"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Menggoda Suami
"Apa aku meminta cerai saja ya? Kalau menunggu kedatangan protagonis wanita aku takut itu...akan mengubah alur."
Atau...alurnya memang sudah berubah?
"Sifat Kalendra juga berubah. Tidak sama seperti yang diceritakan di novel."
Kanaya mengigit kukunya cemas. Bagaimanapun juga, alur harus berjalan sesuai di novel. Kedatangannya tidak boleh mengubah jalannya cerita. Kalendra dan Zana, mereka harus bersatu.
"Meminta cerai bukan solusi yang bagus. Yang ada...Kalendra malah semakin curiga. Masa istri yang dulu sangat memujanya tiba-tiba meminta cerai? Tidak masuk akal."
Ah, apa ini penyebab berubahnya sifat Kalendra? Saat memasuki raga ini, Kanaya yang sekarang tidak mengikuti jejak Kanaya asli yang selalu mencari perhatian Kalendra.
Mungkin saja protagonis itu merasa heran dan mulai merubah haluan yang tadinya tidak tertarik menjadi....ingin bermain-main. Lebih tepatnya, Kalendra ingin melihat sejauh mana istrinya bersandiwara mengacuhkannya.
Bukankah alur setiap novel transmigrasi biasanya seperti itu?
"Lalu aku harus apa?" perempuan itu mengacak rambutnya frustasi, sampai sebuah ide terlintas di benaknya.
"Haruskah...haruskah aku menggodanya seperti yang dilakukan Kanaya asli?"
Diceritakan, setiap kali Kanaya asli mencoba menggoda Kalendra, penolakan demi penolakan selalu figuran itu dapatkan. Siapa tahu, jika dia melakukan hal gila dengan mencontoh Kanaya asli, itu akan mengembalikan sifat Kalendra seperti sedia kala.
Mengacuhkan dan menatap Kanaya dingin. Jika perlu mencaci-maki. Sedangkan Kanaya akan bertahan. Sampai Zana Damara datang. Setelah kehadiran protagonis wanita dan Kalendra sudah jatuh cinta sesuai alur novel, Kanaya akan pergi. Tanpa terlibat dengan mereka.
"Ayo, Kanaya, kau pasti bisa melewati semua ini. Sampai Zana datang, kau harus bertingkah seperti Kanaya Wilson yang asli."
Dan di sinilah, Kanaya sekarang. Berdiri di depan cermin. Mengamati dirinya sendiri yang memakai piyama satin tipis, memiliki potongan rendah pada bagian dada hingga mengekspos---ehem, kalian pasti tahu tanpa harus dituliskan secara gamblang.
"Apa ini keputusan yang benar? Masalahnya...aku akan dengan suka rela masuk ke kandang macan." gumam Kanaya mulai ragu.
Kalendra pasti akan menolaknya bukan? Tugasnya hanya perlu menggoda Kalendra hingga laki-laki itu murka dan mencaci-makinya.
Lama berperang dengan hatinya, Kanaya menghembuskan nafas panjang. Meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak ada yang perlu ditakutkan Kanaya, Kalendra pasti akan menolakmu. Sesuai alur yang tertulis di dalam novel.
Akhinya, sang figuran keluar dari kamarnya. Menuju ruang kerja Kalendra. Tempat di mana protagonis pria itu sering menghabiskan waktunya.
Melupakan kejadian waktu pertama kali dia memasuki raga Kanaya asli. Saat Kalendra hampir memakannya.
.
.
Pintu terketuk dari luar, menyebabkan Kalendra yang sedang fokus pada laptopnya mengalihkan atensinya.
Samar, satu sudut bibir laki-laki itu tertarik ke atas. Ck, bahkan tanpa menunggu pintu terbuka, Kalendra tahu betul siapa yang menunggunya di luar.
"Rupa-rupanya...dia sudah kembali ke setelan awal."
"Kalendra, aku...aku boleh masuk?"
Lihat. Sesuai dugaan sang protagonis pria. Suara khas perempuan itu sangat Kalendra kenali. Lantas, tanpa menunggu jawaban Kalendra, pintu sudah terlebih dahulu terbuka. Wangi mawar khas istrinya seketika menusuk Indra penciumannya. Ahh, sejak kapan wangi ini begitu...memabukkan?
Rasanya, Kalendra ingin menghirup dari sumbernya langsung.
"Apakah suamiku...sedang sibuk?" huwek! Aku mau muntah dengan perkataanku sendiri.
Kalendra berdehem, lalu protagonis itu kembali fokus pada laptopnya, ahhh tidak. Lebih tepatnya, dia ingin melihat sejauh mana Kanaya akan bertindak.
Mendapat pengabaian dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, membuat Kanaya yakin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana dan harapannya. Jadi, perempuan itu bertindak lebih berani dengan mendekati Kalendra. Berdiri di belakang sang protagonis, kemudian mengalungkan kedua lengan pada leher laki-laki itu.
"Sayang...apa grafik-grafik itu lebih menarik daripada istrimu ini?" suara Kanaya terdengar mendayu. Mengusap dada bidang Kalendra menggunakan jemari lentiknya.
"Ayo, dorong aku lalu mengumpat. Cepat lakukan dan biarkan aku pergi dari sini!"
"Awalnya aku bosan. Tapi...setelah istriku datang menemuiku, rasa bosan itu hilang begitu saja."
Mata Kanaya melotot. Apalagi saat Kalendra meraih tangannya kemudian menge-cupnya dalam.
"Ahhh--ahaha, benarkah? Apa itu artinya...kau merindukanku? Sama seperti diriku yang selalu merindukanmu bahkan saat mata kita saling bertemu."
Baiklah, mungkin Kanaya kurang lancang. Jadi dia sedikit lebih memberanikan diri dengan menumpukan dagunya pada bahu kokoh Kalendra. Bergelayut manja, lalu meniup leher Kalendra.
"Ehm....mungkin."
Kanaya dibuat merinding sejadi-jadinya kala bibir Kalendra menyusuri lengannya. Terus naik dan sesekali memberikan kecu-pan basah. Menimbulkan sensasi geli yang begitu menggelitik.
Tanpa sengaja, Kanaya menarik tangannya kasar. Membuat Kalendra sedikit tersentak. Memutar kursi kerjanya hingga ia berhadapan dengan sang istri, Kalendra tatap wajah perempuan itu yang sudah pias.
Tidak!! Seharusnya Kalendra mencaci makinya. Bukan malah meladeni godaannya!!
"Ini tidak benar. Bukan ini yang aku maksud!"
"Ga--gatal!" Kanaya tertawa kikuk. "Sepertinya, ruanganmu banyak nyamuknya." sambungnya memberikan alibi.
Bibir Kalendra berkedut. Alasan macam apa itu? Tapi, baiklah. Dia akan mengikuti permainan istri kecilnya ini.
"Mau kubantu menggaruknya?"
"Ti--tidak usah!" menampilkan senyum paksa, Kanaya menutupi mulutnya berpura-pura menguap.
"Aku mengantuk. Aku...mau tidur."
Akan bahaya jika Kanaya bertahan lebih lama di ruangan yang sama dengan Kalendra. Apalagi hanya berdua. Bisa-bisa mereka---oh hell!! Apa yang baru saja kau pikirkan Kanaya!
"Aku tinggal ya? Semangat menghasilkan uang yang banyak suamiku. Istrimu ini tidak suka hidup susah."
Saat berbalik dan belum sempat melangkahkan kaki, Kanaya dibuat terpekik saat tubuhnya tiba-tiba ditarik. Tidak kasar, namun mampu membuat jantungnya berdetak kencang.
Dapat perempuan itu rasakan tangan kekar milik sang suami melingkari pingganya. Kanaya harus menahan nafas, saat Kalendra semakin merapatkan tubuhnya pada laki-laki itu.
"Istri kecilku menghindar ya?" suara bariton itu terdengar rendah. Tepat di telinga kiri Kanaya, membuat leher perempuan itu meremang tanpa diminta.
"Tidak sopan. Setelah berulah, lalu pergi begitu saja."
Oh, tidak. Kenapa malah seperti ini. Apa yang sekarang Kalendra lakukan sangat di luar ekspetasinya. Bukan ini yang Kanaya harapkan.
Mata Kalendra menangkap gurat ketakutan dari wajah sang istri. Ia menyeringai, semakin mendekatkan diri hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Haruskah aku mengajari tikus kecil yang nakal ini...tata krama? Tentang bagaiamana seharusnya bersikap kepada suami."
Nafas Kalendra menerpa. Mengeluarkanaroma mint yang membuat kepala Kanaya pening sendiri.
"Kalendra---kau...ini terlalu dekat." Kanaya mencoba mendorong dada bidang Kalendra.
Posisi ini sama sekali tidak aman untuk jantungnya. Duduk di pangkuan laki-laki itu saja sudah membuat Kanaya kelabakan. Sekarang...bibir mereka juga nyaris menempel.
"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?"
"Tidak, aku----
" Ohh, atau....kau ingin lebih dari ini?"
Kanaya menggeleng cepat. Wajahnya semakin pias. Jantungnya semakin cepat memompa darah. Hingga, ia merasakan gatal pada hidungnya.
"Ka--Kalendra...awas."
"Sebentar Kanaya."
"Kalendra, aku----" hidungnya semakin gatal. Dan sepertinya Kanaya tidak bisa menahannya.
"Kau kenapa? Ingin berci--
"Hatchuu!!"
Suara itu menggelegar. Kalendra terdiam syok. Apalagi saat wajahnya terkena buliran-buliran yang berasal dari mulut Kanaya. Berbanding terbalik dengan perempuan di pangkuannya yang mendesah panjang.
"Ahh, leganya...."