Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Setelah Kelulusan dan Pernyataan Cinta Yang ke Dua Untuk Riri
*P**erkumpulan dengan teman-teman adalah suatu hal yang sangat menyenangkan*
Perpisahan dengan mereka adalah suatu kepedihan
...*****...
Teman-teman Riri yang sudah menunggunya di rumahnya, kini mulai merasa gelisah dan tak sabar untuk segera pergi berkumpul bersama. Dalam rangka merayakan kelulusan mereka.
Saat akan memasuki halaman rumah Riri, Riko melihat ada banyak orang di sana. Lalu, dia pun bertanya pada Riri.
"Ri, mereka itu siapa?"
"Oh, mereka semua adalah teman-teman ku. Aku tadi udah ada janji sama mereka untuk pergi merayakan kelulusan." jelas Riri.
Riko kaget dan bertanya pada Riri.
"Loh, kamu janjian sama mereka?"
"Iya, emang kamu pikir sama siapa?" tanya Riri balik.
"Hehe, enggak bukan apa-apa." kata Riko yang terlihat kikuk, dia pikir Riri ada janji dengan seseorang.
"Ayo, kita ke sana! Aku pengen kenalin kamu ke mereka," ajak Riri pada Riko.
"Emang harus, gitu?" katanya dengan wajah bingung.
"Harus, dong!" Riri menarik tangan Riko dan memperkenalkannya pada semua teman-teman nya.
"Hai ... semua! Maaf, ya aku telat banget! Oh, ya kenalin ini, Riko. Dia adalah sahabatku saat aku di Jepang waktu itu." terang Riri pada semua temannya.
Riko pun menyapa semua teman-teman Riri.
"Halo, semua! Salam kenal, aku Riko! Sahabatnya Riri."
Dengan berat hati rasanya Riko mengatakan hal itu pada semua teman-teman Riri. Gibran juga ada di sana dan dia sangat terkejut melihat Riri datang bersama Riko.
Dia sangat tidak suka dengan kehadiran Riko di tempat itu.Gibran memberanikan diri untuk menarik tangan Riri dan menjauh dari keramaian itu.
"Ri, ikut aku sebentar!" Lalu, Gibran menarik tangannya Riri. Awalnya, Riri sempat memberontak dan menolak. Tapi, akhirnya dia menurut saja.
Tentu saja hal itu membuat semuanya merasa ada yang aneh diantara mereka. Bahkan, Puri juga tak menyangka kalau Gibran akan senekad itu.
Riko melihat Gibran dengan tatapan yang sama seperti Gibran menatapnya. Tatapan yang tidak suka satu sama lainnya.
Setelah mereka menjauh dari keramaian Riri meminta Riko untuk melepaskan tangannya.
"Lepasin, Gib! Kamu mau ngomong apa, sih? Kenapa harus menjauh dari mereka?" tanya Riri yang bertubi.
Gibran malah balik bertanya pada Riri.
"Dia ... dia siapa, Ri? Laki-laki yang kamu gandeng tangannya tadi!" Kentara sekali bahwa saat ini Gibran tengah cemburu.
"Loh, bukannya udah jelas, ya? Dia 'kan udah bilang kalau dia itu sahabat aku! Kamu 'kan juga udah dengar tadi. Apa perlu aku ulangi lagi ke kamu? Harus banget, ya aku ulangi?!" bentak Riri yang tak terima di perlakukan Gibran seperti itu.
Kini giliran Gibran yang angkat bicara.
"Apa kamu nggak bisa rasain apa perasaan aku ke kamu? Apa perlu, aku ungkapkan ini semua ke semua teman-teman kita?!" ungkap Gibran pada Riri.
Mendengar satu lagi pernyataan cinta dari dua orang, dengan kurun waktu yang tak jauh berbeda. Membuat Riri semakin merasa kesulitan menghadapi mereka berdua.
Satu hal yang Riri yakini, bahwa hatinya saat ini dan mungkin seterusnya hanya akan selalu mencintai Ryu seorang.
Dengan tegas dia menjawab pernyataan cinta Gibran padanya.
"Gib, beberapa waktu lalu, aku baru saja menolak seseorang. Sepertinya, aku juga harus menolak kamu. Sama seperti aku menolak orang itu dengan alasan yang sama pula, tentunya," tukasnya dengan amat sangat jelas dan tegas.
"Jadi, maksud kamu nasibku akan sama seperti dia?" kata Gibran sambil menunjuk ke arah Riko, yang tengah berdiri di antara kerumunan teman perempuan Riri.
"Ya," jawabnya singkat.
Lalu, Riri pun pergi untuk bergabung dengan teman-temannya. Sedangkan, Gibran masih merasa sangat terpukul atas apa yang baru saja terjadi padanya.
"Lalu, jika bukan pria itu, siapa dia yang ada di hatimu, Ri? Tidak bisakah kamu mengatakannya padaku, siapa dia?! Apa dia benar-benar begitu berartinya bagimu? Sampai-sampai kamu tidak bisa melupakan dia dan menerima ku?" Gibran sangat berharap semua tanyanya itu akan di jawab oleh Riri.
Riri menghampiri teman-temannya yang masih asyik berbincang dengan Riko.
"Hai, teman-teman! Maaf, lama menunggu!" kata Riri meminta maaf pada teman-temannya.
"Nggak apa-apa kok, Ri! Tapi, kita jadi pergi, 'kan?" tanya Puri.
"Aduh, maaf banget, ya! Kayaknya aku nggak jadi ikutan, deh. Soalnya, kepalaku pusing banget, nih. Kalian pergi aja, ya!" kata Riri mencoba menghindar dari keramaian saat ini.
"Ya, tapi kan, Ri kamu bilang tadi kamu mau pergi. Terus kenapa sekarang malah berubah, sih?" keluh Puri dan Olive ikut nimbrung juga.
"Ya, Ri! Kenapa tiba-tiba kamu malah berubah pikiran?" tanya Olive ingin tahu.
"Ya, Live. Rencananya emang gitu, tapi mendadak kepalaku pusing sekarang. Aku juga kan nggak tahu bakalan kayak gini jadinya," jelas Riri mengada-ada pada teman-temannya.
"Oh, ya Ko. Kamu juga sebaiknya pulang aja, ya!" titah Riri pada Riko yang masih betah berada di rumahnya.
"Tapi, Ri ...," kata Riko, tiba-tiba ibunya Riri keluar dengan membawa serta minuman dan kue-kue yang biasa di jual olehnya.
"Eh, ternyata teman-temannya Riri banyak sekali, ya. Sepertinya, minuman yang Tante bawa kurang, nih." kata Sekar sambil menaruh minuman dan kue-kue itu di atas meja.
Lalu, dia mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.
"Silakan, di cicipi minuman dan juga kuenya!" ucap Sekar ramah.
"Hanya itu yang Tante punya, semoga kalian suka, ya?" lanjut Sekar lagi.
"Ya, Tante terima kasih!" jawab Puri mewakili semuanya.
Saat melihat Riko, Sekar menghampirinya dan menyapanya dengan ramah.
"Kamu Riko, 'kan? Yang waktu itu sering membantu Riri saat di Jepang? Kamu juga kan yang sering menghubungi, Tante belakangan ini?!" ucap Sekar seolah menyelidiki Riko.
"Ya, Tante! Saya Riko," jawab Riko ramah juga.
"Terima kasih, ya karena kamu sudah sangat baik pada putri, Tante!" kata Sekar lagi.
"Ya, tidak masalah, Tante." jawabnya singkat.
Sekar terlihat sangat bahagia saat menatap wajah Riko. Gibran yang melihat Tante Sekar lebih menyukai Riko, dia merasa tersaingi.
Tetapi, ia lebih merasa tersaingi oleh sosok misterius yang di rahasiakan Riri darinya. Walaupun Riri tak pernah mengatakan dengan gamblang padanya. Tetapi, dia dapat memahami segalanya.
Melalui sorotan mata Riri, Gibran dapat tahu dengan jelas. Bahwa, Riri memang tengah menyukai seseorang.
Matanya telah mengatakan segalanya, walau mulutnya terkunci rapat untuk mengatakannya.
Gibran bukanlah laki-laki bodoh yang tak dapat memahami hal itu. Sedari awal, dia memang sudah yakin bahwa dirinya akan di tolak.
Tetapi, dia tetap ingin mencoba dan berharap Riri bisa membalas perasaannya. Walau semuanya tetaplah sia-sia.
Tidak tahan dengan semua situasi ini. Gibran memutuskan untuk pergi dari rumah Riri. Dia juga tidak jadi pergi ke tempat yang telah di rencanakannya dengan teman-temannya.
"Tante, aku pamit pulang sekarang!" kata Gibran sambil menyalami Sekar.
"Loh, kenapa buru-buru pulang, Nak Gibran?"
"Nggak apa-apa, Tante! Lagi pengen istirahat, aja!" jawabnya ragu-ragu.
"Ya, sudah. Kalau begitu hati-hati, ya!" balas Sekar lagi.
"Ya, Tante! Assalamu'alaikum!" katanya mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Sekar.
***
Riri yang sudah masuk ke dalam kamarnya, tak tahu menahu tentang apa yang terjadi Se peninggalannya.
Di dalam kamar, dia sibuk mengenang masa-masa di saat dirinya dan Ryu sedang bersama.
"Kenangan itu, kenapa aku tidak pernah bisa melupakan dirinya? Kenapa aku harus jatuh cinta pada orang seperti dirinya, ya Tuhan?! Hah, padahal dia mungkin tidak pernah mengingat aku. Sadarlah, Ri! Kamu tidak akan pernah bersama dia. Dia adalah orang yang tidak akan pernah bisa kamu dekati. Apa lagi untuk mendapatkan nya, Ri! Huhhh ...," helaan napas yang begitu berat di hembuskan oleh Riri.
Dia juga heran mengapa dirinya tak bisa lagi untuk menyukai Gibran. Padahal dulu, dia sangat menyukainya. Tapi, kini mengapa tidak sama sekali?
Dia juga tidak bisa menyukai Riko. Riko yang belum lama ini menaruh rasa padanya di kala ia berada di Jepang.
Mungkinkah, Riko akan mempertahankan perasaannya pada Riri hingga akhir? Entahlah, tidak ada yang tahu pasti akan hal itu.
Riri juga tidak berharap, bahwa Riko akan tetap mencintai dirinya.
Di tengah lamunannya, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
Tok ... tok ... tok ....
"Ri, boleh aku masuk?" tanya Puri dari balik pintu.
"Masuk saja, Pu! Pintunya nggak di kunci, kok." balasnya.
Puri masuk dan mendekati Riri yang tengah duduk di atas tempat tidurnya. Puri mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Ri, aku tahu kenapa kamu tiba-tiba bilang ingin istirahat. Aku juga tahu kalau sebenarnya kamu mencoba untuk menghindari keduanya, 'kan?!" jelas Puri menyelidiki sahabatnya itu.
Riri mencoba menepis dugaan sahabatnya itu. Lalu, berpura-pura tidak memahami perkataan sahabatnya itu.
"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan?"
"Ri, aku yakin kamu itu ngerti! Kamu paham betul apa yang aku katakan ini. Aku benar, 'kan?!" tegas Puri.
Riri merasa enggan menjawab semua tuduhan sahabatnya itu pada dirinya.
"Entahlah! Sekarang yang aku tahu, aku harus fokus untuk mencapai tujuanku. Kamu tahu kan, kalau aku harus sesegera mungkin menemukan ayahku! Jadi, biarkan aku istirahat sekarang, ya?!" seru Riri.
"Tapi, Ri ...," Riri tak ingin lagi mendengar sahabatnya bicara. Dia segera menutup rapat-rapat pintu kamarnya.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya