Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergulatan Batin
Tasya menekan lift menuju lantai 16 salah satu apartemen di pusat kota. Tasya mematut dirinya di cermin yang ada di dalam lift. Penampilannya kusut, nyaris berantakan. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis dan ada noda darah yang masih melekat di kaos yang ia kenakan, belum sempat ia bersihkan.
Tasya langsung pergi tanpa merapikan penampilannya dahulu setelah Radit memintanya datang ke apartemennya. Tasya pikir, mereka akan bertemu di tempat lain, namun sebagai pihak yang butuh bantuan, ia yang harus mengalah. Malam ini juga, ia harus mendapat uang dan membayar kekurangan biaya operasi.
Tasya sampai di unit 1601. Ia menenangkan dirinya sebelum akhirnya menekan bell pintu dengan tangannya yang agak gemetar.
Tak lama menunggu, Radit membuka pintu. Ia mengenakan celana pendek dan kaos polos, nampak santai namun aura orang kaya tetap terpancar dari dirinya.
"Selamat malam, Pak Radit. Perkenalkan, namaku Tasya Prameswari." Tasya memperkenalkan diri.
Radit menatap Tasya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan kening berkerut. Penampilan Tasya sungguh berantakan namun wajah cantiknya masih tetap terpancar. "Masuklah!"
Radit masuk ke dalam disusul Tasya di belakang, berjalan sambil menundukkan pandangannya. "Duduklah!" Radit menunjuk ruang tamu lalu mengambil air mineral dingin untuk Tasya.
Tasya duduk di sofa. Matanya melihat kertas berisi foto dan data dirinya tersebar di atas meja. Rupanya Radit sudah mencari tahu tentangnya sebelum ia datang.
Radit memberikan botol air mineral yang ia bawa pada Tasya lalu duduk di sofa seberang agar bisa melihat Tasya lebih jelas. "Ceritakan apa yang telah terjadi!"
"Mm... baik, Pak. Tadi pagi, suami dan anakku ditabrak truk saat aku sedang membeli air mineral. Suamiku sudah dioperasi dengan sebagian besar biayanya dari pihak asuransi namun anakku... asuransi tidak mengcovernya. Dia...." Air mata Tasya menetes tanpa bisa ia tahan. Air mata putus asa dan ketakutan akan kehilangan orang yang ia sayang. "Butuh biaya untuk operasi dan perawatan secepatnya. Batas waktunya sampai besok kalau tidak-"
"Berapa biaya yang kamu butuhkan?" potong Radit. Ia paling tak tahan melihat wanita menangis.
"Saat ini... seratus juta namun itu hanya biaya operasi dan beberapa hari di ruang NICU. Sisanya-"
"Oke," potong Radit. "Akan aku transfer biayanya."
Tasya melongo. Air matanya tiba-tiba berhenti. Sejak tadi ia telah menghubungi banyak orang untuk meminta tolong namun tak ada yang mau membantu, sekarang dengan mudahnya orang yang baru ia temui akan memberikan uang tanpa pikir panjang. "Bapak akan meminjamkanku uang?"
Radit menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia melipat kedua tangannya di dada dan terus menatap Tasya dengan lekat. "Aku akan berikan, bahkan akan kubiayai sampai anakmu sembuh jika kamu tetap menuruti keinginanku."
Mata Tasya berbinar mendengar ucapan Radit. Namun kebahagiaan itu tak lama, karena ucapan Radit berikutnya membuat senyum di wajah Tasya menghilang.
"Tentu semua itu tidak gratis. Tak ada yang gratis di dunia ini." Radit tersenyum penuh maksud.
"Aku akan bayar semuanya, Pak. Silahkan potong gajiku, aku siap," jawab Tasya tanpa pikir panjang.
"Aku tak butuh potongan gaji kecilmu itu. Mau sampai kapan kamu melunasinya? Aku tak yakin kamu bisa melunasinya, bukankah suamimu juga sakit?" Senyum di wajah Radit menghilang namun tatapan penuh maksudnya tidak.
"Aku akan lembur setiap hari, Pak. Aku janji akan bayar semua." Tasya mencoba meyakinkan Radit, hanya Radit satu-satunya jalan keluar untuk masalahnya saat ini.
"Aku tak butuh itu. Aku mau kamu bayar dengan cara lain." Radit tersenyum tipis namun senyum itu berhasil membuat bulu kuduk Tasya meremang.
"Cara lain? Misalnya seperti apa, Pak?" tanya Tasya. Hatinya tak tenang. Senyuman Radit memiliki maksud negatif, Tasya yakin itu.
"Kamu itu cantik, Tasya. Sangat cantik. Kamu bisa membayar dengan kecantikan yang kamu miliki." Nafas Tasya tercekat mendengar ucapan Radit. "Bayar dengan tubuhmu. Layaniku malam ini maka biaya operasi anakmu akan kutanggung."
"Dengan tubuhku?" Wajah Tasya memerah. Ia marah karena telah dilecehkan namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia masih butuh pekerjaan. "Ini tak mungkin, Pak. Aku punya suami-"
"Mengapa tidak mungkin?" Melihat wajah Tasya yang memerah, Radit makin menyukai situasi ini. Ia mengeluarkan ponsel miliknya lalu membuka mobile banking, menunjukkan saldo miliknya di salah satu bank dalam jumlah yang fantastis. "Aku akan langsung transfer jika kamu mau melayaniku malam ini."
Tasya terdiam sejenak. "Aku tak bisa, Pak. Aku punya suami. Melakukan hal ini berarti aku sudah berselingkuh darinya." Tasya mengambil tas miliknya dan bersiap pergi.
Radit mengangkat bahunya, nampak acuh tak acuh. "Baiklah jika itu keputusanmu. Aku tak akan memaksa."
Radit mengambil kembali ponsel miliknya. "Hanya dengan menyentuh ponsel ini, aku bisa menyelamatkan nyawa anakmu." Radit menatap Tasya yang berdiri mematung dengan lekat. "Pikirkan lagi, apakah kesetiaanmu sepadan dan lebih berharga daripada nyawa anakmu yang sangat kau sayangi?"
Tasya menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya. "Aku tak bisa, maaf. Permisi, Pak." Tasya bergegas menuju pintu, keluar dari ruangan yang amat menyesakkannya.
Radit tersenyum lebar. "Pasti kamu akan kembali, Sya. Kamu tak pernah berubah."
.
.
.
Tasya duduk di ruang tunggu yang ada di lobby apartemen. Kakinya terasa lemas. Ia masih tak percaya akan mendapat tawaran seperti ini dari atasannya.
Pikiran Tasya kalut. Ucapan petugas administrasi terus terngiang dalam telinganya, "setiap jam sangat berharga."
Bayangan Dicky yang terbaring di rumah sakit, Setyo yang baru operasi dan butuh biaya pemulihan serta ucapan menyakitkan Ibu Welas yang tak sudi membiayai Dicky. Semua berputar di kepalanya bak benang kusut yang belum terurai.
"Kalau terjadi sesuatu pada Dicky, Mbak Ratih pasti kecewa padaku karena tak bisa menjaga anaknya yang paling berharga. Aku harus apa?" batin Tasya. Dari sekian banyak yang Tasya hubungi, hanya Lilis yang menolongnya, itu pun tak banyak. Dimana ia harus mencari kekurangan biaya dan biaya pengobatan selanjutnya? Hanya Radit solusinya, meski ia harus mengorbankan diri dan pernikahannya.
"Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika tak bisa menyelamatkan nyawa Dicky. Namun, apakah aku harus melacurkan diriku dan mengkhianati pernikahanku dan Mas Setyo hanya demi menyelamatkan nyawa keponakanku satu-satunya?" Terjadi pergulatan batin dalam diri Tasya.
"Tidak. Aku tak bisa biarkan Dicky meninggal tanpa satu pun usaha. Hanya aku yang Dicky punya. Aku akan lakukan apapun demi Dicky, apapun. Bahkan jika harus menjadi pelacur sekalipun!" Dengan tekad yang baru, Tasya kembali ke apartemen Radit.
Radit membukakan pintu untuk Tasya. Seulas senyum tersungging di wajahnya. "Aku tahu kamu akan kembali." Ia membuka pintu lebih lebar agar Tasya bisa masuk. "Kamu bisa bekerja malam ini juga."
"Ap-apa? Malam ini?" Mata Tasya terbelalak mendengar keputusan sepihak Radit.
"Tentu. Bukankah... kamu mau uangnya kutransfer sekarang juga?" balas Radit.
"Iya. Aku butuh sekarang juga."
Radit mengeluarkan ponsel miliknya. Ia sudah menyimpan nomor rekening Tasya dari data karyawan yang ia minta. "Sudah kutransfer Rp 100.000.000,-."
Tasya memeriksa rekeningnya. Radit benar menepati janjinya. "Terima kasih, Pak," kata Tasya dengan mata berbinar.
Radit kembali tersenyum penuh maksud. "Sudah lihat, bukan? Sekarang, aku mau kamu mandi dan bersiap melayaniku. Aku mau, malam ini kamu membuatku terkesan."
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣