Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Liburan dua minggu di Bali berlalu begitu cepat. Di dalam kamar vila, koper-koper besar milik Nadia dan Rian kini tampak jauh lebih penuh ketimbang saat mereka pertama kali tiba. Berbagai jenis oleh-oleh—mulai dari pie susu, kain pantai, ukiran kayu khas Bali, hingga seperangkat camilan lokal favorit Bu Ratna—tertata rapi di dalamnya.
Rian memeluk Nadia dari belakang saat istrinya tengah melipat pakaian terakhir. "Pasti berat ya mau meninggalkan tempat ini?"
Nadia tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rian. "Sedikit, Mas. Tapi aku sudah kangen rumah. Apalagi hubungan kita sekarang sudah beda banget."
"Beda gimana?" goda Rian seraya mengecup pipi Nadia.
"Ya... seperti waktu kita baru menikah dulu," jawab Nadia malu-malu, pipinya merona merah. "Penuh bunga-bunga lagi."
Rian tersenyum puas. Ia memutarkan tubuh Nadia hingga mereka saling berhadapan, lalu menatap mata istrinya dengan penuh kesungguhan. "Ingat ya, Nad. Di Jakarta nanti, kalau ada apa-apa, kamu harus langsung cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri lagi."
"Iya, Mas. Tapi Mas, kamu juga harus janji, jangan kerja sampai larut malam terus," balas Nadia lembut.
"Saiap, Bos, nanti kalau aku pulang telat pasti ngabarin dulu. " kekeh Rian seraya mencubit hidung Nadia gemas. "Yuk, kita berangkat sekarang. Supir travel sudah nunggu di depan."
Sepanjang perjalanan di dalam pesawat hingga perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju rumah, genggaman tangan Rian tak pernah melepaskan jemari Nadia. Mereka saling melempar senyum dan candaan kecil, benar-benar menikmati kembali indahnya kasmaran yang sempat hilang diterjang badai rumah tangga.
Mobil taksi yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah. Rian membantu supir menurunkan koper-koper besar mereka dari bagasi, sementara Nadia melangkah lebih dulu membukakan pintu depan yang tidak terkunci.
"Ibu, kami pulang..." panggil Nadia lembut saat melangkah masuk ke dalam ruang tamu.
Namun, belum sempat Nadia meletakkan tas jinjingnya di atas sofa, langkahnya terhenti seketika. Dari arah dapur, muncul seorang wanita muda berambut panjang bergelombang dengan pakaian kasual yang modis. Wanita itu membawa secangkir teh hangat, disusul oleh Bu Ratna yang berjalan santai di belakangnya.
"Loh, sudah pulang kalian?" sapa Bu Ratna dingin, tanpa ada raut gembira menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Nadia terpaku. Wanita muda di samping ibu mertuanya itu langsung tersenyum lebar dan melangkah mendekat.
"Mbak Nadia! Mas Rian! Wah, akhirnya sampai juga!" seru wanita itu dengan nada suara yang manja.
Rian yang baru saja masuk sambil memindahkan dua koper besar mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak kaget. "Sarah? Kamu... kok bisa ada di sini?"
Sarah, sepupu Rian dari pihak ibunya, terkekeh manis seraya membetulkan letak rambutnya. "Iya, Mas! Aku baru tiba dari Bandung tiga hari lalu."
Nadia menatap Sarah dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan canggung. Sudah hampir tiga tahun ia tidak bertemu dengan sepupu suaminya ini. Setahunya, Sarah adalah sosok yang cukup dominan dan sangat dekat dengan Bu Ratna sejak dulu.
"Ibu yang suruh Sarah ke sini, Rian," potong Bu Ratna dengan cepat, mengambil alih pembicaraan seraya duduk santai di sofa.
Rian mengerutkan keningnya, menatap ibunya bingung. "Maksud Ibu apa? Sarah ada acara atau pekerjaan di Jakarta?"
"Bukan," jawab Bu Ratna santai. "Ibu yang minta Sarah tinggal di sini untuk bantu-bantu Ibu. Lagipula, Sarah baru saja lulus kuliah dan sedang cari kerja di Jakarta. Daripada dia sewa kos mahal-mahal, lebih baik tinggal di rumah ini, kan? Rumah ini kan besar."
Nadia dan Rian saling berpandangan. Kebahagiaan dan ketenangan yang baru saja mereka raih di Bali seolah diterpa angin dingin dalam sekejap.
"Bu, tapi kan Ibu tidak ngomong dulu sama Rian sebelumnya," ujar Rian dengan nada tertahan, berusaha menjaga kesopanannya di depan Sarah. "Rumah ini kan ada Nadia juga. Harusnya Ibu diskusikan dulu sama kami."
Bu Ratna mendengus pelan, menatap Rian dengan nada tidak senang. "Kenapa harus diskusi? Ini kan rumah anak Ibu sendiri. Sarah ini sepupumu, Rian! Saudara kita! Kenapa seolah-olah Ibu membawa orang asing masuk ke rumah ini?"
"Bukan begitu, Bu—"
"Aduh, Mas Rian, Mbak Nadia, jangan ribut gara-gara aku dong," potong Sarah dengan suara lembut yang dibuat-buat, namun matanya melirik sinis ke arah Nadia. "Aku di sini cuma mau bantu Tante Ratna kok. Tante sering cerita kalau beliau kesepian di rumah dan sering capek kalau sendirian. Jadi aku pikir, nggak ada salahnya aku menemani Tante."
Kata-kata Sarah menyiratkan sindiran halus yang sangat tajam. Nadia dinilai tidak bisa menjaga dan menemani ibu mertuanya dengan baik.
Nadia merasakan dadanya sedikit berdenyut. Ia mengepalkan tangannya di balik lipatan baju, namun berusaha menahan diri demi menjaga suasana yang baru saja membaik antara dirinya dan Rian.
Rian menghela napas panjang. Ia melangkah mendekati Nadia dan merangkul pundak istrinya erat-erat, seolah ingin memberi sinyal bahwa ia ada di pihak Nadia.
"Sarah, terima kasih kalau niatmu baik," kata Rian tegas, menatap sepupunya lurus-lurus. "Tapi di rumah ini sudah ada Nadia yang mengurus segala kebutuhan rumah tangga dan Ibu. Kamu boleh menginap beberapa hari sementara mencari tempat kos, tapi untuk tinggal menetap..."
"Rian!" potong Bu Ratna dengan suara meninggi, berdiri dari kursinya. "Kamu jangan keterlaluan ya! Kenapa kamu jadi perhitungan sekali sama saudaramu sendiri? Apa ini gara-gara dipengaruhi sama istrimu lagi selama di Bali?"
"Bu, tolong jangan bawa-bawa Nadia," tegas Rian, suaranya naik satu oktav. "Nadia sama sekali belum bicara sepatah kata pun sejak kita masuk!"
"Tapi dari mukanya kelihatan tidak suka!" tuduh Bu Ratna melotot ke arah Nadia.
Nadia menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai emosinya. Ia memegang lengan Rian pelan, memberi isyarat agar suaminya tidak melanjutkan perdebatan yang bisa merusak momen kepulangan mereka.
"Mas, sudah," bisik Nadia lembut pada Rian. Kemudian, ia menatap Bu Ratna dan Sarah dengan senyum formal. "Tidak apa-apa, Bu. Kalau Sarah memang mau tinggal di sini sementara waktu sambil mencari pekerjaan, silakan. Kamar tamu di atas sudah bersih, nanti aku rapikan lagi sedikit."
Sarah tersenyum miring, lalu berjalan mendekati Bu Ratna. "Tuh kan, Tante... Mbak Nadia aja bilang boleh. Mas Rian kok yang malah repot sendiri."
"Ya jelaslah, Sarah. Paling tidak Nadia tahu diri kalau kamu ini juga keluarga," sahut Bu Ratna sinis.
Rian menatap ibunya dan Sarah dengan raut wajah kecewa, namun ia memilih menahan diri demi Nadia. Ia tahu istrinya sedang mencoba mengalah demi menjaga kedamaian yang baru saja mereka perbaiki.