Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERTARUNGAN DIMULAI
Di SMA Cahaya Senja, kekuatan memiliki hierarki yang jelas, seperti tingkatan kultivasi di dunia para pendekar.
Andri adalah peringkat keempat terkuat kelas tiga. Dalam satu lawan satu, kekuatannya setara dengan lima puluh siswa SMA biasa. Tinju dan tubuhnya adalah senjata, reputasinya dibangun dari puluhan wajah lebam dan tulang retak.
Di atasnya ada Bima, peringkat ketiga. Tubuh atletis itu bukan sekadar hiasan, setiap gerakannya terlatih, setiap pukulannya mematikan. Kekuatan Bima disetarakan dengan delapan puluh siswa SMA. Ia bukan hanya pemukul, tapi algojo.
Dan Kevin, Kevin adalah peringkat kedua terkuat kelas tiga. Sosok yang jarang turun tangan, namun sekali bergerak, hasilnya mutlak. Kekuatan Kevin disebut-sebut setara seratus siswa SMA.
Dalam dunia kecil bernama SMA Cahaya Senja, mereka bertiga adalah pilar teror, dalang pemerasan, penguasa ketakutan. Tak ada yang berani menentang mereka, sampai hari ini.
Dion berdiri dengan punggung lurus di hadapan ketiganya. Wajahnya datar, namun di balik tatapan itu bergejolak kejengkelan yang dingin. Ia tahu, tiga orang di depannya tidak akan membiarkannya lewat begitu saja. Namun justru karena itu, kesabarannya telah habis.
“Sampah seperti kalian,” ucap Dion perlahan, suaranya tenang namun tajam seperti bilah pisau.
“Tidak pantas menuntut ilmu di sekolah ini.” Tatapannya menusuk satu per satu wajah mereka.
“Lebih baik kalian keluar saja,” lanjutnya dingin, “dan jadilah preman sungguhan.”
Udara seolah membeku.
Andri, yang terkenal pemarah, langsung tersulut. Wajahnya memerah, urat lehernya menegang. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan mencengkeram kerah seragam biru Dion dengan kasar.
“Bangsat!” geramnya.
“Kita sudah ngomong baik-baik, kau malah nolak dan menghina kami?!” Andri mendekatkan wajahnya, napasnya panas, “apakah kau ingin mati?!”
Dion menatapnya tanpa gentar. “Mati?” ulangnya pelan, “sepertinya… itu tidak mungkin.”
Detik berikutnya.
Buk!
Tinju Dion menghantam pipi Andri, gerakannya terlalu cepat.
Bukan cepat seperti petarung jalanan, melainkan cepat seperti kilat yang menyambar tanpa peringatan. Tak ada ancang-ancang. Tak ada ayunan besar. Hanya satu pukulan lurus, bersih, dan menghancurkan.
Bagi Dion saat ini, memukul Andri terasa seperti memukul tahu.
Andri bahkan tak sempat menyadari apa yang terjadi. Pandangannya berputar, dunia terbalik. Tubuhnya terhempas ke samping, menghantam lantai koridor dengan suara berat.
Braaak!
Koridor sepi itu kembali sunyi. Pipi Andri langsung membengkak, merah keunguan. Namun ia tidak pingsan, Dion sengaja menahan tenaga. Jika tidak, pukulan itu cukup untuk merobohkannya selamanya.
Bima dan Kevin terdiam, mata mereka membelalak. Mereka… tidak melihat pukulan itu.
Yang mereka lihat hanyalah Dion masih berdiri di tempat semula, dan Andri sudah tergeletak di lantai.
“Ugh… b-bangsat…!” erang Andri, satu tangannya mencengkeram pipinya yang bengkak, “s-sakit sekali…!”
Ia mencoba bangkit. Dengan sisa harga diri, Andri memaksa tubuhnya berdiri. Namun kakinya goyah. Tubuhnya mulai gemetar tanpa bisa ia kendalikan.
“Bangsat kau!!” teriaknya marah, namun suaranya tak lagi sekuat tadi, “kau… kau menyerang tiba-tiba!!”
Teriakan itu lebih terdengar seperti pembelaan diri.
Di dalam hatinya, keguncangan meledak. 'Brengsek… Orang ini… sangat kuat…'
Tangannya yang menekan pipi bengkak itu bergetar hebat. Matanya ikut gemetar saat menatap Dion, bukan lagi dengan amarah, melainkan dengan ketakutan yang tak ingin ia akui.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai Penindas. Andri menyadari satu hal yang mengerikan. Keseimbangan kekuatan…
telah berubah.
Wuuush!
Andri bergerak lebih dulu.
Tubuhnya melesat maju, otot-ototnya menegang, seluruh berat badannya disatukan dalam satu ayunan tinju yang diarahkan lurus ke wajah Dion. Angin terbelah oleh gerakannya.
Baaak!
Pukulan itu menghantam udara, menghantam lantai koridor, menimbulkan debu yang beterbangan. Meski pipinya masih berdenyut akibat serangan sebelumnya, Andri tetap menyeringai, kepercayaan dirinya belum sepenuhnya runtuh. Dalam benaknya, ia masih yakin pada kekuatannya sendiri.
Ia menyerang lagi.
Langkahnya cepat, agresif, penuh niat melukai. Tinju kanan, lalu kiri, disusul ayunan keras ke arah wajah Dion.
Namun, apa yang ia harapkan tak pernah terjadi. Tinju itu berhenti di udara.
Dion mengangkat satu tangan. Hanya satu. Tanpa ancang-ancang, tanpa ekspresi berubah. Telapak tangannya menahan pukulan Andri seolah menahan hembusan angin.
Mudah. Terlalu mudah.
“Apa cuma segini kekuatanmu?” suara Dion dingin, datar, menusuk, “lebih baik kau main barbie di rumah.”
Kata-kata itu menghantam Andri lebih keras dari pukulan mana pun.
Urat-urat di dahi Andri menonjol. Wajahnya memerah. Napasnya memburu. Dalam sekejap, amarah menelan seluruh kesadarannya. Pikiran rasional menguap, digantikan satu dorongan primitif.
Membunuh.
Baaak!
Buuuk!
Bak!
Buk!
Tinju bertubi-tubi menghujani Dion. Setiap pukulan dikerahkan dengan tenaga penuh, hasil dari puluhan perkelahian jalanan, dari pengalaman menjatuhkan banyak lawan. Gerakannya presisi, agresif, tanpa jeda.
Namun semua itu, ditepis.
Dion menangkis setiap serangan dengan gerakan minimal. Sedikit geser pergelangan tangan. Sedikit perubahan sudut. Seolah ia tahu persis ke mana pukulan itu akan datang bahkan sebelum Andri bergerak.
Dengan Atribut Pertahanan seratus poin, serangan Andri tak lebih dari ketukan tanpa makna.
Tak satu pun menembus.
Andri mengubah pola. Tinju berganti tendangan. Lutut menyambar. Kaki menyapu. Bahkan kepalanya ia gunakan, dahi menghantam dengan nekat.
Semua sia-sia. Dion menahan semuanya, tenang, stabil, tak bergeser satu langkah pun.
“Dengan kekuatan selemah ini,” ucap Dion dingin di sela-sela pertahanan sempurnanya, “kau memaksa orang lain menyerahkan uang mereka?”
Kata-kata itu lewat begitu saja di telinga Andri, ia tak mendengar. Ia tak peduli, Di kepalanya, hanya ada satu hal, membunuh Dion.
“Kalau orang berbicara,” Dion menurunkan suaranya, matanya mengeras, “dijawab.”
Buaaak!
Dion bergerak.
Gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Kali ini, ia tak menahan tenaga. Kecepatan dan kekuatan dilepaskan bersamaan, sebuah pukulan bersih, lurus, menghantam wajah Andri.
Wuuush!
Buaaak!
Tubuh Andri terlempar. Bukan sekadar terhempas, ia melayang ke samping, menghantam udara, lalu jatuh keras ke lantai koridor dengan suara berat. Debu kembali mengepul.
Kali ini, Andri tidak bangkit. Tubuhnya tergeletak diam, mata terpejam, napasnya samar. Ia tak sadarkan diri sepenuhnya.
Hening, Bima dan Kevin berdiri kaku.
Mereka menyaksikan semuanya, dari awal hingga akhir. Andri, teman mereka, peringkat keempat terkuat, menyerang tanpa henti dengan seluruh kemampuannya. Dan Dion… pemuda tampan yang baru saja mereka hadang… menahan semuanya dengan mudah.
Lalu satu pukulan demi pukulan, dan Andri tumbang. Di koridor sepi itu, Bima dan Kevin akhirnya menyadari kebenaran yang tak bisa lagi mereka sangkal.
Mereka tidak sedang menghadapi mangsa, mereka sedang berdiri, di hadapan monster yang baru terbangun.
Bima dan Kevin menahan napas, bahkan mereka berdua harus bekerja sama untuk mengalahkan Andri, tetapi orang tampan didepan mereka hanya dengan satu pukulan dan Andri tumbang begitu saja.