NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:902
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KONFRONTASI DI RERUNTUHAN SENTOSA

BAB 9: KONFRONTASI DI RERUNTUHAN SENTOSA

Deru angin laut yang membawa uap garam bercampur bau karat memukul kaca depan SUV VPCI. Di hadapan Reno dan dr. Sara, bayangan hitam kompleks reruntuhan Pabrik Sentosa berdiri menakutkan di bawah guyuran hujan badai.

Bangunan beton raksasa yang terbengkalai selama sepuluh tahun itu tampak bagaikan monumen kelambsaksi bisu tempat puluhan nyawa melayang akibat keserakahan dan keputusan hukum yang dapat dibeli.

Ponsel Reno di atas dasbor menampilkan penghitung waktu yang terus menyusut cepat: 00:14:22.

"Dion, posisi Bara dan tim cadangan?" tanya Reno seraya menyalakan earpiece nirkabelnya.

"Bara dan SWAT sudah membuat garis perimeter dalam radius dua kilometer," sahut suara Dion dari balik transmisi yang penuh static.

"Sinyal pemancar Eksekutor ada di lantai dua aula pemrosesan utama. Tapi ingat, Ren, begitu kamu melangkah masuk ke dalam bangunan itu, sinyal GPS-mu bakal terganggu karena tebalnya dinding beton bermuatan logam di sana. Kamu bakal sendirian di dalam."

"Sara, tetap di dalam mobil sampai aku memberikan sinyal aman," kata Reno seraya menoleh pada dr. Sara yang sedang memeriksa dua tabung injeksi penawar racun di dalam tas medisnya.

"Reno," panggil dr. Sara, menahan lengan baju Reno sebelum pria itu keluar. Matanya menatap Reno dengan kecemasan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.

"Dia tidak cuma mengincar Bramantyo. Dia menginginkan nyawamu untuk menyempurnakan 'pengadilan' pribadinya. Jangan biarkan emosimu terpancing. Kemampuanmu... gunakan itu bukan untuk bertarung, tapi untuk membaca pergerakannya."

Reno mengangguk pelan. "Aku akan kembali membawa kunci itu, Sara."

Dengan menyampirkan mantel hitamnya dan menggenggam besi pertahanan diri, Reno melangkah keluar menembus kegelapan dan tirai hujan deras, menerobos masuk ke dalam rongga pintu gerbang pabrik yang menganga.

Suasana di dalam aula utama Pabrik Sentosa sangat mencekam. Gemericik air hujan yang menetes dari atap seng yang bocor beradu dengan gema langkah kaki Reno yang bergema di atas lantai semen yang retak. Aroma busuk racun kimia tua masih terasa mengendap tipis di udara, membangkitkan ingatan penderitaan para korban masa lalu.

Sinar senter taktis Reno menyapu sekeliling. Di tengah-tengah ruang aula yang luas, di bawah sorotan satu-satunya lampu gantung darurat yang berkedip-kedip, Bramantyo Wardhana terikat kaku di atas kursi besi.

Wajah mantan pemilik pabrik itu sudah pucat pasi. Alat injeksi otomatis di sampingnya terus berdetak pelan, mengalirkan cairan pekat kuning-kehitaman sedikit demi sedikit ke dalam selang infus di tangannya.

Napas Bramantyo tersengal-sengal parah, matanya yang membelalak memperlihatkan rasa sakit luar biasa akibat seratus mililiter racun pertama yang sudah terlanjur merusak sel darahnya.

Di atas alat tersebut, timer digital menunjukkan angka: 00:08:45.

"Reno Devano..."

Suara berat dan bergetar itu bergema dari arah koridor berkarat di atas balkon lantai dua. Reno dengan sigap mengarahkan senternya ke atas.

Eksekutor berdiri di sana, berdiri santai di tepi pembatas besi. Mantel hujan hitamnya basah kuyup, dan di bawah remang lampu darurat, jaringan parut bekas luka bakar di rahang kirinya tampak semakin mengerikan dan mengkerut. Di jemari tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit, ia memainkan kunci enkripsi USB berkilau emas tua yang diukir simbol mata bersinar.

"Tepat waktu, Detektif," ujar Eksekutor sambil melangkah turun melewati tangga besi yang berderit nyaring. "Kamu datang sendirian... persis seperti yang kuminta. Ternyata kamu memang peduli pada nyawa cacing bernyawa ini."

"Permainanmu sudah berakhir, Frans," kata Reno tenang, melangkah perlahan mendekati posisi Bramantyo tanpa memutus kontak mata. "Dua korbanmu sebelumnya Hakim Rustam dan Kencana Subroto tidak akan pernah bisa mengembalikan keluarga yang hilang di pantai ini. Dan membunuh Bramantyo malam ini hanya akan menjadikanmu monster yang sama seperti mereka."

Eksekutor tertawa gila, suara pantulannya memantul keras di dinding beton.

"Monster?! Sepuluh tahun lalu, adik perempuanku tewas mengenaskan karena meminum air tanah beracun dari pabrik ini! Aku membuang muka pada hukum, menuntut keadilan ke pengadilan, tapi apa yang kudapat?! Hakim Rustam mengambil uangnya, Jaksa Kencana menutup matanya, dan dr. Herman menjual sainsnya!"

Eksekutor menghentikan langkahnya hanya tiga meter di hadapan Reno. Tatapannya membakar penuh dendam.

"Wajahku terbakar saat ledakan tangki limbah malam itu ketika aku berusaha mengumpulkan bukti! Hukum kalian membiarkan mereka melenggang bebas di atas penderitaan kami! Jadi katakan padaku, Detektif... jika hukum kalian lumpuh dan membisu, bukankah penderitaan mereka adalah satu-satunya bentuk keadilan yang tersisa?!"

"Keadilan tidak ditegakkan dengan cara menjadi algojo berdarah dingin!" pangkas Reno tajam.

"Serahkan kunci Deskripsi itu sekarang!"

"Jika kamu menginginkan kunci ini..." Eksekutor menarik sebuah pisau lipat taktis berbilah tebal dari balik mantelnya, "...kamu harus merebutnya dari mayatku. Tapi ingat, racun di tubuh Bramantyo akan mencapai titik mematikan dalam waktu enam menit lagi. Setiap detik yang kamu buang untuk melawanku adalah paku terakhir di peti matinya!"

Tanpa memberi jeda, Eksekutor menerjang maju dengan kecepatan luar biasa! Bilah pisaunya menyambar lurus mengincar leher Reno!

Reno refleks memiringkan tubuhnya, mengibaskan besi pertahanan dirinya untuk menepis tebasan pisau. Logam beradu logam memercikkan bunga api di udara! Eksekutor memanfaatkan momentum untuk mendaratkan tendangan keras tepat ke dada Reno yang sudah memar bekas pertarungan di rumah sakit.

BRAK!

Reno tersungkur ke lantai semen yang basah, terbatuk darah tipis. Rasa sakit melilit dadanya, membuat pandangannya sempat mengabur. Eksekutor melompat ke atas tubuh Reno, mengarahkan ujung pisau tajamnya lurus ke arah dada sang detektif!

Dalam kondisi terdesak dan terancam tewas, sarung tangan kulit Reno terlepas saat ia menahan pergelangan tangan Eksekutor yang menekan pisaunya turun.

Kulit telanjang ibu jari Reno mendadak menyentuh langsung jaringan parut bekas luka bakar di rahang kiri Eksekutor!

DEG!

Hantaman psychometry meledak di dalam ruang kesadaran Reno secara liar dan tak terkendali! Ini bukan lagi sekadar melihat rekaman ingatan dari benda mati ini adalah sentuhan langsung pada kulit manusia hidup yang menyimpan trauma kelam puluhan tahun!

Dunia sekeliling Reno meledak dalam kilatan memori masa lalu.

Reno dilempar ke dalam ingatan malam penderitaan sepuluh tahun lalu. Ia melihat Frans muda berteriak histeris di dalam ruang gawat darurat yang kumuh, memangku jasad adik perempuannya yang kejang-kejang akibat keracunan raksa.

Ia merasakan keputusasaan Frans saat ditolak oleh kantor kepolisian, melihat momen ketika Frans membakar pabrik ini hingga wajahnya sendiri terlahap api demi membalas dendam, dan merasakan penderitaan fisik luar biasa dari luka bakar yang menggerogoti jiwanya selama bertahun-tahun.

Namun di balik akumulasi dendam yang membakar itu... Reno melihat satu celah ingatan penting yang baru saja terjadi beberapa jam lalu: Frans menyimpan kunci enkripsi cadangan kedua di dalam saku dalam mantel hitamnya sebagai tindakan pencegahan!

Brak!

Reno tersentak kembali ke realita. Kesadarannya kembali tepat saat ujung pisau Eksekutor tinggal seujung kuku dari tenggorokannya.

"Kemampuanmu tidak akan bisa menyelamatkanmu malam ini, Reno!" raung Eksekutor murka.

"Aku tidak butuh menyelamatkan diriku..." bisik Reno seraya mengepalkan tinjunya, "...aku hanya perlu membongkar rahasiamu!"

Dengan sisa tenaganya, Reno menghentakkan lututnya keras-keras ke selangkangan Eksekutor. Pria bertopeng itu mengerang kesakitan, pegangan pisaunya mengendur. Reno memanfaatkan kesempatan itu untuk memutar tubuhnya, melempar Eksekutor ke samping, dan dengan gerakan kilat, jemari Reno menerobos masuk ke dalam saku dalam mantel milik Frans!

Jemari Reno berhasil mencengkeram sebuah benda keras berdingin logam kunci enkripsi cadangan kedua!

"Tidak!" teriak Frans histeris saat menyadari kunci cadangannya telah direbut.

Reno berguling menjauh, bangkit berdiri meski tubuhnya gemetar parah. Ia melempar kunci USB tersebut menembus kegelapan aula, lurus ke arah pintu masuk pabrik di mana dr. Sara baru saja menerobos masuk membawa tas medisnya!

"Sara! Tangkap kuncinya! Masukkan ke alat itu sekarang!" teriak Reno lantang.

dr. Sara dengan sigap menangkap kunci USB melayang di udara. Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang dokter forensik berlari kencang menuju kursi Bramantyo. Matanya menatap timer digital yang menunjukkan angka kritis: 00:01:12!

"Jangan menyentuh alat itu, Dokter!" raung Frans murka. Pria itu bangkit dan mengayunkan pisaunya, berlari kencang hendak menerjang dr. Sara dari belakang!

"Langkahmu berhenti di sini, Frans!"

Reno melompat dan mengunci tubuh Frans dari belakang dengan pitingan keras di lehernya. Kedua pria itu berguling dan menghantam tumpukan pipa besi tua hingga merobohkan struktur panggung kayu di samping mereka!

Di saat yang sama, dr. Sara tancap gas. Tangannya yang gemetar namun presisi memasukkan kunci enkripsi USB ke dalam slot alat dispenser racun.

BIP! BIP! BIP!

Layar digital alat itu mendadak berganti warna dari merah menjadi hijau. Suara pompa mekanis yang meraung-raung mendadak mati seketika, dan jarum penyuntik otomatis tertarik mundur dari lengan Bramantyo tepat saat countdown menyentuh angka 00:00:03!

"Sistem eksekusi dimatikan!" jerit dr. Sara seraya menyuntikkan dua ampul penawar raksa langsung ke slang infus Bramantyo untuk menetralisir racun yang sudah terlanjur masuk.

Di tengah puing-puing kayu dan pipa besi yang runtuh, Frans tergeletak lemas. Pitingan Reno dan benturan keras telah melumpuhkan geraknya. Pria bertopeng itu menatap langit-langit pabrik yang bocor, membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang penuh luka bakar. Tangis frustrasi dan tawa hampa keluar bersamaan dari bibirnya.

"Kenapa..." bisik Frans serak dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu menyelamatkan monster itu, Reno? Kenapa kamu membiarkan hukum busuk itu menang lagi?!"

Reno berdiri perlahan di atas lantai yang basah, memegangi dadanya yang memar. Matanya menatap Frans dengan tatapan duka yang mendalam sebuah pandangan dari seseorang yang telah melihat seluruh penderitaan jiwa sang pembunuh melalui psychometry.

"Hukum malam ini tidak menang karena orang seperti Bramantyo, Frans," kata Reno dengan suara pelan namun bergema kuat.

"Hukum malam ini menang karena ada orang-orang yang menolak menjadi monster hanya untuk membuktikan sebuah kebenaran. Penderitaanmu nyata, Frans... tapi dendammu tidak pernah menyembuhkan luka adikmu."

Suara sirene mobil polisi mendadak membahana dari luar pabrik. Puluhan sorotan lampu kendaraan taktis menyinari aula pemrosesan yang gelap. Bara dan pasukan SWAT menerobos masuk dengan senjata teracung, langsung mengepung dan mengamankan Frans yang sudah tidak berdaya.

dr. Sara berjalan mendekati Reno. Sang dokter forensik menyapukan kain kasa steril ke luka berdarah di pelipis Reno. Untuk pertama kalinya di antara riak hujan dan genangan racun masa lalu, dr. Sara menatap Reno bukan lagi sebagai seorang detektif dengan teori misterius, melainkan sebagai seorang mitra sejati yang memikul beban dunia di dalam penglihatannya.

"Kamu berhasil, Reno," bisik dr. Sara lembut, mengikat perban di kepala Reno. "Kamu mematahkan rantai pembunuhan itu."

Reno menatap keluar pintu pabrik, di mana badai hujan perlahan mulai mereda, menyisakan pendar fajar tipis di ufuk timur.

Permainan Maut sang Eksekutor telah berakhir, namun Reno tahu, setiap jejak kematian yang pernah ia sentuh akan selalu meninggalkan gema di dalam jiwanya sebuah pengingat bahwa pertarungan antara keadilan dan kegelapan tidak akan pernah benar-benar selesai.

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!