NovelToon NovelToon
Bos Tampan Itu Kekasihku

Bos Tampan Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Fantasi Wanita
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah

Pagi itu Aulia pulang ke rumahnya dengan kepala yang terasa kosong. Ia hanya memiliki tiga jam untuk bertransformasi dari desainer Junior berpenghasilan pas-pasan menjadi calon "istri" seorang Ryan Aditama. Syukurlah, transfer dana yang diminta Aulia sudah masuk ke rekeningnya - sebuah bukti nyata bahwa Ryan sangat efisien dan serius dengan sandiwara ini.

Dengan uang di tangannya, Aulia memanggil seorang penata rias, yang direkomendasikan oleh Mira. Tiga Jam kemudian, Aulia di antar oleh mobil mewah yang dikirim Ryan, mengenakan gaun koktail sederhana namun elegan yang dipinjamkan oleh Mira. Untungnya gaun itu pasa di tubuhnya.

Aulia memasuki Grand Ballroom di salah satu hotel bintang lima yang dimiliki Aditama Group. Ruangan itu penuh sesak. Sorot lampu dan kilatan kamera terasa membakar. Wartawan dari semua media bisnis, gaya hidup dan hiburan, berkumpul di depan sebuah podium dengan latar belakang logo Aditama & Partners yang elegan.

Ryan sudah menunggu di belakang panggung. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua yang dibuat khusus, memancarkan aura kekuasaan mutlak. Saat melihat Aulia, matanya meneliti, bukan dengan kekaguman, tetapi evaluasi tajam.

"Gaunnya lumayan. Tapi jangan terlihat tegang," bisik Ryan, suaranya sedingin baja. "Ingat, Anda mencintai saya. Bukan karena uang, tapi karena proyeksi jiwa profesionalisme saya yang menarik."

Aulia memaksakan senyum terdingin yang bisa ia buat. "Saya tidak pernah berpikir saya harus akting, Pak Ryan."

"Anda harus. Sandiwara kita harus terlihat seperti sebuah kisah cinta tak terduga yang profesional." Ryan melirik arlojinya. "Waktunya."

Mereka berjalan keluar, dan kerumunan pers meledak. Suara sorakan, bisikan terkejut, dan rentetan jepretan kamera menyambut mereka. Aulia merasakan tangannya ditarik oleh Ryan. Jari-jarinya menggenggam tangan Aulia, sentuhan pertama mereka di depan umum -dingin, formal, namun di mata publik terlihat protektif.

Ryan berdiri di podium, memegang mikrofon. "Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Saya mengundang Anda hari ini untuk mengumumkan bahwa saya, Ryan Aditama, akan menikah."

Ruangan itu terdiam sesaat, lalu kembali riuh rendah.

"Calon istri saya adalah, Nona Aulia. Dia adalah seorang desainer berbakat di Aditama & Partners," lanjut Ryan, suaranya tenang, mengabaikan kekacauan di depannya. Ia berbalik sedikit ke Aulia, memberikan senyum yang - entah bagaimana - terlihat tulus di mata kamera. Itu adalah senyum yang dipelajari dan dilatih.

"Aulia adalah arsitektur jiwa saya, dan saya adalah fondasinya," kata Ryan, sebuah kalimat yang pasti sudah disiapkan oleh tim Humasnya.

Aulia harus memainkan perannya. Ia menyentuh lengan Ryan, menyandarkan kepalanya sedikit, meniru pose pasangan yang baru saja bertunangan. Di dalam hati, ia menjerit, tetapi wajahnya memancarkan kebahagiaan yang terkontrol.

Seorang wartawan dari majalah bisnis terkemuka mengajukan pertanyaan pertama. "Tuan Aditama, ini mengejutkan. Tidak ada rumor sebelumnya. Dan Nona Aulia, Anda adalah karyawan di perusahaan ini. Apakah ini adalah romansa kantor yang selama ini Anda larang keras?"

Ryan menjawab dengan tenang. "Saya selalu melarang hubungan yang mengganggu fokus kerja. Hubungan saya dengan Aulia tidak mengganggu. Sebaliknya, ini adalah kemitraan yang sempurna. Kami jatuh cinta karena visi dan profesionalisme yang kami bagi. Kami sama-sama menyukai kesempurnaan dan kerja keras. Cinta kami tumbuh diatasi blue print, bukan di sudut ruangan. Ini adalah definisi baru dari kemitraan profesional."

Wartawan lain menunjuk Aulia. "Nona Aulia, bagaimana rasanya menjadi istri seorang Dewa Arsitektur? Dan bagaimana Anda bisa menyembunyikan hubungan ini dari semua orang, termasuk rekan kerja Anda?"

Aulia menegakkan bahunya. Waktunya bagi desainer Junior untuk bersinar.

"Saya tidak jatuh cinta pada dewa arsitektur," suaranya terdengar lembut namun tegas. "Saya jatuh cinta pada Ryan Aditama, pria yang menantang saya setiap hari untuk menjadi desainer yang lebih baik. Kami tidak menyembunyikan hubungan. Kami hanya terlalu fokus pada proyek kami, Lavana Business Center, sehingga kami baru menyadari hubungan ini harus diresmikan.

Ia melirik Ryan, dan untuk pertama kalinya, ia melihat kilatan kejutan tulus di mata pria itu. Aulia baru saja mengaitkan kisah cinta palsu mereka dengan proyek terbesar perusahaan, membenarkan alasan hubungan mereka dalam kerangka bisnis. Sebuah pukulan telak yang cerdas.

"Kami akan menikah dalam upacara tertutup, dalam waktu dekat," tutup Ryan, mengambil kendali lagi. Ia menggenggam tangan Aulia lagi, kali ini sedikit lebih erat dari sebelumnya.

Di sudut ruangan, Aulia menangkap siluet Adnan, sepupu Ryan, yang menatap mereka dengan wajah pucat dan marah. Rencana Ryan berhasil. Pernikahan palsu ini baru saja menghentikan upaya Adnan untuk menekan Ryan.

Konferensi pers berakhir. Ryan menarik Aulia menjauh dari hiruk pikuk wartawan. Begitu mereka tiba di area aman di belakang panggung, Ryan melepaskan genggamannya. Tangannya langsung kembali dingin.

"Aksi panggung yang luar biasa, Nona Aulia," puji Ryan, tetapi nadanya tetap analitis. "Mengaitkan hubungan kita dengan proyek Lavana adalah langkah yang sangat brilian. Ini memberikan narasi yang kuat untuk publik."

"Itu adalah negosiasi profesional saya, Pak Ryan," balas Aulia. Kelelahan mental mulai menyerangnya. "Saya hanya memastikan sandiwara ini masuk akal secara bisnis, sesuai dengan klausul kedua di kontrak.

Ryan tersenyum tipis, kali ini senyum yang lebih pribadi, namun tetap mengandung perhitungan. "Saya tidak salah memilih mitra sandiwara. Sekarang, Kamu harus pindah ke penthouse saya sore ini. Persiapan pernikahan harus terlihat cepat dan nyata. Kita akan menjalankan babak kedua di mata keluarga saya."

"Pindah?" Aulia terkejut. "Tapi di kontrak...."

"Di kontrak juga tertulis, kita harus terlihat seperti pasangan. Pasangan tidak tinggal terpisah sebelum menikah," Ryan memotong. "Ini bukan lagi tentang desain, Nona Aulia. Ini tentang akting hidup Anda."

Aulia menghela napas. Sandiwara ini baru saja berubah menjadi reality show yang melelahkan.

Sore itu, Aulia kembali ke rumah kecilnya, mengemasi sedikit barang.

"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Ibunya, ketika melihat Aulia sedang mengepak barang-barangnya.

Aulia menatap Ibunya. "Aku ada tugas keluar kota, Bu. Ibu baik-baik ya. Akan ada perawat yang mengurus Ibu." Kata Aulia sambil memegang tangan ibunya.

"Kamu hati-hati ya, Nak." pesan Ibunya Aulia.

Dengan uang jaminan dari Ryan, ia telah memberi seorang perawat baru bagi ibunya.

Kemudian Aulia pergi, dia hanya membawa satu koper pakaian dan beberapa sketsa desain. Karena dia sadar dia tidak memiliki barang-barang yang pantas untuk dibawa ke rumah Ryan Aditama.

Sebuah mobil hitam mengantarnya ke kawasan elit. Begitu sampai di depan penthousenya Ryan, Aulia menatap takjub pada gedung pencakar langit tempat Ryan tinggal. Penthouse itu terletak di lantai teratas, sebuah mahakarya arsitektur minimalis yang dingin, didominasi oleh kaca dan pemandangan kota Jakarta yang membentang luas.

"Silahkan, Nona Aulia," si sopir dengan sopan mempersilahkan Aulia turun dari mobil mewah. itu. Setelah Aulia turun, sopir itu segera mengangkatnya koperasi Aulia, sedangkan sketsa desainnya dia bawa sendiri.

Saat Aulia masuk, penthouse itu terasa seperti galeri seni. Garis-garis tegas, furniture berharga mahal, dan keheningan yang absolut. Tidak ada kehangatan, tidak ada sentuhan personal.

Ryan sudah menunggu di ruang tengah, mengenakan kaos polo dan celana santai, tampilan yang lebih santai dari jasnya, tapi tetap memancarkan aura formalitas.

"Selamat datang di tempat tinggal sementara kamu, Nona Aulia," sapa Ryan, tanpa emosi. "Mari kita tetapkan aturan rumah tangga, sebelum kita mulai babak "tunangan" ini.

"Baik, Pak Ryan," jawab Aulia.

Ryan berjalan menuju dinding kaca yang menghadap ke kota. "Pertama, saya sudah menyiapkan ruangan kamu. Itu diujung lorong sebelah kiri, jauh dari kamar utama saya. Kunci pintu selalu ada, kamu harus menggunakannya."

Aulia mengangguk, "Saya mengerti, jaga jarak fisik. Sesuai kontrak."

"Tepat," Ryan meliriknya. "Kedua, jadwal. Dikantor, kamu adalah karyawan, dan saya adalah CEO. Kamu harus tiba di kantor lebih awal dari saya dan pulang setelah saya, kecuali ada urusan mendesak. Di rumah, kita adalah tunangan. Pagi hari, kita sarapan bersama di meja ini, untuk membiasakan diri. Malam hari kita harus terlihat "bersantai" bersama jika ada panggilan video mendadak dari keluarga saya."

"Bersantai?" Aulia mengernyit.

"Ya, seperti pasangan. Mungkin membaca di sofa yang sama, dengan jarak yang terhormat, tentu saja,' Ryan menjelaskan, nadanya seperti sedang mempresentasikan diagram alir.

"Kamu tidak diijinkan masuk ke area kerja saya, dan saya tidak akan pernah memasuki kamar Kamu, paham?" tanya Ryan.

Bersambung....

1
mamayot
haiiiii aku mampir thor. semangat
Rachel Imelda: Makasih.....😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!