NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31_DI ROOFTOP

Nayla refleks menoleh. Napasnya sempat tertahan ketika melihat siapa yang menarik tangannya.

Azka.

Wajah cowok itu datar seperti biasa, rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nayla. Tangannya menggenggam pergelangan Nayla dengan cukup kuat, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Nayla tak bisa langsung melepaskan diri.

"Azka—" Nayla mencoba bersuara, nadanya mengecil. "Kamu mau bawa aku ke mana?"

Azka tidak menjawab.

Ia terus melangkah, menyeret Nayla melewati koridor yang semakin sepi. Langkahnya cepat, seolah tak memberi ruang bagi Nayla untuk banyak bertanya. Bunyi sepatu mereka beradu dengan lantai, menggema pelan di lorong yang sunyi.

"Azka!" Nayla sedikit menaikkan suara, berusaha menarik tangannya. "Ini jam pelajaran!"

Namun Azka tetap menariknya menaiki tangga, hingga akhirnya mereka sampai di rooftop. Untung saja koridor tadi begitu sepi, dan tak ada satu pun siswa yang melihat mereka.

Sesampainya di rooftop, Azka akhirnya melepaskan genggaman itu.

Nayla refleks menarik tangannya ke dada.

Azka berbalik sedikit, lalu menghadap ke arah gedung-gedung tinggi yang berdiri di kejauhan, memotong langit kota. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Aura di sekelilingnya terlihat lebih tenang, tapi justru itu yang membuat Nayla merasa tidak nyaman.

"Ka" Nayla membuka suara pelan tapi jelas, "kamu kenapa bawa aku ke sini?"

"Diam dulu, Nayla" kata Azka tanpa menoleh. Suaranya rendah, tertahan, seperti sedang menekan sesuatu di dalam dirinya.

"Kenapa aku harus diam?" Nayla mengernyit. “Ini jam pelajaran, Azka."

"Jam kosong" sahut Azka singkat.

Nayla menggeleng kecil. "Jangan bohong. Kamu tau dari mana? Aku takut—"

"Takut kenapa?" Azka memotong tiba-tiba ketika menoleh ke arahnya, "Apa kamu lupa, siapa ketuanya, hmm?"

Nayla langsung terdiam.

Ia menunduk refleks, merutuki dirinya sendiri. "Iya juga… kenapa aku bisa lupa?" gumamnya dalam hati.

"Guru kemarin sudah menghubungiku, kalau dia ngga masuk hari ini". Lanjut Azka, seolah ia tahu apa yang ada dipikiran gadis itu.

Pelan-pelan, Nayla mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya bertemu dengan tatapan Azka. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Terlalu lama untuk sekadar kebetulan.

***

Di waktu yang sama, Sena dan Dani masih terjebak di area toilet sekolah. Antriannya lumayan panjang, dipenuhi siswi yang entah kenapa mendadak kompak datang di jam pelajaran. Dani sampai heran sendiri—ini lagi pada kebelet beneran, atau cuma cari alasan buat kabur dari kelas? Apa pun alasannya, yang jelas mereka harus menunggu cukup lama.

Dani akhirnya kehilangan kesabaran. Ia mengedor pintu salah satu bilik.

"Woi! Yang di dalem, lo boker apa gimana? Lama kali!" serunya agak keras.

Sementara itu, Sena sudah mondar-mandir di depan pintu toilet dengan wajah meringis, jelas menahan sesuatu yang nggak bisa ditunda terlalu lama.

Dari balik pintu, terdengar suara santai seorang siswi,

“Sabarrr…” katanya, seolah sama sekali nggak merasa bersalah.

***

Kembali lagi di rooftop.

"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" Tanya Nayla akhirnya

Azka diam beberapa saat. Lalu, dengan suara singkat namun tegas, ia berkata, "Jauhi Arvin."

Nayla terkejut. "Ini permintaan atau perintah?" tanyanya.

"Menurutmu?" Azka balas dengan suara rendah. Tatapannya tajam, tapi bukan untuk menakuti, lebih seperti menekan.

Nayla menghela napas, memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap Azka. "Aku kan sudah bilang, aku sama Arvin nggak ada hubungan apa-apa," katanya berusaha tenang.

"Kamu suka sama dia?" Pertanyaan itu meluncur tiba-tiba, membuat Nayla tercengang.

"Nggak!" Nayla menggeleng cepat. "Aku nggak suka sama dia!"

Azka menaikkan satu alis. "Masa sih? Tapi kamu panik."

"Ka, aku serius!" Nayla membelalak, seolah tak percaya dengan ucapan Azka.

Azka menatap Nayla cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu. "Jauhi dia!"

"Aku cuma temenan. Nggak lebih" Nayla mulai kesal. "Lagian, kamu kenapa sih ngelarang aku? Aku aja nggak pernah ngelarang kamu dekat sama siapa pun!"

"Iya," Azka menjawab pelan, "karena aku nggak dekat sama cewek manapun, selain..."

Ucapannya terhenti.

Nayla memicingkan mata. "Selain… apa?"

Azka menatap Nayla dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang bergejolak di sana, bukan marah, bukan dingin, tapi juga bukan lembut sepenuhnya.

"Selain kamu, Nayla. Kenapa kamu nggak peka?" gumamnya dalam hati.

Kalimat itu berputar-putar di kepalanya, berat, menekan. Entah karena gengsi, atau karena ia sendiri belum siap mengakui apa yang mulai tumbuh, Azka tak sanggup mengucapkannya dengan suara.

"Kamu istriku," ucap Azka akhirnya, suaranya rendah namun tegas. "Jadi aku berhak ngelarang kamu dekat sama cowok mana pun. Termasuk… Arvin."

Nayla terkekeh hambar. Tawanya terdengar kosong. "Walaupun cuma teman?"

"Walaupun cuma teman!" Azka mengulang tegas, tanpa ragu.

Nayla menatapnya tajam. "Alasannya?"

Pertanyaan itu membuat Azka terdiam.

Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras. Ia tidak suka ditanya seperti itu, bukan karena Nayla salah, tapi karena ia sendiri tak punya jawaban yang masuk akal. Spontan Azka berbalik, melangkah tiga langkah menjauh. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang, membiarkan angin rooftop yang berembus pelan menyapu wajahnya, seolah ikut menarik keluar emosi yang sempat membara.

"Kenapa kamu selalu buat aku ingin marah, Nay?" Gumam Azka dalam hati.

Beberapa detik berlalu.

Azka kembali menoleh ke arah Nayla.

Ia menatap gadis di hadapannya, gadis yang kini menyandang status sebagai istrinya. Lidahnya terasa kelu. Ia sendiri bingung. Dulu, ia bisa dengan mudah menghina Nayla, meremehkannya tanpa beban. Tapi sekarang… semuanya terasa berbeda. Terlalu berbeda untuk ia pahami.

***

Di sisi lain, Sena dan Dani baru saja keluar dari toilet menuju kelas, langkahnya santai dengan tampang lega sebab sesuatu yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya tuntas. Begitu mereka masuk, langkah keduanya refleks terhenti.

Sena memicingkan mata. "Wait… Nayla ke mana?"

Dani ikut menoleh ke sekeliling. "Iya. Ke mana bocah itu?"

Tatapan Dani lalu beralih ke arah Raka, Dion, dan Devan yang duduk di bangku mereka. "Raka, Dion, Devan."

Ketiganya menoleh. "Apa?" sahut Raka dan Dion hampir bersamaan. Devan hanya menaikkan alis.

"Kalian lihat Nayla nggak?" tanya Dani.

Ketiganya menggeleng.

"Nggak. Emang kenapa?" Raka balik bertanya.

"Cuma nanya," jawab Dani. "Nayla nggak ada di kelas."

"Lah," Dion mengernyit. "Bukannya Nayla bareng kalian?"

"Iya, waktu di kantin" sahut Sena. "Tapi gue sama Dani pergi duluan, kebelet."

Dion mengangguk kecil.

"Oh iya" Dani menoleh lagi. "Btw… Azka mana?"

"Emang kenapa?" Raka balik bertanya.

Dani membuka mulut hendak menjawab, tapi Devan lebih dulu menyela, "Azka ke toilet."

***

Di rooftop itu, Azka kembali melangkah mendekat ke arah Nayla. Langkahnya pelan dan tenang. Kini jarak mereka tinggal beberapa senti. Angin siang berembus halus, menyapu wajah mereka berdua. Rambut Nayla sedikit terbang, beberapa helainya jatuh menghalangi wajahnya.

"Aku lagi nggak mau debat" ucap Azka lirih.

Tangannya terangkat, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Nayla dengan gerakan yang nyaris tak disadari.

Nayla membeku.

Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia refleks mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang perlahan memerah.

"Aku—aku nggak ngajakin kamu debat" balas Nayla, suaranya sedikit gugup.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!