Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan
Sekali lagi, Jemima disambut oleh kegelapan total saat dia masuk ke dalam cahaya menyilaukan itu.
Gadis itu sudah membayangkan akan bertemu dengan malaikat kematian yang berjubah hitam dengan wajah mengerikan.
Namun, suara gedebug tubuhnya saat mendarat di sebuah sofa empuk membuat gadis itu tersadar.
Sinar putih keemasan itu perlahan memudar, digantikan oleh bayangan samar putih keunguan.
"D-di mana ini?" Jemima berusaha membuka kedua matanya.
Dia berada di sebuah ruangan yang sudah dia kenal, tetapi dalam bentuk yang berbeda.
Ruangan itu sudah tidak monokrom. Warna putih bercampur ungu mendominasi ruang ajaib tersebut.
Jemima perlahan berdiri dan melihat sekeliling ruangan itu. Ada satu set meja dan kursi ditambahkan di sana.
Tak hanya itu, Jemima terbangun di atas sofa panjang empuk berwarna ungu dan yang membuat mata Jemima tak percaya adalah ada secangkir cokelat hangat dengan marshmallow mengapung di atas cokelat hangat itu.
Di sisi cangkir itu, ada piring-piring kecil berisi makanan ringan kesukaan Jemima yang ingin sekali dia cicipi sejak dulu.
Bulu kuduk Jemima meremang. Jantungnya berdegup kencang. "Halo! Apakah ada orang di sini?"
Namun, tak ada jawaban dari ruang aneh itu. Jemima memanggil sekali lagi. "Permisi, apakah ada yang tinggal di sini?"
Lagi-lagi tak ada jawaban. Jemima kembali ke sofa tempat dia terjatuh, dan di sana dia melihat pantulan dirinya di dalam cermin oval.
Bayangan itu melambaikan tangan pada Jemima. Kedua mata Jemima pun terbelalak. "K-kau lagi! Siapa sebenarnya kau ini?"
Suara tawa kecil terdengar dari bayangan itu. "Kau hebat, Jemi."
Jemima mengerutkan keningnya. "Hebat? Kenapa aku yang hebat? Siapa- ... Eh, maksudku kau ini apa?"
Tiba-tiba saja pantulan diri Jemima menghilang. "Hei, kau ke mana?"
Keheningan menjawab pertanyaan Jemima dan lampu di atas meja menyala terang secara ajaib.
Kening Jemima semakin mengerut. Lampu itu bergoyang dan berkelap-kelip seolah meminta Jemima untuk duduk.
Jemima pun duduk di bawah lampu yang menerangi meja berisi minuman dan makanan kecil.
Cangkir cokelat bergerak perlahan seakan meminta Jemima untuk segera meminumnya.
"Oke, aku akan minum ini. Tapi, ini aman, kan?" Dengan ragu, Jemima mengangkat cangkir itu dan menyesapnya.
Kehangatan menerpa Jemima saat itu juga. Entah bagaimana, dia tidak merasa sakit lagi.
Bilur-bilur lukanya pun mengering secara ajaib. Setelah puas dengan cokelat hangatnya dan memastikan dia tidak keracunan atau bahkan mati mendadak, tangan Jemima meraih kue kecil yang berada di piring cantik di sisi cangkir.
Dia mengambil kue cokelat dengan lapisan ganache tebal.
Jemima sempat ragu karena di piring cantik lainnya ada cheesecake lembut dengan topping blueberry.
Croissant keemasan yang masih terlihat renyah. Macaron warna pastel. Bahkan potongan kecil red velvet dengan krim keju yang tampak sempurna.
Semua itu adalah kue favoritnya.
Semua yang selama ini hanya dia lihat dari balik kaca etalase toko, sambil menelan ludah dan berkata dalam hati, tidak perlu, terlalu mahal, lain kali saja. Dan lain kali itu adalah waktu yang tidak pernah benar-benar datang.
Air mata Jemima menggenang saat gigitan kue cokelat pertama masuk ke dalam tenggorokannya. "Enak sekali. Akhirnya aku bisa merasakan nikmatnya kue ini."
Tangan Jemima kembali meraih kue lainnya. Kali ini dia mengambil macaroon berwarna pink pastel cantik.
Butiran air mata terus berjatuhan di pangkuan Jemima dan gadis itu memakan satu per satu kue yang berada di dalam piring seperti orang kelaparan.
"Terima kasih untuk siapapun yang sudah memberikanku kue-kue ini," kata Jemima sambil mengatupkan kedua tangannya.
Setelah merasa puas, dia berjalan menuju cermin oval dengan perasaan pasrah dan tersenyum. "Hei, kalau kau mau membawaku, aku sudah sangat siap. Bawalah aku sekarang!"
Pantulan di cermin itu kembali terkikik pelan. "Hihihi, kau lucu sekali, Jemi. Aku tidak akan membawamu ke manapun."
"Saat ini, kau berada di rumahku. Katakan saja begitu, tapi rumahku, rumahmu juga," lanjut bayangan itu pelan.
Kedua alis mata Jemima terangkat. "Rumah? Tapi, ini tidak seperti rumah. Lagi pula, aku tidak tau siapa dan apa kau ini."
"Aku adalah kau dan kau adalah aku. Ini memang belum menjadi rumah dan aku yakin, kau bisa membuat ruang kecil ini menjadi rumah," kata bayangan di cermin itu lagi.
Jemima semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh bayangan itu. "Hahaha! Bagaimana aku bisa membuat ruang kecil ini menjadi rumah?"
"Tidak ada apa pun atau siapapun di sini. Bahkan tidak ada pintu!" kata Jemima dengan suara ragu sambil melihat sekeliling.
Dalam hitungan detik setelah dia mengucapkan itu, tiba-tiba saja muncul sebuah pintu berwarna senada dengan ruangan itu.
Jemima terhenyak. "A-apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti itu?"
"Ruang ini bukan sekedar ruang yang bisa kau gunakan untuk bersembunyi. Ruang ini akan berkembang seiring berkembangnya emosi dan dirimu, Jem," kata pantulan itu menjelaskan dengan suaranya yang seakan melayang-layang.
Dia mendekat ke arah Jemi dan menempelkan telapak tangannya di cermin, Jemima pun melakukan hal yang sama.
"Apa ruang ini terbentuk karena aku?" tanya Jemima mendesis.
Bayangan itu menggeleng. "Tidak juga. Kalung opal yang kau pakai itu akan membawamu ke ruangan ini dengan syarat."
Kening Jemima kembali berkerut. "Syarat?"
"Hmmm. Kau harus mengembangkan pribadimu menjadi pribadi yang lebih kuat dan berani dan saat itu juga, ruangan ini akan bertumbuh," jawab si bayangan itu.
Jemima berpikir dan mengingat setiap kejadian yang membawanya terlempar ke ruangan ajaib itu. "Ah, apakah aku harus dipukuli dulu baru aku bisa datang ke sini?"
"Hahaha! Bukan seperti itu, Bodoh! Yang jelas, kau tidak bisa keluar masuk setiap waktu dan aku rasa, cepat atau lambat kau akan memahami ruangan ini. Ingat, ruangan ini adalah kau sendiri, Jemi," ucap bayangan itu.
Lalu, dalam sekejap bayangan itu melayang cepat seolah ingin menabrak Jemima dan detik itu juga, Jemima terjatuh.
"Kau tidak akan sendirian di sini, Jemi. Kau bisa saja bertemu dengan orang lain saat kau datang ke sini," kata bayangan itu lagi dengan wajah menyeramkan.
Jantung Jemima berdegup kencang. Dia berusaha memahami maksud perkataan dari pantulan dirinya di cermin itu.
"Apa maksudmu?" tanya Jemima. "Apa ada cucu nenek selain aku?"
Pantulan itu menggeleng cepat. "Tidak! Hanya saja, kalian ditakdirkan untuk bertemu di sini dan ingatlah, kau tidak bisa berlama-lama di sini!"
Saat Jemima masih bertanya-tanya apa maksud perkataan bayangan aneh itu, tiba-tiba saja sensasi tarikan tangan yang kuat mencengkeram kedua pergelangan kaki Jemima.
Dan sebelum dia ditarik oleh tangan tak terlihat itu, ada sebuah cangkir kopi putih muncul di meja sebelah meja Jemima tadi.
"A-apa it-, ... Aarrggghhh!"
***