Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Hanya Sepuluh Juta
Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah Tantya sepanjang perjalanan pulang ke rumah ibunya. Ada rasa lega sekaligus kemenangan yang sulit disembunyikan. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar berani berdiri tegak dan mengatakan tidak di hadapan seluruh keluarga Rendra. Dia tidak lagi merasa harus mengalah hanya demi menjaga perasaan orang lain, apalagi jika dirinya sendiri terus-menerus dirugikan.
Hari itu, Tantya pulang dengan perasaan jauh lebih ringan. Seolah-olah beban yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat. Dia akhirnya menyadari bahwa dirinya berhak menentukan batas, berhak menolak, dan berhak memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.
Sesampainya di rumah, Tantya merebahkan tubuh sejenak untuk melepas lelah. Setelah beristirahat dan menikmati segelas minuman hangat, dia kemudian memanggil Bu Afifah dan Tara untuk berkumpul di ruang keluarga. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Sesuatu yang sudah lama dia pikirkan.
"Bu, rumah ini besok kita renovasi aja, ya. Nanti semua biayanya aku yang tanggung. Semoga pengerjaannya bisa selesai dalam waktu seminggu. Jadi, aku nggak perlu terlalu lama meninggalkan pekerjaan di Jakarta," ujar Tantya sambil tersenyum.
Bu Afifah yang sedang duduk di samping Tara langsung menoleh. Ada binar keterkejutan di matanya. "Wah, beneran, Tya? Emangnya uangnya masih ada? Atau suamimu mau mengembalikan uang yang lima puluh juta itu." tanyanya memastikan.
Tantya terkekeh kecil melihat ekspresi ibunya.
"Tenang, Bu. Uangku sekarang sudah lumayan. Insyaallah cukup untuk merenovasi rumah ini. Walaupun keluarga Mas Rendra gak akan mengembalikan uang itu. "
"Oh gitu, Alhamdulillah. Moga rezekimu makin lancar ya, Nak."
"Aamiin YRA."
"Oh iya, nanti kalau Tara sudah selesai ujian, kita umrah bareng, ya?"
"Apa?" Bu Afifah dan Tara berseru hampir bersamaan. Keduanya saling berpandangan, seolah ingin memastikan tidak salah mendengar ucapan Tantya.
"Iya, Bu. Tara. Kita umrah bareng. Sekalian nanti jalan-jalan ke Turki," ulang Tantya dengan wajah sumringah.
"Masya Allah, Tya!"
Bu Afifah spontan memeluk putrinya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya, kemudian perlahan jatuh membasahi pipi. Bukan semata-mata karena bahagia mendengar rencana perjalanan ibadah itu, melainkan karena tak pernah menyangka anak perempuannya yang dulu berjuang begitu keras, kini bisa memberikan kebahagiaan sebesar ini kepada keluarganya.
"Terima kasih, ya, Nak," bisik Bu Afifah dengan suara bergetar.
Tantya membalas pelukan ibunya dengan lembut.
"Iya, Bu. Doakan saja semuanya dimudahkan. Aku ingin Ibu bahagia. Selama ini Ibu sudah banyak berkorban untuk kami."
Tara yang menyaksikan pemandangan itu ikut tersenyum haru. "Makasih, Mbak," ucapnya tulus.
Tantya menoleh kepada adiknya. Tangannya terulur mengusap kepala Tara dengan penuh kasih sayang. "Sama-sama, Tar. Tapi kamu juga harus punya cita-cita sendiri. Jangan cuma mengandalkan Mbak. Kamu juga bisa sukses, asal mau bekerja keras dan tekun menjalani bisnis makanan ringan yang sekarang kamu rintis."
Tara mengangguk antusias. "Iya, Mbak."
"Mbak juga dulu memulainya dari bawah. Awalnya cuma jadi reseller produk orang lain. Pernah jualan hijab, baju, tas, dan macam-macam produk yang berhubungan dengan fashion. Apa saja Mbak coba, selama masih bisa menghasilkan uang dan halal. Dari situ Mbak belajar bagaimana menawarkan produk, melayani pembeli, mengelola keuntungan, sampai akhirnya bisa mengembangkan usaha sendiri."
"Oh, begitu, ya, Mbak?" Tara menyimak dengan penuh perhatian.
"Iya. Jadi, jangan pernah malu memulai dari kecil. Yang penting konsisten dan jangan gampang menyerah. Rezeki itu harus dijemput dengan usaha."
Tantya kemudian teringat sesuatu. Wajahnya kembali cerah seolah baru saja menemukan ide menarik. "Oh iya, minggu depan, pas Tara libur semester, kita liburan ke Jakarta, ya. Mbak mau ajak kalian jalan-jalan sekaligus menunjukkan hasil kerja keras Mbak selama ini. Nanti Mbak tunjukkan usaha penjualan baju-baju muslim yang selama ini Mbak kembangkan."
Mata Tara langsung berbinar. "Beneran, Mbak?"
Tantya mengangguk mantap.
"Iya, beneran. Siap-siap saja. Kita berangkat bareng dari sini."
"Wah, asyik! Aku belum pernah melihat langsung tempat usaha Mbak yang sekarang." seru Tara bersemangat.
Bu Afifah hanya bisa tersenyum sambil mengusap sisa air matanya. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Bukan hanya karena Tantya kini mampu memperbaiki rumah mereka, mengajak umrah, dan merencanakan liburan bersama, tetapi juga karena putrinya tumbuh menjadi perempuan tangguh yang tidak lupa dari mana dia berasal.
Di tengah semua pencapaian itu, Tantya tetaplah anak yang sama. Anak perempuan yang selalu ingin melihat ibunya tersenyum dan adiknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Siang itu, ruang keluarga sederhana mereka dipenuhi tawa dan obrolan hangat. Tak ada kemewahan, tak ada pesta besar. Hanya kebahagiaan sebuah keluarga kecil yang akhirnya bisa menikmati hasil dari perjuangan panjang.
Dan bagi Tantya, kebahagiaan seperti inilah yang selama ini ingin dia perjuangkan. Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada keluarga Rendra, melainkan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu membangun kehidupan yang jauh lebih baik.
***
Sementara itu, di ruang keluarga yang lain, suasana terasa sedikit berbeda. Bu Martha tampak kecewa mendengar jawaban ketiga anak kebanggaannya. Harapannya agar mereka bisa memberikan sumbangan dalam jumlah besar untuk pesta pernikahan Selina ternyata tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Sepuluh juta juga itu sudah maksimal, Bu," ujar Arya dengan nada lembut, berusaha menjelaskan bahwa jumlah tersebut bukanlah angka yang sedikit.
"Iya, Bu. Aku juga sama dengan Mas Arya. Keberatan kalau harus menyumbang di atas sepuluh juta," sahut Arga anak keduanya. Wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan karena harus membicarakan urusan uang di hadapan sang ibu.
"Iya, Bu. Maafkan kami, ya. Soalnya sebentar lagi anak-anak masuk sekolah. Banyak kebutuhan yang harus kami persiapkan. Jadi, kalau harus memberikan sumbangan lebih dari sepuluh juta, rasanya cukup memberatkan," tambah Farah.
"Iya, kan untuk acara lamaran ini aja kami sudah menyumbang begitu banyak." Niken ikut nimbrung.
"Iya, apalagi aku. Uang sepuluh juta itu sudah sangat banyak." Rendra ikut menunduk.
Bu Martha mengembuskan napas panjang. Wajahnya semakin masam. Bukan karena tidak memahami alasan anak-anaknya, melainkan karena ia merasa nominal yang mereka tawarkan masih jauh dari harapannya.
Dalam benaknya, ketiga anaknya itu sudah memiliki kehidupan yang mapan. Seharusnya, mereka tidak keberatan jika diminta mengeluarkan uang lebih banyak demi pernikahan adik mereka.
Namun, kenyataannya berbeda. Ketiganya justru kompak memasang batas pada angka sepuluh juta.
Bu Martha terdiam sejenak. Ada rasa kesal yang tertahan di dadanya. Ia merasa seolah-olah harus berjuang sendiri untuk mewujudkan pesta pernikahan Selina sesuai keinginannya.