Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Derby Kakak Adik - Ronald Vs Sinta - Final Liga Tikala
Bulan Desember 2042. Turnamen paling gengsi se Tuminting : LIGA TIKALA.
Pesertanya bukan Manado United , bukan Persija. Pesertanya anak - anak yang latihan di atas Sinar Bima.
Dibuat oleh Yudi umur 36 tahun , yang sekarang sudah jadi Ketua Karang Taruna Tuminting karena tidak ada yang mau jadi ketua.
Final : Tim Cowok Tikala vs Tim Cewek Tikala.
Kapten Cowok : Ronald no 10 , umur 19 tahun , sudah main di Manado United Senior , dengan gaji Rp 8 juta per bulan , sepatu sudah no 42 baru , tidak jebol lagi.
Kapten Cewek : Sinta no 10 , umur 12 tahun , baru lolos Manado United Putri U-13 , sepatu no 38 bekas warisan 3 kali , masih kebesaran , jilbabnya diikat kencang pakai peniti.
Wasit : Bima. Umur 34 tahun , pensiun , pakai kemeja nelayan Kroasia , bawa peluit yang dia beli di Glasgow seharga £2 , sudah berkarat karena terkena air laut Tuminting.
Asisten Wasit : Joshua yang kakinya pincang , bawa bendera dari kain sarung Ibu. Yudi , bawa buku absen lusuh untuk mencatat skor , bukan absen lagi.
Penonton : 40 orang. Bapak dan Ibunya Bima , 12 anak generasi pertama yang sekarang sudah jadi tukang ojek , koki , agen , 12 anak generasi kedua , 12 anak generasi ketiga yang baru.
Lapangan : Tikala lumpur. Jam 4 sore , habis hujan. Becek paling parah pada tahun ini. Bola yang dipakai adalah bola plastik bocor warisan Yudi 20 tahun yang lalu , sudah ditambal 7 kali.
Kick off.
Ronald main cantik. Pisang Raja. Umpan - umpan pendek. Tim cowok sudah besar , umur 15 - 19 tahun , berlari kencang. Di menit ke 10 , Ronald cetak gol. Pisang Raja dari 20 meter. Bola melengkung masuk ke lumpur gawang.
Skor 1-0 untuk cowok.
Sinta terdiam. Dia lihat kakaknya selebrasi , buka jersey dalam yang ada tulisan "TUMINTING NO 10". Sinta marah.
Di menit ke 23 , Sinta mendapatkan bola. Dia tidak Pisang Raja. Dia berlari. Ditekel 2 anak cowok yang badannya 2 kali dari dia. Jatuh di lumpur. Jilbabnya penuh lumpur. Bangun lagi. Berlari lagi.
Bima sebagai wasit mau tiup peluit pelanggaran , tapi tidak jadi. Dia melihat Sinta bangun sendiri , seperti dulu dia bangun sendiri di lumpur Tikala.
Di menit ke 34 , Sinta tendang dari 25 meter.
DUAR.
Bola kena muka kiper cowok , kiper jatuh , bola masuk.
Skor 1-1.
Penonton 40 orang berteriak seperti 77 ribu orang di GBK lawan Irak dulu. Ibu Bima berteriak paling keras "SINTA! JANGAN KASIH KENDOR! ITU KAKAKMU!"
Ronald melihat adiknya gol. Dia tidak marah. Dia tertawa. Sama seperti dulu Bima tertawa waktu Farrel lebih jago.
Babak kedua. Hujan turun lagi. Lapangan makin becek. Bola plastik makin berat.
Di menit ke 67 , Ronald lagi. Pisang Raja lagi. Gol. Skor 2-1.
Sinta tidak menangis. Umur 12 tahun , tapi muka sudah seperti Joshua waktu ACL putus.
Di menit ke 89 , menit terakhir. Skor 2-1 untuk cowok. Tim cewek dapat tendangan bebas 30 meter.
Siapa yang ambil ? Sinta.
Ronald bikin pagar dengan 4 anak cowok yang tinggi - tinggi.
Sinta ancang - ancang. Bima melihat dari tengah lapangan sebagai wasit. Dia ingat golnya vs Argentina 35 meter di Piala Dunia. Dia ingat golnya vs Rangers 30 meter. Dia ingat tendangan pertama umur 12 tahun di Sawangan karena marah.
Sinta tendang.
Bukan keras. Bukan Pisang Raja.
Tendangan campuran. Keras tapi melengkung. Tendangan yang tidak pernah diajar oleh Joshua. Tendangan yang dia buat sendiri karena marah sama kakaknya.
Bola melengkung , keras , masuk pojok kiri atas. Kiper cowok cuma melihat. Sama seperti kiper Manado United U-12 dulu yang melihat tendangan Ronald.
GOL. Skor 2-2.
Peluit akhir Bima tiup. Seri.
Tidak ada adu penalti di Liga Tikala. Aturan Yudi : kalau seri di final , dua - duanya juara , karena tidak ada uang buat piala dua.
Dua tim angkat bola plastik bocor bersama - sama. Ronald angkat Sinta di pundaknya , walau Sinta penuh lumpur. Sinta pakai no 10 kebesaran penuh lumpur , Ronald pakai no 10 baru juga yang penuh lumpur.
Yudi tulis di buku absen lusuh yang sudah 20 tahun dia bawa , halaman terakhir , tintanya sudah habis , dia tulis pakai arang dari dapur Ibu Bima.
FINAL LIGA TIKALA 2042 - TIKALA LUMPUR - HUJAN
RONAL NO 10 COWOK - 2 GOL PISANG RAJA
SINTA NO 10 CEWEK - 2 GOL CAMPURAN KERAS + PISANG - BARU DITEMUKAN
SKOR 2-2
Malam harinya , di atas Sinar Bima yang baru dicat , Bima , Joshua , Yudi , Ronald , Sinta , Bapak dan Ibu Bima , makan ikan 8 kg hasil melaut pagi.
Sinta bertanya ke Bima "Om , tendangan saya tadi namanya apa ? Bukan keras dan bukan Pisang Raja."
Bima menjawab , makan ikan pakai tangan
"Namanya Tendangan Sinta. Nanti 10 tahun lagi , anak - anak Tikala akan belajar Tendangan Sinta di atas perahu ini. Om yang akan tulis di buku."
Sinta tersenyum , gigi depannya ompong , jilbab masih ada lumpur kering.
Ronald peluk adiknya "Besok kita latihan bareng lagi ya , dek. Kakak ajar Pisang Raja , adek ajar Tendangan Sinta."
Di luar , hujan masih turun. Sinar Bima bergoyang sedikit karena terkena angin. Tapi tidak bocor lagi. Sudah ditambal oleh Bima.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading