Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Subuh di tepi Sungai Han bukanlah pemandangan yang indah. Melainkan sebuah peralihan yang suram, di mana kegelapan malam enggan pergi dan cahaya pagi belum sepenuhnya berani menampakkan diri. Angin yang bertiup dari arah sungai membawa serta muatan berat: bau amis air payau yang tergenang, aroma tanah basah yang membusuk, dan—ketika Lisa menarik napas lebih dalam melalui masker bedahnya—sebuah sengatan tajam yang lebih dari sekadar bau sampah atau bangkai hewan. Itu adalah bau kematian manusia yang sudah mulai terdekomposisi, dicampur dengan sesuatu yang kimiawi, seperti pemutih murah.
Di bawah lengkungan beton sebuah jembatan tol yang megah, lampu-lampu sorot kepolisian mendesis, memancarkan sinar putih yang kejam dan tanpa ampun. Sinar itu membelah kabut tipis subuh, menyorot langsung ke sebuah objek yang tergeletak seperti sampah tak bertuan di atas lumpur hitam tepian sungai. Sebuah koper kain berwarna biru tua, model lawas dengan sudut-sudut yang diperkuat kulit sintetis. Warnanya sudah kusam dan berlumuran noda tanah. Tapi yang membuat Lisa menahan napas bukanlah penampilannya yang lusuh.
Koper itu menggembung secara tidak wajar, seolah isinya menolak untuk dikurung. Dari sela-sela ritsletingnya yang sudah rusak di beberapa bagian, merembes keluar cairan kental berwarna merah kehitaman, menetes pelan ke lumpur di bawahnya, menciptakan genangan kecil yang memantulkan cahaya lampu sorot dengan cara yang mengerikan.
Lisa berdiri tepat di belakang garis polisi kuning yang sudah dipasang, tangannya terkepal erat di dalam saku mantel hitamnya. Kain masker menempel di wajahnya, tapi tidak cukup untuk menyaring sepenuhnya bau menjijikkan yang memenuhi udara. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan potongan logam berkarat. Perutnya terasa mual, tapi ia menekannya dengan kekuatan kemauan. Matanya yang dingin dan analitis memindai setiap detail: posisi koper yang seolah dibuang begitu saja, jejak roda atau kaki di lumpur (tidak ada), jarak dari jalan raya di atas.
Di sampingnya, Hendry sedang bicara dengan suara rendah yang serak kepada kepala tim forensik. Wajah senior itu kini dipenuhi oleh ketegangan murni. Kerutan di dahinya dalam, matanya merah oleh kurang tidur dan sesuatu yang mirip dengan kemarahan yang tertahan.
"Potongan tubuh..." Gumam Hendry, lebih kepada dirinya sendiri, saat petugas forensik mendekati koper dengan alat pelindung penuh. "Dia potong-motongnya dengan rapi. Bukan amatiran. Dan dia bersihkan semuanya. Tidak ada sidik jari di permukaan luar, mungkin bahkan di dalam. Ini... ini iblis yang berjalan di antara kita. Dan dia meninggalkan kita teka-teki paling kotor yang pernah kulihat."
Sam biasanya sudah akan muncul di samping Lisa dengan komentar sarkastik atau setidaknya ekspresi jijik. Tapi kali ini, keheningan di sekitarnya terasa berbeda. Lisa merasakan sebuah penurunan suhu yang tidak biasa, tapi Sam tidak berbicara.
Lisa melirik ke samping. Sam ada di sana, sekitar tiga meter di depannya, lebih dekat ke garis polisi. Ia melayang perlahan, tapi gerakannya kaku, tidak seperti biasanya yang cair dan penuh rasa ingin tahu. Wajahnya, yang biasanya terlihat setidaknya seperti manusia yang sehat, kini pucat pasi. Lebih pucat dari biasanya. Transparansinya seolah-olah meningkat, membuatnya terlihat seperti kaca yang retak.
"Sam?" Lisa berbisik dalam hati, mengarahkan pikirannya padanya.
Sam tidak segera menoleh. Ia seperti terpaku pada koper biru itu. Saat ia melayang mendekat, jaraknya mungkin hanya tersisa dua meter dari objek mengerikan itu, tubuh Sam tiba-tiba bergetar, seperti orang yang kena sengatan listrik ringan. Ia berhenti, tangannya terangkat dan mencengkeram dadanya sendiri.
"Lisa..." Panggilnya dengan suara lirih dan penuh getaran statis yang menyakitkan untuk didengar, seolah-olah frekuensi keberadaannya sedang diacak-acak. "Di sini... energinya... terlalu berisik. Sangat... sangat berisik."
Napas Sam tersengal-sengal. Ia memejamkan mata sejenak, wajahnya berkerut dalam konsentrasi yang menyiksa. "Terlalu banyak teriakan. Tapi... bukan teriakan yang keluar. Teriakan yang... terperangkap. Terkunci di dalamnya." Ia membuka mata, dan matanya yang biasanya hangat kini dipenuhi oleh horor murni. "Aku bisa merasakannya. Semua rasa sakitnya. Semua ketakutannya. Semua... ketidakpercayaannya. Itu seperti... badai di dalam kepalaku."
Lisa merasakan dorongan untuk menyuruhnya mundur, tapi ia tahu Sam adalah kunci mereka. Naluri detektifnya berperang dengan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mirip dengan kepedulian. Dia hanya bisa menonton.
Kemudian, sesuatu mulai terbentuk di udara tepat di atas lumpur, di samping koper biru itu.
Bukan penampakan utuh seperti arwah kakek Park atau kucing Mochi. Ini adalah sesuatu yang... rusak. Sebuah siluet kelabu yang berasap, terdistorsi, dan tidak memiliki bentuk yang jelas. Bagian atasnya—yang seharusnya kepala—hanyalah gumpalan asap yang berputar tak menentu. Di tempat wajah, hanya ada kekosongan, sebuah lubang hitam yang dalam. Tubuhnya tampak terfragmentasi, seolah-olah mencerminkan keadaan fisiknya di dalam koper. Tidak ada kaki yang jelas. Satu lengannya nampak lebih panjang dan lebih tipis dari yang lain, ujungnya seperti mengepul dan menghilang.
Arwah ini tidak memancarkan suara. Tidak ada tangisan dan tidak ada jeritan. Justru ketiadaan suara itulah yang paling mengerikan. Yang memancar darinya adalah gelombang emosi keputusasaan yang begitu pekat hingga terasa seperti zat padat, ketakutan yang membekukan, dan sebuah rasa sakit yang begitu luas dan dalam sehingga Sam, yang merasakannya secara langsung, mendadak membungkuk seolah ditinju di perut.
"Sam!" Batin Lisa panik, tangannya di saku berkeringat dingin.
Sam tidak bisa menjawab. Matanya terpaku pada entitas kelabu yang kini mulai bergerak merayap, atau lebih tepatnya, tergeser di atas permukaan lumpur, meninggalkan jejak asap tipis yang langsung menghilang. Arwah itu tidak tertuju pada Sam atau siapa pun. Ia seolah-olah sedang mengikuti sebuah pola yang hanya bisa dilihatnya sendiri.
Dengan gerakan yang patah-patah, penuh upaya yang menyakitkan untuk disaksikan, arwah yang hancur itu mengangkat salah satu lengannya yang samar. Lengannya terulur, jari-jari asapnya meraih ke arah langit di barat.
Kemudian, dengan kekuatan terakhir yang tersisa dari esensinya, ia menunjuk.
Jari telunjuknya yang tak berbentuk itu mengarah dengan presisi mengerikan ke suatu titik di cakrawala. Ke arah di mana, jauh di kejauhan melewati kota yang masih setengah tidur, lampu-lampu landasan pacu dan menara kontrol Bandara Internasional Incheon berpendar seperti kunang-kunang raksasa.
Petunjuk itu bukan kata-kata. Tapi maknanya tertanam langsung di kesadaran Sam, diterjemahkan oleh kontak energinya yang intens dan traumatis.
"Dia..." Sam terbatuk, suaranya kembali sebentar sebelum pecah lagi. "Bandara... dia menunjuk ke bandara. Bandara Incheon." Sam memalingkan wajahnya yang pucat dan berkeringat dingin ke arah Lisa. Matanya penuh pemahaman yang mengerikan. "Dia tidak berasal dari sini. Dia dibawa melalui udara. Dia... dia adalah barang bawaan."
Setelah upaya terakhir itu, arwah kelabu itu seolah kehabisan tenaga. Bentuknya bergetar, lalu mulai memudar dengan cepat, seperti asap yang dihisap oleh angin sungai. Dalam beberapa detik, ia lenyap sama sekali, tidak meninggalkan jejak selain kehampaan yang lebih menyesakkan daripada kehadirannya.
Sam terhuyung mundur, tubuhnya berkedip-kedip tidak stabil. Untuk sesaat, bagian dari pinggulnya menghilang, menjadi kabur, sebelum dengan susah payah membentuk kembali. Ia tampak sangat lemah dan terguncang. Pengalaman berkomunikasi dengan sebuah jiwa yang hancur sedemikian rupa ternyata menguras dan melukai dirinya juga.
Lisa memejamkan mata. Di balik kelopaknya, ia memproses informasi itu dengan kecepatan tinggi. Petunjuk bandara. Korban internasional. Pemotongan yang rapi, pembersihan forensik. Ini bukan pembunuh biasa. Ini terorganisir. Ini lintas batas.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan diri, lalu berbalik kepada Hendry yang sedang mengamati pembukaan koper dengan wajah muram.
"Senior."
Hendry menoleh, alisnya berkerut. "Apa?"
"Kita harus segera memeriksa manifes penumpang internasional di Incheon. Fokus pada penerbangan masuk dalam empat puluh delapan hingga tujuh puluh dua jam terakhir. Dan jangan terpaku pada warga lokal atau daftar orang hilang domestik dulu."
Hendry mendekat, matanya menyipit. "Mengapa? Atas dasar apa kesimpulan itu, Detektif Ahn? Kita bahkan belum punya identifikasi. Korban bisa saja orang Seoul yang dibunuh dan dibuang di sini."
Lisa menahan pandangannya. Dia tidak bisa mengatakan 'karena arwahnya yang hancur bilang begitu'. Dia melihat Sam, yang kini duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai, kepalanya tertunduk, bahunya naik turun seolah-olah terengah-engah. Dia melihat penderitaan di wajah Sam, residu dari teriakan yang membeku yang ia rasakan.
"Institusi, Senior." Jawab Lisa akhirnya, mengalihkan penjelasan ke logika investigasi. "Pemotongan seperti ini, pembersihan yang teliti... ini butuh tempat. Butuh privasi. Membawa potongan tubuh sebesar koper ini melintasi kota berisiko tinggi. Tapi jika korban sudah mati sebelum masuk ke negara ini, atau dibunuh di suatu tempat yang terkoneksi dengan bandara... itu lebih masuk akal. Dan bau kimia di sana..." Ia menunjuk ke arah koper. "Bisa saja dari usaha mengawetkan atau menyamarkan selama penerbangan. Ini sepertinya bukan kejahatan lokal. Tapi ini impor."
Hendry terdiam, mempertimbangkan. Pandangannya yang tajam memindai wajah Lisa, mencari celah kebohongan atau spekulasi liar. Yang ia temukan hanyalah keteguhan dan keyakinan yang dalam. Akhirnya, ia mengangguk pelan meski berat. "Baik. Aku akan menelepon pihak bandara dan imigrasi. Tapi ini spekulasi besar, Lisa. Jika ini salah, kita buang-buang waktu dan tenaga."
"Jika ini benar, kita mungkin sedang memburu seorang pembunuh berantai yang beroperasi lintas negara." Balas Lisa.
Hendry menghela napas, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju mobil dinasnya, handie-talkie sudah diangkat ke mulut.
Lisa menatap ke arah Sam. Arwah itu mengangkat wajahnya. Mereka saling memandang sejenak, di tengah kekacauan TKP yang semakin ramai. Tidak ada kata yang diucapkan, tapi sebuah pengertian lewat di antara mereka. Sebuah pengakuan akan horor yang baru saja mereka saksikan, dan sebuah tekad untuk menghentikannya.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ