Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
— Daniel Mahendra —
Sudah sebelas tahun berlalu sejak aku meninggalkan negeri ini, dan sampai sekarang bayangan gadis kecil yang dulu merebut perhatianku masih tersimpan di kepalaku. Itu pertama kalinya aku mendekati seorang gadis atas kemauanku sendiri.
Saat itu aku berusia tujuh belas tahun, dan dia dua belas. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan rupa gadis kecil yang menggemaskan itu: rambut halus berwarna cokelat madu, mata cokelat terang, kulit seputih porselen, dan bibir merah delima yang selalu tampak lembap.
Waktu itu aku sedang bertengkar dengan orang tuaku, sebab tiga bulan lagi mereka akan membawaku ke luar negeri. Aku benci gagasan berpisah dari teman-teman dan harus membiasakan diri lagi dengan lingkungan yang baru. Suasana hatiku begitu buruk sampai aku memutuskan bolos dan tidak masuk sekolah seharian. Aku berjalan-jalan di lingkungan yang tak jauh dari sekolahku.
Tiba-tiba aku mendengar suara seekor anak kucing mengeong. Aku menoleh, dan di sana ada seorang gadis kecil yang sedang memandangi kucing itu, yang terjebak di atas pohon sambil terus mengeong.
Aku mengamati gadis kecil itu. Ia berpakaian seperti boneka mungil, menoleh ke sana kemari. Dalam hati aku berpikir.
Pasti dia sedang menunggu seseorang untuk menurunkan kucingnya. Cuma satu lagi nona manja yang akan memakai pesonanya supaya ada yang mau membantunya mengambil kucing itu.
Awalnya aku hendak berbelok pergi. Tapi kemudian kulihat gadis itu justru memanjat pohon dengan gaun putihnya, sementara rambutnya yang tertata rapi mulai penuh ranting kecil dan dedaunan saat ia naik. Baru kali itu aku melihat seorang gadis kaya yang tak peduli pakaiannya yang indah menjadi kotor, hanya demi menurunkan seekor kucing.
Gadis itu turun dengan selamat bersama kucingnya. Entah sejak kapan, aku mulai membuntutinya dari jauh, sampai ia memencet bel salah satu rumah.
Kupikir di situlah ia tinggal. Tapi anehnya, ia malah bersembunyi. Yang keluar justru seorang pemuda seusiaku bersama seorang gadis. Mereka mengambil kucing itu lalu masuk. Setelah itu si gadis keluar dari persembunyiannya dan berbalik pulang lewat jalan yang tadi dilaluinya.
Beberapa blok kemudian, aku menyadari ada beberapa pria yang terus mengawasinya. Aku mempercepat langkah untuk mengalihkannya dari bahaya. Tapi tepat ketika para pria itu bergerak mendekat, si gadis mendadak berbalik ke arahku, lalu berlari sekuat tenaga untuk memelukku sambil berteriak, "Kakak!"
Aku sendiri tak sadar kapan aku balas memeluknya. Yang jelas, saat itu para pria tadi sudah menghilang.
Aku baru sadar masih mendekapnya ketika ia berkata dengan nada kesal, "Hei, bisa lepaskan aku? Kamu membuatku sesak." Lenganku langsung melepasnya, dan aku menegakkan tubuh sambil berdeham. Sementara itu, gadis itu menusukku dengan tatapan tajam. "Jadi kamu ini pria yang sedari tadi menguntitku."
Aku mengalihkan pandangan dengan gugup. "Kamu salah paham. Aku tidak menguntitmu. Kamu sendiri yang berlari memelukku setelah menaruh kucingmu."
Gadis itu mengangkat sebelah alis, nadanya sedikit angkuh. "Mmm... jadi sejak tadi kamu memperhatikanku. Jangan-jangan kamu penguntit, atau penculik anak."
"A-apa yang kamu bicarakan, jelas bukan..." Aku tersulut. "Kalau kamu tahu ada orang yang menguntitmu, kenapa tidak minta tolong, atau tetap tinggal di rumah tempat kamu menaruh kucing tadi?"
Wajahnya kembali serius. "Tidak perlu." Ia mengangkat bahu. "Lagi pula, aku tak mau jadi obat nyamuk di antara mereka berdua."
"Mereka berdua?... Ah, maksudmu pemilik kucing itu."
"Ya."
"Tapi bagaimana kalau tadi ternyata benar penculik... Anak perempuan tidak boleh berkeliaran sendirian, apalagi—"
"Urus saja urusanmu sendiri. Selamat tinggal."
Sejak perjumpaan itu, selama tiga bulan sisa waktuku, aku selalu menyempatkan diri menemuinya. Kami pun menjadi dekat. Namun setelah aku pergi meninggalkan negeri ini, aku kehilangan kontak dengannya. Belakangan aku baru tahu bahwa empat tahun kemudian ia telah bertunangan dengan seseorang, maka aku pun menyerah.
Tapi setahun sebelum aku kembali, aku mendengar kabar bahwa hubungan mereka tidak baik, dan pria itu memperlakukannya dengan buruk.
Aku memutuskan pulang dengan segenap kuasa dan pengaruh, demi dirinya, agar tak ada lagi yang bisa mengintimidasi atau merendahkannya. Sekarang aku sedang di dalam mobil, menuju pertemuan dengan "tunangannya". Tapi sebentar lagi ia takkan lagi menyandang gelar itu. Aku akan merebutnya kembali dengan segala cara. Aku takkan membiarkan kucing kecilku berada di tangan pria mana pun selain aku.
"Kamu yakin mau berbisnis dengan keluarga Gunawan?" tanya Wisnu.
Aku menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari layar tablet. "Ya. Sudah kubilang jutaan kali."
Wisnu memalingkan pandangan ke jendela. "Yah... dulu kamu selalu menolak berurusan dengan mereka. Aku sungguh tak paham kenapa kamu mendadak berubah pikiran."
Aku menoleh ke arahnya. "Itu karena—Hentikan mobilnya!"
Ciiit! Suara mobil mengerem mendadak.
"Hei... kenapa kamu tiba-tiba menyuruh berhenti?" seru Wisnu.
Aku membuka pintu tergesa-gesa dan turun untuk menyusul Emira, yang baru saja kulihat masuk ke sebuah apotek.
Ketika aku hendak melesat masuk, dadaku bertubrukan dengan dahi Emira hingga ia mengaduh kesakitan.
"Kamu tidak punya mata? Lihat-lihat kalau jalan!" bentaknya kesal. Lalu ia buru-buru menundukkan kepala. "M-maaf."
"Tidak apa-apa. Ini salahku, aku masuk terlalu terburu-buru."
Emira menghindari menatapku. "T-tidak... maaf, ini kesalahanku. Aku juga tidak sopan sudah membentak Anda. Aku tak bermaksud—"
Aku menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lembut, dan menatap matanya. "Emira."
Ia terkejut oleh tindakan pria asing di hadapannya. "Bagaimana kamu tahu namaku? Ini kali pertama kita bertemu."
Aku menatapnya penuh kerinduan. "Emira, kamu kejam. Aku tak percaya kamu melupakanku... Sebelas tahun lalu aku membuntutimu ketika kamu menyelamatkan seekor kucing lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang."
Ia mengernyit dan menyingkirkan tanganku dari wajahnya. "Maaf, kurasa kamu salah orang."
Kuraih punggung tangannya, lalu kububuhkan sebuah kecupan di sana. "Emi kecilku, kamu benar-benar sudah melupakanku."