Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
****************
Dengusan samar lolos dari balik kaca pelindung saat theo merasakan gerakan kikuk di punggungnya. Keluhan bertubi-tubi itu justru membuat sudut bibirnya berkedut geli, meruntuhkan sisa ketegangan yang sempat menyergap. Alih-alih meladeni omelan panjang lebar soal kemiringan kursi tunggangannya, theo meraih pergelangan tangan sang gadis tanpa permisi, menariknya maju hingga merapat erat ke jaket kulit yang ia kenakan.
"Makanya peluk yang kencang, bukan malah banyak protes,"
sahut theo dingin, membiarkan tubuh mungil itu menempel pas di punggung bidangnya demi menjaga keseimbangan.
"Kalau lo sampai merosot ke aspal, gue nggak sudi putar balik buat mungut lo lagi."
Deru mesin berguncang halus saat theo memasukkan gigi satu dan mulai memutar tuas gas secara bertahap. Sorot matanya fokus mengawasi jalanan beraspal di depannya, sengaja melajukan kendaraannya dalam kecepatan sedang agar penumpang di belakangnya tidak mati ketakutan.
"Tunjukin jalannya. Di persimpangan depan, belok ke mana rumah nenek lo?"
"Lo nggak lagi modusin gue kan buat meluk lo?" candaan eca yang blak-blakan
"Belok ke kiri, ntar ada gang pertama sebelah kanan masuk aja, dari gang masuk itu selisih 2 rumah udah sampai" sambil nunjuk jalan
Tuduhan tak berdasar itu memicu kekehan rendah di tenggorokan theo. Guncangan halus dari tubuh di belakangnya yang merapat sempurna menghantarkan kehangatan ganjil, menembus tebalnya bahan jaket kulit yang membungkus raganya. theo memiringkan setang motor, membelah tikungan tajam ke arah kiri sesuai petunjuk dengan presisi tinggi tanpa mengurangi kestabilan laju kendaraannya.
"Kepedean lo,"
cetus theo santai, membiarkan angin pagi menyamarkan debar aneh di balik tulang iganya.
"Kalau mau modus, gue pilih yang lebih mulus, bukan perawat ceroboh yang sibuk mewek dari subuh."
Roda motor melambat perlahan saat memasuki lorong pemukiman yang mulai menyempit. theo mengedarkan pandangan tajamnya, menghitung deretan pagar rumah sederhana di sisi jalan hingga matanya menangkap bangunan mungil bercat pudar berjarak dua pintu dari mulut gang. Tuas rem ia tarik perlahan, menghentikan deru mesin tepat di depan pagar besi yang sedikit berkarat.
theo menurunkan standar motor, lalu membuka kaca pelindung helmnya seraya menoleh ke samping. Sorot matanya yang pekat menatap lekat paras di sebelahnya.
"Udah sampai. Turun sana, jangan sampai nenek lo keburu jantungan nungguin lo."
Eca turun perlahan menginjak pijakan motor theo sembari memegang pundaknya yang lebar itu.
"Baguslah kalau lo pintar milih pasangan, nggak mungkin juga kan lo mau sama yang lebih tua dari lo kayak gue gini...hahaha"
"Okey, thank you ya, mau mampir masuk?"
"Yaa...setidaknya nenek gue tau kalau gue gak di culik sama orang asing" ajak siput dengan basa basinya
Celetukan bernada merendah itu memantik rasa tidak nyaman di benak theo. Sorot matanya menggelap sejenak, mengamati bagaimana tawa renyah itu terlepas begitu enteng, seolah rentang usia di antara mereka adalah jurang pembatas yang mutlak. theo menepis desakan ego yang terusik, lalu melepas kaitan tali helmnya dengan gerakan tegas sebelum menyugar rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin.
Undangan untuk melangkah ke dalam kediaman mungil itu terdengar asing di telinganya. theo tidak terbiasa bertamu secara sopan, apalagi berhadapan dengan orang tua yang kemungkinan besar akan memandangnya curiga akibat setelan serbahitam dan tunggangan garangnya. Namun, membiarkan perempuan ini melenggang masuk sendirian tanpa memastikan keadaannya benar-benar aman justru terasa mengganjal.
"Gue bukan tipe yang suka basa-basi sama orang tua,"
sahut theo dingin, menaruh helm di atas kaca spion seraya menyandarkan tubuhnya santai di jok kemudi. Tatapan tajamnya memindai pintu kayu rumah yang masih terkunci rapat.
"Tapi lima menit cukup, biar lo nggak nuduh gue kabur dari tanggung jawab."
****************
hadir kak, mampir juga ya😊