“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima milyar
Raras tertawa kecil, tawa yang terdengar kering dan serak di tengah deru lalu lintas sore itu.
“Kesempatan? Bapak ini sales asuransi atau apa? Saya tidak butuh kesempatan untuk berhenti mendorong gerobak, Pak. Saya butuh pelanggan yang beli jamu saya.”
Raras membalikkan badan, mulai menyusun botol-botol kosong ke dalam keranjang dengan gerakan yang tegas. Sebuah penolakan yang sopan namun final.
Bayu tidak bergerak. Kehadirannya yang diam terasa lebih menekan daripada teriakan mana pun.
“Ini bukan tawaran pekerjaan biasa, Mbak Raras.”
“Saya tidak mencari pekerjaan lain,” potong Raras cepat, tanpa menoleh.
“Pekerjaan saya ini. Menjual jamu dan merawat ibu saya. Cukup.”
“Ibu Tarni,” ucap Bayu, nadanya datar, tetapi kata-kata itu mendarat seperti batu di punggung Raras.
“Saya dengar biaya perawatannya tidak murah. Dan adiknya, Bima, sebentar lagi masuk SMA, kan? Sekolah sekarang mahal.”
Tangan Raras berhenti bergerak. Ia membeku. Pria ini tidak hanya tahu namanya, ia tahu seluruh petanya, seluruh titik lemahnya. Kewaspadaannya yang tadi hanya setinggi lutut kini melonjak hingga ke leher. Ia berbalik perlahan, menatap Bayu dengan sorot mata yang tajam.
“Anda siapa sebenarnya? Menguntit saya?”
“Saya hanya melakukan tugas saya,” jawab Bayu, ekspresinya tetap dingin.
“Tuan Eyang Putra Cokrodinoto ingin bertemu dengan Anda. Sekarang.”
“Saya tidak kenal Tuan Eyang Putra Anda,” desis Raras, harga dirinya memberontak.
“Dan saya tidak mau bertemu dengannya. Sampaikan saja begitu.”
“Sayangnya,” kata Bayu sambil melirik jam tangan mahalnya, “ini bukan permintaan. Ini adalah perintah. Anda bisa ikut dengan saya secara baik-baik, atau saya bisa membuat situasi yang tidak nyaman bagi semua orang di sini.”
Ancaman itu terselubung, tetapi Raras menangkapnya dengan jelas. Matanya melirik ke sekeliling. Beberapa tukang ojek dan pedagang kaki lima mulai memperhatikan mereka, tertarik pada mobil mewah yang parkir sembarangan dan pria berjas yang berbicara dengan si penjual jamu. Bayu benar, ini akan menjadi tontonan yang tidak ia inginkan.
Raras menelan ludah, merasakan pahitnya kekalahan. Pilihan apa yang ia punya? Melawan dan membuat keributan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Pria di hadapannya memegang semua kartu.
“Baik,” katanya dengan suara rendah, setiap suku kata terasa berat.
“Beri saya waktu lima menit untuk membereskan gerobak ini.”
Bayu mengangguk tipis, sebuah isyarat kemenangan yang tak kentara.
“Mobil menunggu di sana. Saya akan bantu.”
“Tidak perlu,” balas Raras ketus.
“Saya masih punya tangan.”
Bayu tersenyum sinis pada Raras yang ia anggap terlalu sombong untuk seorang penjual jamu.
***
Mobil hitam mewah itupun akhirnya melaju. Perjalanan menuju kediaman Cokrodinoto terasa seperti memasuki dimensi lain.
Dari jalanan sempit yang penuh lubang dan debu, mobil sedan hitam itu meluncur mulus ke kawasan elite yang hening, di mana rumah-rumah megah berdiri angkuh di balik pagar-pagar tinggi. Raras hanya bisa menatap keluar jendela, jantungnya berdebar kencang. Gerbang raksasa dari besi tempa dengan ukiran lambang keluarga terbuka secara otomatis, seolah menyambut seorang putri atau seorang tahanan.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan utama yang arsitekturnya bergaya Eropa klasik, megah dan dingin. Namun, Bayu tidak membawanya ke sana. Ia justru menuntun Raras menyusuri jalan setapak di taman yang terawat sempurna menuju sebuah paviliun kayu jati yang berdiri terpisah, memancarkan aura kuno yang pekat.
Aroma dupa cendana yang menenangkan sekaligus mengintimidasi langsung menyambutnya di ambang pintu. Di dalam, suasananya remang-remang. Seorang pria tua duduk bersila di atas amben, punggungnya lurus, mengenakan beskap berwarna gelap. Wajahnya dipenuhi keriput yang mengukir peta kebijaksanaan dan kekuasaan. Itulah Eyang Putra Cokrodinoto.
“Duduk,” perintah Eyang, suaranya serak namun berwibawa, tanpa basa-basi. Ia menunjuk sebuah kursi rotan di hadapannya.
Raras menurut dalam diam. Bayu berdiri di dekat pintu seperti patung penjaga, kehadirannya membuat Raras merasa terpojok.
Eyang Putra menatapnya lekat-lekat, tatapannya tajam, seolah sedang memindai setiap lapisan jiwa Raras.
“Kamu Raras Inten.”
Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
“Iya, Eyang,” jawab Raras, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
“Hidupmu berat,” lanjut Eyang, menggemakan ucapan Bayu tadi, tetapi dengan bobot yang berbeda.
“Berjuang setiap hari hanya untuk bertahan hidup. Lelah, bukan?”
Raras mengepalkan tangannya di pangkuan.
“Semua orang punya perjuangannya masing-masing, Eyang. Saya tidak merasa perlu dikasihani.”
Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Eyang.
“Bukan belas kasihan. Ini sebuah pengakuan.” Pria tua itu meraih sesuatu dari meja kecil di sampingnya. Sebuah buku cek dan pulpen. Ia menulis sesuatu dengan gerakan mantap, merobek lembarannya, lalu mendorongnya ke atas meja di antara mereka.
“Lima miliar rupiah,” kata Eyang dengan nada datar, seolah sedang menyebut harga secangkir kopi.
“Uang itu akan langsung masuk ke rekeningmu besok pagi. Cukup untuk membiayai pengobatan ibumu sampai sembuh total, membeli rumah yang layak, dan menyekolahkan adikmu sampai ke jenjang tertinggi.”
Dunia Raras seakan berhenti berputar. Lima miliar. Angka itu berdengung di kepalanya, menenggelamkan semua suara lain. Ia menatap lembaran cek itu, lalu beralih menatap Eyang. Harga dirinya terasa diobrak-abrik, tetapi bayangan wajah ibunya yang pucat melintas di benaknya, disusul oleh senyum penuh harap adiknya.
“Apa… apa yang harus saya lakukan?” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
“Keluarga kami akan mengadakan sebuah ritual. Ritual adat yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan keselamatan keluarga,” jelas Eyang, matanya tidak berkedip.
“Kami membutuhkanmu untuk menjadi bagian dari ritual itu. Hanya itu. Kau datang, jalani prosesinya, dan setelah selesai, uang itu menjadi milikmu sepenuhnya. Kau bebas melanjutkan hidupmu.”
Sebuah ritual. Kata itu terdengar aneh dan ambigu. Menjual tumbal? Menjadi mediator untuk dirasuki arwah leluhur? Pikiran Raras melayang ke cerita-cerita horor yang pernah ia baca. Tapi lima miliar… Angka itu bisa membeli masa depan untuk keluarganya.
“Ritual seperti apa?” tanyanya, mencoba mencari pegangan di tengah ketidakpastian ini.
“Apakah… berbahaya?”
“Tidak ada yang berbahaya secara fisik,” jawab Eyang diplomatis.
“Ini hanya sebuah tradisi kuno. Anggap saja kau sedang bermain dalam sebuah pentas drama. Kau hanya perlu mengikuti arahan.”
Raras terdiam lama. Pertarungan sengit berkecamuk di dalam dirinya. Di satu sisi, ada harga dirinya yang berteriak bahwa ia tidak bisa dibeli. Di sisi lain, ada suara logikanya yang membisikkan betapa bodohnya ia jika menolak kesempatan ini. Ini bukan lagi tentang dirinya, ini tentang ibu dan adiknya.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia menatap lurus ke mata Eyang Putra.
“Saya mau, Eyang,” katanya dengan suara yang kini lebih mantap.
“Saya akan melakukannya.”
Eyang Putra mengangguk puas.
“Keputusan yang bijak.”
“Tapi dengan satu syarat,” tambah Raras cepat, sebelum pria tua itu bisa menganggap masalah ini selesai.
“Saya tidak akan melakukannya dalam kebutaan. Saya bukan boneka yang bisa Eyang mainkan begitu saja.”
Alis Eyang sedikit terangkat, terkesan oleh keberanian gadis di hadapannya.
“Apa syaratmu?”
“Jelaskan pada saya sekarang juga,” tuntut Raras, nadanya tegas.
“Ritual apa sebenarnya yang harus saya jalani? Saya berhak tahu untuk apa saya menjual… partisipasi saya.”
Keheningan menyelimuti paviliun itu. Hanya suara detak jam dinding tua yang terdengar, menghitung detik-detik yang terasa begitu panjang. Bayu di sudut ruangan tampak menahan napas.
Eyang Putra menatap Raras, senyum tipis yang tadi sempat muncul kini lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang tak terbaca. Ia bersandar di amben, seolah sedang menimbang sebuah keputusan final.
“Kau yakin ingin tahu?” tanya Eyang, suaranya rendah dan penuh makna.
“Saya harus tahu,” balas Raras, tak gentar.
Eyang Putra menghela napas panjang, seolah melepaskan sebuah beban. Tatapannya menusuk Raras, mengunci gadis itu di tempatnya.
“Ritual itu bernama pernikahan.”
Raras mengerutkan keningnya, bingung.
“Pernikahan?”
“Benar,” sahut Eyang, setiap katanya jatuh seperti palu godam di atas landasan baja.
“Kau harus menikah dengan cucuku, Radya Maheswara.”