The Secret Girl
Mentari hangat menyinari pagi membuat siapapun yang melakukan aktivitas seperti; orang joging, murid-murid berangkat sekolah, ibu rumah tangga ke pasar, pegawai kantoran, pegawai di perusahaan swasta, mereka merasakan mentari hangat menerpa tubuh mereka.
Di salah satu kamar apartemen di lantai dua, seorang wanita terbangun karena bunyi dari alarm yang di settingnya di ponsel.
Dengan setengah sadar, wanita itu mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya, mematikan alarm lalu bangun dari tidurnya dalam posisi duduk. Mata abu-abu miliknya masih tertutup rapat, rambut medium layer abu-abu terlihat berantakan karena masih acak-acakan, ia tetap memaksakan dirinya berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dengan air segar untuk menyegarkan wajahnya dari rasa kantuk.
Begitu selesai membasuh mukanya di kamar mandi, tatapan matanya mengarah ke pantulan cermin yang menampilkan dirinya yang terlihat berantakan dari tidurnya, ia hanya menghela nafas panjang.
“Yah, aku harus kuat menjalani hidup hari ini.”
Menggelengkan kepala berkali-kali, wanita itu kembali menatap pantulan cermin dari dirinya dengan wajah penuh tekad, meyakinkan dirinya kalau ia dapat mengatasi pekerjaannya hari ini.
Di pukul 07:00, setelah sarapan pagi, ia mengenakan setelan jas berwarna putih dengan rok sepanjang lutut dengan warna sama seperti setelan jas, dengan stocking putih yang dikenakan di pergelangan kaki dan sepatu putih tanpa heels, wanita tersebut mengunci pintu kamar apartemen—menuruni tangga dari lantai dua untuk segera pergi ke perusahaannya yang cukup jauh.
“Kurasa lebih baik jika aku memesan driver.”
Ditekan ponselnya selagi ia berjalan dari lantai dasar ke luar gerbang apartemen, ia memesan driver dari tempat tinggalnya menuju ke perusahaannya—Perusahaan Fasde agar mempersingkat waktu daripada menggunakan fasilitas umum seperti halte busway membutuhkan waktu lama karena terjebak macet.
Selagi ia menunggu diluar gerbang usai memesan driver, pikirannya melayang ke beberapa hari lalu dimana ia selalu mendapat masalah saat bekerja.
Mulai dari; kerja lembur, orang yang menyukainya namun ia tidak menyukainya karena menghormati teman masa kecilnya, orang yang obsesi padanya, semua itu selalu terjadi padanya tiap kali ia bekerja.
Untungnya wanita itu—Takamiya Nia, ia bisa mengatasi stresnya dengan hobinya sebagai otaku, membuatnya melupakan permasalahan pekerjaan hanya fokus pada apa yang dilakukannya di rumah seperti membaca komik, novel, dan menonton anime.
Sekitar 15 menit berlalu, ia yang tetap menunggu—bersabar, berharap ia tidak terlambat masuk ke perusahaan yang jam masuknya sekitar pukul 08:00.
Tiga puluh menit berlalu, secara kebetulan mobil Lamborghini Gallardo hitam berhenti tepat didepannya dengan kaca hitam, kaca tersebut terbuka memperlihatkan seorang pria tampan berambut quiff coklat, sepasang mata coklat muda terlihat ketika kacamata hitamnya ada di hidungnya mengarahkan pandangannya ke Nia.
“Mau berangkat bersama ke pekerjaan?”
“…..”
Tidak menjawab ajakan darinya, Nia hanya menatap tajam padanya.
“Oh ayolah, aku hanya ingin memberikanmu tumpangan, tidak lebih dari itu.”
Meskipun perkataan pria itu—Igarashi Yoga terdengar acuh dan santai, tetap saja Nia tidak bisa menerimanya karena ia tahu kalau Yoga memiliki maksud lain dari ajakannya membuatnya mengantisipasi dengan curiga.
“Aku tidak butuh! Kamu pergi duluan!”
“Apakah kau yakin?”
Sempat terkekeh sesaat selagi menatap Nia dengan wajah mengejek, Yoga yang mengangkat alisnya—ingin tahu tentang ini.
“Ya, aku yakin. Lagipula tidak masalah jika aku telat, itu bukan urusanmu.”
Mendengar kata-kata dingin dari Nia, Yoga sekali lagi terkekeh, ia memahami kalau ia tidak bisa mengajak Nia seperti yang ia lakukan pada wanita pada umumnya yang memandangnya dari penampilan, jabatan, dan kekayaan.
“Baiklah. Jika itu maumu, jangan salahkan aku bila atasan memarahi mu.”
“Ya.”
Yoga sempat menutup mata coklatnya dengan kacamata hitam sebelum menutup kaca mobil Lamborghini Gallardo, mobil tersebut melaju cepat tanpa mempedulikan Nia yang tetap bersabar menunggu driver.
Tak lama kemudian, driver tersebut datang dan berhenti tepat didepan Nia membuat Nia bernafas lega karena ia tidak akan terlambat, ia bisa sampai ke perusahaan dalam waktu singkat dengan kendaraan driver berupa sepeda motor.
•••••
Saat memasuki Perusahaan Fasde, perusahaan yang bergerak di bidang pengantaran, baik pengantaran paket maupun makanan, perusahaan ini bergerak beberapa tahun lalu yang sekarang memiliki cabang di beberapa wilayah di jepang.
Melewati lobby di lantai dasar, Nia juga melewati dua ruangan di sisi kiri-kanan kanan.
Kedua ruangan itu adalah waiting room untuk para pelanggan yang seringkali memesan jasa layanan pengantaran tersebut yang melakukan komplain langsung ke sisi kiri, sedangkan guest room khusus untuk para tamu dari keluarga maupun saudara dari karyawan yang bekerja di perusahaan ini untuk menemui mereka, mereka bisa menunggu di guest room yang ada disebelah kanan.
Nia menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Di lantai dua, ia melihat kedua rekannya yang menunggunya datang, Nakano Luna dan Mizuki Rin, keduanya adalah sahabat Nia yang sangat peduli padanya baik saat susah maupun senang, mereka selalu ada disisinya.
“Nia, aku khawatir padamu.”
Salah satu temannya, Nakano Luna—wanita blunt cut pirang, sepasang mata pink diarahkan ke mata abu-abu Nia, ada kekhawatiran dibalik parasnya yang cantik, tetap mengenakan seragam kerja sama seperti Nia, bedanya ia berkacak pinggang sambil mendesah atas kondisi temannya.
“Itu benar. Jika kamu terlambat sedikit saja, kamu akan menjadi gosip oleh karyawan disini, termasuk oleh Luna.”
Disebelah Luna, Mizuki Rin—wanita yang berambut butterfly haircut hitam, sepasang mata oranye, parasnya yang cantik namun seringkali bercanda tentang hal tersebut meskipun fakta bahwa Luna—temannya nemang seringkali hobi dalam membicarakan orang lain.
“Oh ayolah, mana mungkin aku tega membuat gosip tentang sahabatku dan menyebarkan ke orang lain.”
Rin hanya terkekeh mendengar bantahan Luna yang acuh seolah-olah ia benar-benar tidak melakukan apapun, membuat Nia yang melihat interaksi lucu diantara mereka—terkekeh, terhibur atas hiburan sederhana mereka.
“Takamiya, kau datang lebih awal dari biasanya.”
“Ya.”
Didepan Nia, terlihat seorang pria yang memiliki rambut side part kearah kanan perak, sepasang mata biru laut mengunci perawakan Nia, memiliki paras tampan dan postur tubuh yang gagah dengan lengan kemeja panjang dilipat—menatap ke Nia dengan senyum kecil.
“Jun, jangan tinggalkan aku!”
“Ah, maaf.”
Pria itu—Ishida Jun, baru sadar kalau ia meninggalkan teman masa kecilnya, Minami Reina.
Begitu menyadari kalau Jun sedang berbicara dengan Nia, tatapan tajam dari mata keemasan Reina diarahkan pada Nia membuat Nia hanya tersenyum pahit, memahami isyarat tersebut.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
“Ya.”
Jun tidak menyadari kalau Nia pergi karena tatapan tajam dari Reina, membuatnya berpikir kalau Nia benar-benar wanita luar biasa yang mendedikasikan diri pada pekerjaannya.
Padahal kenyataannya, Nia hanya ingin menghindari masalah dari Reina—tidak ingin terlibat dalam cekcok dengannya karena itu menguras tenaganya. Daripada menguras tenaganya untuk cekcok dengan Reina, ia lebih memilih mengerahkan seluruh tenaganya di kerjaannya sebagai customer service karena itu lebih baik daripada terbuang sia-sia karena hal lain selain dari kerjaannya.
Luna yang mendekati Rin berbisik pelan padanya selagi mereka memasuki ruangan mereka yang menjadi satu dengan ruangan Nia.
“Hei, kamu lihat itu?”
“Ya, aku melihatnya.”
“Kenapa ia tidak menyukai Nia?”
“Mungkin saja karena ia cemburu padanya?”
“Ya, kurasa kamu benar.”
Mereka yang duduk di kursi di meja kerja masing-masing, kebetulan posisi duduk Luna dan Rin bersebelahan satu sama lain, sedangkan Nia bersebelahan dengan Reina.
•••••
Di pukul 09:00, panggilan terus-menerus diterima Nia tanpa henti.
“Selamat datang di layanan customer service. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf, aku ingin tahu kenapa kurir pengantar paket milikku lama.”
“Mengenai itu, kurir tersebut sedang mengantar banyak paket jadi saya harap anda dapat memakluminya.”
Satu panggilan selesai, panggilan lain terjadi beberapa menit berikutnya.
“Selamat datang di layanan customer service. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
“I-itu… ya....”
Dari suara yang terdengar di panggilan, Nia memahami kalau suara ini terdengar ragu seperti orang pemalu jadi ia bersabar untuk mendengar keluhan yang diajukan melalui panggilan.
“Se-sebetulnya… paket mi-milikku berbeda… da-dari yang aku pesan….”
Memahami maksud dari panggilan dari Si Pemalu, ia tetap mempertahankan sikap profesional sebagai customer service, ramah dan tetap tersenyum meskipun melalui panggilan telepon.
“Mengenai komplain, anda bisa datang di alamat yang saya sebutkan. Disana, perusahaan kami akan bernegosiasi dengan anda untuk mengetahui apakah anda ingin mengembalikan barang yang dipesan atau memesan ulang.”
“Ba-baik. Te-terimakasih banyak. Ma-maaf merepotkan mu.”
Begitu panggilan dimatikan dari Si Pemalu, ia menghela nafas panjang seolah-olah bingung kenapa ia yang kerepotan menerima banyak panggilan sedangkan yang lain tidak menerima panggilan sama sekali.
“Sepertinya kamu benar-benar disukai oleh mereka ya.”
Didekat meja Luna, Rin menggoda Nia yang selalu ketumpuan menerima panggilan dari pelanggan mengenai komplain mereka padanya sebagai customer service.
“Ya, dia benar-benar profesional. Tidak seperti orang disebelahnya yang tidak populer, membuatnya iri pada Nia.”
Nia hanya tersenyum pahit pada perkataan Luna, mengetahui siapa yang dimaksud adalah Reina, wanita yang memandangnya dengan tatapan mata tajam seolah-olah jengkel atas hal ini.
“Bisakah kamu berhenti menatapku? Itu membuatku tidak nyaman.”
Ingin sekali Nia menegur Reina untuk tidak menatapnya seperti itu, tapi ia tidak ingin mengeluarkan tenaganya untuk perdebatan yang tiada hentinya bila ia melakukannya— menghela nafas panjang, berusaha untuk bersabar melewati hari ini.
Disisi lain di lantai tiga, Jun yang sibuk dengan mengangkut satu paket untuk diberikan pada staf gudang yang lain yang berperan sebagai packaging, temannya, pria berwajah serius menatap ke Jun dengan wajah menggoda.
“Sepertinya kau peduli pada Takamiya ya, Ishida.”
“Ya, begitulah.”
Jun mengakui perkataan dari Pria Serius yang menggodanya, membuat pria itu terkejut mendengar Jun mengakuinya.
“Bagaimana dengan perasaan Minami?”
“Minami ya.”
Selagi merenung dalam diam, Jun berpikir kalau ia tidak menganggap Reina begitu spesial karena ia adalah teman masa kecil, ia hanya menganggapnya sebagai adik perempuannya—tidak lebih dari itu.
Pria lain yang sedang sibuk meletakkan barang di gudang mengatakan sesuatu pada Jun.
“Jika kau berpikir kalau Minami adalah adik perempuanmu, aku jadi khawatir pada Takamiya yang selalu diganggu olehnya.”
“…..”
Sekali lagi, Jun menyadari perkataan dari rekannya yang mengatakan hal tersebut.
Memang, Reina terlihat menyebalkan bila seseorang menyukainya—membuatnya terlihat jelas kalau ia cemburu pada wanita yang mendekati Jun.
Padahal Jun sama sekali tidak memiliki perasaan pada Reina, ia hanya menganggapnya sebagai teman masa kecil sekaligus adik perempuannya.
Sedangkan Nia, Jun melihatnya sebagai wanita yang mendedikasikan diri pada pekerjaan, wanita yang tak kenal kata mundur maupun menyerah, ia selalu melakukan tugasnya dengan baik meskipun Reina dan Yoga selalu melakukan hal buruk padanya.
•••••
Di pukul 12:00, Nia yang meregangkan tubuhnya usai keluar dari ruangannya berharap bisa istirahat untuk makan siang untuk mengisi perutnya yang kosong.
Reina yang pergi terlebih dahulu tanpa mengatakan apapun kepadanya ke lantai tiga—mengajak Jun makan bersama, Luna dan Rin mendekati teman mereka.
“Kenapa ia sangat membenciku?”
“Abaikan saja dia.”
“Mungkin ia cemburu karena berpikir kalau kamu merebut Ishida darinya.”
Helaan nafas panjang terdengar dari Nia, ia tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk menganggap Jun sebagai cintanya, ia hanya menganggapnya sebagai rekan kerja, tidak lebih dari itu.
Tapi, sepertinya wanita itu tetap berpikir kalau ia merebut Jun darinya membuat Nia tidak bisa melakukan apapun selain berharap kalau pemuda itu dapat berhenti mengejar cintanya padanya.
“Mari kita istirahat, Nia.”
“Ya, kamu benar.”
Nia berjalan mengikuti kedua temannya tanpa menyadari sosok di lantai dua. Di sana, Yoga berdiri menatap tajam padanya—menyilang lengannya, membuat otot-otot di balik setelan jas hitamnya tampak menonjol kuat.
“Mau pergi kemana kau, Takamiya?”
“Itu… aku ingin pergi untuk istirahat makan siang.”
Dengan menggelengkan kepalanya dua kali, Yoga mendekati Nia yang membuat Luna dan Rin tahu kalau teman mereka harus menghadapi hari-hari yang sulit seperti biasanya setiap kali mau beristirahat untuk makan siang.
“Kau tidak diperbolehkan untuk istirahat, banyak pekerjaan untukmu untuk diselesaikan.”
“Eh? Tapi, aku sudah menyelesaikannya.”
“Bukan tentang customer service melainkan pekerjaan lain.”
Mendengar Yoga menegaskan ini padanya, Nia tahu betul kalau ia tidak bisa lepas dari pandangannya saat jam istirahat makan siang.
“Baik.”
Dengan terpaksa, Nia yang terlihat sedih kembali ke ruangannya—mengabaikan kedua temannya yang menatap heran padanya.
“Ada apa? Bukankah kalian lebih baik pergi untuk istirahat?”
“Y-ya, kamu benar.”
“Mari kita pergi, Luna.”
Tanpa menetap di tempat mereka, mereka berdua menuruni tangga ke lantai dasar menuju lobby lalu keluar dari perusahaan mereka bekerja untuk mencari tempat untuk makan siang mereka.
“Aku merasa kasihan pada Nia.”
“Ya, kamu benar. Kenapa bisa-bisanya Igashi memberikan tugas lembur padanya?”
“Ya, itulah yang tidak aku pahami.”
Meskipun mereka berdua tidak memahami kenapa Yoga memberikan tugas lembur pada Nia disaat ia hendak istirahat makan siang, satu-satunya yang mereka ketahui adalah pria itu merupakan maniak wanita, ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Itu sebabnya ia melakukan ini padanya, berusaha untuk mendekati teman mereka meskipun mereka berdua tahu kalau Nia tidak seperti wanita lain yang mudah didekati hanya karena kekayaan, jabatan, dan ketampanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Enjel
seru novelnya
2026-01-10
1