The Secret Girl

The Secret Girl

Prolog I

Mentari hangat menyinari pagi membuat siapapun yang melakukan aktivitas seperti; orang joging, murid-murid berangkat sekolah, ibu rumah tangga ke pasar, pegawai kantoran, pegawai di perusahaan swasta, mereka merasakan mentari hangat menerpa tubuh mereka.

Di salah satu kamar apartemen di lantai dua, seorang wanita terbangun karena bunyi dari alarm yang di settingnya di ponsel.

Dengan setengah sadar, wanita itu mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya, mematikan alarm lalu bangun dari tidurnya dalam posisi duduk. Mata abu-abu miliknya masih tertutup rapat, rambut medium layer abu-abu terlihat berantakan karena masih acak-acakan, ia tetap memaksakan dirinya berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dengan air segar untuk menyegarkan wajahnya dari rasa kantuk.

Begitu selesai membasuh mukanya di kamar mandi, tatapan matanya mengarah ke pantulan cermin yang menampilkan dirinya yang terlihat berantakan dari tidurnya, ia hanya menghela nafas panjang.

“Yah, aku harus kuat menjalani hidup hari ini.”

Menggelengkan kepala berkali-kali, wanita itu kembali menatap pantulan cermin dari dirinya dengan wajah penuh tekad, meyakinkan dirinya kalau ia dapat mengatasi pekerjaannya hari ini.

Di pukul 07:00, setelah sarapan pagi, ia mengenakan setelan jas berwarna putih dengan rok sepanjang lutut dengan warna sama seperti setelan jas, dengan stocking putih yang dikenakan di pergelangan kaki dan sepatu putih tanpa heels, wanita tersebut mengunci pintu kamar apartemen—menuruni tangga dari lantai dua untuk segera pergi ke perusahaannya yang cukup jauh.

“Kurasa lebih baik jika aku memesan driver.”

Ditekan ponselnya selagi ia berjalan dari lantai dasar ke luar gerbang apartemen, ia memesan driver dari tempat tinggalnya menuju ke perusahaannya—Perusahaan Fasde agar mempersingkat waktu daripada menggunakan fasilitas umum seperti halte busway membutuhkan waktu lama karena terjebak macet.

Selagi ia menunggu diluar gerbang usai memesan driver, pikirannya melayang ke beberapa hari lalu dimana ia selalu mendapat masalah saat bekerja.

Mulai dari; kerja lembur, orang yang menyukainya namun ia tidak menyukainya karena menghormati teman masa kecilnya, orang yang obsesi padanya, semua itu selalu terjadi padanya tiap kali ia bekerja.

Untungnya wanita itu—Takamiya Nia, ia bisa mengatasi stresnya dengan hobinya sebagai otaku, membuatnya melupakan permasalahan pekerjaan hanya fokus pada apa yang dilakukannya di rumah seperti membaca komik, novel, dan menonton anime.

Sekitar 15 menit berlalu, ia yang tetap menunggu—bersabar, berharap ia tidak terlambat masuk ke perusahaan yang jam masuknya sekitar pukul 08:00.

Tiga puluh menit berlalu, secara kebetulan mobil Lamborghini Gallardo hitam berhenti tepat didepannya dengan kaca hitam, kaca tersebut terbuka memperlihatkan seorang pria tampan berambut quiff coklat, sepasang mata coklat muda terlihat ketika kacamata hitamnya ada di hidungnya mengarahkan pandangannya ke Nia.

“Mau berangkat bersama ke pekerjaan?”

“…..”

Tidak menjawab ajakan darinya, Nia hanya menatap tajam padanya.

“Oh ayolah, aku hanya ingin memberikanmu tumpangan, tidak lebih dari itu.”

Meskipun perkataan pria itu—Igarashi Yoga terdengar acuh dan santai, tetap saja Nia tidak bisa menerimanya karena ia tahu kalau Yoga memiliki maksud lain dari ajakannya membuatnya mengantisipasi dengan curiga.

“Aku tidak butuh! Kamu pergi duluan!”

“Apakah kau yakin?”

Sempat terkekeh sesaat selagi menatap Nia dengan wajah mengejek, Yoga yang mengangkat alisnya—ingin tahu tentang ini.

“Ya, aku yakin. Lagipula tidak masalah jika aku telat, itu bukan urusanmu.”

Mendengar kata-kata dingin dari Nia, Yoga sekali lagi terkekeh, ia memahami kalau ia tidak bisa mengajak Nia seperti yang ia lakukan pada wanita pada umumnya yang memandangnya dari penampilan, jabatan, dan kekayaan.

“Baiklah. Jika itu maumu, jangan salahkan aku bila atasan memarahi mu.”

“Ya.”

Yoga sempat menutup mata coklatnya dengan kacamata hitam sebelum menutup kaca mobil Lamborghini Gallardo, mobil tersebut melaju cepat tanpa mempedulikan Nia yang tetap bersabar menunggu driver.

Tak lama kemudian, driver tersebut datang dan berhenti tepat didepan Nia membuat Nia bernafas lega karena ia tidak akan terlambat, ia bisa sampai ke perusahaan dalam waktu singkat dengan kendaraan driver berupa sepeda motor.

•••••

Saat memasuki Perusahaan Fasde, perusahaan yang bergerak di bidang pengantaran, baik pengantaran paket maupun makanan, perusahaan ini bergerak beberapa tahun lalu yang sekarang memiliki cabang di beberapa wilayah di jepang.

Melewati lobby di lantai dasar, Nia juga melewati dua ruangan di sisi kiri-kanan kanan.

Kedua ruangan itu adalah waiting room untuk para pelanggan yang seringkali memesan jasa layanan pengantaran tersebut yang melakukan komplain langsung ke sisi kiri, sedangkan guest room khusus untuk para tamu dari keluarga maupun saudara dari karyawan yang bekerja di perusahaan ini untuk menemui mereka, mereka bisa menunggu di guest room yang ada disebelah kanan.

Nia menaiki tangga menuju ke lantai dua.

Di lantai dua, ia melihat kedua rekannya yang menunggunya datang, Nakano Luna dan Mizuki Rin, keduanya adalah sahabat Nia yang sangat peduli padanya baik saat susah maupun senang, mereka selalu ada disisinya.

“Nia, aku khawatir padamu.”

Salah satu temannya, Nakano Luna—wanita blunt cut pirang, sepasang mata pink diarahkan ke mata abu-abu Nia, ada kekhawatiran dibalik parasnya yang cantik, tetap mengenakan seragam kerja sama seperti Nia, bedanya ia berkacak pinggang sambil mendesah atas kondisi temannya.

“Itu benar. Jika kamu terlambat sedikit saja, kamu akan menjadi gosip oleh karyawan disini, termasuk oleh Luna.”

Disebelah Luna, Mizuki Rin—wanita yang berambut butterfly haircut hitam, sepasang mata oranye, parasnya yang cantik namun seringkali bercanda tentang hal tersebut meskipun fakta bahwa Luna—temannya nemang seringkali hobi dalam membicarakan orang lain.

“Oh ayolah, mana mungkin aku tega membuat gosip tentang sahabatku dan menyebarkan ke orang lain.”

Rin hanya terkekeh mendengar bantahan Luna yang acuh seolah-olah ia benar-benar tidak melakukan apapun, membuat Nia yang melihat interaksi lucu diantara mereka—terkekeh, terhibur atas hiburan sederhana mereka.

“Takamiya, kau datang lebih awal dari biasanya.”

“Ya.”

Didepan Nia, terlihat seorang pria yang memiliki rambut side part kearah kanan perak, sepasang mata biru laut mengunci perawakan Nia, memiliki paras tampan dan postur tubuh yang gagah dengan lengan kemeja panjang dilipat—menatap ke Nia dengan senyum kecil.

“Jun, jangan tinggalkan aku!”

“Ah, maaf.”

Pria itu—Ishida Jun, baru sadar kalau ia meninggalkan teman masa kecilnya, Minami Reina.

Begitu menyadari kalau Jun sedang berbicara dengan Nia, tatapan tajam dari mata keemasan Reina diarahkan pada Nia membuat Nia hanya tersenyum pahit, memahami isyarat tersebut.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.”

“Ya.”

Jun tidak menyadari kalau Nia pergi karena tatapan tajam dari Reina, membuatnya berpikir kalau Nia benar-benar wanita luar biasa yang mendedikasikan diri pada pekerjaannya.

Padahal kenyataannya, Nia hanya ingin menghindari masalah dari Reina—tidak ingin terlibat dalam cekcok dengannya karena itu menguras tenaganya. Daripada menguras tenaganya untuk cekcok dengan Reina, ia lebih memilih mengerahkan seluruh tenaganya di kerjaannya sebagai customer service karena itu lebih baik daripada terbuang sia-sia karena hal lain selain dari kerjaannya.

Luna yang mendekati Rin berbisik pelan padanya selagi mereka memasuki ruangan mereka yang menjadi satu dengan ruangan Nia.

“Hei, kamu lihat itu?”

“Ya, aku melihatnya.”

“Kenapa ia tidak menyukai Nia?”

“Mungkin saja karena ia cemburu padanya?”

“Ya, kurasa kamu benar.”

Mereka yang duduk di kursi di meja kerja masing-masing, kebetulan posisi duduk Luna dan Rin bersebelahan satu sama lain, sedangkan Nia bersebelahan dengan Reina.

•••••

Di pukul 09:00, panggilan terus-menerus diterima Nia tanpa henti.

“Selamat datang di layanan customer service. Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Maaf, aku ingin tahu kenapa kurir pengantar paket milikku lama.”

“Mengenai itu, kurir tersebut sedang mengantar banyak paket jadi saya harap anda dapat memakluminya.”

Satu panggilan selesai, panggilan lain terjadi beberapa menit berikutnya.

“Selamat datang di layanan customer service. Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“I-itu… ya....”

Dari suara yang terdengar di panggilan, Nia memahami kalau suara ini terdengar ragu seperti orang pemalu jadi ia bersabar untuk mendengar keluhan yang diajukan melalui panggilan.

“Se-sebetulnya… paket mi-milikku berbeda… da-dari yang aku pesan….”

Memahami maksud dari panggilan dari Si Pemalu, ia tetap mempertahankan sikap profesional sebagai customer service, ramah dan tetap tersenyum meskipun melalui panggilan telepon.

“Mengenai komplain, anda bisa datang di alamat yang saya sebutkan. Disana, perusahaan kami akan bernegosiasi dengan anda untuk mengetahui apakah anda ingin mengembalikan barang yang dipesan atau memesan ulang.”

“Ba-baik. Te-terimakasih banyak. Ma-maaf merepotkan mu.”

Begitu panggilan dimatikan dari Si Pemalu, ia menghela nafas panjang seolah-olah bingung kenapa ia yang kerepotan menerima banyak panggilan sedangkan yang lain tidak menerima panggilan sama sekali.

“Sepertinya kamu benar-benar disukai oleh mereka ya.”

Didekat meja Luna, Rin menggoda Nia yang selalu ketumpuan menerima panggilan dari pelanggan mengenai komplain mereka padanya sebagai customer service.

“Ya, dia benar-benar profesional. Tidak seperti orang disebelahnya yang tidak populer, membuatnya iri pada Nia.”

Nia hanya tersenyum pahit pada perkataan Luna, mengetahui siapa yang dimaksud adalah Reina, wanita yang memandangnya dengan tatapan mata tajam seolah-olah jengkel atas hal ini.

“Bisakah kamu berhenti menatapku? Itu membuatku tidak nyaman.”

Ingin sekali Nia menegur Reina untuk tidak menatapnya seperti itu, tapi ia tidak ingin mengeluarkan tenaganya untuk perdebatan yang tiada hentinya bila ia melakukannya— menghela nafas panjang, berusaha untuk bersabar melewati hari ini.

Disisi lain di lantai tiga, Jun yang sibuk dengan mengangkut satu paket untuk diberikan pada staf gudang yang lain yang berperan sebagai packaging, temannya, pria berwajah serius menatap ke Jun dengan wajah menggoda.

“Sepertinya kau peduli pada Takamiya ya, Ishida.”

“Ya, begitulah.”

Jun mengakui perkataan dari Pria Serius yang menggodanya, membuat pria itu terkejut mendengar Jun mengakuinya.

“Bagaimana dengan perasaan Minami?”

“Minami ya.”

Selagi merenung dalam diam, Jun berpikir kalau ia tidak menganggap Reina begitu spesial karena ia adalah teman masa kecil, ia hanya menganggapnya sebagai adik perempuannya—tidak lebih dari itu.

Pria lain yang sedang sibuk meletakkan barang di gudang mengatakan sesuatu pada Jun.

“Jika kau berpikir kalau Minami adalah adik perempuanmu, aku jadi khawatir pada Takamiya yang selalu diganggu olehnya.”

“…..”

Sekali lagi, Jun menyadari perkataan dari rekannya yang mengatakan hal tersebut.

Memang, Reina terlihat menyebalkan bila seseorang menyukainya—membuatnya terlihat jelas kalau ia cemburu pada wanita yang mendekati Jun.

Padahal Jun sama sekali tidak memiliki perasaan pada Reina, ia hanya menganggapnya sebagai teman masa kecil sekaligus adik perempuannya.

Sedangkan Nia, Jun melihatnya sebagai wanita yang mendedikasikan diri pada pekerjaan, wanita yang tak kenal kata mundur maupun menyerah, ia selalu melakukan tugasnya dengan baik meskipun Reina dan Yoga selalu melakukan hal buruk padanya.

•••••

Di pukul 12:00, Nia yang meregangkan tubuhnya usai keluar dari ruangannya berharap bisa istirahat untuk makan siang untuk mengisi perutnya yang kosong.

Reina yang pergi terlebih dahulu tanpa mengatakan apapun kepadanya ke lantai tiga—mengajak Jun makan bersama, Luna dan Rin mendekati teman mereka.

“Kenapa ia sangat membenciku?”

“Abaikan saja dia.”

“Mungkin ia cemburu karena berpikir kalau kamu merebut Ishida darinya.”

Helaan nafas panjang terdengar dari Nia, ia tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk menganggap Jun sebagai cintanya, ia hanya menganggapnya sebagai rekan kerja, tidak lebih dari itu.

Tapi, sepertinya wanita itu tetap berpikir kalau ia merebut Jun darinya membuat Nia tidak bisa melakukan apapun selain berharap kalau pemuda itu dapat berhenti mengejar cintanya padanya.

“Mari kita istirahat, Nia.”

“Ya, kamu benar.”

Nia berjalan mengikuti kedua temannya tanpa menyadari sosok di lantai dua. Di sana, Yoga berdiri menatap tajam padanya—menyilang lengannya, membuat otot-otot di balik setelan jas hitamnya tampak menonjol kuat.

“Mau pergi kemana kau, Takamiya?”

“Itu… aku ingin pergi untuk istirahat makan siang.”

Dengan menggelengkan kepalanya dua kali, Yoga mendekati Nia yang membuat Luna dan Rin tahu kalau teman mereka harus menghadapi hari-hari yang sulit seperti biasanya setiap kali mau beristirahat untuk makan siang.

“Kau tidak diperbolehkan untuk istirahat, banyak pekerjaan untukmu untuk diselesaikan.”

“Eh? Tapi, aku sudah menyelesaikannya.”

“Bukan tentang customer service melainkan pekerjaan lain.”

Mendengar Yoga menegaskan ini padanya, Nia tahu betul kalau ia tidak bisa lepas dari pandangannya saat jam istirahat makan siang.

“Baik.”

Dengan terpaksa, Nia yang terlihat sedih kembali ke ruangannya—mengabaikan kedua temannya yang menatap heran padanya.

“Ada apa? Bukankah kalian lebih baik pergi untuk istirahat?”

“Y-ya, kamu benar.”

“Mari kita pergi, Luna.”

Tanpa menetap di tempat mereka, mereka berdua menuruni tangga ke lantai dasar menuju lobby lalu keluar dari perusahaan mereka bekerja untuk mencari tempat untuk makan siang mereka.

“Aku merasa kasihan pada Nia.”

“Ya, kamu benar. Kenapa bisa-bisanya Igashi memberikan tugas lembur padanya?”

“Ya, itulah yang tidak aku pahami.”

Meskipun mereka berdua tidak memahami kenapa Yoga memberikan tugas lembur pada Nia disaat ia hendak istirahat makan siang, satu-satunya yang mereka ketahui adalah pria itu merupakan maniak wanita, ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Itu sebabnya ia melakukan ini padanya, berusaha untuk mendekati teman mereka meskipun mereka berdua tahu kalau Nia tidak seperti wanita lain yang mudah didekati hanya karena kekayaan, jabatan, dan ketampanannya.

Terpopuler

Comments

Enjel

Enjel

seru novelnya

2026-01-10

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog I
2 Ch. 1: Akhir Dari Hidup Membosankan, Awal Dari Hidup Baru
3 Ch. 2: Gadis Bermasalah
4 Ch. 3: Mana
5 Ch. 4: Obrolan Para Ibu
6 Ch. 5: Pemeriksaan dan Hipotesis
7 Ch. 6: Permintaan Putriku
8 Ch. 7: Kesepakatan Menguntungkan
9 Ch. 8: Latihan Fisik
10 Ch. 9: Pertemuan Antara Kakek dan Cucu
11 Ch. 10: Hasil Dari Latihan
12 Ch. 11: Reuni dan Kenangan
13 Ch. 12: Teman Pertama
14 Ch. 13: Perdebatan dan Perebutan
15 Ch. 14: Janji Diantara Kita
16 Ch. 15: Diskusi Rahasia
17 Ch. 16: Saling Menguntungkan
18 Ch. 17: Usulan Gerald
19 Ch. 18: Ruangan Rahasia
20 Ch. 19: Buku Harian
21 Ch. 20: Kehebohan
22 Ch. 21: Buku Terlarang
23 Ch. 22: Sosok Misterius, Bloen
24 Ch. 23: Tipu Muslihat Gadis Kecil
25 Ch. 24: Rapat Tertutup
26 Ch. 25: Latihan Bagaikan Neraka
27 Ch. 26: Perkembangan Alice
28 Ch. 27: Imbalan dan Mata Uang
29 Ch. 28: Negosiasi
30 Ch. 29: Tertangkap
31 Ch. 30: Perburuan
32 Ch. 31: Deklarasi dan Familiar
33 Ch. 32: Rumor Palsu
34 Ch. 33: Diskusi Penting
35 Ch. 34: Perjamuan Teh dan Rival
36 Ch. 35: Tragedi Pengangkatan Penerus Tahta
37 Ch. 35: Tragedi Pengangkatan Penerus Tahta (2)
38 Epilog I
39 Prolog II
40 Ch. 1: Aroma Harapan
41 Ch. 2: Masalah Petualang
42 Ch. 3: Negosiasi Petualang
43 Ch. 4: Kerjasama dan Solidaritas
44 Ch. 5: Ketahuan dan Harga Diri
45 Ch. 6: Kenangan Yuta
46 Ch. 7: Misteri Desa Meilba
47 Ch. 8: Menu Baru
48 Ch. 9: Monster VS Monster
49 Ch. 10: Masa Lalu Alraune Spesial
50 Ch. 11: Rencana Nia dan Penyesalan Yarno
51 Epilog II
52 Prolog III
53 Ch. 1: Perbincangan di Tavern
54 Ch. 2: Unjuk Diri
55 Ch. 3: Kota Sunyi
56 Ch. 4: Masa Lalu Wisdom Party
57 Ch. 4: Masa Lalu Wisdom Party (2)
58 Ch. 5: Operasi Malam
59 Ch. 6: Rapat Pertemuan Rahasia
60 Ch. 7: Penyergapan
61 Ch. 8: Jebakan
62 Ch. 9: Siksaan dan Keputusasaan
63 Ch. 10: Kesalahpahaman
64 Ch. 11: Balasan Berlipat Ganda
65 Ch. 12: Penelusuran di Malam Hari
66 Ch. 13: Pertemuan Tak Terduga
67 Ch. 14: Konflik Idealisme
68 Ch. 15: Penyelidikan
69 Ch. 16: Aliansi, Fitnah dan Bukti Palsu
70 Ch. 17: Penyesalan yang Terlambat
71 Ch. 18: Variable Tak Terduga
72 Ch. 19: Monster Buruk Rupa
73 Ch. 20: Masa Lalu Elera
74 Ch. 21: Fakta Palsu
75 Ch. 22: Kebenaran yang Dipelintir
76 Ch. 23: Dibalik Layar
77 Ch. 24: Manipulasi Himesaki
78 Ch. 25: Resonansi Kebebasan
79 Ch. 26: Ingatan Malam Itu
80 Ch. 27: Pertemuan yang Mengharukan
81 Ch. 28: Lempar Masalah
82 Ch. 29: Perpisahan Terakhir
83 Epilog III
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Prolog I
2
Ch. 1: Akhir Dari Hidup Membosankan, Awal Dari Hidup Baru
3
Ch. 2: Gadis Bermasalah
4
Ch. 3: Mana
5
Ch. 4: Obrolan Para Ibu
6
Ch. 5: Pemeriksaan dan Hipotesis
7
Ch. 6: Permintaan Putriku
8
Ch. 7: Kesepakatan Menguntungkan
9
Ch. 8: Latihan Fisik
10
Ch. 9: Pertemuan Antara Kakek dan Cucu
11
Ch. 10: Hasil Dari Latihan
12
Ch. 11: Reuni dan Kenangan
13
Ch. 12: Teman Pertama
14
Ch. 13: Perdebatan dan Perebutan
15
Ch. 14: Janji Diantara Kita
16
Ch. 15: Diskusi Rahasia
17
Ch. 16: Saling Menguntungkan
18
Ch. 17: Usulan Gerald
19
Ch. 18: Ruangan Rahasia
20
Ch. 19: Buku Harian
21
Ch. 20: Kehebohan
22
Ch. 21: Buku Terlarang
23
Ch. 22: Sosok Misterius, Bloen
24
Ch. 23: Tipu Muslihat Gadis Kecil
25
Ch. 24: Rapat Tertutup
26
Ch. 25: Latihan Bagaikan Neraka
27
Ch. 26: Perkembangan Alice
28
Ch. 27: Imbalan dan Mata Uang
29
Ch. 28: Negosiasi
30
Ch. 29: Tertangkap
31
Ch. 30: Perburuan
32
Ch. 31: Deklarasi dan Familiar
33
Ch. 32: Rumor Palsu
34
Ch. 33: Diskusi Penting
35
Ch. 34: Perjamuan Teh dan Rival
36
Ch. 35: Tragedi Pengangkatan Penerus Tahta
37
Ch. 35: Tragedi Pengangkatan Penerus Tahta (2)
38
Epilog I
39
Prolog II
40
Ch. 1: Aroma Harapan
41
Ch. 2: Masalah Petualang
42
Ch. 3: Negosiasi Petualang
43
Ch. 4: Kerjasama dan Solidaritas
44
Ch. 5: Ketahuan dan Harga Diri
45
Ch. 6: Kenangan Yuta
46
Ch. 7: Misteri Desa Meilba
47
Ch. 8: Menu Baru
48
Ch. 9: Monster VS Monster
49
Ch. 10: Masa Lalu Alraune Spesial
50
Ch. 11: Rencana Nia dan Penyesalan Yarno
51
Epilog II
52
Prolog III
53
Ch. 1: Perbincangan di Tavern
54
Ch. 2: Unjuk Diri
55
Ch. 3: Kota Sunyi
56
Ch. 4: Masa Lalu Wisdom Party
57
Ch. 4: Masa Lalu Wisdom Party (2)
58
Ch. 5: Operasi Malam
59
Ch. 6: Rapat Pertemuan Rahasia
60
Ch. 7: Penyergapan
61
Ch. 8: Jebakan
62
Ch. 9: Siksaan dan Keputusasaan
63
Ch. 10: Kesalahpahaman
64
Ch. 11: Balasan Berlipat Ganda
65
Ch. 12: Penelusuran di Malam Hari
66
Ch. 13: Pertemuan Tak Terduga
67
Ch. 14: Konflik Idealisme
68
Ch. 15: Penyelidikan
69
Ch. 16: Aliansi, Fitnah dan Bukti Palsu
70
Ch. 17: Penyesalan yang Terlambat
71
Ch. 18: Variable Tak Terduga
72
Ch. 19: Monster Buruk Rupa
73
Ch. 20: Masa Lalu Elera
74
Ch. 21: Fakta Palsu
75
Ch. 22: Kebenaran yang Dipelintir
76
Ch. 23: Dibalik Layar
77
Ch. 24: Manipulasi Himesaki
78
Ch. 25: Resonansi Kebebasan
79
Ch. 26: Ingatan Malam Itu
80
Ch. 27: Pertemuan yang Mengharukan
81
Ch. 28: Lempar Masalah
82
Ch. 29: Perpisahan Terakhir
83
Epilog III

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!