Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Alasan yang menyakitkan
Anjani menangis. Dadanya terasa sesak. Arjuna sungguh-sungguh menikah dengan Melinda.
"Apa ini yang mereka inginkan? Melihat ku hancur. Sehancur-hancurnya." ucap Anjani dengan bibir bergetar. Hatinya terlalu sakit, saat mengingat bagaimana Arjuna dan Melinda mengkhianatinya.
"Anjani. Yang sabar, nak." Mira langsung memeluk tubuh rapuh, Anjani. Merasakan sakit yang di rasakan oleh putrinya . "Jika memang kamu tidak sanggup. Jangan datang ke acara pernikahan mereka. Cukup kamu tahu, jika apa yang mereka katakan itu benar."
Anjani menggeleng cepat. "Tidak mah. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka. Aku harus membuktikan pada mereka, jika aku tidak sehancur yang mereka kira."
Mira mengeratkan pelukannya. "Jangan paksakan dirimu, nak. Jika pada akhirnya, kamu juga yang akan terjebak kesedihan yang mendalam. Mamah tidak mau, sampai kamu mempermalukan diri sendiri."
Anjani melepaskan pelukan Mira. Menatapnya dalam. "Mamah percaya pada ku, kan?"
Mira mengangguk pelan. "Mamah percaya, nak."
Mereka saling berpelukan kembali. Menguatkan satu sama lain. Meskipun pada akhirnya, mereka belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Namun mereka berharap, bisa melewati semuanya dengan keadaan yang lebih baik.
*
*
Seminggu sudah pernikahan Anjani dan Keandra. Tapi sikap Keandra masih sama. Dingin dan cuek. Hal itu tidak membuat Anjani menyerah. Ia selalu berusaha bersikap hangat, meskipun tidak ada balasan dari Keandra.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?" Anjani yang sedang duduk tepi ranjang, menatap Keandra yang terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Apa?" Alih-alih menjawab, Keandra kembali bertanya dengan singkat.
Anjani menghela nafas. Kemudian kembali berbicara, "Kenapa kamu menikahi, ku?" Tiba-tiba jantung Anjani berdebar kencang. Saat pertanyaan yang selama ini terpendam, akhirnya ia tanyakan pada Keandra.
Keandra menghentikan gerakan tangannya. "Terpaksa." jawabnya singkat. Menusuk.
Anjani terdiam. Dadanya kembali terasa sesak. Jawaban Keandra, sungguh membuat hatinya bertambah sakit. Jawaban yang dirinya inginkan tidak ia dapatkan. Satu hal yang baru Anjani sadari. Jika Keandra saat ini, bukanlah Keandra kekasihnya dulu.
Setelah mengatakan hal itu, Keandra menutup laptopnya. Bangkit berdiri. Pergi keluar dari kamar Anjani.
"Hikss... Hikss.... " Tangis Anjani pecah. Ingin berusaha kuat. Tapi jawaban Keandra berhasil menghujam perasaannya. " Kenapa kamu melakukan hal ini pada ku, Keandra. Belum cukup kah, dulu kamu menghukum ku...."
Malam itu kamar Anjani terasa sunyi, hanya terdengar suara isak tangis yang mengisi ruang penuh kehampaan itu.
...----------------...
Di ruangan lain, Keandra tampak sedang berbicara serius dengan Mira. Kebetulan Mira belum tidur dan sedang menonton acara kesukaannya.
"Pindah." ucap Mira sedikit terkejut. Sebab saat ini Keandra sedang meminta izin pada Mira, untuk membawa Anjani pindah ke rumahnya.
"Iya, mah. Aku berencana akan membawa Anjani pindah."
Mira terdiam sejenak. "Apa Anjani tahu, tentang rencana mu ini?" tanyanya pelan.
Keandra menggeleng pelan. "Belum. Rencananya setelah meminta izin sama mamah, aku akan memberitahu Anjani."
"Kalau mamah pribadi terserah kalian. Anjani sudah menjadi tanggung jawab kamu. Sudah seharusnya dia mengikuti kemana kamu pergi, nak."
Keandra tersenyum. Hatinya bahagia, karena Mira tidak melarangnya untuk membawa Anjani pindah.
"Tapi mamah hanya minta satu hal sama kamu nak Keandra." Mira berhenti sejenak. Mengatur nafasnya yang terasa tercekat. Hal itu, membuat Keandra terdiam dan tegang. "Jangan sakiti Anjani. Mamah mau, kamu dan Anjani saling mencintai seperti dulu."
" Anjani hanyalah orang biasa. Jangan sampai kamu merendahkannya, karena kemarahan sesaat. Dan jika suatu saat, kamu sudah tidak mencintai Anjani. Kembalikan dia dengan baik-baik. Seperti kamu memintanya, saat akan menikahinya."
Keandra terdiam, mendengar perkataan Mira yang sedikit menampar hatinya. Kata menyakiti mungkin menyindir dirinya, atas sikap dan perkataannya saat ini. Hatinya berusaha mengelak, jika yang ia lakukan hanya semata ingin membuat Anjani sadar atas kesalahannya dulu.
"Aku paham, mah. Kalau begitu aku permisi. Setelah ini, aku akan memberitahu Anjani." Keandra pamit. Berjalan menuju kamar Anjani.
Mira menatap punggung Keandra yang perlahan menjauh. Ada sedikit keraguan pada hatinya, saat mendengar rencana Keandra. Namun apa boleh buat, sekarang Anjani sudah memiliki jalan sendiri. Dan Mira yakin, jika Anjani akan baik-baik saja.
"Semoga kamu bisa memegang perkataan mu, nak Keandra."
Keraguan yang perlahan muncul kini perlahan menghilang. Mengingat, bagaimana sikap Keandra dulu pada Anjani. Meskipun sebenarnya, Mira belum tahu sisi gelap Keandra. Tapi dia yakin jika Keandra, suami yang baik untuk Anjani.
Sesampainya di kamar Anjani. Keandra melihat jika istrinya itu, sudah tertidur tanpa memakai selimut. "Ceroboh." ucapnya pelan. Namun seketika matanya menangkap sesuatu. Ia melihat mata Anjani yang terlihat bengkak, akibat terlalu lama menangis.
Maaf.
Tatapan Keandra berubah. Mata tajam itu terlihat penuh penyesalan. Namun ego yang tinggi, membuat ia segera menepis perasaan bersalahnya itu.
...----------------...
Keesokan harinya...
Sore ini Anjani terlihat berdiri di hadapan cermin. Tangannya memegang sebuah dress, yang akan ia pakai untuk pergi ke acara pernikahan Arjuna dan Melinda.
"Aku pasti bisa." Penuh tekad, Anjani memejamkan matanya. Menyemangati dirinya, tidak akan menangis saat melihat Arjuna dan Melinda, yang bersanding mesra di pelaminan.
Anjani segera memakai dress itu. Kini ia terlihat cantik, dengan dress berwarna dusty rose. Aura feminimnya terlihat. Memancarkan kecantikan alami. Meskipun Anjani hanya memoles wajahnya tipis. Tapi, ia terlihat cantik natural.
"Aku berangkat dulu, mah." Anjani menghampiri Mira, yang sedang duduk di ruang tamu. Membuat Mira kagum, dengan penampilan Anjani saat ini.
"Kamu cantik sekali, Anjani." puji Mira tulus. Membuat Anjani tersipu malu. "Kamu yakin, mau pergi ke sana sendirian. Kenapa tidak menunggu Keandra saja?"
Anjani menggeleng pelan. "Tidak perlu mah. Aku tidak mau melibatkan Keandra. Biarlah, aku menghadapi semua. Karena aku yakin... Jika aku pasti bisa." ucapnya penuh kesungguhan.
Mira tersenyum tipis. "Baiklah, jika itu keputusan mu. Jaga diri mu dan perasaan mu. Mamah yakin, pasti kamu kuat. Tunjukkan pada mereka, jika kamu tidak hancur seperti yang mereka kira."
Anjani mengangguk pelan. Pamit pergi dengan tekad sepenuh hati.
Di halaman sudah ada taxi online. Anjani sengaja memesan taksi online. Sebab, mana mungkin dia sudah berdandan cantik harus naik motor. Yang ada nanti penampilannya berantakan.
"Mbak Anjani." sapa supir taxi online ramah.
"Iya. Saya sendiri." Anjani pun masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi belakang.
Supir menengok ke arah belakang. "Mbak sudah siap?" tanyanya sopan.
Anjani mengangguk dan tersenyum. "Sudah pak."
Sopir langsung menyalakan mesin mobil, setelah memastikan Anjani sudah duduk dengan tenang. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Anjani.
Sepanjang perjalanan hati Anjani sedikit gugup. Takut, seandainya di sana dirinya tidak kuat menghadapi Arjuna dan juga Melinda.
lanjutin ceritanya sampai tamat