Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 3: Mana
Di malam hari, Alice yang tetap di kamar tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka menyadari kalau ibunya memasuki kamarnya usai makan malam di aula makan.
"Ini, Ibu bawakan makanan untukmu, Sayang."
"Terimakasih banyak, Bu."
"Tidak masalah. Makanlah. Ibu yakin kalau kamu lapar karena belum makan siang."
"Baik."
Tanpa basa-basi, Alice segera menyantap spaghetti bolognese dengan toping daging kesukaannya sebagai makan malam dengan lahap, menikmatinya karena perutnya sudah berada diambang batas lapar.
Luna yang memperhatikan putrinya, Alice yang makan dengan lahap hanya bisa terkekeh pelan dibalik tangannya yang menutupi mulutnya tidak ingin putrinya tahu kalau ia mentertawakan sikapnya yang lucu tersebut.
Begitu selesai menyantap makan malam, Alice meminum es teh yang diberikan oleh ibunya padanya untuk menyudahi makan malamnya.
"Bu, bisakah aku meminta tolong soal yang kukatakan tadi?"
"Ya, tentu saja."
Dengan mengelus-elus rambut Alice selagi berjongkok, Luna tidak keberatan untuk mendengarkan permintaan Alice saat ini.
Alice yang tersenyum pada ibunya yang tidak keberatan, mengangguk lalu memberitahu apa yang diinginkan olehnya pada ibunya.
"Aku ingin Ibu membawakan buku pengetahuan umum kemari. Aku ingin mempelajarinya."
"Eh? Apakah kamu serius, Sayangku?"
"Ya, aku serius."
Tidak disangka kalau permintaan putrinya cukup membuatnya terkejut, menurut Luna buku tentang pengetahuan umum terlalu rumit untuk dibaca oleh anak seusia Alice yang masih berumur 6 tahun.
"Tapi Sayang, bukankah lebih baik jika kamu membaca buku cerita saja?"
"Tidak mau! Itu membosankan!"
Melihat putrinya yang cemberut, Luna tidak memahami kenapa Alice bersikeras untuk membuatnya membawakan buku pengetahuan umum padanya.
"Tapi, itu berlebihan untuk–"
"Pokoknya aku tidak mau! Lagipula Ibu sudah berjanji padaku jadi Ibu harus menuruti permintaanku!"
"Ah... itu..."
Tidak dapat mengelak atas kejengkelan putrinya, dengan helaan nafas panjang Luna terpaksa mengangguk, menyerah untuk mengikuti permintaan Alice.
"Baiklah. Ibu akan bawakan buku itu padamu, tapi Ibu tidak ingin kamu pusing memikirkan hal yang seharusnya tidak kamu pikirkan."
"Jangan khawatir, Bu."
Berdiri dari duduk di lantai kamarnya, Alice dengan wajah percaya diri mencondongkan tubuhnya ke depan dengan bangga, berkacak pinggang dihadapan ibunya.
"Aku bisa atasi itu."
Melihat sikap putrinya yang percaya diri dan bangga membuat Luna hanya bisa tertawa pelan karena terlihat lucu, menyadari kalau Alice benar-benar yakin bahwa ia bisa mengatasi itu.
"Baiklah, baiklah."
Mengambil piring dan gelas bekas Alice makan, Luna keluar dari kamar putrinya yang memberikan piring dan gelas pada salah satu dari kedua maid yang berjaga diluar kamar Alice, sedangkan ia pergi ke perpustakaan untuk memenuhi permintaan putrinya saat ini.
"Entah kenapa sikap keras kepalaku masih ada di wujud ini."
Tidak bisa dipungkiri oleh Alice, ia tetap bersikeras untuk melakukan apapun yang diinginkannya bahkan ia jengkel dan memarahi ibu barunya, Luna untuk mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan.
Padahal Alice hanya ingin membaca buku, bukan bersikap jengkel dan marah pada ibunya. Tapi karena ibunya, Luna, yang terus-menerus mendesak untuk membaca buku cerita membuat Alice terpaksa bersikap memberontak hingga melawan pada ibunya sebelumnya.
"Percuma saja. Baik saat ini ataupun dulu, diriku tetap tidak berubah."
Alice berharap dirinya dapat berubah di tubuhnya sekarang, berharap sifat lamanya sebagai Nia tidak dibawa ke tubuh barunya sebagai Alice.
Selang beberapa menit kemudian, Luna yang masuk ke kamar Alice membawakan buku pengetahuan umum yang ukurannya tidak terlalu besar melainkan seperti buku biasa.
"Ini, kamu bisa baca, Sayang."
"Terimakasih, Bu."
Menerima buku dari Luna, Alice dengan segera meletakkan buku tersebut diatas meja, ia duduk di kursi selagi menyalakan kristal berwarna putih untuk menerangi ruangan di kamarnya usai lampu dimatikan oleh Luna, ibunya yang keluar dari kamarnya.
•••••
Alice POV
Baiklah. Darimana aku harus mulai untuk membacanya?
Begitu aku buka, ada daftar isi yang tertera didalam buku.
Daftar Isi:
Bab. 1: Mana
1.0: Penjelasan Tentang Mana
1.1: Tingkatan Mana
1.2: Proses Mana
1.3: Pengendalian Mana
Bab. 2: Material
2.0: Penjelasan Material
2.1: Kategori Material
2.2: Penjelasan Kategori Material
2.3: Fungsi Setiap Kategori Material
Bab. 3: Ras
3.0: Penjelasan dan Kategori Ras
3.1: Ras Manusia dan Iblis
3.2: Ras Elf dan Dwarf
3.3: Ras Demi-human dan Monster Girl
Bab. 4: Ensiklopedia Monster Girl
4.0: Penjelasan Monster Girl
4.1: Kategori dan Penjelasan Monster Girl
4.2: Kelebihan dan Kekurangan Monster Girl
4.3: Kebiasaan Monster Girl
4.4: Lokasi Keberadaan Monster Girl
Bab. 5: Buku Ter
(Tidak ada penjelasan lebih karena sudah robek halaman tersebut beserta halaman berikutnya)
Meskipun bukunya tidak setebal yang kupikirkan, tetap saja isinya cukup lengkap.
Harus kuakui kalau buku ini berguna untuk menambah wawasan aku selain aku telah memahami silsilah keluarga kerajaan dan fraksi kerajaan yang ada di Kerajaan Thijam, buku ini mungkin akan berguna untukku jikalau aku bisa berpetualang bebas nanti.
Kalau begitu, aku harus memulainya dari awal.
"Hmmm...."
Tunggu sebentar! Kenapa Bab 5 dirobek?
Mungkinkah seseorang merobeknya lalu mengambilnya tanpa sepengetahuan siapapun? Ataukah sejak awal penulisnya tidak ingin siapapun tahu apa yang ada di Bab 5?
Ini benar-benar membingungkan.
Yah, pokoknya pikirkan itu nanti.
Yang terpenting sekarang adalah aku harus mengetahui dan mempelajari Bab 1 mengenai Mana, supaya aku bisa memahami sistem kerja di dunia ini.
Apakah sama seperti komik, novel maupun anime isekai yang kubaca atau tidak, aku benar-benar penasaran untuk mengetahuinya.
Aku yang membuka halaman berikutnya dari daftar isi, terlihat Bab. 1: Mana
Dibawahnya terdapat tulisan Penjelasan Tentang Mana.
Mari lihat.
Dari apa yang kulihat di buku, mana bisa disebut sebagai energi sihir untuk orang-orang yang ada di dunia ini, yang berfungsi sebagai kapitalis untuk suatu makhluk hidup untuk tetap bertahan hidup.
Dengan kata lain, dunia ini mirip seperti game.
Dimana pemain harus tetap memiliki HP dan MP agar bisa bertahan hidup dalam menghadapi bahaya, tidak peduli seberapa sulitnya mereka menghadapi bahaya, mereka tetap hidup karena mereka mempertahankan HP dan MP mereka.
Aku yang mulai memahami ini, melanjutkan bacaan aku ke bagian lain, bagian yang menjelaskan tingkatan mana.
Di bagian ini, tingkatan mana dibagi menjadi beberapa bagian yaitu; tingkat dasar, menengah, dan tinggi.
Dari apa yang dijelaskan di buku ini, seorang penduduk biasa tanpa bakat dan tanpa skill yang mereka miliki, mereka tetap memiliki class namun dengan mana yang cukup rendah di sekitar 20% mana, membuat mereka menjalani kehidupan biasa.
Itulah tingkat dasar.
Sedangkan untuk tingkat menengah, seseorang yang memiliki kapasitas mana dari 25-50% merupakan para petualang, mereka memiliki berkah berupa skill sekaligus class yang mumpuni untuk membuat mereka bisa bertahan hidup sekaligus mencari nafkah melalui adventure guild.
Untuk tingkat tinggi, bisa dikategorikan sebagai tingkat tertinggi di adventure guild yaitu tingkat gold karena kebanyakan dari mereka memiliki kapasitas mana dari 51-80% yang jarang untuk orang biasa maupun petualang umum memiliki kapasitas mana sebesar ini.
Itu artinya pahlawan memiliki tingkat yang lebih tinggi dari ini ya.
Kalau tidak salah, Ibu pernah menceritakan kisah Party Pahlawan yang berhasil mengalahkan Raja Iblis, mereka memiliki kemampuan luar biasa karena diberkahi oleh para Dewa untuk bisa mengatasi kejahatan yang selama ini menteror manusia dari ras iblis.
Tapi, tidak ada kategori penjelasan tentang mana yang dimiliki pahlawan.
Dengan kata lain, Pahlawan dan Raja Iblis berada di kategori misterius karena belum ada siapapun yang berhasil mencatat kapasitas mana mereka di buku ini.
Berikutnya, aku membaca tentang part berikutnya yaitu proses mana.
Ada dua cara untuk seseorang untuk bisa melatih mana yaitu; manual atau mendapat berkah langsung dari Dewa.
Untuk langkah manual, seseorang akan sulit untuk mempertahankan tekadnya untuk bisa memperbesar kapasitas mana karena kebanyakan dari mereka yang mencoba untuk melakukan ini sudah menyerah, tidak mendapatkan hasil apa-apa melainkan hanya rasa lelah yang berakhir sia-sia.
Sedangkan untuk berkah langsung dari Dewa, seseorang hanya perlu mengasah skill yang dimilikinya agar bisa tajam untuk bisa bertahan hidup sekaligus mencari nafkah di adventure guild.
"Hmmm...."
Ada penjelasan lain tentang proses mana, dimana seseorang bisa melihat mana orang lain dan dirinya menggunakan Appraisal untuk menilai kapasitas mana orang lain maupun dirinya.
"Begitu ya."
Appraisal.
Aku yang menatap ke tubuhku, terlihat jelas kalau mana yang kumiliki tidak seperti yang tertera di buku melainkan sangat kecil.
Saking kecilnya, aku rasa itu mirip seperti lilin yang menerangi kegelapan disaat lampu padam.
"Ini benar-benar rumit."
Hidup di dunia lain tanpa ada berkah dari dewa berupa skill, bahkan kapasitas mana-ku terlihat lebih rendah dari penduduk biasa seolah-olah keberadaan hidupku tidak adil sejak awal.
Sial. Kenapa aku malah berakhir menjadi orang lemah?! Tidak bisakah aku menjadi protagonis yang over power yang siap untuk memulai perjalanan?!
Meskipun aku mengumpat dalam pikiranku, tetap saja rasanya ini tidak seperti yang kubayangkan sama sekali.
Jikalau aku ambil kesimpulan antara diriku saat ini melalui game yang kumainkan, tingkat kesulitan yang kuambil dari awal adalah Hard, yang jauh lebih sulit disaat aku sebagai pemula tidak tahu bagaimana cara untuk memainkan game ini.
Namun, aku memahami ini bukan game melainkan dunia nyata, dunia keduaku.
Jika sedikit kesalahan terjadi padaku, aku akan benar-benar mati. Bila aku mati, aku ragu kalau kesempatan ketiga akan datang lagi padaku.
"Ini menyusahkan sekali."
Entah apakah aku harus senang karena di-reinkarnasi di dunia ini atau sedih karena aku menjadi yang terlemah, ini benar-benar membuatku bingung.
"....."
Pokoknya, aku tidak bisa langsung putus asa dan menyerah. Aku harus mencoba untuk mengetahui apakah aku bisa memperbesar kapasitas mana-ku atau tidak.
Bagian berikutnya yang kubaca adalah pengendalian mana.
Di bagian berikutnya terbilang cukup mudah melalui penjelasan karena mana mudah dikendalikan bila seseorang merasakan sesuatu di tubuh mereka, mereka bisa menempatkan sesuatu yang mereka rasakan di salah satu anggota tubuh untuk bisa menggunakan mana yang akan berubah menjadi sihir maupun kekuatan untuk si pengguna.
"Biar kucoba!"
Aku yang segera berdiri, mengulurkan tangan kananku ke depan selagi memejamkan mata mencoba untuk merasakan mana di tubuhku.
Samar-samar namun pasti, ada rasa hangat ditengah kegelapan layaknya lilin kecil, aku rasa itu adalah mana yang kulihat sebelumnya dari diriku melalui Appraisal.
Begitu berhasil merasakannya, aku mencoba untuk mengalirkan mana di tangan kananku dengan perlahan-lahan namun pasti.
Saat aku berhasil merasakan mana mengalir di tangan kananku, berikutnya aku mencoba untuk membayangkan sihir apa yang bisa aku gunakan saat ini, membayangkan kalau aku bisa menggunakan sihir angin namun aku membayangkan dasarnya dengan membuat telapak tangan kananku mengeluarkan hembusan angin.
Sekilas, ada rasa segar dari tangan kananku. Perlahan-lahan rasa segar itu dapat dirasakan olehku yang membuatku yakin kalau aku bisa mengendalikan elemen angin berdasarkan imajinasi aku.
Sip. Berhasil.
Membuka mataku, aku tidak menyangka kalau percobaan pertamaku sukses tanpa halangan sedikitpun.
Tapi, kenapa tubuhku terasa berat?
"Lho?"
Aku yang tidak mampu berdiri terjatuh ke lantai, tubuhku tidak dapat digerakkan seolah-olah aku benar-benar sudah lemah mengingatkanku tentang apa yang terjadi padaku di kehidupan sebelumnya sebagai Nia.
Mungkinkah aku akan mati lagi? Tidak, aku tidak ingin itu.
Meskipun aku menolak untuk mati, mataku tidak kuat untuk tetap tersadar melainkan terpejam. Tidak tahu apa yang akan menanti diriku didalam kegelapan, membuatku takut kalau aku tidak memiliki kesempatan berikutnya untuk memulai hidup baru.