Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Orang Perusuh
Di waktu istirahat makan siang, Citra, Elis dan Liza pergi menjenguk istri Erwin yang melahirkan semalam. Mereka memilih jam besuk siang, karena sudah musim penghujan, dikhawatirkan akan terjebak hujan jika menjenguk di jam besuk sore hari.
Karena mereka mempunyai tujuan yang sama dan akan kembali ke kantor, Citra dan Elis ikut menumpang di mobil milik Liza, Berbeda jika mereka datang di jam besuk sore, pasti akan membawa kendaraan masing-masing sekalian arah pulang.
"Selamat atas kelahiran debay-nya ya, Mbak. Semoga debay-nya menjadi anak yang sholeh, yang bisa jadi kebanggaan kedua orang tua." Citra memberi selamat pada Atiek yang saat ini sedang memberikan ASI kepada bayi laki-lakinya.
"Makasih, Cit. Aamiin ..." sahut Atiek dengan mengulum senyuman. Menampakkan kebahagiaan, bukan hanya melahirkan anak pertama dari buah cintanya dengan Erwin, tapi juga karena dijenguk rekan kerja dan atasan suaminya.
"Debay-nya cakep, lho, Mbak." Elis memuji bayi Erwin dan Atiek yang lucu dan menggemaskan.
"Cakep, dong! Kayak Papanya." Erwin menyahuti dan bersikap narsis memuji dirinya sendiri.
Elis memutar bola matanya mendengar ucapan Erwin, sementara yang lain hanya tersenyum dan tertawa kecil.
"Kamu kalau mau punya yang kayak gini buruan nikah, Lis!" ujar Erwin menyuruh Elis yang kini berusia dua puluh lima tahun untuk segera mencari pendamping dan berumah tangga.
"Iiih, aku sih, baru umur dua puluh lima, Mas Erwin. Mbak Citra aja, tuh!" Elis justru melempar pada Citra yang ia anggap lebih tepat untuk menikah dulu, karena usia Citra di atas usia Elis.
"Citra kan pernah nikah, walaupun akhirnya cerai. Justru kamu yang belum ..." sahut Erwin membela Citra yang sudah menikah di usia Elis saat ini.
"Tenang saja, Win. Citra sebentar lagi juga bakalan sold out, lho." Liza mulai menghembuskan gosip, karena ia menangkap sinyal ketertarikan Bima pada Citra.
"Bu ...!" Citra tahu ke mana arah pembicaraan Liza dan ia mencoba menahan Liza untuk tidak menyebarkan gosip soal Bima kepada kedua rekannya.
Tim marketing Citra, Erwin dan Elis memang paling kompak dan sangat akrab satu dengan yang lainnya, bahkan dengan atasan mereka sekalipun, sehingga mereka sangat asyik jika berkomunikasi dan bercanda.
"Wah, Mbak Citra sudah punya calon lagi, Bu?" Elis dibuat penasaran dengan ucapan Liza tadi.
"Nggak! Bohong itu! Bu Liza cuma bercanda." Citra dengan cepat menyangkal, karena dia dan Bima memang tidak ada hubungan apa-apa.
"Siapa sih, Bu? Aku jadi penasaran, deh." Sementara Elis justru mendesak Liza untuk bercerita, karena sepertinya bosnya itu tahu sesuatu tentang hubungan asmara Citra.
"Bukan siapa-siapa, Lis! Nggak usah dianggap serius, deh!" Citra sibuk menyanggah jika dirinya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, karena kenyataannya memang seperti itu.
"Sibuk banget klarifikasi kamu, Cit. Lagi pula masa Bu Liza bohong!?" Ucapkan Erwin makin menyudutkan Citra. "Memangnya siapa sih, Bu? Ikutan kepo, nih." Erwin terkekeh dan ikut bergosip dengan rekan-rekan kerjanya.
"Itu cuma asumsi Bu Lisa aja, Mas Erwin. Belum tentu benar." Citra khawatir Liza akan membuka semuanya.
"Siapa, Bu? Kasih bocoran dong, Bu!" Elis terus bertanya penasaran, karena setelah bercerai dengan Bayu, Citra tak pernah bercerita tentang kedekatannya dengan pria lain. Karenanya dia terkejut ketika Liza menyebut Citra sebentar lagi akan mengakhiri status jandanya.
"Klien yang kemarin kita temui." Liza benar-benar tidak dapat menjaga rahasia dan menceritakan soal klien yang tak lain adalah Bima.
"Klien kita? Siapa, Bu? Pak Arga?" Erwin dengan cepat dapat menebak, sebab ia ketahui klien yang ditemui Citra kemarin adalah Bima.
"Aaahh, Ibuuuu ..." Citra menampakkan wajah kecewa karena Liza menyebarkan kabar yang tidak benar.
"Serius Pak Arga, Bu?" Meskipun bertanya kepada Liza, tapi tatapan mata Erwin mengarah pada Citra, seakan tak percaya pada berita yang baru saja didengarnya.
"Itu cuma asumsi Bu Liza aja, Mas Erwin!" Citra masih berusaha menampik.
"Serius juga nggak apa-apa kok, Cit. Pak Arga masih single, orangnya baik juga. Perjaka tua dapatnya janda muda, cocoklah!" Erwin meledek sambil terkekeh. "Ngomong-ngomong, grecep juga Pak Arga, pertama ketemu Citra langsung naksir," sambungnya tak henti meledek.
"Apaan sih, Mas!?" Walau berkelit, tapi semburat merah langsung mewarnai wajah Citra saat digoda Erwin.
"Kamu nggak tahu aja, Win. Pak Arga itu ternyata mantan iparnya Citra, lho." Liza memberitahu status hubungan Bima dan Citra sebelumnya.
"Mantan ipar? Maksudnya Pak Arga saudaranya Bayu? Begitu, Cit?" Erwin kembali terkejut setelah mengetahui Citra dan Bima pernah iparan.
"Iya, kakak tirinya si anak mama." Liza yang menjawab, sementara Citra hanya mendengus karena Liza sudah membongkar semuanya.
"Yaaahh, masa balik lagi sama keluarga itu, Mbak?" Elis menyayangkan jika sampai Citra menjadi anggota keluarga Wardana kembali.
"Kenapa selama ini kamu nggak bilang kalau Pak Arga itu saudaranya Bayu, Cit?" Erwin mempertanyakan karena Citra tidak pernah berkata apa-apa soal Arga yang merupakan klien kantor mereka.
"Lah, Citra aja baru tahu kalau klien kita itu ternyata mantan kakak iparnya. Soalnya mereka tuh nggak pernah komunikasi selama menjadi iparan. Maklumlah saudara tiri ..." Liza seperti juru bicara Citra, yang menjelaskan panjang lebar soal Bima pada Erwin dan Elis.
"Sudah, deh! Jangan ngomongin itu! Kita datang ke sini 'kan mau membesuk dede bayi." Citra ingin mengakhiri perbincangan seputar Bima, dan mengalihkan perhatian kepada bayi mungil yang tampak anteng dalam pangkuan ibunya.
"Kalau kamu benar sama Pak Arga, aku dukung, Cit! Siapa tahu, kerjasama kita dengan perusahaan Pak Arga makin lancar dan bonus kita langsung cair." Erwin menyatakan siap mendukung hubungan Citra dan Bima karena ada keuntungan yang dapat dia dan tim peroleh.
"Setuju!" Liza dan Elis merespon cepat.
Citra kembali memutar bola matanya, karena semua rekannya sangat berantusias dirinya berjodoh dengan Bima. Padahal itu belum tentu terjadi.
Ddrrtt ddrrtt
Citra merasakan ponsel dalam pouch bag-nya bergetar. Sepertinya ada pesan masuk di alat komunikasinya itu. Citra pun segera mengambil ponsel miliknya.
Bola matanya seketika melebar saat ia melihat nama Bima yang muncul saat ia mengusap layar ponselnya, untuk mengetahui siapa yang mengirim pesan padanya tadi.
Citra menaruh kembali ponselnya. Dia tak ingin membuka pesan dari Bima karena saat ini dia berada bersama rekan-rekannya yang secara kebetulan sedang menggosipkan dirinya dengan Bima. Apa jadinya jika mereka tahu kalau Bima tiba-tiba mengirimkan pesan kepadanya. Dia pun memutuskan akan membuka pesan itu nanti ketika tidak ada tiga orang perusuh di dekatnya.
♥️♥️♥️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best