Jaysen Avshallom seorang pria tampan dan kaya raya yang menjadi buta akibat kecelakaan yang menimpanya. Tragedi itu terjadi di malam saat dia memergoki kekasihnya sedang berselingkuh. Dia berniat membalas dendam pada wanita yg membuat dunianya kini menjadi gelap.
Emily Vionetta yang baru tiba di bandara, di culik dan ditawan oleh orang tak dikenal. Ternyata mereka telah salah menangkap orang. Mereka mengira Emily adalah Eleanor saudari kembarnya. Dia terpaksa menjalani hari-hari menyakitkan dan ketakutan.
Ternyata Jaysen adalah dalang penculikannya. Tanpa dia sadari, perasaan cintanya tumbuh. Dia tahu kalau gadis itu bukan Eleanor. Dia tak ingin melepaskannya. Tapi demi balas dendamnya, dia menjebak Emily dalam pernikahan.
Hingga suatu hari Eleanor kembali dan menyesal. Dia ingin kembali pada Jaysen sehingga mengancam Emily. Akankah Eleanor berhasil merebut kembali Jaysen? Benarkah Jaysen buta atau hanya pura-pura buta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meta Janush, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. JFK INTERNATIONAL AIRPORT
“Nggak apa-apa kok Ma,” emily mengusap kedua pipi wanita yang sudah mengasuhnya selama empat belas tahun itu,”Toh nanti Emily bisa pesan taksi kan di bandara?”
Mata Maya kembali berair tapi dia berusaha agar tidak menangis lagi. “Hati-hati ya sayang. Jangan mampir-mampir kemanapun, langsung pulang dan istirahat saja baru kamu menjenguk Eleanor. Toh keadaannya juga nggak terlalu parah kan? Paling-paling dia mabuk lalu nyetir, Naura sendiri yang cerita soal itu.”
Emily hanya mengangguk, kondisi Eleanor memang sudah diketahuinya dari Maya yang sudah terlebih dahulu mendapat kabar dari ibunya lewat panggilan telepon kemarin.
Menurut kabar Eleanor mengalami kecelakaan tunggal pada dini hari. Dia ditemukan tidak jauh dari derah pinggiran kota dengan hanya mengenakan kimono tidur didalam mobil yang dikendarainya sendiri.
Sambil menghela napas berat, Emily tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Eleanor sehari-hari. Sudah begitu lama waktu yang terlewatkan tanpa ada komunikasi diantara mereka dan tak satupun dari mereka yang berinisiatif untuk memulai. Sejak Emily tidak lagi mendapat respon dari keluarganya di Indonesia, dia pun jarang menghubungi mereka.
“Sudah...sudah….jangan membuat Emily semakin berat untuk pulang. Emily uang sakunya tidak kurang kan?” ujar Steve meremas lembut pundak istrinya.
Emily tersenyum dan menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Selama ini Steve memang jarang menghabiskan waktu bersama keluarga tapi bagi Emily dia adalah sosok suami yang penyayang.
“Emily kan cuma seminggu saja disana Uncle. Eh malah uncle mentransfer uang banyak banget.”
Tidak hanya membelikan tiket pesawat yang sudah jelas harganya sangat mahal karena dibeli mendadak tapi Steve juga memberinya banyak uang saku.
“Biar kamu bisa sekalian jalan-jalan disana,” jawab Steve mengusap kepala keponakan istrinya itu. Selama lima belas tahun pernikahannya dengan Maya, mereka memang masih belum dikaruniai anak lagi setelah keguguran yang dialami Maya dulu. “Ah, itu John datang. Finally!”
Emily menoleh dan melihat John yang tengah berlari mendekat. Dahinya Emily sedikit berkerut karena kekasihnya itu tidak datang sendirian.
“Amber?” seru Emily bahagia. Amber adalah sahabatnya yang dulu mengenalkannya pada John. Bisa dibilang, dia akhirnya berpacaran dengan John adalah berkat Amber. “Kenapa kamu kesini?”
“Surprise!” sahut gadis bersurai pirang dan bermata biru itu tersenyum lebar, “John semalam meberitahuku dan aku memaksa ikut.”
“Maaf kami terlambat babe.” John memeluk dan mencium kening Emily. “Salahkan Amber karena dia lama sekali waktu kujemput tadi.” sambungnya yang dibalas Amber dengan senyuman.
“Hati-hati disana ya,” ujar John membelai pipi Emily yang bersemu merah, “Jangan selingkuh ya disana nanti.” ucap John lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.
“John!” seru Emily cemberut diiringi suara tertawa renyah John.
“Ini, buat cemilan dipesawat.” John menyerahkan sebuah paperbag berisi permen.
Emily mendengus merasa kesal karena dia diperlakukan seperti anak kecil.
“Sudah waktunya sayang. Kamu harus check in sekarang. Nanti terlambat. Hati-hati selama disana ya, langsung telepon mama.” Maya kembali menarik Emily kepelukannya.
“Iya, Ma!” angguk Emily.
“Kamu harus segera menghubungi kami kalau kamu ada masalah atau mengalami kesulitan.” ujar Steve yang menariknya dan Emily tak menyangka kalau dia akan dipeluk.
Selama ini hubungan mereka memang sangat baik tetapi tidak terlalu dekat karena itulah Emily memanggil Steve dengan sebutan Uncle bukan papa.
“Ehm, iya uncle.” sahut Emily merasa canggung dalam pelukan Steve. Dia yaris memekik saat tangan Steve yang semula mengelus punggungnya malah turun meremas pantatnya. Tidak hanya itu, Emily merasa kalau tubuhnya sengaja ditekan sehingga menempel dengan tubuh Steve.
Emily merasakan gundukan keras yang menekan perutnya. Terakhir, pria berusia lima puluh tahun itu malah mencium leher Emily meski sekilas tapi membuat tubuh Emily langsung meremang.
“Hati-hati!” ujar Steve lagi segera melepas pelukan dan memasang wajah dan sikap biasa yang membuat Emily kebingungan. Emily melirik sekilas kearah Maya yang sedang membalikkan tubuhnya membersihkan hidungnya dan John yang asyik bicara dengan Amber sehingga mungkin mereka tidak melihat apa yang baru saja terjadi.
Dengan kaku Emily tersenyum lalu melambaikan tangan berpamitan dan segera berbalik menuju kaunter check in. Ada perasaan sangat mengganjal dihatinya saat ini.
Kenapa Steve meremas pantatnya? Lalu ciuman di leher tadi maksudnya apa? Dan lagi, gundukan mengeras yang menekan perut Emily tadi itu apa?
Selama ini Steve tidak pernah bersikap tidak senonoh atau semacamnya padanya. Memang mereka jarang bertemu karena kesibukan Steve sebagai seorang pebisnis sehingga membuat pria separuh baya itu lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah.
'A---aku pasti hanya salah mengira.” ujarnya berusaha menyingkirkan pikiran buruk yang tidak beralasan.
“Uncle Steve kan suaminya mama. Mana mungkin dia punya maksud buruk padaku. Pasti itu tadi hanya perasaanku saja!” ujarnya lagi. Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk didalam kepalanya lalu melangkah cepat mencari kaunter check in pesawat yang akan dinaikinya untuk pergi ke Indonesia.
Emily adalah salah satu dari ribuan orang yang berada di bandara itu pagi ini, dengan koper ditangannya menuju ke kaunter check in dengan ekspresi muram. Sangat berbeda dengan eskpresi diwajah orang-orang sekitarnya yang ceria menyongsong keberangkatan mereka baik itu untuk kerjaan, liburan ataupun sekedar kunjungan keluarga.
Sambil menghela napas menunggu antrian check in, Emily melirik jam ditangannya. Gilirannya tiba untuk check in dan memasukkan bagasinya yang hanya satu koper besar berisi pakaian dan perlengkapan pribadinya.
Sedangkan satu koper kecil digenggamnya, setelah selesai check in dan melewati proses imigrasi Emily langsung berjalan menuju ruang tunggu dengan menyeret koper kecilnya.
...*****...
“Uhhhh…..Lebih cepat! Ahhhh!” suara ******* terdengar memecah keheningan.
“Sssstt….Amber pelankan suaramu.” ujar si pria mengingatkan. Amber mendongak, tubuhnya melenting merasakan nikmat yang sangat luar biasa sementara seseorang yang berada dibelakangnya menghentak semakin cepat dan bergerak tak beraturan.
Saat ini Amber dan John sedang berada dikamar mandi yang terletak di area bandara ini yang sedang ditutup karena rusak dan sedang under maintenance. Tentunya bukan tempat yang nyaman untuk digunakan tapi hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Amber. Nyatanya gadis berambut pirang itu terus mengerang dan mendesah. Wajahnya memerah memancarkan kenikmatan tiada tara.
Sementara tubuhnya yang polos sudah basah oleh keringat. Sambil mengerang, perempuan bule pirang itupun tidak berdaya merasakan gempuran nikmat dari belakang tubuhnya. ”Ap---apakah kamu akan---ahhh!---Melepaskannya begitu saj---ja?” tanya Amber diantara sengal napasnya.
“Jangan becanda!” sahut pria yang sedari tadi memacunya dari belakang.
Secara mendadak dia menarik lepas bagian tubuhnya yang tadi menyatu dengan Amber tapi belum sempat gadis itu menyuarakan protes, dengan segera dia menyumpal mulutnya, “Ya seperti itu!” gumamnya menyeringai merasakan kenikmatan. Amber tidak menyahut karena mulutnya sudah penuh.
“Aku memang sengaja menyimpannya agar bisa dinikmati nanti,” sambung lelaki itu lalu berganti mencium Amber dengan ganas.
nyesel kan jaysen,
semoga akhrnya nanti bahagia