NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Sesi Belajar Neraka

​Tiga hari berlalu sejak "Perjanjian Setan" itu ditandatangani, dan Alea merasa separuh jiwanya sudah melayang meninggalkan tubuh.

​Julian Pradana ternyata bukan sekadar tutor. Dia adalah diktator berwujud pelajar SMA. Metode pengajarannya efektif, harus Alea akui, tapi sangat menyiksa batin. Julian punya obsesi aneh terhadap stopwatch.

​"Dua menit untuk satu soal substitusi aljabar, Alea. Kamu menghabiskan empat menit lima belas detik. Terlalu lambat," komentar Julian datar sambil menekan tombol stop di jam digitalnya.

​Alea, yang kepalanya sudah berasap, meletakkan pulpennya dengan kasar.

​"Gue bukan kalkulator, Jul! Otak gue butuh loading! Ini variabel X sama Y kenapa hobi banget tuker-tukeran tempat sih? Labil banget kayak ABG!"

​Mereka sedang berada di area pojok perpustakaan lagi. Ini adalah hari Jumat sore. Sepulang sekolah. Di luar, suara riuh siswa yang pulang sekolah terdengar sayup-sayup, terdengar seperti suara kebebasan yang mengejek Alea.

​"Matematika itu pasti, tidak labil. Yang labil itu fokus kamu," balas Julian tanpa mengalihkan pandangan dari buku latihan. "Ulangi nomor lima. Kali ini gunakan metode eliminasi."

​Alea mengerang panjang, menelungkupkan wajahnya ke meja. Bau vernis meja perpustakaan menusuk hidungnya.

​"Istirahat dong, Jul... Lima menit aja. Gue mau beli minum. Tenggorokan gue kering kayak gurun sahara."

​Julian melirik jam tangannya. "Kita baru mulai 45 menit. Jadwal istirahat masih 15 menit lagi."

​"15 menit lagi gue keburu mati dehidrasi. Lo mau tanggung jawab kalau ada berita Headline: 'Siswi Cantik Tewas Mengering Saat Belajar Matematika'?"

​Julian menghela napas. Ia memijat pangkal hidungnya—kebiasaan yang mulai sering dilakukannya sejak menjadi tutor Alea.

​"Oke. Lima menit. Tidak lebih," putus Julian. "Kantin sudah tutup, tapi vending machine di lorong dekat tangga masih nyala."

​"Yes! Lo emang Ketos terbaik—kalau lagi khilaf," seru Alea. Ia langsung menyambar dompetnya dan melesat berdiri.

​"Ingat, Alea. Lima menit. Kalau lewat satu detik, tugasmu ditambah sepuluh nomor," ancam Julian.

​"Siap, Bos!" Alea memberi hormat main-main, lalu berlari kecil keluar perpustakaan.

​Begitu pintu perpustakaan tertutup di belakangnya, senyum Alea merekah lebar. Vending machine? Cih. Itu cuma alibi. Tujuan Alea yang sebenarnya jauh lebih "menyegarkan".

​Ia merogoh saku roknya, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi disita Julian (tapi berhasil ia curi balik saat Julian lengah membereskan buku). Ada pesan masuk dari Raka.

​Raka: Le, anak-anak lagi ngumpul di Warung Mbak Yul belakang sekolah. Ada gorengan baru mateng. Sini gabung bentar, mumpung si Robot nggak liat.

​Mata Alea berbinar. Warung Mbak Yul. Surga duniawi di belakang tembok sekolah. Tempat di mana gorengan selalu hangat dan es teh manis selalu pas takarannya.

​Tanpa pikir panjang, Alea berbelok arah. Bukannya menuju vending machine di lantai dua, ia malah menuruni tangga belakang menuju area parkir motor guru, jalan tikus menuju tembok belakang sekolah yang bolong dan terhubung langsung ke warung legendaris itu.

​"Lima menit? Bodo amat. Gue butuh asupan micin," gumam Alea sambil mengendap-endap.

​Sepuluh menit berlalu.

​Di perpustakaan, Julian mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Tap. Tap. Tap. Iramanya konstan, menandakan ketidaksabaran yang memuncak.

​Julian menatap stopwatch-nya. 05:00... 06:00... 10:00.

​"Anak ini," desis Julian. Rahangnya mengeras.

​Ia membereskan buku-bukunya dengan gerakan cepat, memasukkannya ke dalam tas, lalu bangkit berdiri. Firasatnya mengatakan Alea tidak sedang antre di depan mesin minuman. Alea sedang mencoba kabur.

​Julian melangkah keluar perpustakaan. Matanya menyapu lorong. Kosong. Ia berjalan menuju vending machine. Tidak ada siapa-siapa.

​Julian memejamkan mata sejenak, mencoba berpikir seperti Alea. Kalau saya jadi anak pemalas yang tidak punya disiplin dan suka melanggar aturan, ke mana saya akan pergi?

​Jawabannya muncul seketika di benaknya: Warung belakang sekolah. Tempat yang paling dibenci guru BK dan OSIS karena menjadi sarang siswa bolos.

​"Awas kamu, Aleandra," geram Julian. Ia melonggarkan dasinya sedikit, lalu mulai berlari. Bukan lari-lari kecil, tapi lari sprint atletis yang biasa ia lakukan saat pelajaran olahraga (satu-satunya pelajaran non-akademik di mana ia juga harus sempurna).

​Julian menuruni tangga dua sekaligus, melewati lobi, dan menuju area belakang sekolah yang rimbun oleh pohon mangga.

​Sementara itu, di Warung Mbak Yul.

​Alea sedang menikmati surga. Di tangan kanannya ada tahu isi panas, di tangan kirinya es teh plastik. Ia duduk di bangku kayu panjang bersama Raka dan dua anggota band lainnya, Dito (bassist) dan Beni (keyboardist).

​"Gila, Le. Muka lo kusut banget kayak baju belum disetrika," komentar Dito sambil menyomot bakwan.

​"Jangan tanya," Alea mengunyah tahu isinya dengan agresif. "Si Julian itu beneran psikopat akademik. Dia nyuruh gue ngafalin tabel periodik kimia sambil berdiri satu kaki kalau gue salah jawab."

​"Serius?" Raka tertawa ngakak. "Kejem bener. Terus lo kabur ke sini?"

​"Iyalah. Refresing otak. Gue butuh lirik lagu baru, bukan rumus sinus cosinus."

​"Tapi Le," Beni menunjuk ke arah celah tembok sekolah dengan wajah pucat. "Itu... bukannya si Robot ya?"

​Alea tersedak es tehnya. "Uhuk! Apaan?"

​Ia menoleh ke arah yang ditunjuk Beni.

​Di sana, berdiri di antara semak-semak dekat tembok bolong, adalah Julian Pradana. Napasnya sedikit terengah, rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit acak-acakan tertiup angin, dan matanya menatap tajam tepat ke arah Alea.

​Alea merasa seperti rusa yang tertangkap lampu sorot pemburu.

​"Mampus," bisik Alea.

​"Aleandra Kamila!" Suara Julian menggelegar, membuat beberapa siswa lain di warung itu kaget dan langsung pura-pura sibuk makan.

​"KABUR!" teriak Alea refleks.

​Tanpa pikir panjang, Alea melompat dari bangku, meninggalkan gorengannya yang belum habis, dan lari menjauh dari warung menuju jalan pintas samping sekolah yang tembus ke gudang olahraga.

​"Alea! Berhenti!" Julian mengejar.

​Adegan itu seperti film aksi beranggaran rendah. Alea berlari kencang, rok abu-abunya berkibar, sementara Julian—sang Ketua OSIS yang terhormat—mengejarnya melewati tumpukan kardus bekas dan jemuran tetangga sekolah.

​"Jangan lari, pengecut!" seru Julian.

​"Jangan ngejar, woy! Lo kayak zombie!" balas Alea tanpa menoleh.

​Alea berbelok tajam ke arah gudang olahraga tua yang pintunya sedikit terbuka. Ia menyelinap masuk, berharap bisa bersembunyi di balik tumpukan matras senam sampai Julian menyerah dan pergi.

​Ia masuk ke dalam gudang yang gelap dan berdebu, napasnya memburu. Hosh... hosh...

​Baru saja ia hendak menutup pintu gudang, sebuah tangan menahannya.

​Brak!

​Pintu terbuka paksa. Julian berdiri di sana, dadanya naik turun dengan cepat, keringat mengalir di pelipisnya. Kacamatanya sedikit miring. Dia terlihat... manusiawi. Dan sangat marah.

​"Kamu..." Julian menunjuk Alea, napasnya masih belum teratur. "...kamu benar-benar tidak bisa dipercaya."

​Alea mundur selangkah, menabrak tumpukan bola basket. "Gue cuma beli gorengan, Jul! Lo nggak usah lebay ngejar sampai sini!"

​"Kamu meninggalkan sesi belajar! Kamu melanggar kontrak!" Julian maju selangkah, masuk ke dalam gudang.

​"Bodo amat! Gue capek! Otak gue butuh micin!" Alea hendak berlari ke pintu belakang gudang, tapi Julian lebih cepat.

​Julian mencengkeram pergelangan tangan Alea. "Berhenti lari dari masalah, Alea!"

​"Lepasin!" Alea memberontak.

​Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dan deheman keras dari luar gudang. Suara yang sangat familiar.

​"Siapa itu di dalam? Kok pintu gudang terbuka?"

​Itu suara Pak Hadi. Guru BK.

​Mata Alea dan Julian bertemu. Keduanya sama-sama membelalak. Jika mereka ketahuan berduaan di dalam gudang olahraga yang gelap dan sepi, gosipnya akan liar. Apalagi reputasi Julian sebagai "anak emas" sekolah akan hancur lebur.

​"Pak Hadi..." bisik Alea panik. "Gawat, Jul!"

​Julian yang biasanya tenang, kali ini juga terlihat panik. Ia melihat sekeliling. Tidak ada jalan keluar selain pintu depan di mana Pak Hadi sedang berjalan mendekat.

​"Sembunyi," desis Julian.

​Ia menarik tangan Alea, menyeretnya ke sudut paling gelap di gudang itu, di balik tumpukan matras lompat tinggi yang disusun vertikal. Celahnya sempit, sangat sempit.

​Mereka berdua menyelip masuk ke celah itu tepat saat bayangan Pak Hadi muncul di ambang pintu.

​Julian menekan tubuh Alea ke dinding gudang, sementara ia berdiri di depannya, menutupi Alea dengan tubuhnya yang lebih besar. Jarak mereka... nol.

​Alea bisa merasakan detak jantung Julian yang berdegup kencang menembus seragamnya. Napas hangat cowok itu menerpa keningnya. Aroma tubuh Julian—campuran mint, sabun cuci baju yang bersih, dan sedikit keringat—memenuhi indra penciuman Alea.

​Untuk pertama kalinya, Alea menyadari bahwa Julian punya bulu mata yang sangat lentik di balik kacamatanya.

​Pak Hadi melangkah masuk. Cahaya senter menyorot ke sana kemari.

​Alea menahan napas. Ia ingin bersin karena debu matras, tapi ia menahannya mati-matian. Tangannya secara tidak sadar meremas kemeja Julian di bagian pinggang.

​Julian kaku seperti patung. Ia menatap lurus ke arah pintu, tapi satu tangannya yang bebas bergerak perlahan ke belakang kepala Alea, melindunginya agar tidak terbentur dinding kasar, atau mungkin reflek menahan gadis itu agar tidak bergerak.

​Tap. Tap. Tap. Langkah Pak Hadi mendekat.

​"Perasaan tadi ada suara ribut..." gumam Pak Hadi.

​Senter menyorot ke arah tumpukan matras. Cahayanya menyapu punggung Julian, tapi karena seragam Julian putih dan matras itu warnanya terang, ditambah posisi mereka yang sangat tersembunyi di sudut mati, Pak Hadi tidak melihat dengan jelas.

​"Ah, tikus mungkin," gumam Pak Hadi.

​Guru itu berbalik, lalu menutup pintu gudang dari luar.

​KLIK.

​Suara kunci diputar.

​Hening. Gelap gulita.

​Alea dan Julian masih dalam posisi berhimpitan. Napas mereka terdengar sangat keras di telinga masing-masing.

​"Dia... dia ngunci pintunya?" bisik Alea, suaranya bergetar.

​Julian menghela napas panjang, hembusan napasnya menggelitik rambut Alea. Ia tidak langsung menjauh. Mungkin karena sempit, atau mungkin karena kakinya lemas.

​"Sepertinya begitu," jawab Julian pelan. Suaranya terdengar berat di kegelapan.

​"Terus kita gimana? Terkurung di sini sampai besok?" Alea mulai panik lagi, mencoba mendorong dada Julian untuk memberinya ruang.

​Julian menangkap tangan Alea. "Jangan panik. Nanti oksigennya cepat habis."

​"Lo nakutin gue, bego!"

​"Saya bawa HP. Saya bisa telepon Pak Ujang," kata Julian logis. Ia mencoba merogoh saku celananya, tapi karena posisinya sangat sempit dan tubuh Alea menempel padanya, gerakannya jadi canggung. Siku Julian menyenggol pinggang Alea.

​"Aduh! Geli!" Alea menggeliat.

​"Diam, Alea. Susah ambil HP-nya," keluh Julian.

​"Lo yang minggir dikit napa!"

​"Di belakang saya tumpukan matras debu, di depan saya kamu. Mau minggir ke mana? Ke dimensi lain?"

​Akhirnya Julian berhasil mengeluarkan ponselnya dan menyalakan flashlight. Cahaya putih menerangi wajah mereka yang berjarak hanya sepuluh sentimeter.

​Alea terdiam melihat wajah Julian dari jarak sedekat ini. Keringat membasahi dahi cowok itu. Kacamatanya berembun sedikit. Dan tatapan matanya... entah kenapa, tatapan itu tidak sedingin biasanya. Ada kelelahan, kekesalan, tapi juga sesuatu yang lain.

​"Lo... nggak marah lagi?" tanya Alea pelan, suaranya hampir tak terdengar.

​Julian menatap mata Alea dalam-dalam. "Saya marah. Sangat marah. Kamu melanggar aturan, kabur, dan sekarang bikin kita terkunci di gudang berdebu ini."

​"Tapi lo nyelamatin gue dari Pak Hadi tadi," potong Alea.

​Julian terdiam sejenak. Ia mematikan senter ponselnya, membuat mereka kembali ke kegelapan remang-remang yang masuk dari ventilasi atas.

​"Kalau Pak Hadi lihat kita, Pensi batal. Saya menyelamatkan Pensi, bukan kamu," jawab Julian defensif.

​"Bohong," gumam Alea.

​"Terserah." Julian mulai mengetik pesan ke Pak Ujang.

​Alea menyandarkan kepalanya ke dinding gudang, merasakan kelelahan yang luar biasa. Tapi di tengah kelelahan itu, ada perasaan aneh yang menyelinap. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, dan ia yakin itu bukan karena habis lari dikejar Julian.

​"Jul," panggil Alea di kegelapan.

​"Apa?"

​"Lo bau mint."

​"Dan kamu bau gorengan," balas Julian datar.

​Alea tertawa kecil. Tawa yang tulus. "Setidaknya gorengan itu enak. Mint itu kayak pasta gigi."

​"Pasta gigi bikin bersih. Gorengan bikin kolesterol."

​"Dasar kaku."

​"Dasar urakan."

​Mereka terdiam lagi, menunggu Pak Ujang datang. Di dalam kegelapan gudang olahraga yang sempit itu, garis batas permusuhan di antara mereka mulai sedikit kabur. Alea menyadari bahwa Julian Pradana mungkin punya sisi manusiawi, dan Julian menyadari bahwa Alea Kamila mungkin bukan sekadar masalah yang harus diselesaikan, tapi teka-teki yang menarik untuk dipecahkan.

​Lima menit kemudian, suara kunci diputar dari luar.

​Ceklek.

​Cahaya sore menyeruak masuk.

​"Den Julian? Non Alea? Ngapain di dalem gelap-gelapan?" tanya Pak Ujang bingung sambil memegang kunci cadangan.

​Julian segera keluar dari celah matras, merapikan seragamnya dengan cepat, wajahnya kembali datar seolah tak terjadi apa-apa. Ia membantu Alea berdiri—hanya sekilas memegang sikunya—lalu melepaskannya dengan cepat.

​"Kami sedang... inspeksi kelayakan matras, Pak. Pintunya tertutup angin," bohong Julian lancar. Sangat lancar sampai Alea melongo. Ternyata si Ketua OSIS Jujur ini jago ngeles juga.

​Julian menoleh pada Alea. Wajahnya kembali serius.

​"Sesi belajar belum selesai. Kita kembali ke perpustakaan. Sekarang."

​Alea mendengus, tapi kali ini ada senyum tipis di bibirnya. Ia menepuk debu di roknya.

​"Iya, iya. Bawel. Tapi beliin minum dulu. Gue haus abis 'inspeksi matras'."

​Julian memutar bola matanya, tapi ia tidak menolak. Dia berjalan mendahului Alea menuju gedung sekolah, dan untuk pertama kalinya, langkah Alea di belakangnya terasa sedikit lebih ringan.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca 💞

Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!