NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Terkubur

Malam harinya, Agil sedang mengemas barang untuk keberangkatannya ke Surabaya besok subuh. Ia tampak sangat bersemangat, bercerita tentang rencana-rencana besarnya. Sementara itu, Laila duduk di meja rias, mencoba menutupi tanda kemerahan di lehernya dengan concealer yang sangat tebal.

​"Sayang, kenapa kamu pakai kerudung atau syal terus di dalam rumah?" tanya Agil yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

​Laila tersentak, hampir menjatuhkan spons riasnya. "Oh, ini... aku merasa agak meriang, Mas. Leherku rasanya dingin."

​Agil memegang dahi Laila. "Badanmu memang agak hangat. Apa aku batalkan saja ya perjalanan ke Surabaya?"

​Laila melihat pantulan wajah Agil di cermin. Ada ketulusan di sana, sebuah cinta yang murni namun buta. Ia tahu, jika Agil tinggal, Baskoro akan sangat marah. Dan kemarahan Baskoro berarti kehancuran bagi ayahnya.

​"Tidak usah, Mas. Hanya masuk angin biasa. Aku akan minum obat dan tidur," jawab Laila, sambil mencoba tersenyum sealami mungkin.

​Agil mencium puncak kepala Laila. "Baiklah. Jaga dirimu ya. Aku hanya pergi tiga hari."

​Tiga hari, pikir Laila. Tiga hari tanpa Agil berarti tiga malam neraka bersama Baskoro, yang kini memegang kunci rumah sepenuhnya.

​Saat Agil pergi mandi, ponsel Laila yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:

​"Gunakan syal yang lebih tebal besok. Aku ingin membawamu makan siang di luar, di tempat yang tidak akan pernah dikunjungi teman-teman sosialita Mama."

​Laila meremas ponselnya hingga jemarinya memutih. Ia menatap Agil yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di pundak, bersiul kecil menyanyikan lagu riang. Agil sedang membangun istana di atas pasir, tidak menyadari bahwa ombak besar bernama ayahnya sendiri, sedang bersiap untuk menyapu bersih segalanya.

​Laila tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi Laila yang dulu. Ia harus mulai mengubur hatinya dalam-dalam. Ia harus mulai belajar bagaimana cara membenci sambil tersenyum, dan bagaimana cara membalas dendam di balik ketundukan. Karena jika ia harus hancur, ia bersumpah akan menyeret Baskoro bersamanya ke dalam jurang, seberapa lama pun itu akan memakan waktu.

​Udara subuh yang dingin menusuk tulang, saat Agil memasukkan koper terakhirnya ke dalam bagasi mobil. Di teras mansion yang megah itu, Laila berdiri mematung, dibalut syal sutra tebal yang melilit lehernya hingga ke dagu. Wajahnya pucat di bawah temaram lampu teras, matanya sembap, memberikan kesan seolah ia berat melepas kepergian suaminya.

​Agil mendekat, menggenggam kedua tangan Laila. "Hanya tiga hari, Sayang. Begitu aku pulang, aku akan membawakanmu oleh-oleh paling bagus dari Surabaya. Jaga kesehatan, ya? Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Papa. Dia sudah janji akan menjagamu."

​Laila merasakan lidahnya keluh. Kalimat "Papa akan menjagamu!" terasa seperti vonis mati. Ia hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan Agil mengecup keningnya lama. Agil tidak menyadari bahwa tubuh istrinya gemetar hebat, bukan karena udara dingin, melainkan karena horor yang menantinya di dalam rumah itu, begitu mobilnya melewati gerbang.

​"Aku pergi dulu, Laila. Assalamualaikum."

​"Waalaikumsalam..." bisik Laila lirih, menatap lampu belakang mobil Agil yang perlahan menjauh, dan menghilang di balik gerbang besi raksasa.

​Begitu kesunyian kembali menyergap, sebuah bayangan muncul di balik jendela lantai atas. Baskoro berdiri di sana, mengamati menantunya dengan senyum kepuasan. Singa tua itu baru saja mengusir singa muda ke hutan yang jauh, meninggalkan mangsanya tanpa perlindungan.

​Tepat pukul sepuluh pagi, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Laila. "Nyonya Muda, Tuan Besar sudah menunggu di mobil. Beliau bilang, Anda punya waktu sepuluh menit untuk bersiap."

​Laila menatap dirinya di cermin. Ia sengaja memilih pakaian yang paling tertutup, sebuah gamis panjang berwarna abu-abu gelap dengan kerudung yang lebar. Ia ingin menenggelamkan jati dirinya, berharap Baskoro kehilangan selera padanya. Namun, ia lupa bahwa bagi pria seperti Baskoro, perlawanan dan ketertutupan justru adalah tantangan yang menggairahkan.

​Di dalam mobil mewah yang kedap suara, Baskoro duduk santai sambil menyesap cerutu. Ketika Laila masuk, ia tidak menyapa, melainkan langsung memberikan instruksi kepada sopir. "Ke vila pribadi di Puncak. Jangan lewat jalur biasa."

​Laila tersentak. "Makan siang di luar? Papa bilang kita hanya akan makan siang."

​Baskoro menoleh, menatap Laila dari balik kacamata hitamnya. "Udara Jakarta terlalu kotor hari ini. Aku ingin makan siang dengan pemandangan pegunungan. Lagipula, Agil sedang bekerja keras di Surabaya, bukankah adil jika kita juga menikmati hidup di sini?"

​Sepanjang perjalanan, Laila hanya menatap keluar jendela. Ia merasa seperti seorang narapidana, yang sedang dibawa ke tiang gantungan. Baskoro sesekali mencoba mengajaknya bicara, menceritakan betapa hebatnya Agil di kantor, seolah-olah pujian itu adalah pelumas untuk memuluskan niat busuknya.

​"Kau tahu, Laila... Agil itu sangat berbakat. Tapi dia terlalu patuh. Dia tidak punya insting predator. Itulah sebabnya, dia selalu butuh aku untuk memandu hidupnya. Termasuk dalam memilih istri," Baskoro tertawa rendah.

​"Saya bukan pilihan Papa. Agil yang memilih saya," sela Laila, dengan keberanian yang tersisa.

​"Oh, tentu. Tapi aku yang mengizinkan pernikahan itu berlanjut. Aku bisa saja menghancurkan hubungan kalian sejak hari pertama. Tapi saat aku melihatmu di pelaminan... aku sadar bahwa memiliki menantu sepertimu, jauh lebih menarik daripada sekadar mengusirmu."

​Laila merasa mual. Kalimat itu menegaskan bahwa sejak awal, ia sudah menjadi bagian dari rencana jangka panjang Baskoro.

​Vila di Puncak itu berdiri tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Jauh dari keramaian, jauh dari pengawasan siapa pun. Begitu sampai, Baskoro menyuruh semua pelayan dan sopir untuk pergi ke paviliun belakang.

​Di ruang makan yang berdinding kaca besar dengan pemandangan lembah, sebuah meja telah tertata rapi. Makanan mewah tersedia, namun Laila tidak menyentuhnya sedikit pun.

​"Makanlah, Laila. Kau butuh tenaga untuk sore ini," ujar Baskoro, sambil menuangkan wine putih ke gelas Laila.

​"Sore ini? Saya ingin pulang sekarang, Pa. Urusan Ayah saya... Papa sudah janji akan menyelesaikannya," tagih Laila, dengan suara bergetar.

​Baskoro meletakkan garpunya, raut wajahnya berubah serius. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya dan melemparkannya ke atas meja. Laila membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sertifikat tanah atas nama ayahnya dan surat pelunasan utang dari bank senilai 500 juta rupiah.

​"Ayahmu sudah bebas, Laila. Secara hukum, dia bersih. Tanah keluargamu juga sudah kukembalikan," Baskoro berdiri, berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di belakang Laila. "Sekarang, bukankah sudah saatnya kau memenuhi bagianmu, dari kesepakatan ini?"

​Tangan kekar Baskoro mendarat di bahu Laila, meremasnya perlahan namun penuh penekanan. Laila memejamkan mata, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa, dunianya benar-benar telah terjual. Kebebasan ayahnya dibeli dengan kehormatannya.

​"Agil... bagaimana jika dia tahu?" tangis Laila pecah.

​"Agil tidak akan pernah tahu kecuali kau yang mengatakannya. Dan jika kau mengatakannya, kau akan menghancurkan hatinya, menghancurkan kariernya, dan mengirim ayahmu kembali ke lubang hitam yang lebih dalam dari penjara," bisik Baskoro tepat di telinga Laila. "Jadilah wanita pintar, Laila. Nikmati kemewahan ini. Berikan apa yang aku inginkan, dan aku akan menjadikanmu wanita paling berkuasa di keluarga ini."

​Baskoro mulai mencium tengkuk Laila yang tidak tertutupi kerudung. Laila membeku, setiap saraf di tubuhnya berteriak untuk lari, namun kakinya seolah tertanam di lantai. Ia membayangkan wajah Agil yang tersenyum di Surabaya, membayangkan ayahnya yang kini bisa bernafas lega di desa. Demi dua pria itu, Laila menyerah. Ia membiarkan harga dirinya diinjak-injak, oleh pria yang seharusnya ia panggil Papa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!