NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Di antara Batu dan Langit

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di lereng pegunungan timur Benua Yunxiao, di mana angin dari Dataran Qianmu membawa hembusan dingin yang menusuk tulang, terdapat Desa Qingshui, sebuah pemukiman kecil yang seolah-olah dilupakan oleh para dewa. Sawah dan perkebunan kering membentang seperti luka bakar di tanah gersang, di mana padi jarang tumbuh karena tanahnya telah diracuni oleh debu qi dari tambang terdekat. Deretan rumah berbahan dasar tanah liat dan bambu berdiri dengan beratapkan dedaunan kering, sementara anak-anak kecil bermain di lumpur dengan wajah polos, meski kesehatan mereka terganggu akibat air dan udara yang terkontaminasi partikel batu meridian.

Desa ini berada di bawah bayang-bayang Kerajaan Lianzhou, negeri agraris yang kaya mineral qi tapi telah dijajah selama tiga ratus tahun oleh Kekaisaran Tianyuan. Hukum adat lokal telah lama ditekan, digantikan oleh mandat langit yang dingin dan tak kenal ampun, sebuah sistem yang mengklaim membawa ketertiban, namun sebenarnya hanya memeras darah rakyat demi kejayaan para kultivator di ibu kota Jingdu.

Setiap pagi, lonceng besi di gerbang tambang Batu Meridian Timur berdentang tiga kali, sebuah panggilan yang memanggil para buruh ke perut bumi. Li Shen berjalan sendirian di belakang rombongan buruh, membawa keranjang anyaman berisi nasi dan lauk ala kadarnya yang ia dapat dari sisa makanan tetangga kemarin malam sebagai bayaran dari kerja serabutan membersihkan kandang ternak mereka. Usianya baru delapan belas tahun, tapi tubuhnya sudah seperti lelaki yang telah bekerja seumur hidup dengan tinggi sedang, otot padat dari bertahun-tahun mengangkat beban berat. Rambut hitamnya selalu diikat rendah agar tak mengganggu dirinya bekerja, dan matanya yang gelap menyimpan tatapan tenang yang sering membuat orang lain merasa ditekan, meski ia jarang berbicara. Pakaiannya sederhana, dominan abu-abu untuk menyembunyikan noda debu, tapi juga sebagai penolakan diam terhadap simbol kemewahan yang dipamerkan para pengawas Tianyuan.

Li Shen hidup sebatang kara sejak kecil. Orang tuanya meninggal saat ia berusia lima tahun, ayahnya tewas di tambang karena longsor, ibunya sakit karena debu qi dan tak ada uang untuk membeli obat. Sejak itu, ia tinggal di gubuk pinggir desa, dapat makanan dari kerja serabutan seperti mengambilkan air buat tetangga, bersihkan kandang babi, atau disuruh-suruh sana sini oleh warga yang sering memaki-maki dirinya layaknya seekor anjing.

“Hei, anak yatim-piatu! Cepat ambil air di sungai, kalau sampai telat, tidak ada nasi malam ini!” begitu kata-kata yang biasa ia dengar. Ia bertahan karena tak ada pilihan lain, mati kelaparan atau kerja seperti budak. Tak ada keluarga, tak ada teman dekat, hanya kesepian yang ia pendam dalam diam.

“Jangan terlalu dekat dengan terowongan baru hari ini,” ujar Paman Gu, buruh tua yang kadang berbagi makanan pada Li Shen saat dirinya menang judi. “Kemarin, Wang Lao jatuh ke jurang di sana. Mereka bilang longsor alami, tapi batu-batu licin itu berbahaya. Kalau jatuh, tak ada yang cari jenazahmu. Namamu bisa hilang dari catatan Aula Penghapusan Nama sebelum tubuhmu mulai dingin. Jadi, fokus pada pekerjaanmu. Kita harus kuat, tak peduli apapun yang langit berikan.”

Li Shen mengangguk, memperhatikan setiap langkahnya meski dia tahu ucapan tentang “langit” itu terdengar seperti omong kosong. Di tambang ini, sekedar berucap saja memang sudah terkesan boros, setiap tarikan napas lebih baik disimpan untuk mengayun palu agar tidak terlalu sesak ketika bekerja.

Mereka bergabung dengan barisan buruh lain di gerbang tambang, di mana udara sudah terasa berat dengan bau belerang bercampur qi yang pekat. Pengawas Tianyuan, Zhao Kui, seorang kultivator tingkat tiga yang baru mencapai tahap Pembuka Meridian akhir, berdiri di atas batu tinggi dengan jubah biru pudar yang menandakan statusnya. Plakat mandat di pinggangnya berkilau samar, simbol bahwa ia diberkati langit meski berkat itu hanya cukup untuk membuatnya sombong, bukannya kuat. Matanya menyapu kerumunan seperti pisau tumpul, mencari tanda-tanda kelelahan, kelalaian ataupun pemberontakan.

“Hari ini kuota naik lagi, lima puluh keranjang per kelompok!” seru Zhao Kui dengan suara datar, tapi penuh ancaman. “Paviliun Tianlu membutuhkan lebih banyak batu meridian mentah untuk persiapan Ujian Pembukaan Meridian tahun ini. Kalian tahu apa yang terjadi kalau kuota tak tercapai, kalian semua akan dikenai denda, potong jatah makanan, atau yang terburuk, nama kalian akan dicoret dari daftar buruh. Dikirim ke Lembah Wuyan, di mana orang-orang dihapus dari silsilah, dan dikubur hidup-hidup oleh Angin Selatan yang bringas. Mandat langit tak kenal ampun pada yang lemah.”

Tak ada yang berani mengeluh terang-terangan. Hanya gumaman di antara para buruh. Li Shen ditugaskan ke terowongan nomor tujuh sendirian, bagian paling dalam yang baru dibuka dua bulan lalu setelah longsor sebelumnya menewaskan dua puluh orang sekaligus. Udara di sana lebih pekat, qi alami dari urat batu meridian mentah menyusup ke pori-pori seperti jarum halus, membuat napas terasa berat dan perih di mata. Ia bekerja sendiri, memecah dinding batu dengan palu besi dan linggis, lalu mengisi keranjang kayu dengan pecahan batu bercahaya samar, dan menyeretnya ke atas melalui tali kasar yang menggerogoti telapak tangan hingga lecet. Setiap keranjang harus penuh, atau Zhao Kui akan turun dengan cambuknya, melepaskan sabetan yang meninggalkan perih selama berhari-hari.

Beberapa minggu setelah Ujian Pembukaan Meridian, yang masih membekas seperti luka segar, Li Shen bekerja lebih diam dari biasanya. Ujian itu telah berlalu bulan lalu, tapi bayangannya masih gentayangan di desa. Semua anak seusia delapan belas tahun dari sepuluh desa sekitar dikumpulkan di lapangan batu distrik Shiyuan, di bawah pengawasan Hakim Mandat Mu Renshu, seorang wanita dari Jingdu dengan wajah kaku seperti topeng kayu. Altar kecil dengan bola kristal meridian berdiri di tengah, artefak suci dari Paviliun Tianlu yang konon bisa membaca kehendak langit.

Pemuda bernama Qiu Shun maju lebih dulu daripada Li Shen. Bola kristal bersinar sedang, cukup untuk mandat rendah, mungkin jadi anggota pengawas tambang baru di Paviliun. Qiu Shun tersenyum lega saat itu, tapi matanya ke Li Shen penuh kekhawatiran. Giliran Li Shen, tangannya menyentuh bola dingin itu. Tak ada cahaya. Tak ada getaran. “Fana biasa. Tidak layak,” ujar Mu Renshu dengan datarnya. Sejak itulah, tatapan orang desa ke Li Shen berubah menjadi iba bercampur takut, karena fana biasa berarti seumur hidup di tambang, tanpa ada jalan keluar.

Hari ini, saat istirahat singkat di terowongan tujuh, di mana obor berbahan bakar minyak ikan menyala redup, Qiu Shun mendekat. Teman masa kecil Li Shen ini kini sering ditempatkan di kelompok yang sama, mungkin karena status barunya sebagai “calon mandat rendah” memberinya sedikit kebebasan. Qiu Shun duduk, wajahnya lelah, rambut pendek acak-acakan penuh debu. Ia menyeka keringat, keranjangnya setengah penuh.

“Shen-ge,” sapanya. “Pekerjaan hari ini berat lagi, ya? Zhao Kui naikkan kuota gara-gara Paviliun minta lebih banyak batu meridian mentah. Katanya untuk latih kita yang lulus ujian.”

Li Shen hanya bisa mengangguk sambil meminum air pahit dari botolnya tanpa ada rasa iri sedikitpun. “Sistemnya memang begitu.”

Qiu Shun menggelengkan kepala, matanya penuh empati. “Kau terlalu tenang, Shen-ge. Kita besar bareng di desa, sama-sama bermimpi menjadi kultivator hebat, tapi kau sekarang terancam terjebak di tambang selamanya. Itu tidak adil. Langit tidak melihat usaha kita, cuma mandat buta yang asal-asalan. Padahal sudah jelas kau anak paling rajin di desa. Pasti ada yang salah dengan bola itu.”

Ia mendekat, suaranya lebih rendah, tangan kanan membentuk pelindung di depan mulut agar tak terdengar oleh pengawas. “Dengar ini, Shen-ge. Di Paviliun, aku dengar ada jalan keluar kecil untuk orang seperti kau. Bukan pemberontakan besar yang berbahaya, tapi penyelundupan. Ada jaringan rahasia di Kota Pelabuhan Yuhai yang bantu fana kabur ke wilayah liar di barat, seperti Padang Abu Beiyuan atau Hutan Racun Qiluo. Tak ada tambang di sana, tak ada mandat langit yang mengikat. Meski hidup di sana mungkin sulit karena harus bertarung dengan binatang liar, tapi setidaknya bisa bebas. Aku bisa kasih kontak rahasia seorang pedagang bernama Tao Yunsheng yang sering lewat desa kita. Kalau kau mau, aku bisa atur pertemuannya.”

Li Shen menatap Qiu Shun lama. Ia menghargai ketulusan temannya, tapi di hatinya, ada sesuatu yang lebih dari sekadar kabur. Lagipula dia sadar akan hubungannya dengan Qiu Shun tidak sedekat yang pemuda itu ucapkan, Li Shen tidak ingin berhutang budi pada siapapun. “Terima kasih. Aku hargai tawaranmu. Tapi aku belum mau pergi. Belum saatnya. Kalau langit tak memberi jalan, aku akan membuat jalanku sendiri.”

Qiu Shun menghela napas panjang, tapi mengangguk dengan senyum lemah. “Baiklah, Shen-ge. Tapi ingatlah kalau pintu selalu terbuka kapan saja. Jangan bilang siapa-siapa soal ini, ya. Bisa-bisa nama kita malah hilang karena ini.”

Ia bangkit, mengangkat keranjangnya lagi, dan kembali ke pekerjaannya.

Li Shen menghela nafas sebelum melanjutkan memukul dinding batu, tapi pertanyaan di hatinya semakin menggema. Pertanyaan tentang, Mengapa langit harus memutuskan siapa yang layak hidup? Mengapa mandat itu seperti rantai yang tak terlihat, mengikat nasib tanpa ampun? Dan mengapa ia harus berjuang sendirian di dunia ini?

Bulan-bulan berlalu dalam rutinitas yang perlahan membunuh jiwa. Li Shen bekerja semakin keras dan semakin diam. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang lain seperti bagaimana pengawas Zhao Kui tak pernah turun ke terowongan dalam karena takut mentahan qi merusak meridian mereka, bagaimana karavan batu meridian rutin dikirim ke Tianyuan demi memperkuat sekte-sekte besar seperti Paviliun Binatang dan bagaimana warga desa kian sering batuk darah akibat debu qi yang merembes ke dalam sumur.

Desa Qingshui terus memburuk. Kerusakan itu melahirkan bisik-bisik tentang “Perkumpulan Tanpa Mandat” yang beredar di antara para buruh, sebuah kelompok rahasia yang menolak mandat Langit. Namun, hingga kini, tak seorang pun berani bergabung secara terang-terangan.

Lalu datanglah malam Gerhana Ganda.

Dua bulan muncul di langit, satu merah seperti darah, satu hitam seperti kegelapan abadi. Fenomena kosmik yang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun, di mana qi dunia menjadi kacau dan langit konon menguji keseimbangan. Para kultivator di Paviliun Tianlu merayakannya sebagai saat suci untuk meditasi, tapi bagi buruh seperti Li Shen, itu hanya pertanda buruk, bencana yang akan menambah kuota kerja.

Malam itu, shift kerja tetap berlanjut di tambang. Kuota dinaikkan lagi karena “kebutuhan mendesak Paviliun untuk qi murni”. Sementara Qiu Shun sudah lama tidak bekerja di tambang itu lagi.

Dikala mereka sibuk bekerja, tiba-tiba, tanah bergoyang hebat. Debu qi jatuh dari langit-langit seperti hujan abu. Suara gemuruh memenuhi terowongan, seperti ribuan gajah berlarian menubruk batu dari dalam.

“Longsor!” teriak seseorang di kegelapan.

Semua buruh berlarian panik. Obor-obor jatuh, api pun padam, meninggalkan kegelapan total yang hanya diterangi kilau samar qi dari dinding yang mulai retak. Li Shen berlari sendiri, tak ada yang peduli padanya seperti biasa.

Tapi terlalu lambat. Dinding runtuh seperti gelombang, batu-batu besar menghantam tubuh mereka satu per satu. Li Shen tertimbun sampai dada di bawah tumpukan batu besar.

Seketika itu rasa sakit melanda sekujur tubuh Li Shen. Tulang-tulangnya retak, napasnya sesak, darah mengalir dari kepala dan membasahi wajahnya. Di sekitarnya, jeritan mereda menjadi rintihan, lalu sunyi.

Ia tak bisa bergerak, hanya menatap langit-langit tambang yang gelap. Sendirian lagi, selalu begitu.

Namun cahaya biru seketika muncul, lembut seperti fajar yang salah tempatnya, menerangi reruntuhan dengan kehangatan palsu.

Di tengah cahaya itu, suara bergema indah, bukan suara manusia, melainkan seperti angin yang berbicara langsung ke dalam jiwanya.

“Anak fana yang tersisa. Engkau telah bertahan di ambang kematian. Langit menawarkan anugerah. Meridianmu akan dibuka. Engkau akan menjadi Pemegang Mandat tingkat sepuluh dalam sekejap. Terimalah, Li Shen, dan hidup sebagai milik langit. Jika engkau menolak, maka takdirmu adalah mati di reruntuhan ini.”

Li Shen terbatuk-batuk kala cairan merah mengalir keluar dari sudut bibirnya. Tapi setelahnya, ia bisa merasakan qi murni mulai menyusup ke tubuhnya, memperbaiki luka, membuka saluran-saluran yang selama ini tertutup. Kekuatan mengalir seperti sungai yang meluap, membanjiri padang tandus, kekuatan yang akan mengubahnya menjadi kultivator, sebagai bagian dari sistem Tianyuan.

Di sisi lain, ia juga merasakan ikatan itu. Rantai tak terlihat yang melilit jiwanya, menjadikannya properti langit sementara nasibnya tidak lagi milik dirinya sendiri.

Di sekitarnya, tubuh buruh lain yang menjadi korban mulai dingin. Li Shen mengedarkan pandangannya sebelum kembali menatap cahaya itu. Ia menyunggingkan senyum yang sama seperti saat gagal ujian, senyuman yang menolak kepemilikan.

“Tidak.”

Suaranya pelan, tapi tegas. Sementara cahaya itu bergetar, seolah terkejut.

“Engkau menolak Anugerah Langit?”

“Aku menolak menjadi milikmu.”

Pada saat itu suasana membisu.

Lalu cahaya nan menyilaukan menelan semuanya, tubuh Li Shen terangkat dari reruntuhan, terlempar ke atas, menembus langit-langit tambang tanpa menghancurkan apapun, menuju langit malam yang diterangi dua bulan berdarah.

Ia menghilang dari dunia fana, meninggalkan pertanyaan yang menggantung di reruntuhan tentang Apa yang terjadi pada manusia biasa jika berani menolak pemberian dewa?

1
MuhFaza
bagus. lanjutkan
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!