NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teka-Teki Ruang Kepala Sekolah dan Pilar Utama

SZZZZT!

Gesekan pakaian mereka dengan dinding besi saluran bawah tanah menimbulkan suara bising yang bergema pendek sebelum akhirnya—satu per satu dari mereka terlempar keluar, menghantam tumpukan jerami tua dan tanah lembap di sebuah ruangan raksasa yang teramat gelap.

"Aww!" Sasha merintih pelan seraya memegangi siku tangannya yang sedikit terantuk. "Sakit banget... kita di mana sekarang?"

"Semua selamat?" Revan berdiri paling cepat, mengibaskan debu dan tanah yang menempel di jaketnya. Ia segera menyalakan senter ponselnya, mengibaskannya ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada bahaya langsung.

"Gue aman, Van..." sahut Bima dari balik tumpukan jerami. Ia membantu Dika dan Nisa untuk bangkit berdiri. "Tapi bau di sini... gila, beda banget sama koridor atas."

Udara di tempat ini tidak lagi berbau amonia atau formalin, melainkan beraroma tanah kuburan basah, dupa bakar tua, dan karat besi yang teramat pekat. Suhu udara di bawah sini merosot drastis hingga hembusan napas mereka mengembun tebal di udara.

Dika mengarahkan cahaya senternya melingkar. "Tempat ini... luas banget."

Cahaya senter menyingkapkan sebuah Aula Bawah Tanah raksasa berbentuk lingkaran. Dinding-dindingnya terbuat dari susunan batu bata merah tua tanpa plesteran—gaya arsitektur peninggalan era kolonial yang dipadukan dengan struktur beton tahun 90-an. Di sekeliling aula, berjejer delapan belas pilar beton tinggi yang menopang langit-langit ruangan.

Namun, yang membuat bulu kuduk mereka berdiri adalah apa yang terukir di setiap pilar tersebut. Setiap pilar batu dipasangi sebuah bingkai foto hitam-putih berukuran besar, dan di bawahnya terdapat sebuah mangkuk kuningan berisi sisa-sisa abu pembakaran.

"Delapan belas pilar..." bisik Nisa seraya mendekati pilar terdekat. Matanya membelalak lebar.

"Revan! Ini foto-foto delapan belas siswa yang ditumbalkan tahun 1996!"

Anya melangkah gemetar mendekati pilar nomor sembilan. Tangannya melayang di udara, takut untuk menyentuh foto di depannya. Di bingkai pilar nomor sembilan itu, terpasang foto seorang siswa berseragam OSIS dengan senyum tipis. Di bawah foto itu terukir sebuah nama: YUDHA PRATAMA (1996).

"Kak... Kak Yudha..." tangis Anya pecah seketika. Gadis itu jatuh berlutut di depan pilar, mencengkeram tanah lembap di bawahnya.

"Jadi... jadi Kak Yudha beneran salah satu dari delapan belas tumbal itu?! Tiga tahun lalu dia cuma nemuin kebenaran ini... dan dia terjebak di sini?!"

Revan mendekati Anya, merangkul bahu gadis itu dengan erat.

"Anya, lihat baik-baik. Foto Kak Yudha ada di pilar ini, tapi mangkuk kuningan di bawahnya kosong! Nggak ada abunya!"

"Maksud lo gimana, Van?" tanya Bima cepat seraya mendekat.

"Di pilar-pilar lain, mangkuk kuningannya penuh abu pembakaran dan ada bekas darah kering," tunjuk Revan ke pilar nomor satu sampai delapan. "Tapi di pilar Kak Yudha... mangkuknya bersih. Artinya jiwa Kak Yudha belum sepenuhnya diserap oleh tempat ini! Dia masih ada di suatu tempat di dalam pilar utama!"

Anya mendongak, matanya yang basah oleh air mata menatap Revan dengan penuh harapan. "Beneran, Van? Kakak gue masih bisa diselamatkan?"

"Gue janji, kita bakal bawa Kak Yudha pulang," tegas Revan penuh kepastian.

"Guys! Lihat ke tengah ruangan!" panggil Dika dengan suara gemetar dari pusat aula.

Revan, Anya, dan kawan-kawan segera menghampiri Dika. Di tengah-tengah aula bawah tanah itu, berdiri Pilar Utama—sebuah pilar batu raksasa berbentuk segi delapan yang dililit oleh rantai-rantai besi hitam seukuran lengan orang dewasa.

Di empat sisi pilar utama tersebut, terdapat empat buah cawan batu yang berisi cairan hitam pekat yang tenang seperti cermin.

Di atas permukaan pilar utama, terukir sebuah prasasti batu dengan perintah teka-teki terakhir:

[ RITUAL PENUTUPAN KURIKULUM 1996 ]

"Empat cawan, empat elemen rasa penyesalan. Heningkan jiwa pewaris 'R' untuk menyatukan darah dan perak. Salah menuang darah, pilar akan meruntuhkan seluruh fondasi sekolah."

Nisa membaca prasasti itu dengan cermat di bawah sinar senter. "Empat cawan batu ini melambangkan empat elemen ritual penutupan: Darah, Air Mata, Tanah, dan Besi."

"Darah?" tanya Sasha ketakutan. "Maksudnya... harus ada yang mengalirkan darah di cawan ini?"

Revan menatap lengan kanan seragamnya yang sudah tersingsing. Tanda hitam jam pasir di kulitnya kini memancar pendar merah pekat yang semakin terang dan terasa hangat.

"Bukan sembarang darah," kata Revan tenang. Ia mencabut Kunci Perak Salib yang ia dapatkan dari Ruang 104 tadi. Ujung kunci perak itu dibuat sangat tajam bagaikan belati kecil. "Darah pewaris tanda 'R'."

"Revan, jangan nekat!" cegah Anya seraya memegang tangan Revan. "Kita nggak tahu berapa banyak darah yang dibutuhkan! Gimana kalau ini jebakan untuk membunuh lo?!"

"Ini bukan jebakan, Nya," jawab Revan seraya menatap mata Anya dalam-dalam. "Ini satu-satunya cara buat memutus rantai kutukan 30 tahunan ini. Kalau gue nggak selesaikan sekarang, sekolah ini bakal terus makan korban... dan kalian nggak akan pernah bisa keluar dari sini."

"Van..." Bima menatap Revan dengan pandangan penuh hormat dan cemas. "Gue yang bakal jaga sisi belakang lo. Kalau ada entitas yang mencoba ganggu ritual lo, mereka harus lewati pipa besi gue dulu!"

"Gue sama Dika bakal pantau petunjuk di prasasti," tambah Nisa mantap. "Revan, dengerin gue baik-baik. Menurut prasasti, cawan pertama di sebelah utara adalah Cawan Tanah. Cawan kedua di timur adalah Cawan Besi. Cawan ketiga di selatan adalah Cawan Air Mata... dan cawan keempat di barat adalah Cawan Darah!"

Revan mengangguk paham. Ia melangkah menuju cawan keempat—Cawan Barat.

Dengan gerakan mantap tanpa ragu, Revan menggoreskan ujung tajam Kunci Perak Salib ke telapak tangan kirinya. Darah segar berwarna merah pekat menetes keluar, jatuh tepat di tengah cairan hitam Cawan Barat.

CRASH!

Seketika itu juga, cairan hitam di Cawan Barat membara menyalakan api berwarna biru dingin!

DONGGG...

Suara dentang lonceng raksasa berdenting dahsyat dari dalam pilar utama, menggetarkan tanah yang mereka pijak. Rantai-rantai besi hitam yang melilit pilar utama mulai berderak hebat, terlepas satu per satu dan jatuh menghantam lantai!

"Berhasil! Rantai pertamanya terlepas!" teriak Dika gembira.

Namun, kegembiraan mereka tidak bertahan lama. Dari balik kegelapan pilar-pilar perimeter, suara erangan ribuan jiwa yang terperangkap berhembus kencang. Kabut kabut hitam tebal mulai merayap dari sudut-sudut aula, membentuk bayangan sosok-sosok tanpa wajah yang bergerak mendekati pusat pilar!

"Revan! Cepat! Entitas penjaga pilar mulai bangun!" teriak Bima seraya mengayunkan pipa besinya ke arah bayangan hitam pertama yang mencoba mendekat!

Revan menahan rasa perih di telapak tangannya. Ia mengepalkan tangannya di atas cawan berikutnya, bersiap menyelesaikan sisa tahap penutupan Kurikulum Maut ini...

Ingin rasanya bisa kembali sekolah dengan normal dan bisa menyelesaikan tahapan kurikulum yang memakan korban jiwa yang terjebak di gedung sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!