dua dini hari. Ia bangkit, mendapati Damian berdiri di balkon dengan ponsel di tangan.
Viera berhenti melangkah.
“Aku tahu,” suara Damian terdengar jelas. “Aku juga merindukanmu.”
Damian menoleh, dan melihat Viera berdiri di ambang pintu. Wajahnya berubah, dan untuk pertama kalinya Damian terlihat panik.
Viera tidak berkata apa pun, ia hanya menatap suaminya dengan tatapan tenang. Pria yang lima tahun terakhir ia cintai, dan kini dia perjuangkan sendirian.
“Viera—” Damian melangkah mendekat.
Viera mengangkat tangan. “Tidak sekarang.”
Wanita itu kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang. Tangannya diletakkan di perutnya yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan kecil yang bahkan mungkin bukan lagi milik pernikahan ini.
Cinta yang ia pertahankan sendirian, tidak pernah benar-benar ada di dua sisi. Malam itu, Viera tidak memutuskan apa pun. Namun sesuatu di dalam dirinya mati, dan digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kesadaran.
Sejak malam itu, Viera tidak lagi menanyakan ke mana Damian pergi, dengan siapa suaminya makan, atau kenapa ponselnya selalu terkunci. Ia berhenti perduli karena ia tahu, jawaban tidak lagi penting. Yang ia butuhkan sekarang adalah kepastian, bukan pengakuan.
Tubuhnya masih menjalani proses bayi tabung, tapi pikirannya sudah berjalan ke arah lain. Viera tidak lagi berharap diselamatkan oleh sesuatu, dia sedang menyiapkan dirinya sendiri. Karena kebohongan selalu meninggalkan jejak, dan Damian bukan pria yang terbiasa diawasi.
Nama Calista mulai sering muncul di percakapan orang-orang sekitar Damian. Seorang kolega menyebutnya tanpa sadar, dengan nada kagum. “Calista memang pintar, ya.”
Viera tersenyum sopan.
Di dalam kepalanya, kepingan puzzle mulai menyatu. Calista bukan sekadar selingkuhan, wanita itu adalah bagian dari kehidupan Damian yang sengaja disembunyikan. Dan itu lebih menyakitkan daripada hubungan fisik semata.
Beberapa minggu kemudian, proses bayi tabung memasuki tahap krusial. Viera kelelahan. Suntikan, obat, dan pemeriksaan membuat tubuhnya nyaris menyerah. Damian hadir secara fisik, tapi pikirannya entah di mana.
Saat dokter menjelaskan risiko, Damian mengangguk tanpa benar-benar mendengar. Viera menatap laki-laki itu dan sadar, jika Damian tidak lagi berjuang bersamanya. Dan di titik itu, ia berhenti berharap anak ini akan menyelamatkan pernikahannya.
Viera mulai menggali sendiri. Bukan dengan menyewa detektif, bukan dengan memata-matai secara murahan. Ia membuka laporan keuangan, riwayat perjalanan Damian untuk mengumpulkan bukti.
Semuanya rapi, tapi dari kerapian itulah Viera menemukan celah. Ada tanggal yang tidak konsisten, perjalanan yang tidak pernah diceritakan. Damian lupa satu hal, Viera mengenalnya terlalu baik.
Sementara Damian mulai gelisah, dia merasa Viera berubah, meski tidak tahu sejak kapan. Viera terlalu tenang, terlalu tidak peduli.
“Kau marah padaku?” tanya Damian suatu malam.
“Tidak, aku hanya lelah dengan proses bayi tabung ini.”
Itu bukan kebohongan, namun bukan seluruh kebenaran.
Tak berapa lama sebuah pesan masuk ke email lama Viera, isinya singkat.
Nama Calista muncul jelas, disertai jadwal, reservasi, dan sesuatu yang membuat jantung Viera berhenti sejenak.
Sebuah foto.
Damian dan Calista. Berpelukan dan berciuman dengan begitu mesra. Dan beberapa foto diatas ranjang, bukti keintiman yang tak terbantahkan.
Viera tidak menangis, dia pergi mandi. Lalu mengeringkan rambut, mengenakan piyama dengan rapi. Ia berbaring di samping Damian yang tertidur lelap.
Ia menatap langit-langit dan berpikir, besok... semuanya akan berubah. Bukan karena Damian akan jujur padanya, melainkan karena ia tidak lagi akan diam.
Pagi itu, Viera menyajikan sarapan seperti biasa.
Damian tampak santai, hingga saat Viera meletakkan ponsel dan beberapa kertas cetak di meja.
“Aku tahu tentang hubunganmu dengan Calista,” ucap Viera pelan.
Damian membeku.
“Jangan mencoba menyangkal, aku punya banyak bukti lagi.“ Viera kembali bicara.
“Sejak kapan?” suara Damian bergetar.
“Tidak penting sejak kapan, yang jelas... sekarang aku tau, aku tidak lagi dibutakan olehmu.”
Damian mencoba menjelaskan, dia tidak pernah membayangkan hari itu akan datang dengan cara seperti ini.
Ia selalu berpikir jika suatu hari Viera tahu, wanita itu akan menangis. Viera akan marah, dan menjerit. Memohon penjelasan darinya, dan dia sudah menyiapkan kata-kata. Dia menyiapkan permintaan maaf, bahkan janji-janji kosong yang biasanya cukup untuk meredakan badai.
Namun Viera tidak melakukan satu pun dari itu, istrinya duduk di hadapannya dengan wajah tenang, mata jernih, dan suara yang tidak bergetar. Dan justru ketenangan itulah... yang membuat Damian panik.
“Aku bisa menjelaskan,” kata Damian untuk kesekian kalinya.
Viera mengangguk kecil. “Aku tahu.”
Damian berdiri, berjalan mondar-mandir seperti hewan terkurung. Tangannya menyusuri rambut, napasnya tidak teratur.
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan,” ujarnya cepat. “Aku tidak berniat meninggalkanmu.”
Viera mengangkat wajah. “Kau tidak perlu meninggalkanku untuk menghancurkanku.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan mana pun.
Damian menatap istrinya, perempuan yang selama ini ia anggap akan selalu ada, selalu mengerti, dan selalu menunggunya. Baru sekarang ia melihatnya benar-benar… pergi. Bukan secara fisik, tapi emosional.
“Kau tahu kenapa ini terjadi?” Damian akhirnya berkata, suaranya berubah defensif. “Karena kita terjebak dalam rutinitas, karena tekanan. Karena anak—”
“Jangan,” potong Viera lembut namun tegas. “Jangan jadikan tubuhku yang selama ini selalu berjuang untuk mengandung, sebagai alasan pengkhianatanmu!”
Damian terdiam, tiba-tiba saja ia merasa kecil. Ia mencoba mendekat, tapi Viera berdiri dan mundur satu langkah. Jarak kecil itu terasa seperti jurang.
“Apa kau mencintainya?” tanya Viera akhirnya.
Pertanyaan itu sederhana. Damian membuka mulut… lalu menutupnya kembali.
Keraguan pria itu adalah jawabannya.
Viera mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Damian menatapnya putus asa. “Aku masih mencintaimu.”
“Tidak! Kau hanya terbiasa bersamaku, itu hal berbeda.”
Lalu, Viera berkata satu kalimat yang mengakhiri segalanya. “Damian, aku tidak marah karena kau selingkuh. Aku marah karena kau membiarkanku berjuang sendirian... sambil kau memilih perempuan lain.”
Damian tidak punya jawaban. Dan di titik itu Viera tahu, pernikahan mereka sudah mati. Yang tersisa, hanyalah konsekuensi.
Namun, di saat pernikahannya runtuh... dia dinyatakan hamil. Program bayi tabung, berhasil.
Sungguh ironis.