NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ban 4 Wanita yang Kehilangan Segalanya

Sepulang dari pengadilan, Ivy langsung menuju ke butik miliknya.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang berat baginya, hari ketika pernikahannya dengan Mateo resmi berakhir. Namun anehnya, Ivy justru merasa beban di hatinya jauh lebih ringan.

Kini tidak ada lagi ikatan yang mengharuskannya bertahan di tempat yang sama, tempat yang banyak memberikannya luka, tempat yang tidak pernah menghargai keberadaannya.

Ivy lalu turun dari mobil dan berjalan memasuki butik dengan langkah tenang.

"Mia," panggilnya.

Mia yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung menghampiri Ivy.

"Kak Ivy, bagaimana hasil persidangannya?" Tanya Mia dengan hati-hati, wajahnya penuh pertanyaan apakah Ivy benar-benar sudah terbebas dari suami seperti Mateo atau belum.

"Sudah selesai, aku dan Mateo resmi bercerai." Jawab Ivy tenang sambil tersenyum tipis.

Mia terdiam beberapa saat, Ia sudah tahu keputusan Ivy untuk meninggalkan semuanya, tetapi mendengar perceraian itu benar-benar terjadi tetap membuat hatinya terasa bahagia. Selama beberapa tahun ini, dia tau bagaimana penderitaan Ivy saat masih menjadi istri Mateo. Mencintai sendirian itu cukup berat, dan hal itu selalu menyakiti Ivy apalagi Mateo juga dengan terang terangan berselingkuh dengan wanita lain. Mia sedih setiap kali melihat Ivy menangis, Mia sangat membenci Mateo. Menurut Mia, Mateo adalah suami paling buruk. Jadi dia bersyukur Ivy sudah terbebas dari pria itu. Mia berharap, Ivy bisa menemukan kebahagiaannya lagi.

"Kak..."

"Aku baik-baik saja, Mia." potong Ivy lembut.

Ivy kemudian berjalan menuju ruang kerjanya, di atas meja sudah tersusun beberapa dokumen.

Paspor, tiket pesawat juga dokumen tempat tinggalnya nanti juga beberapa berkas mengenai pengelolaan butik.

Ivy menatap semuanya dengan tenang, dia sudah mempersiapkan semuanya. Tidak ada keputusan yang dibuat secara terburu-buru, selama beberapa minggu terakhir, Ivy diam-diam telah mengurus kehidupannya yang baru dan tempat itu adalah Paris. Kota yang selama ini hanya berani ia bayangkan dari kejauhan.

"Aku mungkin akan menyerahkan pengelolaan butik ini kepadamu, Mia." Kata Ivy

"Kau menyerahkannya kepadaku?" Tanya Mia terkejut, matanya langsung membulat.

Ivy mengangguk kecil.

"Aku ingin pergi." Kata Ivy sambil tersenyum hangat, hatinya kini di penuhi tekad yang kuat. Dia ingin merasakan kembali kebahagiaannya yang telah lama hilang atau mungkin tidak pernah dia dapatkan selama ini.

"Pergi ke mana?" Tanya Mia sedih, dia tidak tau bagaimana nantinya jika Ivy pergi. Ivy adalah satu-satunya sahabat yang dia miliki dan satu-satunya orang yang selalu peduli padanya, tapi bukankah dia juga tidak boleh egois untuk Ivy.

"Paris." Kata Ivy dengan nada serius namun tetap lembut.

Mia terdiam beberapa saat, matanya menatap Ivy lembut, sebelum akhirnya bertanya.

"Kak Ivy benar-benar akan meninggalkan negara ini?"

"Ya." Jawab Ivy, dia lalu berjalan ke arah jendela di sudut ruangan itu. Lalu menatap keluar jendela, melihat langit yang selalu cerah sejak kematian putrinya.

"Setelah semua yang terjadi, aku sadar bahwa kalau aku terus tinggal di sini, aku akan selalu menjadi Ivy yang sama." Kata Ivy, lalu dia tersenyum kecil.

"Orang yang terus mengingat bagaimana keluarganya meninggalkannya, orang yang terus mengingat jika suaminya tidak pernah mencintainya dan seorang ibu yang setiap hari menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu menyelamatkan anaknya." Lanjut Ivy dengan tangan yang mengepal perlahan, setiap kenangan menyakitkan itu tidak akan pernah hilang jika ia masih di sini. Kenangan menyakitkan itu, lama kelamaan bisa membakar jiwanya tanpa menyisakan apapun.

"Kau tau Mia, aku tidak ingin hidup seperti itu lagi." Lirih Ivy, menatap Mia dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya ketenangan itu runtuh.

Mia menatapnya dengan mata berkaca-kaca, jika memang kepergian Ivy untuk bisa melupakan semua kesedihannya, maka dia akan mendukungnya.

"Jadi Kak Ivy pergi untuk melupakan semuanya?" Tanya Mia.

Ivy menggeleng.

"Bukan."

Ia mengambil paspornya dari atas meja.

"Aku pergi bukan untuk melarikan diri." Kata Ivy, lalu

tatapannya berubah tegas.

"Aku pergi untuk memenangkan diriku sendiri." Lanjut Ivy.

Kalimat itu membuat Mia terdiam.

Selama ini Ivy selalu berusaha mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang darinya. Cinta Mateo, pengakuan keluarganya, kebahagiaan yang dulu pernah ia miliki. Namun sekarang Ivy akhirnya mengerti jika dia tidak perlu mendapatkan semua itu kembali. Dia hanya perlu mendapatkan kembali kebahagiaannya melalui dirinya sendiri bukan melalui orang lain.

"Aku akan mulai dari nol di Paris, mungkin aku akan membuka cabang butik di sana. Mungkin aku akan melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda, aku belum tahu." lanjut Ivy, lalu tersenyum menatap Mia.

"Kini aku ingin membuat keputusan berdasarkan apa yang kuinginkan."

Mia mengusap sudut matanya, dia terharu mendengar apa yang Ivy katakan.

"Aku akan menjaga butik ini." Kata Mia penuh tekad, dia tidak akan mengecewakan Ivy.

Ivy menatapnya dengan senyum tulus.

"Terima kasih, Mia."

"Dan Kak Ivy harus berjanji satu hal."

"Apa?" Tanya Ivy.

"Jangan pernah kembali hanya karena orang-orang yang dulu menyakitimu tiba-tiba menyesal." Kata Mia sambil menggenggam tangan Ivy.

Ivy diam, lalu tersenyum menatap Mia. Satu-satunya orang yang paling tulus padanya.

"Jika suatu saat aku kembali, alasannya bukan karena mereka. Tapi karena aku sudah bisa berdamai dengan semuanya." Kata Ivy.

Di luar, matahari sore perlahan mulai tenggelam.

Ivy masih memandang langit melalui jendela besar butiknya. Besok, ia akan mulai membereskan semua urusannya di sini. Dan beberapa hari lagi, dia akan meninggalkan negara ini, bukan sebagai wanita yang kalah, bukan sebagai istri Mateo yang gagal mendapatkan cintanya, bukan sebagai anak yang dibuang keluarganya, Ivy akan pergi sebagai seorang wanita yang akhirnya memilih dirinya sendiri.

Paris menunggunya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Ivy tidak takut pada masa depan.

Sementara itu, Mateo sama sekali tidak langsung pulang ke rumahnya setelah sidang perceraiannya selesai.

Mobilnya justru melaju menuju apartemen Selena, wanita yang selama ini menjadi orang ketiga di balik pernikahannya dengan Ivy. Wanita yang menjadi alasan kenapa dia tidak mengatar Grizella malam itu ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi satu hal. Akhirnya dia terbebas dari Ivy, dia tidak perlu lagi melihat wanita yang sudah menghancurkan hidupnya itu.

Saat ini, sudah tidak ada lagi ikatan pernikahan dengan Ivy. Tidak ada lagi status suami yang selama ini menurutnya hanya menjadi beban.

Begitu sampai di apartemen Selena, Mateo bahkan tidak menunggu lama. Setelah pintu terbuka, dia langsung menarik Selena ke dalam pelukannya dan mencium bibir wanita itu dengan begitu tiba-tiba dan penuh emosi.

Selena terkejut, kedua tangannya refleks menekan dada Mateo sebelum akhirnya Mateo melepaskannya.

"Mateo..." Selena menatapnya dengan napas sedikit tidak teratur.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Selena, sedikit heran dengan Mateo yang tiba-tiba menciumnya. Mereka memang sering melakukannya, tapi Mateo tidak pernah menciumnya tampa aba-aba seperti ini apalagi mereka masih d depan pintu.

"Aku sudah resmi bercerai dari Ivy, selena." Kata Mateo, dengan senyum mengembang di bibirnya.

Mata Selena langsung membesar, dia sangat bahagia akhirnya dia mendengar kabar bahagia juga setelah cukup lama menjadi simpanan Mateo.

"Benarkah?" Tanya Selena sumringah.

Mateo mengangguk.

"Ya, hari ini semuanya selesai, akhirnya aku bisa bebas dari wanita itu." Ucap Mateo sambil tersenyum.

Senyum Selena semakin mengembang, akhirnya impiannya selama ini terwujud juga dan mungkin sebentar lagi dia akan menjadi nyonya Agar. Dia sudah menunggu hari inu sangat lama, hari ketika nama Ivy akhirnya benar-benar hilang dari kehidupan Mateo.

Selena mendekat dan memeluk Mateo.

"Jadi sekarang aku tidak perlu lagi menjadi wanita selingkuhan mu? Aku tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan kita?" Tanya selena bahagia.

"Sudah tidak perlu." Kata Mateo.

Senyum Selena semakin lebar, akhirnya apa yang dia inginkan terwujud juga.

"Berarti aku akhirnya bisa menjadi Nyonya Agler?" Tanya Selena, matanya menatap Mateo antusias.

Mateo terdiam sesaat sebelum mengangguk.

"Itu yang kuinginkan dari dulu." Ucap selena sambil mengecup bibir Mateo beberapa kali.

Selena tampak sangat bahagia, dia bahkan membayangkan dirinya mengenakan gaun pengantin dan berdiri di samping Mateo sebagai istrinya.

Namun kemudian Selena bertanya,

"Kalau begitu, kapan kita akan menikah?"

Mateo menghela napas pelan.

"Aku masih harus meminta restu orang tuaku."

"Orang tuamu?"

"Ya."

Mateo tahu orang tuanya mungkin tidak akan langsung menerima keputusan tersebut. Bagaimanapun, perceraian dengan Ivy baru saja terjadi.

Tetapi kali ini Mateo tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh.

Dia sudah mengambil keputusan.

"Aku akan bicara dengan mereka," katanya tegas. "Aku ingin menikah denganmu."

Selena tersenyum puas.

"Benarkah?"

"Ya."

Mateo kemudian menarik Selena kembali ke dalam pelukannya.

Akhirnya setelah 4 tahun, dia kembali berhasil mendapatkan kebebasannya. Kebebasan yang dulu dia pikir mustahil, kini benar-benar terjadi.

"Aku sangat bahagia, Selena." Ucap Mateo sambil memeluk dan mengusap rambut wanita itu.

"Akhirnya aku terbebas juga dari Ivy." Sambung Mateo.

Selena hanya tersenyum di dalam pelukannya.

Di dalam hati, dia merasa kemenangan yang selama ini ditunggunya akhirnya berada tepat di depan mata.

Dia akan menjadi istri Mateo.

Dia akan menjadi Nyonya Agler.

Namun Selena tidak tahu satu hal.

Bahwa keputusan Mateo untuk meninggalkan Ivy mungkin bukanlah akhir dari semuanya.

Justru mungkin, itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Bersambung

1
Putry Chan
gara gara kejadian ini lvy inisiatif pgen jadi kuat , waduh lvy serem nih nanti 🤣
Putry Chan
lvy tenangkan pikiran mu aku yakin Edgar baik baik aja
Putry Chan
jelas lah kan dia cinta kau apa lah isi pikiran laki ini 🗿
Putry Chan
semoga Edgar baik baik aja ya
Putry Chan
lvy calon suami mu ini lumayan menantang ya
Putry Chan
mungkin musuh nya
Putry Chan
siapa ya yang ikutin mereka
Itha Ast
Menarik
Mundri Astuti
good ivy
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
Mundri Astuti
aamiin ...aku dukung Edgar 🤭
Dinda Putri
semangat yo thor 🔥🔥🔥
Dinda Putri
lanjut up thor
Putry Chan
wah sepertinya lvy di terima baik
Putry Chan
bagus lah akhirnya MC kita nikah juga
Putry Chan
bagus lah semoga cepat ya ke hubungan yang lebih serius
Putry Chan
ya tapi hati mu tidak berubah
Putry Chan
untung lah ada Edgar yang mulai sekarang nemenin lvy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!