Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Malam mulai datang, sedikit larut ketika motor Ardan sampai di depan rumahnya. Mesin sudah dimatikan, tapi tangannya masih menggenggam setang Hujan rintik turun, menghantam kanopi rumahnya. pandangannya kabur. Bukan karena hujan—melainkan karena kepalanya yang penuh.
Ia menghela napas. Dalam. Lalu lebih dalam lagi. Ia mencintai Nara. Itu tidak pernah ia ragukan, sejak kuliah hatinya sudah memilih wanita yang saat ini menjadi istrinya. Tapi rupanya cinta, saja tidak cukup untuk dia menerima seluruh kekurangan istrinya.
Ketakutan istrinya menjadi penyebab utama, sebagai suami ia merasa, terintimidasi, dengan kelakuan istrinya yang menurutnya over, setiap kali ia harus memberi kabar, menjawab pesan dengan cepat, pulang tepat waktu, dan itu justru membuatnya tidak bisa mencintai dengan santai.
Cinta yang dulu ia genggang dengan erat seolah menjadi beban mental untuk dirinya sendiri. "Aku tahu kamu takut, tapi entah kenapa ketakutanmu itu membuatku merasa jika aku orang yang jahat, aku bukan kedua orangtuamu," gumam Ardan, matanya terpejam terlalu dalam.
Pagi tadi, pengakuan Nara masih terngiang di kepalanya.
"Aku hanya takut."
Ia tahu itu bukan manipulasi. Ia tahu air mata itu jujur. Tapi justru karena itulah dadanya terasa makin berat. Ia tidak tahu bagaimana caranya mencintai seseorang tanpa harus ikut memikul ketakutannya setiap hari.
Ia merasa diawasi, diuji, dituntut, padahal yang ia inginkan hanya dipercaya. Setiap kali ponselnya bergetar, ia refleks tegang. Setiap kali pulang malam, ia sudah bersiap menghadapi pertanyaan.
Bukan karena Nara galak, tapi karena Nara selalu cemas. Dan kecemasan itu hampir membuatnya ilfil dengan wanita yang ia pilih sendiri itu.
Cintanya masih ada, dan ia mengakuinya sendiri, hanya saja ia merasa sakit, jika setiap hari harus dihadapkan dengan kecemasan yang menekan batinnya.
Ia memejamkan matanya lagi, kali ini ia menyadari jika dirinya memang lelah. Bukan lelah bekerja. Bukan lelah mencari uang.
Tapi lelah menjadi satu-satunya sandaran bagi ketakutan orang lain. Ia turun dari motor melangkah masuk ke rumah. Lampu ruang tengah menyala. Nara duduk di sofa, memeluk lutut, menunggunya lagi.
Dan hal ini membuatnya menghempaskan nafas kasar, kalau saja bisa ia ingin berteriak, jika istrinya tidak perlu menyiksa dirinya seperti ini. Ia tidak perlu dikhawatirkan. Ia bisa menjaga diri dan hatinya di luaran sana!
Namun sayang, emosinya tidak bisa keluar, ia tahu jika berteriak bukan solusi, tapi Ia juga tidak ingin diperlakukan seperti ini terus menerus.
“Nara,” katanya sebelum perempuan itu sempat berdiri. “Kita perlu bicara.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang, dan langkahnya seolah sudah diperhitungkan.
Nara bangkit perlahan. Wajahnya tegang, seolah sudah menyiapkan diri untuk kabar buruk.
Mereka duduk berhadapan. Jarak di antara mereka tidak jauh, tapi terasa seperti jurang, terlalu dalam luka yang keduanya pikul, hingga mereka tidak bisa memperbaiki, perbedaan pendapat yang menurutnya terlalu jauh.
“Aku sudah dengar semua yang kamu bilang,” katanya pelan. “Dan aku percaya. Aku tahu kamu takut.”
Nara mengangguk kecil, matanya berharap, jika suaminya itu akan menimbang dan mengerti akan dirinya.
“Tapi aku juga mau jujur,” lanjutnya. “Aku nggak sanggup jadi obat untuk semua ketakutanmu.”
Deg!!
Nara menegang dunianya seolah berhenti berputar. “Aku nggak minta kamu jadi obat.”
“Tapi aku diperlakukan seperti itu,” jawabnya lirih. “Seolah kalau aku lengah sedikit, kamu akan runtuh, kamu akan tumbang."
Ardan menunduk. “Aku mulai kehilangan diriku sendiri, kehilangan kepercayaan, apa aku ini bisa menjagamu atau tidak, jika caramu seperti ini," ucapnya terdengar seperti orang yang mulai pasrah dengan keadaan dan hal ini benar-benar membuat dada Nara sesak.
Nara menggeleng cepat. “Aku cuma butuh waktu.”
“Kita sudah menikah tiga tahun,” katanya pelan. “Dan aku masih pulang dengan perasaan bersalah. Aku masih merasa harus menjelaskan keberadaanku. Aku masih merasa salah hanya karena lelah.”
Hening, menyelimuti keduanya, Nara menunduk, air mata jatuh membasahi pipinya, bukan ini yang diingini, bukan ... ia ingin suaminya akan mengerti dan memberinya waktu.
Ardan mengangkat kepala, menatap Nara perempuan yang dulu ia pilih karena kelembutannya, tapi kini membuatnya kehabisan napas.
“Aku lelah, Nara.”
Dua kata itu jatuh berat.
“Aku lelah bangun dengan perasaan harus kuat untuk satu orang. Aku lelah pulang sambil menyiapkan alasan. Aku lelah mencintai tapi merasa selalu kurang.”
Air mata Nara jatuh, kali ini lebih deras Ia berdiri, mendekat.
“Aku bisa berubah,” katanya cepat. “Aku mau terapi. Aku mau belajar. Tolong… jangan menyerah.”
Ardan memejamkan mata. Itu yang membuatnya paling sakit, karena Nara tidak salah, tapi tetap menyakiti.
“Aku nggak bilang kita berpisah sekarang,” ucapnya akhirnya. “Tapi aku butuh jarak.”
Nara terdiam. “Jarak?”
“Aku mau kita berhenti saling melukai,” katanya. “Dan sekarang… setiap hari kita bersama, kita saling melukai.”
Kalimat itu menjadi retakan besar pertamanya, keduanya hanya terdiam, tidak ada teriakan ataupun barang yang dibanting karena amarah. Hanya dua orang yang duduk berhadapan, menyadari bahwa cinta saja tidak cukup.
Hingga pada akhirnya Nara memutuskan untuk beranjak dari kursi ruang tamu, langkahnya pelan meninggalkan Ardan yang masih mematung.
Ardan hanya menatap sosok Nara yang mulai hilang dibalik pintu, tatapannya masih kaku, tidak mencegah ataupun memeluknya, saat ini ia benar-benar kuat seolah sudah siap untuk melepas.
Satu jam kemudian Ardan memutuskan untuk tidur di ruang tamu, dengan perasaan lelah yang menghantam.
Sementara Nara sendirian di kamar mereka, ia menangis sejadi-jadinya, meremas seperti sekuat mungkin sebagai pelampiasan rasa sakitnya, dan diantara lukanya itu bayangan masalalu mulai menjalar kembali, namun yang paling menyakitkan dari itu, tidak ada satu pun orang yang mau tahu ataupun peduli, ia hanya memeluk lukanya sendiri, benar-benar sendiri.
"Apa aku tidak pantas untuk didengar, apa luka ku ini lebay, apa cemas ku ini salah?" pertanyaan-pertanyaan itu ia gaungkan, hanya kesunyian malam yang mendengarkan.
Nara terdiam sejenak. Untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah itu terasa benar-benar terbelah. Dan di antara jarak yang mereka sebut waktu untuk berpikir, tak satu pun dari mereka sadar jika perpisahan perlahan sedang mencari jalannya sendiri.
Bersambung ....
Malam ini double up lagi ya!