NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Dipecat

Nareya masih tidak percaya bisa duduk di mobil yang selama ini hanya ia jadikan wallpaper handphone. Tampilanya mungkin tidak tampak mencolok seperti mobil mewah lain. Tapi Nareya sangat tau ini mobil sport Audi TT yang tidak semudah itu dimiliki oleh para pekerja seperti dia. Apakah kalau sudah selevel manager seperti Bosnya, bisa memiliki gaya hidup semewah ini?

Tanpa musik atau radio menyala. Nareya heran dengan manusia yang bisa fokus sekali seperti itu. Nareya menoleh ke arah kursi sebelahnya, tapi sepertinya dia tidak di suasana bisa diajak bicara. Akhirnya dia mengalihkan pandangan ke jendela. Ah, sebenarnya Nareya sangat benci didiamkan seperti ini.

Kala mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mempersingkat waktu. Oh, ayolah dia juga sebenarnya tidak akan mau menyetir untuk orang yang bukan siapa-siapa untuknya. Terlebih lagi dia menghindari perempuan sebelahnya ini bertanya soal apapun tentang mobil ini. Muka penuh pertanyaannya itu sangat terlihat jelas.

Sampai di kantor Kala membawa Nareya keruanganya.

“Punya hubungan apa kamu dengan Kepala Gudang itu?” tanya Kala.

Ditanya seperti itu Nareya langsung teringat kembali kejadian mengerikan tadi. Itu benar–benar menjijikan, sampai membeku beberapa saat. Memori hal mengerikan itu terputar kembali, bagaimana wajah pria tua itu begitu dekat denganya.

“Hubungan? Tidak ada, saya baru bertemu Pak Kadir dua kali.”

Nareya merespon dengan ringan, belum sepenuhnya menyadari apa yang dimaksudkan Bosnya itu.

“Benarkah? Kalau memang kamu salah satu wanita yang dia sewa, saya akan lindungi kamu bahkan saya bisa memberi sejumlah uang ayang lebih besar. Dengan syarat, kamu mengatakan semua yang kamu ketahui dari Pak Kadir mu itu

“Maksud bapak apa sih?!” ucap Nareya penuh penekanan.

“Kamu tidak perlu takut mengakuinya, saya bisa kasih kamu perlindungan.”

Saat itu juga Nareya tidak berpikir lagi soal dia mau dipecat ataupun tidak. Pertanyaan itu sama saja menuduh dia wanita murahan. Tangannya mengayun dari bawah ke arah wajah Kala.

Plak…

Suara nyaring kulit yang bertabrakan menyebar ke seluruh ruangan. Kala diam, rahangnya mengeras. Wanita itu dengan berani menamparnya.

“Kurang ajar, gue gak peduli lagi lo mau pecat gue sekarang juga gue bodo amat” sentak Nareya.

Tatapan tajam dari Kala tidak menggoyahkan niatnya untuk meluapkan sumpah serapahnya.

“Gue yang tanpa mikir datang ke gudang sendiri, sampe lupa kalau gue perempuan, saat gue masih ingat peringatan lo, soal kondisi perusahaan gak aman. Demi mencari sumber masalah data yang gak sinkron terus. Lo! Lo dengan mudahnya nuduh gue perempuan sewaan!”

“Gue gemeteran, perempuan sendiri di gudang kedap suara dan terkurung sama dua laki-laki bajingan! Gue takut dia bakal… bakal” Nareya kehilangan suaranya ketika isakan tanpa dia harapkan keluar.

“Gue gak tau apa yang bakal selanjutnya terjadi. Tapi lo! Lo masih bisa ngomel ke gue yang bahkan gue gak punya energi buat berdiri saking gemetarnya. Itu mengerikan dan menjijikan” raung Nareya dengan air mata terus mengalir.

“Gue masih bisa terima kalo lo bilang gue bodoh, tolol, gue masih terima. Emang gue lagi banyak beban sampe gak bisa mikir untuk cek cctv dibanding gue cek langsung ke gudang” ucap Nareya kelewat emosi, bahkan sejak tadi dia sudah melupakan soal bahasa formal.

Nareya masih mengatur napasnya yang tidak beraturan. Terjadi hening beberapa menit. Menghapus jejak air mata yang entah mengapa dia yang jarang menangis, bisa sederas itu. Dia sudah lebih tenang, anehnya justru penyesalan yang menyusul.

“Kamu saya pecat!”

“Keluar dari ruangan saya sekarang!”

Rasanya Nareya ingin menarik kembali semua ucapanya dan sedikit saja menahan emosinya lebih kuat lagi. Tapi tuduhan atasanya itu sudah melewati batas kerasnya. Apalagi dia baru saja selamat dari pria hidung belang.

Satu kali lagi pembelaan dengan harapan dia masih bisa selamatkan posisinya “Buktikan dahulu kalau saya bersalah! Salah saya apa?” bela Nareya

“Kamu tampar saya dan kamu mengucapkan kata-kata kasar, itu cukup untuk saya bisa pecat kamu sekarang juga.”

Nareya diam, usahanya untuk mempertahankan pekerjaanya akhirnya sia-sia. Satu kali dia lepas kendali semuanya hancur. Dunia benar–benar sekejam ini kah? Bagaimana cara menjelaskan ini semua kepada orang tuanya? Terlebih lagi, bagaimana cara melanjutkan hidup kedepanya?

“Baik— saya tidak menyesali tindakan saya. Cara Bapak memandang perempuan mencerminkan nilai yang Bapak pegang. Dan itu bukan nilai yang bisa saya terima dari seorang atasan. Semoga Ibu Bapak tidak pernah menyesal telah melahirkan Bapak” ucap Nareya dengan yakin.

“Permisi” pamit Nareya.

Ketika sudah diambang pintu Nareya berhenti, “Terima kasih, entah apa alasan Bapak datang ke gudang, tapi berkat itu saya selamat dari pelecehan dan tindakan yang lebih jauh” ucapnya tanpa menoleh, lalu beranjak dengan cepat keluar.

Tepat saat Nareya keluar, Kala menyentuh pipi kirinya yang lumayan kebas. Kuat juga tamparanya. Dii saat semua wanita di sekitarnya tampak murahan bahkan dengan terang-terangan menyerahkan diri untuk menjadi pemuas nafsu demi uang. Dia malah mendapat tamparan keras oleh perempuan dia tawarkan uang. Ujung bibirnya sedikit terangkat, kalimat terakhirnya itu justru membuatnya menyimpan pemikiran yang tidak seharusnya muncul.

***

“That's all?” tanya Kala ketika Ardito memberikan beberapa berkas.

“Iya sesuai dugaan lo, dia salah satu peliharaanya ibu tiri . Si bajingan tua bangka itu habis lo pecat juga pasti besok udah kerja lagi dicabang lain” jawab Ardito

“Udah lo pastikan Nareya? tim saya nggak terlibat?”

“Iya dia cuma karyawan biasa yang polos aja sih, tanpa tau yang dia hadapi punya bekingan dari atas”

“Gue pecat dia”

“Parah banget, salahnya?”

“Dia berani tampar gue”

“Wow, keren juga, tapi kenapa dia nggak nonjok sekalian?” ceplos Ardito

Mendapat tatapan tajam Kala, Ardito langsung mengalihkan “But anyway lo ngapain sampe kena tampar?.”

“Hanya tanya, apakah dia bagian dari perempuan yang dibayar Kepala Gudang itu. Karna kalau iya pun gue bakal lindungi dia tapi ya syaratnya dia harus beberkan semua yang dia tau.”

“Shit, itu menuduh. Lagian kalau itu wanita murahan gak mungkin minta tolong Bos”

“Lo keterlaluan si, dipecat gitu aja. Emang lo udah pastikan dia bisa hidup tanpa kerja di sini? Kan gak semua orang hidup cukup kaya lo” ledek Dito

“Gue tau dia dari keluarga Wijayanto.”

“ Keluarga Wijayanto? Wait–punya rencana apa lo? Sampe udah reset gitu”

“Lo  gak perlu tau.”

“Lo tertarik karena dia beda? Secara kan lo selama ini dikejar cewe-cewe jual selangkangan doang”

Kala justru pergi meninggalkannya tanya menjawab apapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!