COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Apa kau tidak punya sopan santun!" teriak Clara saat siapa yang kutemukann di ambang pintu.
Itu...,
"Dinda!" Dinda tampak terkejut melihatku bersama Clara. Clara turun dari meja dan merapikan roknya yang sedikit terangkat karena duduk di atas meja.
"Siapa dia, Sayang?" tanya Clara membuat Dinda semakin tercengang. Dia menutup ruanganku dan bodohnya aku malah diam saja tak berkutik saat Clara menarikku ke arah sofa.
"Apa harus kita teruskan?" tanya Clara.
Aku menggelengkan kepalaku lemah. Memikirkan bagaimana Dinda. “Kau sangat tidak sopan sekali denganku!” Ungkapku saat tersadar Clara masih saja menggodaku. “Keluar dari ruanganku!” teriakku padanya. Clara nampak berdiri menjauh dariku. Sebelumnya dia merapikan dasiku lebih dahulu dan menepuk-nepuknya pelan.
“Mungkin kau akan membutuhkan nanti. Panggil saja,” ungkapnya membuatku ingin menendangnya segera melihat wanita kegatalan itu. Dinda pasti sudah sangat salah paham dengan kami. Dia pasti akan mengurung dirinya lagi di dalam kamar.
......................................
Mataku menatap ke sekeliling. Tak menemukan siapapun kecuali suara TV yang tak ada seorang pun menontonnya di ruang TV. Di mana Gilang dan Dinda. Apa mereka meninggalkan rumah. Hmmm seharusnya aku mengejar Dinda tadi, tapi bodohnya aku malah membiarkan Dinda pergi meninggalkan kantor pada saat hujan turun. Ini musim hujan dan tak seharusnya Dinda datang ke kantorku repot-repot membawa mue ulang tahun untukku. Ya dia membawa kue buatannya. Aku mengambil kue itu karena dia menjatuhkannya di lantai. Aku juga sudah mencobanya meski dengan segala keresahan di hatiku bahwa Dinda tidak akan mau mendnegar penjelasanku.
"Sudahlah, kenapa kau menangis seperti itu," kudengar seseorang berbicara di ruang kolam renang. Ruangannya tertutup tapi sangat dingin jika dinikmati malam hari.
Aku lihat Dinda tengah menangis di dekapan Gilang. Mereka terlihat lebih cocok dibandingkan aku. Namun entah kenapa hatiku tidak bisa menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa aku sedang mencoba mencintai Dinda tapi Gilang yang terlihat sudah begitu dalam mencintainya. Aku tahu aku brengsek, tapi Dinda pasti membutuhkan penjelasan dariku.
Aku berjalan ke arahnya. Berusaha duduk di sebelahnya sampai saat tangan itu menampar wajahku. "Dinda!" bentak Gilang, bukan! itu bukan sebuah bentakan melainkan suara keterkejutan saat aku memegangi pipiku yang terasa sakit karena Dinda tampar keras pipiku.
"Apa yang kau lakukan?!" Gilang bukan bertanya pada Dinda tapi Gilang bertanya padaku. "Kenapa Dinda menangis?!" tanyanya saat Dinda kembali menangis kepelukan Gilang.
"Dinda kita perlu bicara," kataku membujuknya tapi dia menepis tanganku dan terus menangis di dekapan Gilang.
“Ini hanya salah paham Dinda. Kau harus dengar penjelasanku Dinda," paksaku saat Dinda tak juga bergeming. Dinda malah menggelengkan kepalanya dan engga mendengarkanku.
"Dinda aku mohon!"
"Apa? Apa yang kau inginkan lagi dariku? Apa kau tak bisa memandangku sedikittt saja? Kau janji akan mencintaiku Daniel!" teriakkannya membuatku sedikit meringis kesakitan di bagian dadaku. Bukan sakit yang dapat dilihat oleh kasat mata melainkan hatiku lah yang tergores karena kata-katanya. Sakit di hatiku saat Dinda memintaku mencintainya.
Apa susahnya sihh mencintainya, toh Dinda bukan wanita seperti Clara. Dia mencintaiku dengan tulus meski dia tahu aku bukan laki-laki sebaik Gilang.
Mungkin itu umpatan yang tepat, tapi entah kenapa cinta itu masih sulit aku tumbuhkan saat aku kehilangan orang yang pernah aku cintai. Aku hanya takut terjun kembali ke lubang yang sama. Kehilangan seseorang dan hampir gila jika aku tak menemukan pengganti yang memiliki wajah yang sama sepertinya.
"Sudah berapa kali kau melakukannya dengan sekretaris centilmu itu. Kenapa kau mengkhianatiku? Kenapa? Apa aku kurang begitu cantik, huh?”
"Apa?" suara Gilang menyahuti isakan tangis Dinda."Kau sungguh brengsek, Daniel!" dia meninjuku dan tampan aba-aba lagi tubuhku terhuyung jatuh ke dalam kolam.
-Jangan lupa like dan komennya^^-
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍