Jalan Kehidupan yang tak pernah Terduga seakan membuatku mendapat kenyataan Yang Tak pernah aku sangka.
pertemanan yang ku kira Biasa, nampak berbeda kala Cinta hinggap diantara kita.
sialnya aku tak pernah menyadari dan baru ku ketahui kala kau telah pergi.
dulu aku tak pernah memikirkan akan hadir cinta diantara kita, dengan status kita yang berbeda.
kau seorang gadis manis se elok bunga, sedang aku seorang Duda yang terluka.
dinama kala ketulusan menghancurkan segalanya. terombang - ambing sendiri dalam sepi hingga aku berjumpa seorang wanita yang setara. lalu singgah dan ingin menetap, namun memudar kala suatu fakta yang membuat semua sirna.
semua salahku, dan semua karenaku.
aku yang larut dalam kecewa pada diri ini, memilih pergi meninggalkan rumah yang selama ini menemani lukaku seorang diri.
akan tetapi dari tempat baru inilah semuan berawal, dari sebuah kota di pulau seberang.
cinta yang dulu belum selesai, kini harus bertemu meminta pertanggung jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author_Karbitan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Perpisahan
Matahari beranjak semakin meninggi, meninggalkan Pagi dan akan berganti dengan siang Hari, Aku memakai pakaianku setelah berkecamuk antara logika dan juga perasaan yang saling berdebat di dalam kepala seraya mengguyur air di seluruh badan.
Dea sudah memakai bajunya dengan lengkap, dan merias wajahnya dengan cantik sekali.
Raut Wajahnya seakan tidak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan dalam hatinya. Dia nampak tenang dan terpancar raut kebahagiaan kala sekilas ku memandang.
Akan tetapi di balik semua itu, mungkin ada sebuah beban yang dia pendam sendiri dan di nikmati sendiri tanpa dia bagi pada orang lain.
" kita cari makan dulu, nanti aku antar kamu ke stasiun untuk pulang, kamu sudah siap ? "
Tanyaku saat melihatnya sedang merapikan pakaiannya.
Tak ada jawaban, dan hening tanpa sepatah kata yang dia ucapkan, wajah yang tadinya aku lihat nampak bahagia, kini dia malah menekuk wajahnya seraya murung menandakan bahwa mungkin saja inilah terakhir kali kita bersama.
Aku bergerak mendekat dan memegang pundaknya, hal yang tak ku duga dia malah memelukku dengan erat.
" jangan menangis begitu, Aku tak ingin melihat mu seperti ini, kamu adalah wanita yang selalu ceria yang aku tahu, usap air matamu, Aku yakin kamu bisa melewati semua ini "
" Aku tidak tahu apakah aku bisa melewati semua ini, aku takut tak merasakan lagi apa itu kebahagiaan dari hati, Aku hanya ingin hidup dengan orang yang Aku cintai, Aku ingin selalu bersama kamu mas...... aku ingin sama kamu selamanya mas..... Aku mencintaimu "
Ucapnya sambil sesenggukan dalam pelukanku.
Gejolak di dalam dada seakan terasa menyesakkan, saat ini hatiku sangat bersedih kala wanita dalam pelukan ini mengungkapkan apa yang dia inginkan.
Empati serta rasa takut dia selalu bersedih dengan tekanan batinnya seakan membuka ruang hatiku untuk menerima rasa yang dia berikan.
Akan tetapi ada rasa tak pantas dalam diri ini kala dia mencintai diriku dengan begitu tulusnya. Aku tak ingin dia tersiksa dengan pilihan keluarga yang menjodohkan dirinya tanpa di cintai oleh Dia.
namun aku bisa apa ? Aku tak ingin ada pertikaian dan pertentangan antara Dia dan keluarganya.
Sedangkan aku adalah lelaki penuh luka serta kotor dalam lumuran dosa, Jangankan untuk membahagiakan dirinya, menjamin hidupku tentram saja aku belum bisa.
" masss...... Aku ingin Hidup bersamamu, aku ingin selalu denganmu massss...... "
" maafkan Aku Dea..... Aku tak Bisa, aku tak bisa menjamin jika bersamaku, kamu akan bahagia, apalagi harus menentang keputusan orang tuamu, jangan Dea.... jangan pernah menentang mereka "
" Tak apa mas.... untuk apa aku hidup jika tak pernah merasakan kebahagiaan yang sejati "
" kamu akan berbahagia seiring berjalannya waktu, Aku yakin ini yang terbaik untukmu "
Dia melepaskan pelukannya dan memandangi wajahku dengan sorot mata yang begitu dalam, aku hapus air matanya kemudian memandangi teduh wajahnya, aku tersenyum kala mata kita saling beradu. kini senyuman yang selalu aku lihat setiap hari di masalalu kembali merekah dengan indah.
" Apakah kamu mencintai ku "
Ucapnya dengan sorot mata yang terlalu dalam untuk di jelaskan.
" Aku juga mencintai mu "
Entah darimana ucapan itu berani aku katakan, namun aku tak berbohong dengan apa yang aku rasakan.
Rasa empati menganggap dia adalah adik sendiri seakan berganti, kala kebersamaan dan ungkapan hatinya dia ucapkan hari ini.
Dea tersenyum mendengar apa yang baru saja aku ucapkan, entah siapa yang memulai.
Bibir kita saling bertemu dan berpagutan, rasa sesal telah menodainya seakan sirna.
Kala Nafsu telah menguasai segalanya, yang awalnya hanya saling berciuman, kini telah tuntas hingga lepasnya hasrat yang sebelumnya bangkit lagi.
" jangan lupain aku ya mas, walaupun kita tak bisa bersama lagi, aku ingin mas Rio tetap menyayangiku seperti sebelumnya, aku sayang kamu mas, kamu akan selalu ada di dalam hatiku selamanya "
" Aku tak akan melupakanmu, dan akan selalu mendoakan yang terbaik untuk hidupmu, setidaknya aku akan selalu mengenangmu sebagai adik perempuan ku, maafkan aku yang telah menodaimu Dea, harusnya kita tak melakukannya "
" aku yang menginginkan nya mas, karena aku tak ingin memberikan pada orang yang tak kucinta, walaupun ini adalah dosa, namun aku tak menyesal karena aku melakukannya bersama orang yang aku cinta "
Aku tak bisa berkata apapun untuk menanggapi perkataan darinya. hati ini rasanya terenyuh saat dia berkata seperti itu, seakan aku semakin merasa bersalah kala tak menyadari dari dulu kalau dia mencintaiku dengan tulus.
Maafkan Aku Dea
Setelah selesai dengan semua yang kita lakukan, lantas kita berkemas untuk meninggalkan kamar ini di lanjutkan mencari makan siang sebelum menunggu jadwal kedatangan kereta yang akan berangkat mengantar dia pulang.
Setelah cek out, aku memacu motor dengan kecepatan pelan, sepanjang perjalanan aku mengajak dia ngobrol sembari bercanda, kini dia sudah lebih membaik, dan tanpa terasa sudah sampai di stasiun kereta.
Aku bergegas mencari rumah makan yang bisa kita nikmati dengan nyaman.
Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya aku berhenti di warung makan lesehan lantas memesan makan.
Selama menunggu makanan datang, tiada hentinya aku mencoba untuk menghiburnya dengan membahas hal - hal yang pernah kita lakukan saat masih di pabrik.
" gak terasa ya..... semenjak kita awal bertemu, sudah 3 tahun lamanya kita saling mengenal "
Ucapku membuka pembahasan di masa lalu.
" iya mas.... Aku pertama kesini baru lulus sekolah dapat satu tahun, gak nyangka aja bisa ada di kota ini dan bertemu sama Mas Rio "
Sahutnya dengan riang seperti ciri khasnya.
" Mungkin sudah menjadi takdir yang menuntun mu datang kemari De "
" mungkin sih mas, gak nyangka aja aku bakal ketemu orang seperti kamu, kalau di inget - inget lucu ya mas, diantara banyaknya yang ingin dekat denganku, hanya kamu yang tidak tertarik "
" Entahlah.... saat itu aku benar - benar tidak bisa menerima kenyataan, saat itu aku sedang hancur sekali, dan saat itu... Dunia seakan begitu kejam padaku "
" Rasa Cuekmu, Dingin sikapmu, Diam mu, seakan menjadi Rasa penasaran yang ingin aku taklukkan, ku kira bisa dekat dengan mu adalah suatu hal yang mustahil, saat aku berhasil, aku terjebak dalam rasa yang tak pernah menemui jawaban, setiap malam aku berharap kamu mengungkapkan kata cintamu padaku mas, namun kamu itu sulit sekali untuk di taklukkan "
" kenapa gak kamu bilang duluan kalau begitu "
" yeee..... mana ada cewek bilang duluan mas, Malu lah..... "
" tapi semalam kamu bilang "
" ya karena aku udah capek nunggu dan gak ingin membawa rasa ini sendirian, aku takut aja kita gak bisa bertemu lagi "
" emangnya aku mau mati gitu "
" ya enggak juga mas, tapi kalau aku udah punya suami dan punya keluarga, mana mungkin kita bisa bertemu ? apalagi beda kota yang cukup jauh diantara kita "
" iya juga sih De, akan tetapi kalau Tuhan mengizinkan kita pasti akan kembali bertemu lagi kok "
" iya mas, tapi kita kan gak tahu kedepannya bagaimana ? Mas Rio disini jaga diri dan juga jaga kondisi ya mas, jangan sampai telat makan, jangan suka begadang, dan jaga kesehatan, mulai hari ini aku gak bisa menjaga dan menemanimu seperti sebelumnya "
Aku hanya mengiyakan Ucapannya yang sangat perhatian sekali padaku. Dia begitu perhatian serta sangat tulus sekali.
Rasanya aku tak ingin meninggalkannya sendiri, Aku ingin melindunginya, dan ingin selalu ada untuknya, Namun apalah daya, sebab aku tak bisa berbuat apa - apa.
Hanya bisa berdoa, semoga dia selalu bahagia.
Makanan yang kita pesan telah datang.
dia memesan makanan favoritnya, dan menu yang tak pernah berubah saat kala kita makan berdua.
Dulu aku pernah bertanya tentang makanan favoritnya, dia bilang kalau sudah jatuh cinta sulit baginya untuk berganti selera.
Yang aku tebak darinya, hal kecil saja dia bilang seperti itu, bagaimana dengan hal yang lebih besar ? apalagi soal hati.
Hmmm..... sungguh beruntung orang yang di cintai olehnya.
Setelah beres makan, kita menunggu kedatangan kereta dengan tujuan ke kotanya.
setelah 30 menit berselang, Kereta telah datang.
Aku mengantarkannya hingga sampai di depan pintu gerbong tempat dia akan melanjutkan perjalanan ke kotanya.
" selamat Jalan ya De, aku harap kamu akan selalu mendapatkan kebahagiaan serta keberkahan dalam hidupmu "
Ucapku saat berada di sampingnya.
Dia menoleh ke arahku, lantas memelukku di keramaian orang berlalu lalang.
" jangan lupakan aku ya mas "
" iya aku gak akan lupain kamu kok "
" nanti aku akan sering berkabar padamu mas, kalau aku kangen, aku akan menelponmu, aku sayang mas Rio "
" iya Dea iya, aku juga sayang sama kamu, udah ya.... keretanya mau jalan, hati - hati di jalan ya, semoga selamat sampai tujuan. "
dia hanya mengangguk dan melepaskan pelukannya. lantas dia mencium pipiku dengan manis dan beranjak masuk ke dalam kereta.
" selamat tinggal mas Rio, sehat - sehat ya mas "
Ucapnya sambil melambaikan tangan padaku, kemudian dia masuk ke dalam kereta yang mana setelahnya langsung berangkat menyusuri Relnya.
" selamat tinggal Dea, semoga engkau selalu bahagia selamanya "
Tak terasa air mata menetes saat lambaian tangannya terlihat jelas di jendela kereta yang sedang berjalan pelan kemudian kencang untuk hilang dari pandangan.
Tak bisa aku pungkiri, mengapa rasa itu muncul saat kita telah berpisah, mengapa harus ada cinta diantara persahabatan kita ?
Dan kini, kita harus berpisah dengan cara seperti ini, meninggalkan sebuah bekas dalam ingatan yang sulit untuk di pahami.
Saat mengantar Dea sampai di depan pintu kereta, aku tak menyadari jika sedari tadi ada yang memperhatikanku dari arah cukup jauh.
Aku menyadari orang itu sedang menatapku dan nampaknya dia sangat kecewa berat.
Sungguh aku terkejut sekali dengan hadirnya dia disini, dan tanpa aku sadari rupanya aku di perhatikan dari kejauhan sedari tadi.
Saat dia menyadari kalau aku juga melihatnya, lantas dia berbalik arah dan berlalu pergi dengan cepat.
Di tengah ramainya orang yang berlalu lalang.
Aku mengejarnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia lihat.