Abraham yang seorang Komisaris Polisi dan Arshinta seorang guru TK. anak-anak Lucifer setelah dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linieva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Dua hari berturut-turut Arshinta sudah selesai menyeleksi calon guru baru. Dan ada 15 yang akan di pilih. Tinggal mengumumkan di depan semua guru yang ada di sekolah nya, akan informasi pemecatan. Memang setelah
kejadian Arshinta yang marah besar, tidak ada guru yang berani membuat ulah, tapi Arshinta tidak berubah pikiran untuk mengganti mereka yang sudah kedapatan melakukan kesalahan. Tidak ada kompromi bagi nya.
Senin pagi setelah melakukan upacara bendera merah putih, semua guru yang akan mulai mengajar di suruh berkumpul dulu di ruang guru, tentu saja Ruly yang menyampaikan nya.
“Bu Ruly, kenapa kami di kumpulkan di sini? Kan anak-anak harus belajar bu.” Tanya salah satu dari mereka yang penasaran.
“Kalian tenang saja dulu, bu Arshinta ada yang ingin di beritahukan pada kalian.” Jawab Ruly yang sebenar nya sudah tahu, hanya saja
dia membiarkan atasan nya saja yang langsung memberitahukan nya.
Saat semua nya kasak-kusuk, bertanya-tanya pada rekan nya untuk alasan itu, Arshinta dan 25 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan mengikuti nya dari belakang. Dia dan mereka bersama masuk kedalam
ruangan yang seketika ruangan itu menjadi diam. Tidak ada yang berani membuka
mulut nya lagi, bahkan menatap mata Arshinta pun di hindari.
“Selamat pagi semua nya, maafkan saya karena ‘menahan’ bapak dan ibu guru di sini. Ada sesuatu yang penting yang ingin saya sampaikan hari ini. Jadi tolong di dengar baik-baik ya.” Ucap Arshinta dengan posisi berdiri,
tangan yang genggam di belakang dengan tatapan pada semua orang yang ada di
sana.
“Ruly, tolong baca kan nama-nama yang ada di sini.” Arshinta memberikan sebuah buku yang berisi catatan nama untuk di baca.
Sengaja Arshinta menyuruh Ruly untuk membaca nya.
“Baiklah, saya akan sebutkan nama-nama ini adalah…. Bapak Dedy, pak Wilton, pak Samy,ibu Jamilah, ibu Yana, ibu Wati, pak……
Satu persatu Ruly menyebutkan nama tersebut. Terlihat orang yang memiliki nama sangat gusar dang gelisah, karena nama mereka di sebutkan tanpa mereka tahu apa maksud nya. Arshinta bisa melihat kekhawatiran di wajah mereka.
Sudah 15 nama yang di ucapkan Ruly, sekarang keadaan menajdi diam. Mereka menunggu apa alasan di panggil nya nama mereka.
“Mulai sekarang…… nama yang tadi di sebutkan itu, aku berhentikan mengajar di sini!!” ucap Arshinta dengan tegas dan serius.
“Apa?
“Kenapa?
“Apa alasan nya?
“Ini tidak adil….
Semua nya berceloteh merasa tidak adil, protes hanya dengan suara yang pelan.
“Bu Shinta, kenapa anda memecat kami? Apa yang telah kami lakukan?” tanya Wlton.
“Benar bu, kami sudah mengajar dengan tulus dan…
“Bu, ibu tidak bisa memecat kami, karena kami sangat berpengalaman mengajar.
“Bu Shinta,anda….
“Diam!!.....
Arshinta yang tidak bisa menahan lagi, berteriak dengan memukul meja. Semua nya kembali diam lagi.
Mereka yang terdaftar di pecat, tidak terima, merasa tidak adil. Sementara yang tidak di pecat merasa lega, bahkan mereka mengelus dada, sebelum nya mereka juga khawatir, karena nama mereka tidak ada, dan sekarang
mereka sudah bersyukur.
“Aku memecat kalian bukan tanpa alasan kan? Dan kalian sendiri juga sudah tahu, kenapa aku memecat kalian?
“Tapi bu…
“Dan tanpa rasa malu kalian berani protes pada ku?..... tch…..”
Bu Arshinta, ini sama saja kalau anda tidak menghargai profesi kami sebagai guru, anda tahu kan, tanpa guru, mau jadi apa bangsa ini?” Jamilah yang merasa tidak terima di pecat mengeluarkan rasa keberatan nya.
“Saya sudah 2 tahun mengajar di sini. Dan kenapa hanya karena kesalahan yang saya rasa tidak berlebihan, malah anda tidak suka dan langsung memecat saya?”
Arshinta masih diam dengan berlipat tangan, masih nyimak….
“Betul itu bu…
“Iya, benar itu…
Sudah ada beberapa yang ikut-ikut an membela Jamilah, hingga ibu guru itu bangga.
“Kami tidak mungkin bertindak kelewatan pada murid kalau tidak karena mereka yang melawan, dan tidak mendengar nasihat kami. Kalau ibu seperti ini, saya yakin kalau siswa-siswa di sini akan besar kepala dan akan
melakukan hal yang sama lagi, dan apakah anda akan menyalahkan guru baru itu
dengan alasan kekerasan yang di dapat siswa? Itu tidak adil sekali bu…”ucap
Jamilah lagi.
Arshinta masih menyimak, walaupun sebenar nya dia ingin bersuara, di lihat dulu sampai mana Jamilah berbicara nya.
“Apa lagi kelas 11 F, mereka adalah siswa yang luar biasa nakal dan bodoh nya, sudah bodoh, terlambat masuk kelas dan nunggak uang sekolah lagi, dan ibu Arshinta marah pada saya hanya karena saya menasehati
mereka? Saya membantu ibu untuk menagih hutang mereka, dan agar mereka bisa
menjadi orang yang berguna di masa mendatang….”
“Saya juga bu, baru satu kali saya melakukan kesalahan karena tidak sengaja melempar buku siswa. Saya memang bekerja baru satu tahun, masih di bawah guru Jamilah. Siswa itu sudah sering saya nasihati dan saya
ingat kan untuk memakai sampul berwarna biru tua, tapi dia selalu melakukan
kesalahan yang sama, apa karena itu saya langsung di pecat? Ini tidak adil bu….” Samy pun ikut berkomentar.
Sudut bibir Arshinta sudah mulai naik ke atas.
Mereka pikir dengan aksi protes nya akan membuat Arshinta membatalkan rencana nya.
“Bu, kami bisa melaporkan anda pada menteri pendidikan, ini bisa di anggap sebagai penghinaan dan pencacian pada bidang profesi guru…….
“Ppppffftthhh…….Hahahahahahah…..hahahahaha……” Arshinta yang sudah tidak tahan lagi tertawa terbahak-bahak.
Semua menjadi keheranan, saling melihat dengan bertanya-tanya.
“Haduuhhh…. Maafkan saya karena menertawakan kalian, habis nya ocehan kalian itu lucu dan tidak masuk akal sih, geli tahu dengar nya…” ucap Arshinta yang santai.
Setelah puas tertawa, wajah nya kembali fokus dan serius lagi. Tatapan mata nya pun berubah menjadi tajam.
“Ibu Jamilah, anda sudah sering mendiskriminasi siswa, menghina, menjengkali dan mengancam siswa.. bukan cuma satu kali!... ingat, bukan cuma satu kali!!...
“Samy, anda sering ‘menyerang’ siswa dengan kelemahan yang ada pada nya, bukan hanya pada siswa itu saja, tapi banyak laporan yang aku terima tentang perbuatan mu…..
“Deddy…. Kalau aku mengatakan tindak kejahatan mu bagaimana ya? Pelecehan dan penyiksaan pada dua siswa? Bukan kah itu lebih membuat mu malu?...
“Yana, aku tahu….sertifikat pendidikan guru yang anda terima itu palsu kan? Karena keluarga anda yang kaya hingga bisa membeli sertifikat itu? bagaimana kalau saya berikan untuk jadi bukti?
“Dan selain itu….. kalian juga menerima uang suap dari beberapa orang tua murid untuk nilai anak-anak mereka…….
“Lalu……. Bagaimana cara kalian akan mengatasi nya?” tanya Arshinta menaikkan salah satu alis dengan senyum licik nya.
.
.
.
Teman-teman, terima kasih sekali lagi atas dukungan kalian di novel ku, terima kasih atas Vote, tips koin dan like nya. semoga kalian di beri rejeki yang banyak ya.