Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Keesokan harinya, Sifa dan Revan sudah berada di ruang makan, tadi ia dipanggil oleh Ibu untuk sarapan bersama.
Tidak ada percakapan antara Sifa dan Revan, mereka fokus dengan nasi dan lauk yang ada dihadapan nya masing-masing.
Rumah kedua orangtua Sifa sudah mulai dibersihkan, sisa dekorasi pernikahan kemarin.
" Ehem.. Nak Revan.. " ucap Pak Bendy memecah keheningan.
" Euh iya Om "
" Kok masih panggil Om " susul Pak Bendy.
" I..iya Yah.. " Revan terlihat sedikit canggung.
" Ayo makan nya tambah, Ayah lihat tadi malam juga kalian tidak makan " ucap Pak Bendy.
" Iya Yah.. Semalam saya cukup lelah jadi tidak lama langsung tidur " balas Revan menetralkan suasana.
" Hmm.. " Pak Bendy hanya mengangguk tersenyum.
" Oya Yah, hari ini sepertinya saya akan pulang dulu " ucap Revan.
Sifa yang mendengar ucapan Revan sedikit meruncingkan telinganya.
" Ya, lebih baik kamu pulang saja Mas Revan " batin Sifa.
" Loh kok pulang ? Memang nya Nak Revan tidak mengambil cuti ? " tanya Ibu.
" Emh.. Saya memang mengambil cuti Bu, tapi saya tidak banyak membawa pakaian ganti " jawab Revan.
Memang benar ia tidak membawa banyak pakaian gantinya, karena jika ia menikah dengan Sita, hari ini dijadwalkan ia akan pergi bulan madu bersama Sita, ia sudah membeli tiket dan mempersiapkan nya semua, namun karena harapan nya tidak sesuai dengan kenyataan, ia malah menikahi Sifa adik dari calon istrinya, sehingga bulan madunya pun ia batalkan.
" Oh begitu " Ibu hanya mengangguk mengerti.
" Bagaimana denganmu Sifa ? " tanya Pak Bendy kepada Sifa.
" Mhh.. Gimana apa nya Yah ? " tanya Sifa balik.
" Itu kan Nak Revan mau pulang, kamu bagaimana ? "
" Ya aku disini lah " jawab Sifa cuek.
" Loh kok disini ? Gak ikut suamimu ? " tanya Ibu.
" Aku besok ada kuliah Bu " jawab Sifa lagi.
" Kamu bisa pergi kuliah dari tempatku kan " susul Revan.
Sifa menoleh ke arah Revan, netra mereka pun bertemu, Revan seolah memberi kode. Ia merasa tidak setuju dengan ucapan Revan, kenapa juga ia harus berkata seperti itu.
Setelah selesai makan, Sifa merapikan piring dan gelas bekas makannya, lalu pamit kepada Ayah dan Ibu nya untuk kembali ke kamar.
Revan pun sama, ia pamit menyusul Sifa yang sudah lebih dulu menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Sifa duduk di sofa kamarnya sambil melipat kedua tangannya.
Revan pun menyusul Sifa yang sudah duduk di sofa.
" Kenapa sih harus bilang kaya gitu ? " tanya Sifa tanpa di komando.
" Apa ? Bilang Apa ? " Revan balik bertanya.
" Ya kenapa bilang aku bisa pergi kuliah dari rumah Mas Revan " ucap Sifa.
" Terus mau kamu aku harus bilang apa ? " tanya Revan lagi.
" Ya gak usah bilang gitu, lagian juga aku gak mau ya tinggal sama kamu "
" Hey Dek, kita sudah menikah, apapun keadaannya kita sekarang, aku tidak begitu tega ya untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada orang tuaku dan juga orang tuamu "
Sifa hanya bisa terdiam, ia mencerna ucapan Revan. Sifa merasa dejavu biasanya Sita yang memanggil nya dengan sebutan Dek, karena Sita memanggil nya dengan sebutan Dek, sehingga Revan pun memanggil nya dengan sebutan Dek, itu saat pertama kali mereka bertemu.
" Kenapa sih kamu harus menerima pernikahan konyol ini " ucap Sifa.
" Kamu juga kenapa bersedia menikah denganku untuk menggantikan kakakmu yang kabur itu ! Kenapa kamu juga tidak ikut kabur saja ! " Revan terlihat sangat geram.
Sifa kembali terdiam, ia menghempaskan tubuhnya ke senderan sofa, sambil berdecak.
" Bawa baju dan perlengkapan kuliahmu, sekitar satu jam lagi kita berangkat " susul Revan.
Ia berlalu meninggalkan Sifa yang masih berada di posisi nya. Ia keluar kamar saat akan menuruni anak tangga, ia sekilas melihat foto Sita yang terpajang di dekat kamarnya, hatinya kembali teriris jika teringat Sita.
Ini pun menjadi alasan Revan tidak ingin berlama-lama di rumah mertuanya saat ini, karena ia masih memiliki luka yang cukup basah dalam hatinya, terlebih jika ia melihat foto-foto Sita yang terpajang di beberapa sudut rumah mertuanya.
***
Setelah pamit kepada kedua orangtuanya Sifa, Revan dan Sifa masuk kedalam mobil Revan, Revan sudah siap di depan kemudinya, tidak lama mobil melaju meninggalkan halaman rumah orang tua Sifa.
Hening dalam perjalanan, Sifa hanya fokus menatap jalan yang ia lalui sambil menghafalkan jalan, jika sewaktu-waktu ia tiba-tiba tidak betah tinggal bersama Rayyan ia bisa pulang ke rumah kedua orangtuanya.
" Kamu kuliah dimana ? " tanya Revan datar.
" Kampus Indonesia Merdeka " jawab Sifa singkat.
Revan hanya mengangguk sekilas, lalu ia kembali fokus mengemudi.
Disaat yang bersamaan terdengar dering telepon dari ponsel Revan, ia lalu meraihnya lalu menyalakan earphone bluetooth lalu mengangkat sambungan teleponnya.
" Ya.. batalkan saja "
" Tidak jadi "
" Ada hal yang tidak dapat saya jelaskan "
Klik
Sambungan telepon ditutup.
Entah Revan berbicara dengan siapa, hanya kata-kata itu yang dapat di dengar oleh Sifa, namun Sifa tidak peduli ia sudah bertekad untuk tidak mencampuri urusan pribadi Revan.
Sifa hanya sedang memikirkan bagaimana hidup kedepannya, ia akan bertemu Revan setiap hari, calon suami Kakaknya yang sekarang menjadi suaminya, sedangkan ia belum menjelaskan apa-apa kepada kekasihnya Novan.
Sekitar 45 menit perjalanan, Sifa dan Revan telah sampai di halaman rumah yang cukup luas, Revan memarkirkan mobilnya, Sifa masih tertegun ia belum tahu apakah ini rumah pribadi Revan atau rumah kedua orangtuanya yang sekarang menjadi mertuanya.
Revan sudah melepaskan safety belt yang ia gunakan, ia menoleh ke arah Sifa yang masih duduk dengn posisi nya.
" Ayo turun ! " titah Revan.
Sifa lalu melepas safety belt yang ia kenakan, membuka handel pintu mobil lalu turun dari dalam mobil.
Ia berjalan mengekori Revan yang sudah lebih dulu berjalan menuju teras rumah, sesampainya di teras rumah ia sudah disambut oleh Bu Ratna dan Pak Tony.
" Akhirnya.. kalian datang juga " ucap Bu Ratna terlihat sumringah.
" Assalamu'alaikum Bu " ucap Sifa menyalami Ibu mertuanya lalu beralih ke Ayah mertuanya secara bergantian.
" Wa'alaikumusalam.. Mulai sekarang kamu panggil Mama ya.. Kan sekarang Mama ini Mama kamu juga " balas Bu Ratna.
Revann hanya menoleh sekilas ke arah Sifa, lalu ia menyalami Mama dan Papa nya lalu masuk kedalam rumah.
Bu Ratna pun memahami sikap putranya, ia tidak ingin membahas masalah kemarin, yang terpenting sekarang bagaimana Revan bisa menerima pernikahan ini, Revan bisa menerima Sifa menjadi istrinya, karena dari lubuk hati yang paling dalam, Bu Ratna lebih menginginkan Sifa yang menjadi menantunya dibandingkan Sita.
Pak Tony pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Revann dihadapan nya barusan.
" Ayo.. Sifa masuk " ajak Bu Ratna menggandeng tangan Sifa masuk kedalam rumah.
Sifa hanya mengangguk tersenyum.
" Kamar Mas Revan di sebelah pojok kanan ya, ayo kalo kamu mau istirahat atau mau makan dulu ? Mama sudah menyiapkan makanan untuk kalian " susul Bu Ratna.
" Nanti saja Ma, masih kenyang, tadi sebelum berangkat kesini, sempat sarapan dulu di rumah " balas Sifa.
" Hmm.. ya sudah, nanti saja kita makan siang bersama ya "
Sifa hanya mengangguk mengiyakan.
" Kak Sita, kamu sebetulnya beruntung, jika kamu menikah dengan Mas Revan, dia laki-laki yang mencintaimu, Ayah dan Ibu mertuamu pun baik.. Ck gak habis pikir ! " batin Sifa, ia masih terus saja memikirkan keadaan Kakaknya yang masih pergi entah kemana.
🌺🌺🌺
Jangan lupa dukung karya author ya ❤️